Pagi hari ini terasa lebih cerah dari biasanya. Mary
terbangun dengan muka senang. Burung- burung berkicauan riang di luar sana. Mary segera bangun
dari tempat tidurnya dan bergegas mandi. Ia bersiap-siap pergi ke sekolah.
Selesai mandi, ia memakai seragamnya dan segera menyantap sarapan yang telah
dihidangkan ibunya. Setelah selesai sarapan, ia pergi sekolah dengan sepedanya.
Sesampai di sekolah, ia meletakkan tasnya dan pergi keluar kelas untuk mencari
sahabatnya, Celi. Ternyata, Celi sedang duduk di bangku taman sekolah. Mary
menghampirinya. Sesaat kemudian, bel berbunyi.
Hari ini, muka Celi terlihat pucat dan murung. Bibirnya sesekali bergetar.
Matanya terlihat menahan tangis, namun berusaha menahannya.
Saat jam istirahat, Mary menghampirinya. “Kamu kenapa, Cel? Kok, pucat dan
murung? Kamu sakit, ya?” tanya Mary. Celi tersenyum. “Nggak apa-apa kok. Aku
hanya sedikit pusing aja,” jawabnya lemah. Mata Mary menatap menyelidik.
“Beneran, nih, nggak apa-apa?” Celi menganggukkan kepalanya.
Hari Sabtu ini, Mary berencana pergi ke rumah Celi. Setelah mengetuk pintu
rumahnya, seorang wanita membuka pintu.
“Eh, Mary! Mau apa ke sini? Cari Celi, ya?” tanya wanita itu. Dia adalah
pembantu Celi. “Iya, mbak... Celinya ada tidak?” tanya Mary. Mbak Anik
menggelengkan kepalanya. “Nggak ada... Celi lagi pergi ke dokter. Mau menunggu
di dalam?” tanya mbak Anik. “Nggak usah mbak, terima kasih. Saya pulang dulu,
ya. Permisi...
” jawab Mary seraya meninggalkan rumah Celi.
Mary ingin segera bertanya mengapa Celi pergi ke dokter. Ia sungguh penasaran
dan ingin bertanya segera kepada Celi. Keesokan harinya, Mary menghampiri Celi.
Ia bertanya mengapa kemarin saat Mary datang ke rumahnya, Celi pergi ke dokter.
Celi tersentak kaget. Terlihat raut wajahnya gugup. “Ngg... mmm, itu... a...
aku periksa kenapa kemarin aku jadi pusing tiba-tiba. Katanya aku hanya
kecapaian,” jawab Celi. Mary percaya saja. Ia tidak tahu bahwa Celi
menyembunyikan sesuatu hal penting yang akan membuat Mary menangis histeris.
Mary datang ke rumah Celi untuk bermain dengannya. Rumah Celi memang sangat
besar. Di dekat taman belakang, ada sebuah kolam renang yang sering digunakan
mereka untuk bermain dan berenang.
Tidak seperti rumahnya Mary yang sederhana dibanding rumah Celi itu.
“Jadi, kita mau apa? Berenang atau lainnya?” tanya Celi. “Berenang saja,
gimana?” tanya Mary. Celi mengangguk setuju. Mereka mengganti pakaian mereka
dan masuk ke kolam. Selesai berenang, mereka mandi dan memakai pakaian mereka.
Setelah itu, mereka bersenda gurau di taman belakang rumah Celi.Setelah itu,
Mary pamit pulang ke rumahnya. Sebenarnya, dalam hati Celi, ia merasa tidak
enak telah membohongi sahabatnya tentang alasan mengapa ia pergi ke dokter.
Namun jika dikatakan, pasti Mary akan marah dan meninggalkannya.
Keesokan harinya di sekolah, wajah Celi terlihat pucat. Hampir saja tadi di
kelas ia pingsan. Mary menemani Celi ke UKS. Celi ditidurkan di situ dan
dibiarkan beristirahat. “Kamu kenapa, sih, Cel? Kayaknya ada yang nggak beres,
deh, sama kamu,” tanya Mary. Celi menggeleng sambil tersenyum. “Aku kurang
tidur kemarin, jadinya ngantuk dan pucat kayak gini. Aku pusing lagi kemarin.
Eh, nanti ketemuan di taman yuk...” ajak Celi kepada Mary. Mary mengangguk
setuju. Sesaat kemudian bel pulang sekolah berbunyi. Mereka membereskan bukunya
dan bergegas pulang.
Sore harinya, Mary pergi ke taman tempat mereka biasa bertemu. Mary melihat
Celi sudah menunggunya di pinggir kolam dengan memegang sebuah bungkusan kecil
di tangannya. “Hai, Cel! Sorry, ya, telat. Eh, itu apa yang kamu pegang?” tanya
Mary sambil melihat ke arah bungkusan yang dipegang Celi. “Oh, ini... Ini
sesuatu yang spesial buat kamu,” jawab Celi seraya mengeluarkan sesuatu dari
bungkusan tersebut.
Terlihat di genggaman Celi dua buah liontin perak. Satu bertuliskan nama Mary,
yang satu bertuliskan nama Celi. Celi memberikan Mary liontin yang bertuliskan
namanya. “Ini tanda persahabatan kita, supaya kamu gak lupa sama aku. Kamu
jangan pernah tinggalin aku ya...” kata Celi. Di dalamnya, terdapat foto mereka
berdua. Setelah itu, mereka pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya, Mary mendengar ibunya terbatuk-batuk di ruang tamu. “Ibu
kenapa?” tanya Mary. “Ibu pusing dan dari tadi batuk terus. Kamu temani ibu ke
dokter, ya...” kata ibunya. Mary mengangguk dan memesan ojek untuk membawa
ibunya ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, mereka disuruh menunggu sebentar di ruang tunggu. Mary
dan ibunya duduk menunggu giliran dipanggil. Saat Mary duduk, ia melihat di
depan sana
seseorang yang tidak asing baginya berjalan melewati seorang perawat. Ahh!!!
Itu adalah sahabatnya, Celi. Ia ditemani ibunya.