Mengapa hidupku selalu banyak masalah,
seolah-olah tiada henti-hentinya Tuhan menguji… Kapan, ya, Tuhan berhenti
memberikan
ujian hidup? Rasanya sudah lelah sekali menghadapi berbagai
ujian yang mendera…” Beribu pertanyaan serupa juga kerap terlontar dari mulut
kita, sebagai ungkapan kekecewaan serta keputusasaan atas persoalan hidup yang
kerap kita alami.
Seringkali, entah itu sadar ataupun tidak, kita sulit sekali menerima persoalan
hidup yang datang menghampiri. Kecewa karena seolah Tuhan tak ‘berbuat apa-apa’
atas masalah yang tengah kita hadapi. Atau kadangkala rasa aman dan nyaman
dengan kondisi hidup tanpa masalah yang berarti membuat kita dengan menghadapi
persoalan hidup yang tiba-tiba datang. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian
kita cenderung lari dari masalah daripada menghadapinya.
Elia versus Ayub
Hal serupa juga pernah dialami oleh nabi Elia. Dalam 2 Raja-Raja 19:1- 18
dikisahkan bagaimana Elia yang awalnya adalah utusan Allah yang begitu heroik
saat menghadapi nabi-nabi baal, tiba-tiba
saja langsung terpuruk dalam keputusasaan yang amat dahsyat, bahkan sampai
meminta agar nyawanya sendiri diambil, demi mendengar ancaman Izebel yang ingin
membunuhnya. Padahal seharusnya Elia tidak perlu merasa ketakutan, putus asa,
bahkan sampai kehilangan harapan, kalau saja ia ingat bagaimana Allah
telah menyertainya ketika menghadapi para nabi baal.
Rupa-rupanya Elia masih ‘terlena’ dengan kesuksesannya dalam menghadapi
nabi-nabi baal. Maka tidaklah mengherankan ketika
Izebel menyampaikan ancamannya, kondisi Elia langsung berbalik 180°. Semangat
Elia langsung drop, hingga ia merasa tidak kuat lagi menanggung masalah yang
sebenarnya terhitung kecil (tentu saja
kalau Elia tetap mengimani kuasa Allah).
Berbeda dengan Elia, reaksi Ayub justru sebaliknya. Saat persoalan
datang bertubi-tubi dalam hidupanya, awalnya Ayub memang shock. Namun ia justru
tidak membiarkan dirinya terpuruk. Ayub
menyadari bahwa masalah dalam hidupnya merupakan ujian dari Allah. Ayub sadar
bahwa persoalan hidup yang dihadapinya merupakan bagian dari cara Allah untuk
mendidiknya (lihat
Ayub 5:17).
Caramu atau caraKu?
Dari kedua tokoh di atas, dapat dilihat bahwa seringkali kita justru lebih
banyak bereaksi seperti Elia daripada Ayub. Ketika persoalan itu datang,
rata-rata yang pertama kali dilakukan adalah memikirkan
persoalan itu dengan pikiran kita sendiri. Kita berusaha untuk memecahkan
persoalan itu dengan kemampuan diri sendiri, dan
bukannya langsung datang kepada Allah. Berkutat dengan masalah itu sendirian
sampai kita merasa depresi, baru setelah sampai di titik
kulminasi kita menyerah dan memohon pertolongan Allah (meski
kadang-kadang ketika kita sudah menyerahkan persoalan itu pada Allah pun kita
masih saja khawatir, seolah tidak percaya 100% bahwa Allah akan memberi
pertolongan).
Malahan tak sedikit dari kita yang memilih untuk lari dari masalah daripada
menyelesaikannya. Memilih jalan yang salah daripada jalan yang benar untuk
mengatasi masalahnya. Alasannya sederhana. Tak mau pusing dengan masalah. Kita
bisa lihat, berapa banyak orang yang lebih memilih narkoba dan alkohol atau pun
bunuh diri untuk melupakan masalahnya. Atau berapa banyak suami atau isteri
yang memilih untuk curhat dengan orang lain hingga akhirnya jatuh ke
perselingkuhan, daripada harus berkomunikasi dengan pasangannya untuk
menyelesaikan persoalan rumah tangga mereka. Atau berapa banyak anak sekolah
yang lebih memilih menyiapkan contekan dan berburu kunci jawaban, daripada
belajar dengan tekun untuk menghadapi ujian.
Sebagai pengikut Kristus, kita tahu persis bahwa sesungguhnya Allah tidak akan
pernah membiarkan kita berada dalam persoalan
yang kita sendiri tidak sanggup menghadapinya (baca 1 Korintus 10:13). Namun
entah mengapa kita selalu saja menempatkan
Allah di bagian akhir, ketika persoalan itu sudah mentok dan kita tak sanggup
lagi untuk berpikir bahkan berbuat apa-apa. Kita
lebih suka memilih untuk babak belur sampai kehabisan daya, baru
kita datang pada Allah. Kalau saja sejak awal masalah itu menghampiri kita
langsung datang pada Tuhan, tentunya kita tidak perlu mendapat masalah yang
lebih besar lagi, hanya gara-gara kita
kelewat mengandalkan pikiran dan kemampuan kita sendiri.