MASALAHMU, MASALAHKU, MASALAH KITA (Bagian 1)
Greesika Yunita Th, S. Sos
Mengapa hidupku selalu banyak masalah,
seolah-olah tiada henti-hentinya Tuhan menguji… Kapan, ya, Tuhan berhenti
memberikan

ujian hidup? Rasanya sudah lelah sekali menghadapi berbagai

ujian yang mendera…” Beribu pertanyaan serupa juga kerap terlontar dari mulut
kita, sebagai ungkapan kekecewaan serta keputusasaan atas persoalan hidup yang
kerap kita alami.

Seringkali, entah itu sadar ataupun tidak, kita sulit sekali menerima persoalan
hidup yang datang menghampiri. Kecewa karena seolah Tuhan tak ‘berbuat apa-apa’
atas masalah yang tengah kita hadapi. Atau kadangkala rasa aman dan nyaman
dengan kondisi hidup tanpa masalah yang berarti membuat kita dengan menghadapi
persoalan hidup yang tiba-tiba datang. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian
kita cenderung lari dari masalah daripada menghadapinya.



Elia versus Ayub

Hal serupa juga pernah dialami oleh nabi Elia. Dalam 2 Raja-Raja 19:1- 18
dikisahkan bagaimana Elia yang awalnya adalah utusan Allah yang begitu heroik
saat menghadapi nabi-nabi baal, tiba-tiba

saja langsung terpuruk dalam keputusasaan yang amat dahsyat, bahkan sampai
meminta agar nyawanya sendiri diambil, demi mendengar ancaman Izebel yang ingin
membunuhnya. Padahal seharusnya Elia tidak perlu merasa ketakutan, putus asa,
bahkan sampai kehilangan harapan, kalau saja ia ingat bagaimana Allah

telah menyertainya ketika menghadapi para nabi baal.

Rupa-rupanya Elia masih ‘terlena’ dengan kesuksesannya dalam menghadapi
nabi-nabi baal. Maka tidaklah mengherankan ketika

Izebel menyampaikan ancamannya, kondisi Elia langsung berbalik 180°. Semangat
Elia langsung drop, hingga ia merasa tidak kuat lagi menanggung masalah yang
sebenarnya terhitung kecil (tentu saja

kalau Elia tetap mengimani kuasa Allah).

Berbeda dengan Elia, reaksi Ayub justru sebaliknya. Saat persoalan

datang bertubi-tubi dalam hidupanya, awalnya Ayub memang shock. Namun ia justru
tidak membiarkan dirinya terpuruk. Ayub

menyadari bahwa masalah dalam hidupnya merupakan ujian dari Allah. Ayub sadar
bahwa persoalan hidup yang dihadapinya merupakan bagian dari cara Allah untuk
mendidiknya (lihat

Ayub 5:17).



Caramu atau caraKu?

Dari kedua tokoh di atas, dapat dilihat bahwa seringkali kita justru lebih
banyak bereaksi seperti Elia daripada Ayub. Ketika persoalan itu datang,
rata-rata yang pertama kali dilakukan adalah memikirkan

persoalan itu dengan pikiran kita sendiri. Kita berusaha untuk memecahkan
persoalan itu dengan kemampuan diri sendiri, dan

bukannya langsung datang kepada Allah. Berkutat dengan masalah itu sendirian
sampai kita merasa depresi, baru setelah sampai di titik

kulminasi kita menyerah dan memohon pertolongan Allah (meski

kadang-kadang ketika kita sudah menyerahkan persoalan itu pada Allah pun kita
masih saja khawatir, seolah tidak percaya 100% bahwa Allah akan memberi
pertolongan).

Malahan tak sedikit dari kita yang memilih untuk lari dari masalah daripada
menyelesaikannya. Memilih jalan yang salah daripada jalan yang benar untuk
mengatasi masalahnya. Alasannya sederhana. Tak mau pusing dengan masalah. Kita
bisa lihat, berapa banyak orang yang lebih memilih narkoba dan alkohol atau pun
bunuh diri untuk melupakan masalahnya. Atau berapa banyak suami atau isteri
yang memilih untuk curhat dengan orang lain hingga akhirnya jatuh ke
perselingkuhan, daripada harus berkomunikasi dengan pasangannya untuk
menyelesaikan persoalan rumah tangga mereka. Atau berapa banyak anak sekolah
yang lebih memilih menyiapkan contekan dan berburu kunci jawaban, daripada
belajar dengan tekun untuk menghadapi ujian.

Sebagai pengikut Kristus, kita tahu persis bahwa sesungguhnya Allah tidak akan
pernah membiarkan kita berada dalam persoalan

yang kita sendiri tidak sanggup menghadapinya (baca 1 Korintus 10:13). Namun
entah mengapa kita selalu saja menempatkan

Allah di bagian akhir, ketika persoalan itu sudah mentok dan kita tak sanggup
lagi untuk berpikir bahkan berbuat apa-apa. Kita

lebih suka memilih untuk babak belur sampai kehabisan daya, baru

kita datang pada Allah. Kalau saja sejak awal masalah itu menghampiri kita
langsung datang pada Tuhan, tentunya kita tidak perlu mendapat masalah yang
lebih besar lagi, hanya gara-gara kita

kelewat mengandalkan pikiran dan kemampuan kita sendiri.





See other articles
6 Sep 2010  
Article
Musing
Prayer List
 
 
 
 
 
Sekolah Kristen Ketapang I
Jl. K.H. Zainul Arifin No. 35-37
Jakarta Pusat
Telp. (021) 6322588,6322857,6322914
Fax. (021) 6322908
Sekolah Kristen Ketapang II
Pemukiman Green Garden Blok M 1 Jakarta Barat
Telp. (021) 5816007, 58300447, 5821224
Fax. (021) 5821223

Sekolah Kristen Ketapang III
Perumahan Legenda Wisata
Zona Napolen Blok A/E
Cibubur Jawa Barat
Telp. 8233588,8232782,82496255
Fax. (021) 8233571
© 2005, Sekolah Kristen Ketapang, All Rights Reserved
design & powered by Corpussoft