KISAH DUA SAHABAT (Bagian 2)
Tanti Tiar Amelia Simorangkir


Saat Mary ingin menghampirinya, nama ibunya dipanggil untuk
diperiksa, sehingga Mary tidak jadi menghampiri Celi dan menemani ibunya.
Ternyata ibu Mary hanya flu biasa. Selesai diberi resep, mereka bergegas pulang
ke rumah.

Sepanjang perjalanan, Mary terdiam. “Kamu kenapa Mary?” tanya ibunya. “Aku
bingung, Bu! Tadi aku lihat Celi di rumah sakit. Aku sering banget dengar dia
ke rumah sakit buat periksa. Kalau hanya pusing saja, kok, tiap hari ke rumah
sakit, ya, Bu?” tanya Mary. Ibunya hanya mengangkat bahu.

Saat di sekolah, Mary menghampiri Celi. “Cel, kemarin aku lihat kamu di rumah
sakit. Kamu kenapa? Kok hanya pusing saja sering sekali ke rumah sakit?” tanya
Mary. Celi tergugup mendengarnya. “Enggak apa-apa. Kemarin itu aku cuman
nemenin mamaku saja, kok..” jawab Celi. Mary mengangguk-angguk tanda mengerti.
Namun mereka tidak tahu, kali itu adalah pertemuan mereka yang terakhir untuk
selamanya...

Keesokan harinya, terdengar ketukan pintu di rumah Mary. “Siapa sih pagi- pagi seperti ini datang?” gumam Mary seraya ingin membuka pintu rumahnya. Terlihat di depannya kedua orangtua Celi. Mata mereka terlihat bengkak dan sembab. Wajah dan mata mereka pun terlihat sangat merah. Sepertinya, mereka habis menangis.
“Ada apa, ya, Om, Tante? Kok, wajahnya merah terus matanya sembab?” tanya Mary. Firasatnya tidak enak. “Ka... kamu sabar, ya, Mary... ” kata tante itu. Ia mulai mengeluarkan air mata. Sepertinya, tante itu sudah tidak sanggup berbicara. “Tolong, Om, Tante, jangan buat saya penasaran. Sebenarnya ada apa, sih?” tanya Mary sedikit emosional.

“Celi, Mar! Celi... di..dia, sudah me... meninggal Mary! Dia meninggal...” jawab om itu sambil menangis. “Apa??? Nggak... nggak mungkin! Om bohong! Nggak mungkin... Kenapa? Kenapa dia tiba-tiba meninggal, Om, Tante? Kenapa???” teriak Mary sambil menangis histeris.
Kedua orang tua Celi semakin menangis sedih. Tante itu bahkan hampir terhuyung jatuh. “Di...dia terkena kanker tulang, nak.” jawab om itu. Mary tersentak kaget tak percaya. Mengapa Celi tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya. Sesaat kemudian,
tubuh Mary terhuyung dan jatuh ke lantai. Ia pingsan
Sebentar lagi, Celi akan dimakamkan. Berkali-kali ibu Celi mengguncang-guncang tubuh Celi sambil sesekali menangis meraung–raung. Saat menuju perjalanan ke tempat pemakaman, ibu Celi terhuyung jatuh pingsan. Semakin paniklah orang–orang. Untung saja, ibu Celi cepat siuman sehingga dapat menyaksikan proses pemakaman anak perempuannya.
Disitu hadir beberapa teman Celi yang dekat yaitu Argo, Hanna, Lina, Mike, Tia, dan Hermi. Wali kelas Celi juga datang melayat.
Saat peti Celi dimasukkan, ibu Celi menangis histeris. Mary juga menangis di samping ibu Celi. Selesai pemakaman, Mary dan ibunya berpamitan pulang.
Di rumah, Mary mengurung dirinya di kamar. Ia menangis tersedu di atas bantal. Ia teringat akan liontin yang dipakainya. Ia melepasnya dan menaruhnya di atas meja.
Mary memandangi liontin perak itu. “Kenapa, Cel? Kenapa kamu bohongin aku? Apa salahku, Cel... apa?” bisik Mary dalam hati. Kembali Mary merundukkan kepalanya dan menangis di atas bantalnya. Sedangkan liontin perak itu, tergeletak di atas meja. Seakan ingin menyampaikan sesuatu pada Mary yang tak bisa diungkapkannya. Lambang persahabatan mereka itu kini terkena cahaya matahari. Memantulkan sinarnya seakan mengeluarkan suatu pesan yang tidak bisa disampaikan. Menatap Mary yang menangis dalam kesepian....





Lihat artikel lain
6 Sep 2010  
Artikel
Renungan
Pokok Doa
 
 
 
 
 
Sekolah Kristen Ketapang I
Jl. K.H. Zainul Arifin No. 35-37
Jakarta Pusat
Telp. (021) 6322588,6322857,6322914
Fax. (021) 6322908
Sekolah Kristen Ketapang II
Pemukiman Green Garden Blok M 1 Jakarta Barat
Telp. (021) 5816007, 58300447, 5821224
Fax. (021) 5821223

Sekolah Kristen Ketapang III
Perumahan Legenda Wisata
Zona Napolen Blok A/E
Cibubur Jawa Barat
Telp. 8233588,8232782,82496255
Fax. (021) 8233571
© 2005, Sekolah Kristen Ketapang, All Rights Reserved
design & powered by Corpussoft