Renungan Harian 118 (Senin, 24 Desember 2018)

Tanda-tanda Mujizat dan Makanan

Devotion from:

2 Raja-raja 4:38-44

Bagian selanjutnya masih mengisahkan mujizat-mujizat yang dikerjakan oleh Elisa. Belum pernah ada nabi dengan mujizat-mujizat sebanyak Elisa. Musa mengerjakan sangat banyak tanda-tanda, tetapi tidak pernah membangkitkan orang mati. Elisa membangkitkan dua orang mati. Yang pertama adalah anak perempuan Sunem, dan kedua adalah mayat seorang yang akan dikubur tetapi yang dilemparkan ke kuburan Elisa. Setelah menyentuh tulang belulang Elisa, orang mati itu bangkit lagi. Inilah peristiwa unik di mana orang mati (Elisa) membangkitkan orang mati (2Raj. 13:20-21). Namun, selain mujizat yang besar ini, Elisa lebih banyak mengerjakan tanda-tanda secara kecil di depan orang-orang biasa. Musa mengerjakan tanda-tanda besar dari Tuhan di depan seluruh Israel. Elia mengerjakan tanda-tanda besar dari Tuhan seperti api yang turun dari langit di depan seluruh Israel. Elisa mengerjakan banyak hal-hal kecil di depan orang-orang kecil tetapi semua menyatakan tanda yang agung dari Tuhan. Bacaan kita hari ini mencatat dua jenis mujizat.

Mujizat pertama adalah Elisa membersihkan makanan yang telah tercemar. Sepertinya tidak ada hal yang hebat dari mujizat ini. Ini adalah mujizat kecil. Kecil bukan karena kita mampu melakukan yang lebih besar, tetapi kecil jika dibandingkan dengan mujizat lain yang Tuhan izinkan dikerjakan melalui Musa, Elia, dan juga beberapa tanda mujizat besar yang dilakukan Elisa. Pada bagian ini Elisa membersihkan makanan yang telah terkontaminasi racun. Ada orang dari golongan nabi yang mengumpulkan tanaman-tanaman liar lalu memasukkannya ke dalam kuali masakan. Ternyata ada racun dari tanaman-tanaman itu, maka seorang mengatakan bahwa ada maut di dalam kuali itu (ay. 40). Elisa memerintahkan mereka untuk mengambil tepung lalu dilemparkan ke dalam kuali dan kuali itu menjadi bebas dari racun tadi. Sepertinya ini adalah hal yang kecil, tetapi jika kita mengingat situasi yang terjadi pada waktu peristiwa ini terjadi, barulah kita memahami betapa pentingnya tanda mujizat ini. Ayat 38 mengatakan bahwa ada kelaparan di negeri. Di tengah-tengah kelaparan inilah kuali makanan itu menjadi sangat berharga. Tanpa masakan dalam kuali itu mereka akan kelaparan. Inilah yang menjadikan tanda mujizat itu sangat penting, sebab tanda itu menyatakan belas kasihan Tuhan yang dinyatakan tepat pada waktunya. Ketika kebutuhan dari umat-Nya sangat besar, Dia pasti tidak akan lupa memberikan pertolongan-Nya. Tuhan tidak pernah memalingkan wajah-Nya dari umat yang dikasihi-Nya. Dia terus menjaga dan mengawasi sehingga tidak ada satu pun peristiwa yang dialami oleh umat-Nya yang luput dari pengamatan-Nya.

Mujizat yang kedua adalah mujizat memberi makan seratus orang dari dua puluh buah roti. Di tengah-tengah berkat hasil yang melimpah, ada yang memberikan persembahan kepada Elisa. Dia memberikan kepada Elisa dua puluh roti hasil dari panen gandumnya. Elisa tidak memakan roti itu sendiri, tetapi dia meminta supaya roti itu dihidangkan untuk seratus orang dari golongan nabi. Bagaimana mungkin seratus orang bisa makan kenyang dari dua puluh roti? Tetapi inilah mujizat yang dikerjakan oleh Elisa. Dia membuat dua puluh roti cukup untuk semua orang, bahkan ada sisanya. Ini adalah mujizat yang dilampaui oleh Tuhan Yesus sebanyak dua kali. Tuhan Yesus memberi makan 5.000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak, hanya dengan 5 roti dan 2 ikan. Setelah semua makan hingga kenyang, ternyata masih ada sisa 12 bakul (Mrk. 6:41-44). Pada kesempatan lain Tuhan Yesus memberi makan 4.000 orang dari 7 roti. Setelah semua makan kenyang ternyata masih ada sisa 7 bakul (Mrk. 8:6-9).

Mujizat roti ini merupakan tanda penyertaan Tuhan, bahwa di tengah-tengah keterbatasan makanan kuasa Tuhan tetap tidak terbatas. Jika Elisa mau menghitung-hitung, maka dia akan berpikir bahwa 20 roti mungkin hanya memadai untuk jaminan dia dan hambanya dapat makan selama seminggu. Tetapi cara Tuhan menolong tidak terbatas pada apa yang ada. Tuhanlah yang membuat segala sesuatu menjadi ada. Dia jugalah yang akan memelihara umat-Nya dengan apa yang ada. Berkat Tuhan tidak mungkin kurang. Itulah sebabnya Ibrani 13:5 mengatakan bahwa kita harus belajar untuk mencukupkan diri kita dengan apa yang ada pada kita, bukannya menuntut untuk dicukupkan berdasarkan kriteria dan standar yang kita inginkan. Jangan menjadi serakah dan jangan menjadi kehilangan iman. Apa yang Tuhan berikan, bukan hanya cukup untuk engkau hidup, tetapi juga untuk engkau menolong orang lain.

Untuk direnungkan

Sadarkah kita akan hal ini? Bahwa di tengah-tengah kesulitan umat-Nya Tuhan tidak pernah gagal untuk bertindak? Tetapi perhatikan cara Tuhan bertindak. Tuhan memakai Elisa yang sengaja kembali ke Gilgal pada waktu ada kelaparan. Elisa tidak melarikan diri ke luar negeri. Dia tinggal untuk menolong para nabi yang dipimpinnya. Setelah itu dia jugalah yang menyediakan makanan di dalam kuali untuk dimasak dan dimakan bersama. Elisa tidak hanya menunggu Tuhan mengerjakan tanda-tanda ajaib. Dia mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan berdasarkan belas kasihan yang dimiliki di dalam dirinya. Lalu biarlah kita juga belajar untuk berbagi. Elisa mendapatkan 20 roti tetapi yang ada di dalam pikirannya adalah bagaimana golongan nabi yang seratus orang itu bisa makan kenyang. Dia tidak memikirkan haknya sendiri dan tidak memikirkan kepentingannya sendiri.

Kita yang mengamini bahwa Tuhan tidak akan melupakan umat-Nya, di manakah kita memosisikan diri kita? Apakah kita selamanya mau menjadi korban yang menantikan uluran tangan dan belas kasihan orang lain? Apakah kita terus menjadi orang yang berseru tolong kepada Tuhan? Ataukah kita mau menjadi saluran berkat Tuhan? Bukan lagi korban yang menantikan uluran belas kasihan, tetapi menjadi orang yang merasa berkelimpahan dan senantiasa memberi bagi kebutuhan orang lain. Dia yang miskin adalah dia yang terus merasa hidupnya kurang diberkati. Dia yang berlimpah adalah dia yang di dalam kekurangannya masih tetap mampu memberi bagi orang lain. Tuhan pasti akan memelihara hidup umat-Nya, tetapi Dia melakukan itu melalui kita sebagai saluran-Nya. Siapkah kita tidak mencari aman bagi diri sendiri? Siapkah kita untuk tidak merasa diri serba kekurangan? Barang siapa mampu memberi di tengah-tengah kekurangannya, dia akan mendapatkan pujian dari Tuhan sendiri (Mrk. 12:42-44).

Pada zaman sekarang sangat banyak orang yang terus merasa dirinya harus ditolong. Terus meminta bantuan dan terus mengharapkan belas kasihan orang lain. Juga banyak hamba-hamba Tuhan yang terus memohon pertolongan orang lain. Hamba Tuhan tidak boleh dikasihani dalam hal keuangan. Hamba Tuhan harus dihargai karena memang dia layak mendapatkan apa yang dia dapat, bukan karena dia mendapatkannya karena belas kasihan jemaat (1Kor. 9:13). Itu adalah hak dia dan kewajiban jemaat. Tetapi hamba Tuhan juga musti belajar memberi! Orang Kristen yang sejati harus belajar menjadi orang yang suka memberi. Kita tidak dipanggil untuk meminta belas kasihan, tetapi kita diminta untuk memberi belas kasihan. Kita tidak dipanggil untuk meminta kemurahan, tetapi kita dipanggil untuk menjadi murah hati terlebih dahulu, barulah kita akan beroleh kemurahan (Mat. 5:7). Kekurangan yang kita rasakan dalam hidup kadang-kadang adalah bentuk kekurangan berdasarkan standar yang telah ditetapkan oleh dunia ini. Tetapi jika kita terus menerus merasa diri kita adalah orang yang kekurangan, maka kita tidak akan pernah merasakan sukacita boleh menjadi saluran berkat Tuhan (Kis. 20:35). Mari belajar dari Elisa. Dia menyatakan banyak tanda-tanda ajaib, tetapi yang lebih patut untuk dikagumi adalah kerelaan dia untuk berdiam bersama dengan golongan nabi untuk menolong mereka ketika negeri mereka tengah dilanda kelaparan. (JP)