Merenungkan firman Tuhan dalam Lukas 14:34, di mana Tuhan Yesus berbicara mengenai garam. Hidup kita tidak dapat dipisahkan dari garam. Masakan yang tidak menggunakan garam, tentu saja rasanya tidak enak. Meskipun masakannya memakai penyedap masakan tetapi kalau tidak ada garam, tetap terasa tidak enak dan masih ada yang kurang. Dalam Matius 5:13 disebutkan, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Kalau garam itu sudah kehilangan rasa asinnya, tentu tidak akan ada gunanya lagi. Garam itu akhirnya akan dibuang dan diinjak orang. Lalu siapakah yang dimaksud Yesus dengan garam dunia? Yang dimaksud sebagai garam disini bukan hanya para pendeta, gembala sidang, majelis, ataupun pelayan Tuhan lainnya. Ya, kitalah yang disebut sebagai garam dunia. Kita semua, para pengikut Kristus, tanpa kecuali. Sama seperti garam yang kehilangan asinnya, kalau sebagai pengikut Kristus kita tidak dapat menggarami sesama kita agar dapat hidup sebagaimana teladan Yesus, tentu saja kita juga akan menjadi garam yang tidak berguna dan harus dibuang. Kita disebut garam. Sebagai garam yang harus asin, kita tidak boleh kehilangan kehilangan ‘rasa asin’ yang kita miliki. Itu berarti hidup kita harus senantiasa menjadi teladan yang benar mengikuti teladan Kristus, agar kita dapat menjadi berkat bagi orang lain, terutama mereka yang belum mengenal Kristus. Beberapa tahun terakhir ini kita seringkali mendengar ada banyak gereja yang ditutup oleh masyarakat di mana gereja tersebut berdiri, dengan bermacam-macam alasan. Nah, menghadapi hal semacam ini, apa yang harus kita lakukan? Tidak ada kata lain kecuali harus tetap menjadi garam. Kita berada di tengah masyarakat yang plural. Itulah sebabnya kita harus menjadi garam bagi masyarakat di mana kita berada. Hidup kita harus menjadi teladan bagi masyarakat di sekeliling kita, dan bukannya sebaliknya malah menjadi sampah masyarakat. Lalu bagaimana cara kita agar dapat menjadi garam bagi sekeliling kita? Menjadi garam tidak harus selalu dengan cara menginjili. Akan tetapi melalui tindakan dan cara hidup kita yang seturut dengan firman Allah, kita sudah menunjukkan perbedaan kita dengan orang dunia. Kita bersaksi tentang Kristus dengan menunjukkan cara hidup kita sebagai orang percaya melalui tindakan serta tutur kata kita. Dengan kita mau mengasihi, menunjukkan sikap rendah hati, kesabaran, senyuman yang manis, serta dengan kebaikan hati kita terhadap sesama, tentu saja akan memberikan pengaruh kepada mereka. Nah, saat itulah kita sudah menjadi garam. Yesus berkata, “Kamulah adalah garam dunia,” jadi di manapun kita berada, hidup kita harus memberikan dampak positif dan menjadi teladan bagi sesama. Contoh lain mengenai hal ini adalah ketika Tuhan akan menghukum Sodom dan Gomora. Pada saat itu Abraham masih berusaha menyelamatkan Sodom dan Gomora yang penuh dengan kehidupan seks bebas, homoseksual dan lesbian (baca Kejadian 18:16-33). Abraham berharap, jika masih ada sepuluh orang benar, Tuhan mau mengampuni mereka. Artinya kalau ada sepuluh orang benar yang dapat ‘menggarami’ orang-orang yang sudah terjerat dosa ini, kota Sodom dan Gomora bisa tidak dihukum oleh Tuhan. Alkitab juga mencatat mengenai Lembah Sidim di Laut Asin yang sekarang disebut Laut Mati. Di Laut Asin ini jika kita mengambil pasir maupun batu-batu koralnya, akan terasa asin sekali. Orang-orang di sekitar kawasan itu biasanya membungkus pasir atau batu tersebut dengan kain untuk dipergunakan sebagai garam. Ketika memasak mereka cukup merendam saja bungkusan pasir atau batu tadi ke dalam masakan, lalu asinnya akan turun ke dalam masakan. Bungkusan pasir atau batu ini bisa digunakan berulang-ulang. Namun lama kelamaan asinnya pun akan hilang dan tidak dapat digunakan lagi, hingga akhirnya harus dibuang. Demikianlah kalau orang-orang Kristen yang sudah tidak punya rasa asin lagi. Artinya sudah tidak punya semangat di dalam Tuhan, tidak punya kasih dan pengharapan, juga tidak dapat menunjukkan bahwa Kristus sungguh-sungguh ‘hidup’ dalam setiap aspek kehidupan kita, hidup kita pun menjadi tidak berguna karena tidak dapat lagi menjadi berkat bagi orang lain. Hidup sebagai pengikut Kristus memang bukanlah hal yang mudah. Ada banyak harga yang harus dibayar. Mungkin akan ada banyak kesulitan, kesusahan, gelombang hidup dan badai menerpa yang akan menghadang kita untuk dapat menjadi pengikut Kristus yang sejati. Akan tetapi jangan pernah kita kehilangan pengharapan. Sebab ada Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita, sehingga pengharapan itu tidak akan pernah mengecewakan kita (Roma 5:3-5). Berbekal pengharapan kita akan Kristus, biarlah kiranya hal ini akan menolong kita untuk tetap hidup menurut kehendakNya, sehingga hidup kita dapat menjadi berkat serta menjadi garam bagi orang-orang di sekeliling kita. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.
|