SMA Kristen Ketapang I – Menelusuri Jejak Dokter Dan Pergerakan Nasional Indonesia

Oleh: Nico Tasiam, Guru Sejarah SMA KK 1 Jakarta.

Kesempatan pada akhir bulan Oktober 2018 adalah waktu pembelajaran luar sekolah Sejarah Indonesia. Peringatan Sumpah Pemuda masih terasa getarannya ketika siswa-siswi SMA K Ketapang 1 mempersiapkan diri, terdapat penugasan Individu dan kelompok. Bersama pembelajaran Sejarah bekerjasama dengan Pendidikan Kewarganegaraan terkait dengan materi Demokrasi.  Cuaca terik siang itu tidak menghalangi siswa-siswi melangkah memasuki kendaraan Elf milik sekolah dan terdengar senda gurau juga tawa sepanjang perjalanan singkat kami ke Museum Kebangkitan Nasional di seputaran wilayah Senen.

Gedung ex STOVIA aatu sebelumnya juga dikenal sebagai Sekolah Kedokteran Jawa masih berdiri kokoh bahkan di usia sudah lebih dari100 tahun. Sempat berubah fungsi setelah mahasiswa kedokteran berpindah ke gedung baru di daerah Salemba. Kami mulai dengan memasuki pintu gerbang dan membeli tiket masuk. Kami bersiap untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza dengan iringan gitar dan biola. Pelajar muda dari SMA Kristen Ketapang 1 yang berada dalam naungan Yayasan Pendidikan Kristen Ketapang seolah terbawa suasana 90 tahun lalu ketika tokoh-tokoh pendiri bangsa berkumpul untuk menyatakan Sumpah Pemuda dan waktu yang hampir bersamaan para pendiri juga memulai komunitas orang percaya yang kemudian kita kenal sebagai Gereja Kristus Ketapang.

Beruntung  kami mendapat pemandu yang baik dan bebas biaya dari Museum Kebangkitan Nasional, pertama kami dapat meyaksikan pemaparan audio visual mengenai perkembangan museum dan sejarah perjuangan bangsa. Ruang demi ruang koleksi sejarah yang tidak ternilai dilalui dengan penjelasan lengkap dan interaktif. Bahkan sisi lain dari koleksi sejarah seperti kekuatan bangunan termasuk Seng yang kuat menahan orang dewasa bergelayut. Ketertarikan siswa-siswi kelas XI IPA ini bertambah ketika kami diajak memasuki ruang terkait sejarah kedokteran dan mahasiswa yang merintis pengobatan modern Indonesia. Peralatan kedokteran yang sangat langkah di dunia bahkan terdapat di tempat ini, juga perlengkapan pribadi mahasiswa berupa koper mereka saat masuk asrama dengan berat kosong saja sulit terangkat dan tas dari kulit asli milik dokter ketika mereka bertugas.

Hal unik pada pembelajaran ke museum ini adalah siswa-siswi merasa betah dan meskipun hari menjelang sore ternyata tidak menyurutkan mereka. Ini mengingatkan kita bahwa keunikan Sejarah dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi remaja zaman Now terutama jika kelas dapat berpindah ke tempat sejarah itu terjadi. Sejarah terus dipelajari manusia karena begitu pentingnya kita belajar dari masa lalu agar tidak jatuh di lubang yang sama berulang kali, merdeka!