Renungan Harian 116 (Sabtu, 22 Desember 2018)

Tanda-tanda Mujizat Elisa

Devotion from:

2 Raja-raja 4:1-17

Pada bagian ini kita akan melihat dua mujizat yang dilakukan oleh Elisa. Setelah Tuhan mengangkat namanya di depan raja Israel, sekarang Tuhan terus menyatakan pekerjaan-Nya melalui Elisa dengan memperhatikan orang-orang kecil. Golongan pertama yang mendapatkan pertolongan secara mujizat adalah seorang janda, istri dari seorang dari golongan nabi yang sudah mati. Golongan nabi ini ternyata adalah sekelompok orang yang takut akan Tuhan dan yang dengan tekun menyatakan firman, tetapi mereka sendiri bukanlah orang-orang yang mampu. Mereka hidup dengan sangat kekurangan. Janda ini terlilit hutang yang ditinggalkan oleh suaminya dan sekarang penagih hutang akan datang untuk mengambil anak-anaknya serta menjadikan mereka budak untuk membayar hutang suaminya. Sama seperti Tuhan memakai Elia karena belas kasihan-Nya kepada seorang janda di Sarfat (1Raj. 17:13-14), demikian juga sekarang Tuhan memperhatikan janda dari seorang hamba-Nya dan memakai Elisa untuk memelihara dia. Elisa memerintahkan perempuan itu untuk mengumpulkan bejana-bejana dan mengisinya dengan minyak yang dia miliki. Ternyata bejana-bejana itu bisa terisi penuh dari minyak yang dimilikinya di rumah. Sebuah buli-buli yang kecil tidak mungkin bisa memenuhi satu bejana hingga penuh. Tetapi yang terjadi di sini adalah satu buli-buli minyak dapat memenuhi banyak bejana yang dipinjamnya dari tetangganya. Tuhan ternyata bekerja menyatakan belas kasihan-Nya melalui Elisa, sama seperti Dia menyatakannya melalui Elia. Tetapi yang bahkan lebih menakjubkan adalah bahwa melalui Elisa ini tangan Tuhan menyatakan hal-hal yang bahkan lebih besar dari Elia. Elia menolong seorang janda di Sarfat dengan seorang anak, sedangkan Elisa menolong seorang janda dengan dua orang anak. Tuhan memanggil Elia pulang, tetapi meneruskan pekerjaan-Nya di Israel melalui Elisa!

Di dalam Kitab Suci, tanda-tanda mujizat diberikan dengan tujuan untuk membuat orang-orang yang berkeras hati dapat menjadi percaya. Tetapi terkadang tujuan diberikan mujizat justru adalah untuk orang-orang sederhana mendapatkan belas kasihan Tuhan. Tuhan tidak harus terus menerus memberikan mujizat, apalagi memberikannya by request, karena permintaan orang. Tidak ada yang bisa memaksa Dia untuk memberikan mujizat jika Dia mau, tetapi juga tidak ada yang bisa mencegah Dia untuk menyatakan mujizat-Nya. Elisa memelihara hidup seorang janda miskin dengan dua orang anak memakai mujizat minyak yang terus keluar sehingga janda itu dapat menjual minyak itu untuk membayar hutangnya. Jika pada bagian sebelumnya Tuhan mengangkat Elisa untuk dikenal para raja, maka sekarang Tuhan menjadikan Elisa saluran belas kasihan-Nya bagi orang-orang miskin.

Bagian berikut mengisahkan tentang seorang perempuan Sunem yang kaya. Dia sering memberikan tumpangan kepada Elisa, bahkan membuatkan Elisa sebuah kamar untuk ditinggali, sehingga Elisa merasa perlu membalas kebaikan perempuan ini. Elisa menanyakan apakah ada hal yang perlu dibicarakan dengan raja tentang hak-hak perempuan ini? Perempuan ini menjawab bahwa dia tidak memerlukan apa pun karena dia telah hidup di tengah-tengah kaumnya sendiri. Dia tidak minta apa-apa kepada Elisa, kecuali bahwa dia masih belum mempunyai seorang anak padahal suaminya sudah tua. Dengan kuasa Tuhan, Elisa memberikan nubuat bahwa tahun depan perempuan itu akan menggendong seorang anak laki-laki. Siapakah Elisa? Mengapa dia mampu menubuatkan hal-hal seperti ini dengan tepat? Karena Tuhan memang ingin mengerjakan berbagai-bagai tanda melalui Elisa dengan tujuan agar semua orang mengetahui bahwa Elisa adalah seorang nabi Tuhan. Tuhan memberikan belas kasihan kepada perempuan ini dan memberikan apa yang menjadi kerinduan hatinya. Tepat seperti perkataan Elisa, satu tahun kemudian perempuan itu telah memiliki seorang anak laki-laki. Tuhan memberikan belas kasihan-Nya menurut kedaulatan-Nya dan hikmat-Nya. Dia tidak harus membuat minyak mengalir di rumah setiap janda miskin. Dia memelihara dengan cara yang begitu limpah dan tidak bisa dipolakan ke dalam satu cara saja. Dia juga tidak harus memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi kerinduan hati mereka, tetapi jika ternyata ada yang Tuhan izinkan meminta dan mendapat, harap orang itu memahami bahwa yang Tuhan berikan adalah anugerah yang sebenarnya tidak layak diperoleh orang itu. Dengan cara demikian kita akan terus memiliki perasaan bersyukur kepada Dia tanpa jatuh ke dalam kesombongan karena merasa layak menerima apa yang Tuhan telah berikan.

Untuk direnungkan:

Kitab Raja-raja, meskipun memberikan fokus utama kepada kehidupan raja-raja Israel dan Yehuda, tetap memberikan porsi pembahasan untuk pergumulan orang-orang biasa. Rakyat yang tidak memiliki kekuatan politik dan hidup dengan bergantung kepada apa yang para pemimpin mereka lakukan dan putuskan. Kitab ini membahas perhatian Tuhan kepada rakyat biasa, dan Elisa adalah nabi yang dipakai untuk hal ini. Dia memperhatikan orang-orang biasa dan sederhana karena Tuhan mau menyatakan anugerah-Nya bagi mereka. Kitab Samuel tidak pernah memberikan porsi sebesar Kitab Raja-raja untuk membahas apa yang terjadi di bawah, yaitu di antara rakyat biasa yang hidup di tengah-tengah Israel. Apakah yang Tuhan mau nyatakan? Yang Tuhan mau nyatakan adalah belas kasihan-Nya untuk orang-orang kecil tidak akan tertahan meskipun para pemimpin mereka menolak Dia. Walaupun raja-raja Israel menolak Tuhan, tetapi Tuhan tetap sanggup memberikan anugerah dan juga tanda-tanda penyertaan-Nya kepada rakyat biasa. Inilah saat di mana Tuhan memperhatikan kaum sisa, yaitu 7.000 orang yang tidak pernah menyembah Baal. Orang-orang yang tetap setia tetapi tidak diperhatikan karena mereka bukanlah orang yang berpengaruh secara kekuasaan politik, mereka ini tetap mendapatkan perhatian Tuhan. Mari kita mengingat dua hal berikut sebagai refleksi pribadi kita untuk hari ini.

  1. Jika Tuhan sendiri berbelas kasihan kepada mereka yang kecil, bagaimana dengan kita? Tuhan sedang menyatakan firman-Nya kepada para raja. Bahkan Tuhan sedang memakai Elisa untuk memberikan peringatan kepada raja Israel, tetapi Dia tidak lupa untuk melihat kepada orang-orang Israel yang ada di bawah para raja ini. Kita terkadang melihat hal-hal besar untuk dikerjakan bagi kemuliaan Tuhan, dan ini tidak salah. Tetapi yang menjadi salah adalah kalau kita mengerjakan itu dengan mengabaikan orang-orang yang sering kali dianggap kurang penting dalam pengaruh. Jika kita mempunyai kemampuan untuk berbicara di depan para raja, masihkah kita bersedia untuk berbicara di depan rakyat biasa atau bahkan orang-orang miskin? Elisa mengerjakan mujizat bagi tiga raja dari tiga kerajaan, yaitu Israel, Yehuda, dan Edom. Tetapi Tuhan juga memakai dia untuk mengerjakan mujizat kepada seorang perempuan biasa yang walaupun kaya tetap bukanlah orang berpengaruh. Tuhan juga memakai dia untuk menolong seorang janda miskin. Jikalau kita hanya kerjakan hal yang kecil-kecil tanpa melihat potensi yang Tuhan berikan kepada kita untuk mengerjakan sesuatu dengan pengaruh lebih besar, maka kita berdosa memboroskan anugerah Tuhan. Tetapi jika kita hanya mengerjakan hal-hal besar dan melupakan hal-hal yang dianggap remeh oleh manusia, maka kita berdosa menghina pekerjaan Tuhan yang menjangkau orang-orang yang dianggap remeh.
  2. Perhatikan bahwa tindakan Tuhan melalui Elisa diberikan kepada rakyat biasa tetapi yang cinta Tuhan. Janda yang ditolong adalah janda dari seorang hamba Tuhan yang takut akan Tuhan (ay. 1), dan perempuan kaya yang boleh menyaksikan mujizat terjadi pada dirinya adalah seorang yang mengasihi Tuhan sehingga menyediakan tempat bagi hamba Tuhan. Tuhan tidak menolong seseorang hanya karena orang itu miskin. Tuhan juga tidak menolong seseorang hanya karena orang itu kaya. Kita tidak diizinkan Tuhan untuk menilai hanya dari hal remeh seperti harta. Kita harus melihat dengan cara Tuhan melihat, yaitu memperhatikan orang-orang yang hidupnya dijalani dengan takut akan Tuhan. Merekalah yang harus mendapat hormat kita, lepas dari kaya miskinnya mereka. (JP)