Belajar dari pengalaman Ayub, kita bisa melihat bagaimana ia begitu
sungguh-sungguh mengandalkan Allah dalam menghadapi
apapun juga. Sekecil dan sebesar apapun persoalan yang dihadapinya, reaksi
pertama Ayub adalah menyerahkannya
kepada Tuhan. Ayub sangat mensyukuri bahwa setiap persoalan
yang dihadapinya adalah bagian dari proses pembelajaran yang sedang Allah
terapkan pada dirinya. Tak perduli meski isterinya
sendiri pun menyuruh untuk meninggalkan bahkan mengutuki Allah di tengahtengah
serbuan persoalan hidup, tapi tetap saja Ayub
tak bergeming. Ia tahu dan yakin benar bahwa apapun yang terjadi, Allah tidak
akan pernah meninggalkannya.
Saat ini, bagaimana dengan kita? Sudah saatnya kita mengintrospeksi diri.
Kadangkala kita merasa bahwa apa yang kita
lakukan sudah benar untuk mengatasi persoalan, namun ternyata tidak tepat.
Melalui Ayub kita dapat bersama- sama belajar bagaimana bereaksi dengan tepat
terhadap setiap masalah. Bahwa ketika mengambil keputusan untuk menghadapi
persoalan itu bersama-sama dengan Allah, tentu saja hal ini akan menghasilkan
bukan saja sebuah problem solving yang mujarab, akan tetapi
juga kematangan iman di dalam Kristus. Sebagaimana diungkapkan
dalam Yakobus 1:3–4, “sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu
menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang
matang, supaya kamu menjadi sempurna
dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.”
Nah, sekarang pilihan itu ada di tangan kita. Mau bertahan dengan kemampuan
diri sendiri atau bersandar pada Tuhan? Semuanya