Merayakan Natal dengan Hati dan Berhati-hati oleh Aseng Yulias Samongilailai

Merayakan Natal dengan Hati dan Berhati-hati

Merayakan Natal kelihatannya gampang, tetapi sebetulnya susah. Susah dalam arti beresiko, ibarat berjalan di tepi sawah pada waktu malam tanpa bantuan cahaya. Kalau kurang hati-hati bisa terperosok. Yang paling mencolok adalah bahwa kita mudah terperosok ke dalam komersialisasi Natal. Tanpa kita sadari, Natal telah kita jadikan sebagai sumber rupa-rupa bisnis dan rezeki. Natal tampak seolah-olah sudah tidak [dapat] terpisahkan dengan pohon terang, keranjang Natal, kartu Natal, kue Natal, tour Natal dan sejumlah komoditas atau barang dagangan lain. Kalau Yesus datang ke perayaan Natal zaman sekarang, mungkin dengan terheran-heran Ia berpikir, “Apa hubungannya barang-barang ini dengan kelahiran-Ku?”

Selain itu, kita juga jatuh dalam kesibukan Natal. Beberapa minggu sebelumnya kita sudah terkena demam Natal, di rumah, di gereja, di sekolah atau di tempat kerja. Belanja ini dan itu. Menyiapkan rupa-rupa hal. Menghadiri pertemuan sana-sini. Apalagi pada hari pelaksanaannya. Kita bernyanyi, “Malam Kudus, sunyi senyap …” Namun hati kita tidak sunyi senyap. Hati kita justru hiruk-pikuk hingar-bingar. Kita juga bisa terperosok dalam keramaian bersuasana gemerlapan dan kemewahan. Apakah yang dibisikkan oleh hati nurani kalau kita duduk di tengah segala kemewahan, padahal yang sedang kita rayakan adalah kelahiran seorang bayi dalam keluarga sederhana dan miskin?

Atau kita bisa terperosok dalam emosi merohanikan Natal dengan berkata bahwa kita perlu “membuka hati menjadi palungan” supaya “Yesus lahir di hati kita”. Kata-kata itu terdengar bagus, indah, barangkali sangat menyejukkan, tetapi apakah maknanya? Jangan-jangan justru sebaliknya, berteriak seperti seorang demonstran yang mendesak “agar Natal ditindak-lanjuti keadilan” hanya sebatas slogan dan retorika. Kita juga bisa jatuh dalam kemunafikan Natal. Pada hari-hari Natal, tiba-tiba kita berubah menjadi sangat baik hati, damai dan pemurah. Tetapi begitu Natal usai, kita kembali ke pola hidup yang egois, beringas dan mata duitan. Jika begitu, kita ibarat lampu dan hiasan Natal yang hanya menyala selama beberapa hari saja pada bulan Desember.

Bahaya lain adalah bahwa Natal dipersempit menjadi kejadian eksklusif, “dari kita ke kita” untuk mencari kepuasan rohani kita sendiri. Padahal justru pada peristiwa Natal Allah menunjukkan solidaritas kepada manusia. Dengan demikian, merayakan Natal bukanlah perkara gampang. Karena ada banyak hal-hal yang perlu disadari, agar kita tidak terperosok ke dalam hal-hal yang justru mengaburkan makna Natal yang sesungguhnya.

Meskipun demikian, bukan berarti kita harus membuang perayaan Natal. Adanya bahaya dan resiko mestinya membuat kita lebih berhati-hati agar bisa merayakan Natal dengan hati dan berhati-hati. Ibarat berjalan di tepi sawah pada malam hari, kita berjalan hati-hati supaya tidak terperosok. Diawal dikatakan bahwa kita berjalan tanpa bantuan cahaya. Sebenarnya cahaya itu ada. Bukankah ada sebuah bintang terang yang menerangi kita? Allah bisa menempatkan bagi kita sebuah bintang besar dan terang yang “mendahului hingga tiba dan berhenti di atas tempat di mana Anak itu berada” (Mat. 2:9). (Disadur dari Andar Ismail, Selamat Natal: 33 Renungan tentang Natal. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008).

Coba perhatikan film A Christmas Carol yang disutradarai oleh Robert Zemeckis dan Charles Dickens. Dalam film ini dikisahkan seseorang yang pandai, namun kikir dan hanya memikirkan untung dan rugi, yaitu Ebenezer Scrooge. Bagi Scrooge, natal adalah sesuatu yang tidak penting dan tidak diperlukan; natal hanya akan menghabiskan banyak tenaga, pikiran, dan bahkan uang. Sikap yang serupa juga diberlakukan bagi persahabatan dan cinta. Setuju atau tidak setuju, itulah makna natal bagi Scrooge. Namun pada suatu ketika, Scrooge didatangi tiga sosok gaib dan pada akhirnya Scrooge berubah dari seorang yang pelit menjadi dermawan. Terlepas dari cerita fiksinya, film ini memperlihatkan bagaimana seseorang mengalami perubahan dalam dirinya pada saat Natal. Natal melahirkan karakter positif bukan kepura-puraan. Lantas, apa makna natal bagi kita?

Semoga bermanfaat,

Aseng Yulias Samongilailai

Guru KB-TK SKK I