Renungan Harian 119 (Selasa, 25 Desember 2018)

Kesembuhan Naaman

Devotion from:

2 Raja-raja 5:1-27

Jika Tuhan sudah mulai mengangkat Elisa menjadi terkenal di negerinya sendiri, maka pada bagian ini Tuhan mengangkat dia menjadi terkenal hingga ke negeri orang Aram. Ayat 1 mengatakan bahwa Naaman, panglima raja Aram, terkena kusta. Lalu seorang budak perempuan dari istrinya mengatakan bahwa di Israel ada nabi yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Maka Naaman pun pergi ke Israel, daerah yang sangat dimusuhi orang Aram. Berkali-kali Israel dan Aram terlibat peperangan. Aram pernah membunuh raja Israel yang hebat, yaitu Ahab. Orang-orang Aram sangat dibenci oleh orang Israel pada waktu itu. Tetapi raja Aram menulis surat kepada raja Israel agar Naaman diizinkan untuk berobat di sana hingga penyakit kustanya sembuh. Ayat 7 mengatakan bahwa raja Israel mengoyakkan bajunya. Dia merasa bahwa raja Aram mempermainkan dia karena menyuruh dia menyembuhkan penyakit kusta Naaman. Surat itu sendiri merupakan pengakuan dari raja Aram bahwa ada orang di Israel yang sanggup menyembuhkan kusta Naaman. Tetapi dari manakah raja Aram bisa mempunyai kepercayaan seperti itu? Dari seorang budak perempuan. Ketika dia berbicara memperkenalkan nabi Elisa kepada istri Naaman, dia bukan hanya dipercaya oleh Naaman dan istrinya saja, tetapi juga oleh raja Aram! Jangan merasa diri kecil. Beritakan firman kepada siapa pun dan jangan pernah berpikir bahwa segala pemberitaan itu akan sia-sia. Siapa tahu suatu saat ada pemimpin negeri ini yang mendengar dan percaya kepada apa yang kita beritakan kepada orang lain. Raja itu menulis surat memohon agar raja Israel menyembuhkan kusta Naaman. Tentu saja ini hal yang aneh bagi Yoram, raja Israel. Maka dia menganggap bahwa raja Aram ingin memulai perang kembali dengan Israel.

Tetapi Elisa yang telah mendengar hal ini meminta agar raja mengutus Naaman ke tempatnya. Maka Naaman beserta dengan rombongan besar pegawainya dan harta emas perak yang sangat banyak berjalan ke rumah Elisa. Ayat 10 menunjukkan wibawa Elisa yang sangat besar. Dia tidak merasa minder bertemu dengan panglima perang Aram. Dia bahkan tidak merasa dirinya yang harus menjawab. Elisa hanya menyuruh salah satu dari hambanya untuk memerintahkan Naaman berendam tujuh kali di sungai Yordan. Inilah seorang hamba Tuhan yang memiliki dignitas. Dia bukan penjilat yang ingin koneksi dan relasi dengan orang-orang di tempat tinggi. Hamba-hamba Tuhan yang mendekat ke dunia politik, lalu menjilat kepada pemimpin-pemimpin dan pemerintah-pemerintah, mereka telah menghina Tuhan yang mereka layani! Elisa tidak merasa dirinya lebih rendah dari Naaman. Bahkan sebaliknya, dia merasa panglima kafir ini perlu belajar menghargai hamba Tuhan. Maka dia tidak muncul menyambut. Dia hanya menyuruh pembantu yang bukakan pintu lalu suruh orang itu pergi ke sungai Yordan untuk memulai sesi terapi berendam tujuh kali ala Elisa. Tentu saja Naaman sangat marah. Dia belum pernah dihina seperti ini. Tetapi pegawainya mengatakan bahwa sebaiknya Naaman mencoba perintah berendam itu. Toh tidak ada ruginya. Maka Naaman pun melakukan apa yang diperintahkan dan ternyata dia sembuh. Setelah sembuh inilah pandangan Naaman terhadap Elisa berubah. Sekarang dia sangat hormat kepada Elisa. Penghormatan inilah yang membuat Elisa menjadi terkenal di seluruh Aram. Kesembuhan Naaman, maupun tindakan Elisa mengampuni pasukan Aram yang tanpa daya tersesat ke tengah-tengah daerah Israel (2Raj. 6:20-23) adalah hal-hal yang membuat Elisa sangat dihormati di Aram. Bahkan ketika Israel dan Aram sedang berperang dan Elisa selalu bertindak demi kemenangan Israel, orang-orang Aram tetap menghormati dia, bahkan raja Aram menyebut dia sebagai bapa dan menempatkan dirinya sebagai anak Elisa (2Raj. 8:7-9).

Tuhan menggerakkan orang-orang menghormati Elisa. Elisa sendiri seumur hidup hanya menghormati Tuhan dan menolak sujud kepada siapa pun, termasuk kepada raja sekalipun. Dialah hamba Tuhan yang mempunyai pesan, peringatan, dan pengajaran bagi semua orang, termasuk raja sekalipun, dan Tuhan yang membuat namanya menjadi terkenal dan dia begitu dihormati orang, baik dari Israel maupun dari Aram. Ayat 16 juga menggambarkan bagaimana Elisa tidak tunduk kepada harta. Segala harta yang berlimpah yang dibawa oleh Naaman tidak menarik hatinya. Hamba Tuhan yang rusak akan selalu sujud di depan harta. Hamba Tuhan yang palsu akan selalu tunduk kepada orang yang membawa banyak harta. Tetapi Elisa adalah hamba Tuhan yang sejati. Dia tidak sujud di depan pemimpin politik. Dia juga tidak sujud di depan orang kaya. Naaman dengan segala tawaran hartanya tidak menarik hatinya. Maka Naaman, yang sekarang sangat menghormati Elisa, memohon restu Elisa untuk menjadi pengikut Tuhan, Allah Israel. Dia mau memberikan korban bakaran dan korban keselamatan hanya kepada Tuhan saja. Bahkan dia memohon diizinkan membawa tanah untuk menjadi tempat dia menyembah di Aram sana. Dalam pikiran Naaman, jikalau dia membawa tanah dari bangsa milik Tuhan, maka korban persembahan yang dia panjatkan di atas tanah yang diangkut dari Israel akan memberikan sedikit kemiripan dengan kalau dia panjatkan langsung di daerah Israel. Naaman juga berjanji tidak akan sujud kepada ilah mana pun. Dia memohon ampun kalau dia harus menemani raja pergi ke kuil Rimon, dewa orang Aram. Tetapi dia telah menyatakan bahwa hatinya tidak lagi milik siapa pun, melainkan hanya milik Tuhan saja.

Setelah melepas Naaman pergi, Gehazi, pembantu Elisa, menjadi silau dengan pandangan begitu banyak emas perak yang dimiliki Naaman. Maka Gehazi mengejar Naaman, berpura-pura diutus oleh Elisa, untuk meminta setalenta perak dan pakaian karena Elisa tiba-tiba kedatangan tamu. Kebohongan ini adalah karena dia ingin memperoleh harta yang dibawa Naaman, meskipun hanya sedikit saja. Maka Naaman memberikan dua kali lipat dari apa yang dimintanya. Tetapi Elisa mengetahui tindakan Gehazi ini. Elisa menghukum Gehazi dengan menimpakan kusta Naaman kepada Gehazi.

Untuk direnungkan
Tuhan menyatakan kemuliaan nama-Nya dengan memanggil orang-orang untuk menyerukan kebenaran-Nya dan menghidupi hidup yang menjadi teladan. Tuhan selalu memanggil orang-orang dengan cara hidup penuh wibawa dan penuh perasaan takut akan Tuhan untuk menyatakan diri-Nya. Orang-orang terhormat yang tidak bisa disogok dengan uang. Orang-orang terhormat yang tidak akan memberikan hormatnya kepada yang lain kecuali kepada Tuhan. Apakah kita rindu Tuhan dipermuliakan? Jika ya, siapkah kita menjadi orang yang dipakai Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya? Setiap orang yang akan menyatakan kemuliaan nama Tuhan dituntut untuk hidup secara terhormat, menjadi orang yang dihargai orang lain dan diakui sebagai orang dengan karakter agung. Elia dan Elisa adalah manusia biasa, sama seperti kita semua, tetapi mereka sujud kepada Tuhan dan segala perasaan takut dan gentar yang mereka miliki mereka berikan hanya kepada Tuhan saja. Tentu saja mereka tetap memiliki cacat. Tidak ada orang-orang yang dipanggil Tuhan tetapi tidak memiliki cacat dan dosa apa pun, kecuali Tuhan Yesus. Tetapi mereka tetap memiliki karakter dan wibawa yang sangat agung dan menunjukkan bahwa mereka adalah hamba Tuhan yang tunduk hanya kepada Tuhan.

Mari kita berdoa supaya gereja pada zaman ini diizinkan Tuhan menghasilkan banyak orang-orang agung seperti itu. Orang-orang yang takut akan Tuhan sehingga mereka disegani oleh banyak orang dan hidup mereka menjadi teladan bagi orang-orang lain. Mari berdoa supaya Tuhan membangkitkan orang-orang seperti itu menjadi hamba Tuhan dan pemimpin gereja sehingga orang-orang di luar gereja harus mengakui dan memberikan hormat kepada para hamba Tuhan dan pemimpin gereja karena hidup mereka yang penuh hormat kepada Tuhan dan penuh integritas, tidak tunduk kepada harta dan hawa nafsu. (JP)