PERAN PENDIDIKAN KARAKTER KRISTEN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Generasi Milenial masa kini sedang menjalani hidup berdampingan dengan seperangkat teknologi cyber dengan lompatan kecanggihan yang sangat luar biasa dalam 10 tahun terakhir ini. Hampir rata-rata semua remaja memiliki Gadget yaitu HP Smartphone atau komputer tablet dengan sistem operasi berbasis android, ios atau windows. Setiap hari ada kemungkinan 5 – 8 jam dihabiskan waktunya untuk mengutak-atik ponsel pintarnya yaitu bermain game, media sosial, kamera, atau chating-an. Terdapat satu istilah menarik yang dikenal di  masa era revolusi industri 4.0; istilah itu adalah inovasi disitruptif (disruptive innovation) yang diperkenalkan awalnya dari seorang profesor di bidang Bisnis bernama Clayton M. Christensen  dalam bukunya berjudul The Inovator Dillema yang diterbitkan pada tahun 1997. Inovasi distruptif  dalam konteks teknologi sifatnya selalu menciptakan pasar baru, menganggu atau merusak pasar yang sudah ada, atau melakukan reposisi produk yang sudah ada sebelumnya. Misalnya saja Iphone seri 8 diganti dengan seri sembilan dan sekarang muncul 3 generasi Iphone berlabel X.  Dalam bidang transportasinampaknya taksi-taksi konvensional pendapatannya menjadi berkurang dengan hadirnya taksi modern yang pelayanannya berbasis teknologi android.

Jadi, salah satu dampak yang tidak terhindarkan dari inovasi distruptif dalam era revolusi 4.0 adalah ketatnya daya saing atau kompetitor di masing-masing segmen, saling berupaya tampil unggul dengan para rivalnya melalui produk-produk yang diluncurkan. Meski demikian sebagaimana dikatakan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir bahwa keberadaan Indonesia menempati pada posisi ke-36 dari 137 negera pada Global Competitiveness Indexdalam World Economic Forum 2017 – 2018 (http://sumberdaya.ristekdikti.go.id). Menurutnya meski naik 5 peringkat yang sebelumnya ada pada peringkat ke-41, faktanya Indoensia masih berada dibawah Malaysia, Singgapura dan Thailand. Hal ini menjadi salah satu yang mendasari pendidikan di Indonesia harus semakin strategis, maju dan unggul sehingga menghasilkan para nara didik yang mampu bersaing dan bertarung terutama dalam menyikapi anugerah bonus demografi di tahun 2030 nanti. Itu sebabnya generasi milenial saat ini perlu dipersiapkan dan dibekali dengan baik melalui strategi pendidikan dan pembelajaran yang efektif, misalnya merujuk kepada sistem pendidikan nasional berbasis standart. Artinya mereka dipersiapkan untuk memiliki keterampilan yang sangat spesifik dan nantinya para lulusan ini dapat menjawab kebutuhan di lapangan.

Namun pada hakikatnya pendekatan yang dilakukan harus terintegrasi dan sekiranya mampu menyentuh seluruh komponen atau secara holistik dalam diri peserta didik terutama memberi perhatian pada aspek softskill, yang mencakup sisi sosial, emosional, dan spritual. Kesadaran akan pentingnya peran softskill dalam konteks di era serba digital saat ini, ternyata telah dikemukakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekom) Kemendikbud dalam acara International Symposium on Open, Distance, and E-Learning di Legian, Bali, 3 – 5 Desember 2018. Salah satu yang dikemukakan adalah bagaimana mentransformasi tehknologi namun tanpa merusak moral, budaya dan karakter anak bangsa (https://www.kemdikbud.go.id).

Di sinilah jendela masuknya peran sekaligus penguatan pendidikan Kristen di era revolusi industri 4.0. Pendidikan KarakterKristen bukan hanya dipandang sebagai bagian dari pendidikan akan tetapi merupakan jiwa dari pendidikan itu sendiri; sehingga Kristen memiliki hakikat dan pengertian sendiri akan arti serta makna pendidikan. Salah satu orientasi pendidikan dari perspektif Kristen adalah “Healing and Develop”. Artinya keberadaan para peserta didik, bukan hanya diisi dengan ilmu secara kognitif, namun pendidikan sebagai kendaraan simultan untuk mengalami pemulihan secara utuh, terutama menemukan jati dirinya dihadapan Tuhan. Selanjutnya pendidikan harus mampu menggali serta mengembangkan berbagai potensi dan talenta yang Tuhan telah tanam di dalam dirinya. Sebab bagaimanapun juga banyak yang mempercayai bahwa sumber segala pengetahuan berasal dari Tuhan dan untuk memperolehnya dimulai dengan memiliki sikap takut akan Tuhan (Amsal 1:7). Jadi, dengan tingginya keyakinan yang dibangun atas dasar iman kepada Yesus Kristus tidak berarti juga membatasi ruang gerak seseorang sehingga berakibat pada miskin secara wawasan pengetahuan, teknologi dan sains. Sebab jika merujuk pada sejarah masa lampau, justru kemajuan serta perkembangan ilmu dan teknologi secara signifikan ketika berawal dari adanya reformasi yang dilakukan oleh Marthin Luther pada abad XV. Keberadaan gereja saat itu tidak lagi mengatur negara dalam konteks politik sehingga sangat dirasakan adanya “kebebasan” dan salah satu keberhasilannya adalah manusia mendapatkan ruang untuk berkarya seluas-luasnya.

Itu sebabnya baik sekolah, gereja dan keluarga merupakan tri pusat lembaga/institusi, berperan sebagai wadah untuk membangun, membina serta mengembangkan softskill generasi milenial di era revolusi industri 4.0 yang berbasis kepada nilai-nilai ajaran Kristus tentunya. Secara teknikal baik guru, orang tua dan hamba Tuhan secara konsisten mampu menunjukkan figur keteladan, sedangkan dalam hal komunikasi mampu membangun suatu keakraban dan bukan ketakutan.Yang terpenting pula keyakinan para peserta didik semakin meningkat, teguh dan tidak mudah patah semangat. Sebab salah satu efek yang cukup menganggu dalam inovasi distruptif adalah teknologi semakin menggantikan peran manusia sehingga dibutuhkan adanya penyesuaian-penyesuaian. Dan karena adanya penyesuaian maka akan membuat setiap individu berpotensi mengalami krisis. Ini hanyalah sebuah contoh namun sekaligus sebuah realitas yang sebenarnya ingin mengajak supaya Pendidikan Karakter Kristen harus peka terhadap gejala perubahan – perubahan yang terjadi di tengah-tengah sosial masyarakat.

 

-Rini Sukadini – Guru BK SMA Kristen Ketapang 1-