Di sebuah acara stasiun TV berlangganan, terdapat acara berjudul The
Moment of Truth. Acara ini berupa sebuah kuis yang menjanjikan hadiah
ratusan ribu dollar kepada pesertanya.
Namun yang membuat acara ini menarik bukanlah hadiah yang
dijanjikan tetapi isi dari acara tersebut. Sebelum acara ditayangkan,
peserta harus menjawab 50 pertanyaan seputar kehidupan pribadi mereka,
mulai dari kebiasaan-kebiasaan mereka, hubungan mereka
dengan orang tua, hubungan mereka dengan kekasih atau suami/ istri
mereka, dll. Ada kalanya pertanyaan-pertanyaan yang diberikan bersifat
sangat pribadi bahkan rahasia dan jawaban mereka akan dipastikan
kebenarannya dengan alat deteksi kebohongan (Lie Detector).
Pada saat acara berlangsung, peserta akan diperhadapkan kembali
dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama, hanya saja dalam urutan yang
berbeda. Peserta boleh memberikan jawaban yang sama dengan jawaban
pertamanya atau peserta boleh mengganti jawabannya (jika mungkin pada
saat jawaban pertama, ia berbohong).
Daftar pertanyaan dan hadiah disajikan dalam bentuk piramida. Piramida
tersebut menggambarkan tahapan yang harus dilalui peserta, dimulai
dengan tahap pertama di dasar piramida dengan jumlah hadiah terkecil
sampai tahap terakhir di ujung piramida dengan jumlah hadiah terbesar.
Setiap tahap memiliki jumlah dan kualitas pertanyaan yang berbeda.
Tentu saja, semakin tinggi tahapan maka pertanyaan akan semakin sulit
dan semakin bersifat pribadi. Dan peserta akan mendapat hadiah hanya
jika ia memberikan jawaban yang benar.
Hal lain yang membuat acara ini semakin menarik buat saya adalah
peserta harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan disaksikan
oleh orang-orang terdekatnya, seperti ayah/ ibu, kakak/ adik, suami/
istri, kekasih, sahabat dan orang-orang penting lainnya
dalam hidup peserta. Orang-orang terdekat peserta itu hadir untuk
menyaksikan kebenaran-kebenaran yang terungkap dalam acara tersebut.
Mereka juga memiliki satu kesempatan untuk melewatkan sebuah pertanyaan
jika mereka mengganggap pertanyaan tersebut terlalu sensitif atau
mereka lebih memilih untuk tidak mengetahui
kebenarannya.
Ketika menonton acara tersebut, satu pertanyaan yang terus melintas di
pikiran saya,”Apa motivasi peserta ikut dalam acara tersebut?” Karena
seringkali peserta pulang membawa hadiah ratusan ribu dollar tetapi
hubungan dengan ayah/ ibu, kakak/
adik, kekasih, suami/ istri, sahabat menjadi hancur karena
kebenaran-kebenaran yang terungkap. Ada hati orangtua yang tersakiti
karena mengetahui anaknya masih suka berjudi dan pernah
menjual aset perusahaan keluarga untuk membayar hutang judi, ada istri
yang mengaku berselingkuh ketika suaminya tugas ke luar kota, ada
pasangan kekasih yang putus hubungan karena ternyata sang pria masih
menyimpan foto dan barang-barang mantan kekasihnya.
Ada hati sahabat yang hancur karena dicurigai dalam hati berselingkuh dengan pacar peserta.
Bill Hybells dalam bukunya yang berjudul Honest To God menyatakan bahwa
setiap orang harus berusaha memiliki hubungan yang otentik, terutama
dengan Allah dan juga dengan manusia.
Yang dimaksud dengan hubungan yang otentik adalah hubungan yang asli, sah, murni, dan dapat dipercaya. Hubungan yang
ditandai dengan ‘kedalaman’ hubungan dan integritas (Hybels,1999).
Salah satu persyaratan pokok hubungan yang otentik adalah kejujuran.
Sehingga di dalam hubungan yang otentik, kita dapat berbagi kegagalan
dan kesuksesan, kekurangan juga kekuatan, membahas kesalahpahaman,
mengungkap luka-luka batin, melepaskan frustrasi dan menyatakan
keraguan, ketakutan serta kekecewaan (Hybels,1999).
Mungkin kita berpikir dan berani berkata bahwa “Saya tidak pernah berbohong” ; “Saya selalu berkata jujur terhadap siapa saja
terutama kepada orang-orang terdekat saya.” “Saya dapat memastikan bahwa tidak ada satu pun kebiasaan/ hal yang saya
sembunyikan dari orang-orang terdekat saya.”
Kita tidak menyimpan bentuk/jenis kebohongan seperti para peserta kuis The Moment of Truth, misalnya kita tidak korupsi,
kita tidak berjudi, kita tidak berselingkuh, kita tidak menyimpan
benda-benda dari mantan kekasih kita, dan kebohongan-kebohongan lainnya.
Namun, apakah kita selalu bisa mengatakan dengan jujur
perasaan-perasaan kita dalam suatu hubungan? Apakah kita selalu
mengatakan dengan jujur prasangka-prasangka negatif yang
kita miliki terhadap orangorang dengan siapa kita berelasi? Apakah kita
bisa selalu dengan jujur menyatakan ketidaksukaan kita terhadap suatu
hal yang dilakukan oleh orang-orang dengan siapa
kita berelasi?
Kita kerapkali menghindari kejujuran seperti ini dengan dalil “supaya
hubungan tidak rusak”; “lebih baik orang yang kita sayangi tidak tahu
kebenaran daripada menjadi sakit hati karena mengetahui
yang sebenarnya”. Kita kerapkali menghindari kejujuran seperti ini
untuk memelihara damai dan menghindari konflik. “Jika saya menyampaikan
kebenaran kepada bos saya, ia akan marah.”;
“Jika saya katakan kepada suami saya bagaimana perasaan
saya tentang perjalanannya yang terusmenerus, ia mungkin menjadi
defensif.” ; “Jika saya sampaikan kepada istri saya betapa frustrasi
saya secara seksual dalam pernikahan, ia mungkin menuduh saya
berselingkuh.”, dan seterusnya. (Hybels, 1999)
Ijinkan saya memberi contoh dari kehidupan saya. Saya memiliki seorang
sahabat. Saya sangat menghargai persahabatan saya dengannya. Sahabat
saya ini tinggal di luar negeri bersama dengan
suaminya. Suatu hari ia berkunjung ke Indonesia dan kami berkumpul bersama keempat orang sahabat lainnya. Kami pun
melakukan foto bersama. Selang beberapa waktu, setelah ia kembali ke negaranya. Foto bersama itu muncul dalam friendster-
nya. Saya senang bercampur kecewa. Apa yang membuat saya
kecewa? Saya kecewa karena ia memberi judul foto itu “Reuni dengan alumni Atma Jaya” (karena kami memang berasal dari
kampus yang sama). Saya kecewa karena seharusnya
dia bisa memberi judul dengan kalimat yang lebih bermakna personal. Misalnya, “Pertemuan dengan sahabat-sahabat”;
“Pertemuan yang tidak terlupakan”, atau kalimatkalimat
lain semacam itu.
Saat itu juga saya langsung mengirim email
kepadanya dan menyatakan kekecewaan saya. Saya
tahu tindakan saya ini mungkin melukai hatinya. Tapi saya harus menyampaikan kekecewaan saya agar salah paham yang
saya miliki tidak berkembang menjadi kebenaran yang saya yakini, padahal belum tentu benar.
Contoh lainnya muncul dalam hubungan dengan sahabat yang lain. Dengan
sahabat saya ini, kami memiliki latar pendidikan yang sama tetapi
tempat bekerja yang berbeda. Sejak saya menyelesaikan studi, saya sudah
bekerja di Ketapang, sebuah institusi Kristen. Berbeda dengannya, ia
selalu bekerja di perusahaan-perusahaan
non Kristen atau yang kita sebut sekuler. Suatu hari ia meminta pendapat kepada saya perihal tawaran sebagai manajer dari
sebuah perusahaan besar yang berlokasi di Serang. Tentu saja tawaran ini sangat menarik karena ia akan mendapat gaji berkali
lipat dari gaji saat ini. Lokasinya memang sangat jauh tetapi perusahaan akan menyediakan mobil plus supir untuk mengantar
pergi dan pulang.
Saya menyatakan bahwa saya tidak setuju ia menerima tawaran tersebut.
Yang menjadi pertimbangan dan alasan saya adalah bahwa saat itu
pernikahannya sedang tidak dalam keadaan yang
baik, sedang dalam musim dingin yang berkepanjangan dan terancam hancur.
Apabila ia menerima tawaran tersebut, dapat dipastikan seluruh energi
d
|