Renungan Harian 100 (Kamis, 6 Desember 2018)

Raja Yehuda: Abiam dan Asa

Devotion from :

1 Raja-raja 15:1-24

Raja Abiam
Setelah Rehabeam mati, Abiam, anaknya, menggantikan dia. Raja Abiam adalah raja yang memerintah dalam waktu yang sangat singkat. Hanya 3 tahun lamanya dia memerintah Yehuda. Dia adalah anak dari Maakha, anak perempuan Abisalom (atau dalam bagian lain ditulis Absalom, anak Daud yang memberontak melawan ayahnya sendiri). 2 Tawarikh 11:21 mengatakan bahwa Rehabeam mencintai Maakha lebih dari siapa pun. Itulah sebabnya dia mengangkat Abiam, anak Maakha, menjadi raja atas Yehuda. Alkitab mengatakan bahwa Abiam jatuh dalam dosa-dosa dari raja-raja sebelumnya. Dia gagal mempertahankan kesetiaan seperti Daud. Berarti, kegagalan para raja yang diulangi kembali oleh Abiam adalah penyembahan berhala. Daud memang pernah jatuh, tetapi bukan ke dalam dosa penyembahan berhala. Orang-orang Yehuda, Salomo, dan juga Rehabeam, semua pernah dicatat kegagalannya oleh kitab ini. Mereka semua pernah sujud kepada ilah-ilah palsu. Berarti Abiam juga jatuh ke dalam penyembahan berhala, sama seperti kedua pendahulunya itu. Ayat 5 mengatakan bahwa Daud setia dalam segala hal, kecuali dalam hal Uria, orang Het yang dia bunuh dan istrinya diambil. Dan ini merupakan pernyataan yang sangat penting. Tuhan tidak membuang orang-orang yang gagal untuk mencapai keselamatan yang sempurna, tetapi Tuhan memberikan kepada mereka hati yang benar-benar mau dikoreksi dan kembali kepada Tuhan. Inilah yang tidak ada pada Abiam. Dia bukanlah orang yang Tuhan berikan anugerah peringatan dan pertobatan. Dia tetap tidak bertobat hingga akhirnya dia mati setelah hanya memerintah selama tiga tahun.

Raja Asa
Raja Asa mulai bertakhta pada waktu Yerobeam telah 20 tahun bertakhta. Ini adalah raja dengan lama pemerintahan yang panjang. Dia berkuasa selama 41 tahun, bahkan lebih panjang dari periode Daud dan Salomo bertakhta (keduanya bertakhta 40 tahun lamanya). Asa memulai beberapa hal yang sangat penting dalam sejarah Yehuda. Dialah raja yang pertama kali mengadakan pembersihan penyembahan berhala di tengah-tengah Israel dan Yehuda. Dalam ayat 13 dia bahkan memecat neneknya sendiri dari jabatan sebagai ibu suri karena dia membuat patung Asyera. Tetapi meskipun demikian, dalam ayat 14 dikatakan bahwa Asa tidak menjauhkan bukit-bukit pengorbanan. Itu adalah sesuatu yang akan digenapi oleh Yosia. Dialah yang akan menjauhkan bukit-bukit pengorbanan itu (1Raj. 13:2). Dia jugalah yang mengumpulkan kembali emas dan perak untuk membuat barang-barang di dalam Bait Suci yang sempat diambil oleh Sisak (1Raj. 14:25).

Kitab Tawarikh memberitakan dua hal yang sangat menarik mengenai hidup Asa. Dua hal yang tidak dinyatakan oleh Kitab Raja-raja. Yang pertama adalah peperangannya melawan Zerah, raja Etiopia, yang membawa pasukan satu juta tiga ratus ribu orang (2Taw. 14:13). Dikisahkan bahwa Asa berhasil menaklukkan raja dengan pasukan sangat banyak itu dikarenakan kerendahan hatinya kepada Tuhan dan kerelaan-Nya. Tuhanlah yang memberikan kemenangan. Kemenangan bukanlah karena kekuatan sendiri. Ketika Asa merasa lemah dan kecil, pada waktu itulah dia bergantung kepada Tuhan sepenuhnya, dan Tuhan memberikan kemenangan yang sangat luar biasa dengan pasukan yang ada. Tetapi yang kedua adalah peristiwa perangnya dengan Baesa, raja Israel (2Taw. 16:1-3) di mana dia begitu ketakutan dan akhirnya meminta tolong kepada orang Aram untuk membebaskan dia dari ancaman Baesa. Mengapa bisa seperti ini? Mengapa dia begitu berani kepada lebih dari satu juta orang, tetapi begitu ketakutan dengan Baesa? Tidak ada jawaban mengapa dia menjadi tidak beriman, tetapi dampak dari ketakutannya adalah emas dan perak yang telah dikumpulkannya bagi Bait Suci, sekarang dikumpulkan bersama dengan emas dan perak dari rumah raja untuk membayar Benhadad, raja Aram. Bahkan ketika nabi Hanani menegur Asa, dia memenjarakan nabi itu (2Taw. 16:10). Ini semua terjadi pada tahun ke 36 pemerintahannya.

Abiam adalah raja Yehuda yang menjerumuskan Yehuda ke dalam keterpurukan yang makin besar. Usia pendek dari pemerintahannya adalah karena anugerah Tuhan. Andaikata dia memerintah lebih lama lagi, pastilah kerusakan yang terjadi di tengah-tengah Israel akan menjadi makin parah. Itulah sebabnya Tuhan mengizinkan dia hanya tiga tahun memerintah. Setelah itu Tuhan membangkitkan Asa. Sebenarnya apa yang menjadi pengaruh buruk bagi Abiam, juga diterima oleh Asa. Abiam adalah anak dari Maakha, dan Asa adalah cucunya. Lalu, di dalam zaman itu, Yehuda telah makin marak dengan penyembahan berhala. Tetapi Abiam dan Asa berespons secara berbeda. Abiam mengikuti kebiasaan rakyat membuat tempat penyembahan berhala dan tempat pelacuran untuk penyembahan berhala, sedangkan Asa menghancurkan semuanya itu (1Raj. 15:12). Abiam dipengaruhi oleh Maakha, sedangkan Asa memecat Maakha dari kedudukan sebagai ibu suri. Melalui Asa terjadi perubahan di Yehuda dalam dua hal, yaitu mereka meninggalkan dosa penyembahan berhala, dan selain itu mereka mulai membangun kembali kemegahan Bait Suci. Mereka mulai mengumpulkan persembahan emas dan perak untuk dipakai di Bait Suci.

Untuk direnungkan
Biarlah kita memikirkan bersama-sama tentang raja Asa. Dia dihargai dengan sangat sehingga hanya Hizkia dan Yosia sajalah raja-raja di dalam sejarah raja-raja Yehuda yang lebih dihargai dari pada dia. Kegigihannya membalikkan tren yang makin menjauhi Tuhan adalah hal yang menjadikan dia salah satu raja Yehuda yang dipuji di dalam catatan sejarah ini. Tetapi ada dua hal yang perlu mendapat perhatian kita.

  1. Asa mempunyai keteguhan hati untuk Tuhannya. Ini merupakan hal yang harus terjadi juga di dalam hidup kita. Jika kita berasal dari keturunan orang yang menolak Tuhan dan berada di lingkungan yang anti Tuhan, ini tidak berarti kita harus menjadi salah satu dari mereka. Abiam jatuh karena pengaruh buruk sang ibu dan bangsanya yang telah menjadi penyembah berhala. Tetapi ini bukan alasan untuk membenarkan diri. Abiam tidak lepas dari tanggung jawab untuk memurnikan bangsanya di dalam menyembah Tuhan. Tetapi jangankan memurnikan bangsanya, untuk memurnikan diri pun dia gagal. Abiam gagal, tetapi Asa berhasil. Dia membersihkan bangsanya dari neneknya yang penyembah berhala dan semua orang lain di tengah-tengah bangsanya. Orang-orang Kristen juga adalah sekelompok kecil saja banyaknya. Tetapi walaupun demikian kita memiliki tugas untuk menggarami lingkungan kita. Sekarang yang perlu kita tanyakan pada diri kita adalah: apakah saya tenggelam dan menjadi sama dengan lingkungan saya? Ataukah saya muncul dan menyatakan apa yang benar dan harus dilakukan oleh orang-orang sekeliling saya?

  2. Asa membangun suatu pekerjaan yang baik bagi Tuhan, tetapi dia melakukan tindakan bodoh yang akhirnya merusak pekerjaan yang telah dia sendiri lakukan untuk Tuhan. Dia memberikan emas dan perak rumah Tuhan kepada Benhadad setelah sebelumnya mengumpulkannya untuk Tuhan. Dia merusakkan pekerjaannya karena dia tidak mau mengandalkan Tuhan. Inilah yang menjadi bahan renungan yang pertama untuk kita semua. Akankah kita merusakkan pekerjaan Tuhan yang telah kita sendiri lakukan karena kurangnya iman dalam hal yang telah kita hadapi? Asa telah dipakai Tuhan selama berpuluh-puluh tahun, tetapi dia justru kehilangan sifat mengandalkan Tuhan di tahun yang ke 36 dia bertakhta. Dia kehilangan sifat mengandalkan Tuhan justru setelah Tuhan menyertai dia untuk menaklukkan pasukan maha besar dari Etiopia. Tuhan menyertai kita selama ini, tetapi itu bukan berarti bahwa kita aman dari kejatuhan seperti Asa. Hari demi hari adalah peperangan untuk menaklukkan dosa di dalam diri kita. Hari demi hari si jahat telah menyiapkan strategi baru untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan ke dalam dosa. Karena itu anak-anak Tuhan harus memohonkan kekuatan baru hari demi hari. Barang siapa merasa kebal maka dia akan jatuh. (JP)