Guru Pahlawan dan Pahlawan Guru – SMP KK III

Artikel Pendidikan

Guru Pahlawan dan Pahlawan Guru

Bagi bangsa Indonesia, pada bulan November terdapat dua momentum yang penting. Pertama, tanggal 10 Nopember diperingati sebagai hari pahlawan. Dan kedua, tanggal 25 November diperingati sebagai hari guru nasional. Pada peringatan hari pahlawan, sosok yang paling banyak ditampilkan adalah Bung Tomo, pemimpin yang mengobarkan semangat perang melawan tentara Sekutu tanggal 10 Nopember 1945 di Surabaya, atau sosok-sosok pahlawan lain seperti Soekarno dan Jenderal  Soedirman.

Sementara pada peringatan hari guru, hampir tidak ada tokoh sentral yang dimunculkan, selain foto-foto pejabat yang mengucapkan selamat hari guru atau organisasi profesi guru yang memperingati hari guru. Sosok Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, sudah terlanjur menjadi simbol hari pendidikan nasional.

Kontekstual

Peringatan hari pahlawan bertujuan untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan para pahlawan yang merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI, serta menumbuhkan semangat nasionalisme dan patriotisme bangsa Indonesia. Sementara pada peringatan hari guru, kita diingatkan tentang begitu mulianya jasa guru dalam mencerdaskan anak-anak bangsa.

Dalam konteks saat ini, nilai kepahlawanan perlu diperluas. Pahlawan tidak hanya dimaknai sebagai orang yang mengangkat senjata untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga sosok-sosok  yang berjuang, berjasa, dan memberikan manfaat untuk bangsa dan negara ini, termasuk guru.

Tidak dapat dipungkiri guru memiliki peran strategis dalam mencerdaskan anak-anak bangsa. Guru adalah pahlawan pendidikan. Berkat jasa guru, banyak anak didiknya sudah jadi orang sukses, jadi pejabat, politisi, jadi pemimpin di berbagai instansi baik instansi pemerintah maupun instansi swasta. Guru merasa bangga dan senang jika anak-anak didiknya sukses, dan guru tidak pernah mengharapkan balasan dari muridnya. Oleh karena itu, guru pernah dijuluki sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Dalam perkembangannya, sesuai dengan amanat Undang-undang Guru dan Dosen, yaitu pemberian sertifikasi dan tunjangan profesi bagi guru, kehidupan dan kesejahteraan guru mulai meningkat. Predikat “Umar Bakri” dan “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” mulai hilang dari sosok guru. Bahkan saat ini banyak yang “iri” terhadap penghasilan guru, banyak yang menyoroti kehidupan guru yang makin sejahtera. Dan dampaknya profesi guru menjadi salah satu profesi yang diburu. LPTK-LPTK baik negeri maupun swasta banyak diminati mahasiswa.

Sebagai pahlawan pendidikan, guru layak mendapatkan penghargaan dari pemerintah baik materil maupun immateril. Bentuk materil antara lain; gaji, tunjangan, beasiswa, magang, dan sebagainya. Sedangkan bentuk immateril antara lain perlindungan terhadap guru seperti seperti perlindungan profesi, hukum, keselamatan dan kesehatan kerja, dan hak cipta.

Guru-guru yang bertugas di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) perlu mendapatkan perhatian lebih besar dari pemerintah karena beban dan wilayah tempatnya bertugas jauh lebih berat dibandingkan dengan guru-guru yang bertugas di daerah perkotaan. Mereka menempuh jarak puluhan bahkan ratusan kilometer menuju sekolah plus resiko yang tinggi terhadap keselamatan dan kesehatannya. Sarana dan prasarana yang sangat terbatas membuat mereka harus berjuang untuk bertahan di tempat bertugas.

Selain guru sebagai pahlawan, guru pun tentunya memiliki sosok idola yang layak dijadikan sebagai pahlawan. Sosoknya beragam, mungkin mulai dari orang tuanya, gurunya, dosennya, atau orang-orang yang pernah membantunya. Tetapi dalam  konteks pendidikan, Saya kira para guru sepakat menjadikan sosok Ki Hadjar Dewantara sebagai guru pahlawan sekaligus pahlawan guru. Pada masa perjuangan kemerdekaan, Ki Hadjar Dewantara berjuang melalui pendidikan. Beliau mendirikan “ Perguruan Taman Siswa” untuk memberikan pendidikan bagi kaum pribumi yang saat itu memiliki kesempatan yang sangat terbatas untuk mendapatkan pendidikan. Dan pascaproklamasi kemerdekaan, Beliau ditunjuk menjadi menteri pendidikan pertama.

Ki Hadjar Dewantara telah meletakkan fondasi pendidikan bagi bangsa Indonesia yaitu, Ing Ngarso Sung Tulodo (dari depan memberi contoh teladan), Ing Madyo Mangun Karso (dari tengah menciptakan ide atau prakarsa) dan Tut Wuri Handayani (dari belakang memberikan dorongan dan arahan). Sifat-sifat yang diwariskan Ki Hadjar Dewantara sebagai guru pahlawan dan pahlawan guru harus diteladani dan dilestarikan oleh para guru dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

 

Penulis

IDRIS APANDI

Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat, Penulis Artikel dan Buku, Trainer Menulis, Pembicara Seminar-seminar Pendidikan.