Memahami perkembangan Remaja Awal (Remaja SMP) oleh Ibu Marheni Muji Sasanti Kepsek SMP

Memahami perkembangan Remaja Awal (Remaja SMP)

Siswa SMP dan sederajad umumnya berusia sekitar 12-15 tahun atau berada pada masa remaja awal. Usia remaja awal berkisar antara 10 hingga 15 tahun, dan remaja akhir berusia setelah 15 tahun hingga 19 tahun. Dengan demikian, siswa SMP umumnya berada pada kategori remaja awal, sedangkan siswa SMA umumnya berada pada remaja akhir. Secara umum, mereka memiliki ciri psikologis yang sama yaitu masa pembentukan jati diri. Bedanya, remaja awal baru memulai, sedangkan remaja akhir sudah akan mengakhiri.
Ciri-ciri masa remaja awal ini antara lain perilaku yang kurang menentu, cenderung emosional, belum stabil, banyak masalah, pencarian idola atau tokoh sebagai panutan, tidak realistis, dan masa kritis.
• Perilaku yang kurang menentu muncul karena diperlakukan seperti anak-anak, namun pada saat lainnya mereka dituntut untuk berperilaku sebagai orang yang sudah dewasa. Hal itu membingungkan buat remaja awal.
• Cenderung emosional. Segala jenis emosi ada pada remaja awal. Rasa marah, takut, cemas, rasa ingin tahu, iri hati, sedih, kasih sayang, dan lain-lain.
• Ketidakstabilan akibat dari perasaan yang tidak pasti mengenai dirinya. Kesedihan bisa tiba-tiba berganti gembira. Percaya diri bisa tiba-tiba berganti ragu-ragu. Suka menolong bisa tiba-tiba berganti egoisme. Antusiasme bisa tiba-tiba berganti acuh tak acuh. Persahabatan berganti-ganti, dan lain-lain.
• Masalah yang banyak dan sulit diselesaikan, antara lain:
o Masalah keadaan fisik, ingin ideal seperti idolanya atau seperti yang dikatakan orang lain.
o Masalah kebebasan, ingin diakui sebagai pribadi yang mandiri atau berkuasa atas dirinya (dalam cara berpakaian, musik yang digemari, gaya rambut, bahasa khusus, dan lain-lain)
o Masalah nilai & norma. Mulai menyangsikan konsep ‘benar’ & ‘salah’ dari orang tua / dewasa lainnya. Jadi tidak jarang akan mendebat pendapat orang tua. Tidak mau begitu saja menerima pendapat orang tua/dewasa. Ingin menggunakan kesimpulannya sendiri berdasarkan pengalamannya. Tapi tentu saja belum siap dengan konsekuensi atas keputusan yang diambil dari keismpulannya tersebut.
o Masalah peran sebagai laki-laki & perempuan. Ingin menjalankan peran sebagai laki-laki & perempuan yang baik à perlu bantuan orang tua / dewasa lainnya.
o Masalah hubungan dengan lawan jenis. Banyak pertanyaan yang perlu jawaban segera (Bagaimana menghilangkan rasa malu terhadap lawan jenis? Bagaimana menarik perhatian ? Bagaimana pergaulan laki-laki & perempuan yang benar ? Dengan siapa berteman, dll ?) Kebutuhan mendesak akan penjelasan tersebut, tapi jarang dipenuhi oleh orang tua atau orang dewasa lainnya. Remaja akan senang jika ada orang dewasa mau membicarakan tentang masalah2 tersebut.Kalau komunikasi dengan orang tua cukup baik, dan orang tua cukup terbuka akan masalah-masalah remaja, maka beberapa pertanyaan akan mudah mendapatkan jawaban. Yang berani bertanya ke guru atau bahkan guru memberi penjelasan dengan baik, itu akan bisa meredakan masalah di dalam diri remaja. Kalau itu tidak mereka dapatkan, di jaman sekarang ini, mungkin mereka akan mencari informasi di internet. Jika asal mencari, mereka bisa tersesat di situs-situs dewasa, yang mungkin justru akan menambah masalah.
o Masalah hubungan dalam masyarakat. Remaja awal lebih berorientasi ke teman sebaya. Kebutuhan akan dukungan, persetujuan & penerimaan teman sebaya sangat penting bagi mereka. Hal itu perlu untuk belajar mandiri dari ketergantungan pada orang tua. Tentu perlu bimbingan orang tua/dewasa agar tidak sembarang dukungan diperoleh dari teman sebaya, tetapi juga mempertimbangkan perilaku yang positif.
o Masalah cita-cita (karir masa depan). Remaja ingin memilih & menentukan sendiri masa depannya, tetapi kadang-kadang orang tua telah merencanakannya. Yang diperlukan adalah kesempatan & bimbingan dari orang tua (dengan komunikasi).
o Masalah kemampuan. Remaja awal harus memiliki ‘rasa mampu’, perlu dukungan, penerimaan, pandangan2 positif, pengertian, kepercayaan, penghargaan, dll.
• Masa pencarian identitas diri. Identitas diri yang dicari umumnya muncul dalam pertanyaan-pertanyaan : Saya ini siapa, seorang anak kecil atau dewasa ? Apa peranan dalam masyarakat ? Apakah mampu untuk mandiri dan percaya diri ? Apakah kelak mampu menjadi ayah / ibu yang baik? Apakah akan berhasil atau gagal ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menimbulkan dilema dan memunculkan krisis identitas.
• Masa tidak realistis. Hal itu karena mereka melihat diri & orang lain sebagaimana yang diinginkan, bukan sebagaimana adanya, terutama dalam cita-cita & harapan-harapan. Harapan atau cita-cita yang tidak realistis membuat emosinya meningkat yang bisa memunculkan kemarahan, sakit hati, kecewa, dll. Mereka perlu tambahan pengalaman untuk dapat berfikir rasional.
• Masa Kritis. Akibat berkembangnya kemampuan kognitif atau berfikir. Tahap Formal Operation (Piaget), berfikir abstrak. Mereka dapat membayangkan logika formal. Membandingkan informasi yang satu dengan yang lainnya dan membuat kesimpulan. Mereka mulai berfikir lebih mendalam, tidak percaya begitu saja atas jawaban yang diperoleh. Mereka juga akan mencari jawaban dari sumber-sumber informasi lainnya yang bisa diperolehnya.
Melihat ciri-ciri atau apa yang sedang terjadi pada masa remaja awal di atas, tentu tidak mudah bagi sebagian orang tua yang memiliki anak berusia remaja awal. Apalagi, umumnya orang tua juga sedang memasuki usia dewasa madya, dimana usia tersebut menuntut energi yang tidak sedikit untuk penyesuaikan diri terhadap kehidupan perkawinan dan karir. Untuk itu, sekolah dan masyarakat juga dapat membantu para remaja awal ini untuk mencapai kematangan pribadi melalui kontribusinya masing-masing.
Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua, guru, dan masyarakat?
 Usahakan remaja selalu hidup sehat. Sehat secara fisik, pemikiran, maupun tindakan. Berikan penjelasan dan contoh nyata.
 Memberikan penjelasan dengan jujur dan benar terhadap pertanyaan-pertanyaan dan ketidaktahuan remaja awal.
 Memperbaiki penampilan dirinya dalam rangka membangun citra diri yang positif. Penampilan fisik adalah anugerah Tuhan, keunikannya harus diterima sebagai hal yang positif. Tetapi kesehatan fisik, cara berpikir dan cara bertindak harus terus diupayakan ke arah yang positif.
 Memperingan kerja selama pertumbuhan. Orang dewasa bisa menyediakan sarana dan prasarana untuk membantu kemudahan remaja awal ini melewati masa transisinya. Apa yang dibutuhkan oleh remaja awal dapat dipenuhi oleh ketiga unsur yang terkait, yakni orang tua, sekolah dan masyarakat. Apa yang tidak bisa dipenuhi oleh orang tua, mungkin bisa dipenuhi oleh sekolah dan masyarakat, begitupun sebaliknya. Ketiganya harus bekerjasama untuk perkembangan remaja awal.
 Tidak mengomentari secara negatif terhadap turunnya mutu kerjanya. Ketidakstabilan emosi remaja awal dapat berakibat terhadap prestasi atau mutu kerja yang juga akan naik turun. Itu hal yang biasa. Yang perlu menjadi perhatian adalah saat prestasinya turun, usahakan orang dewasa tidak mengomentari secara negatif, karena apa yang terjadi pada remaja awal bukanlah hal yang menetap tetapi akan mudah berubah. Jadi lebih baik fokus pada pemberian semangat bahwa hal itu bisa berubah menjadi lebih baik dengan beberapa usaha yang berbeda. Hal yang sudah terjadi harus diterima sebagai pembelajaran dan pengalaman berharga.
 Mendorong bercita-cita realistis. Cita-cita remaja awal umumnya masih dipengaruhi oleh tokoh atau idolanya. Penting untuk mendorong remaja awal membentuk cita-cita yang realistis, yang akan dapat dicapainya. Cita-cita adalah tujuan. Setiap tujuan ada langkah-langkah untuk mencapainya. Mempersiapkan bekal dan sarana menapaki setiap langkah menjadi hal penting untuk diketahui oleh remaja awal.
 Menerima kemurungan dan kenakalannya, karena sifatnya sementara. Hal itu bisa dengan mudah berubah apabila ada penerimaan, penjelasan, juga contoh-contoh yang positif.

Terimakasih
Marheni Muji Sasanti