Renungan Harian 134 (Rabu, 9 Januari 2019)

Bangsa-bangsa Lain di Tanah Israel

Devotion from:

2 Raja-raja 17:24-41

Penjelasan
Salah satu kebiasaan bangsa Asyur dalam menangani bangsa-bangsa yang telah ditaklukkannya adalah memindahkan penduduk suatu bangsa ke daerah bangsa lain, dan membawa penduduk bangsa lain tinggal di tempat bangsa tersebut. Ini juga yang dilakukan oleh Asyur kepada Israel. Mereka memindahkan seluruh penduduk Israel ke daerah lain dan menempatkan penduduk beberapa bangsa untuk tinggal di daerah Israel. Tetapi keberadaan mereka di tanah Israel membuat Tuhan menuntut mereka untuk menyembah Tuhan dengan cara yang benar. Mengapa? Ada dua alasan. Pertama adalah karena mereka berada di tanah perjanjian. Meskipun tanah itu adalah tanah perjanjian yang diberikan Tuhan bagi umat-Nya Israel, tetapi keberadaan tanah itu sendiri diperuntukkan bagi umat yang menyembah Tuhan. Tanah Israel yang sebelumnya dihuni oleh orang-orang Kanaan merupakan tempat yang khusus bagi Tuhan. Di situlah nama-Nya dinyatakan. Itulah sebabnya Tuhan membinasakan orang-orang Kanaan karena mereka hidup dengan penuh dosa di tanah itu (Im. 18:24-25). Tetapi, jika orang-orang Kanaan dibinasakan karena kerusakan hidup mereka, maka Tuhan juga mengancam akan melakukan hal yang sama kepada Israel dan Yehuda (Im. 18:26-28). Jika Kanaan dimuntahkan oleh tanah itu karena kerusakan cara hidup mereka, dan Israel Utara dibuang oleh Asyur karena kerusakan cara hidup mereka, maka Tuhan juga akan memperlakukan bangsa-bangsa yang ditempatkan oleh orang Asyur di tanah tersebut. Kedua adalah karena mereka akan tinggal bertetangga dengan Yehuda. Kebiasaan mereka yang rusak dan penyembahan berhala mereka yang menjijikkan akan dapat memengaruhi Yehuda di sebelah selatan mereka. Karena itulah Tuhan ingin memurnikan cara beribadah mereka dengan benar.

Ayat 25 mengatakan bahwa bangsa-bangsa itu tidak takut akan Tuhan, maka Tuhan mengirimkan singa-singa ke tengah mereka dan membunuh beberapa orang dari mereka. Peringatan dari Tuhan ini direspons dengan tepat oleh mereka. Mereka segera mengabarkan kepada raja Asyur bahwa Allah daerah Israel menghukum mereka karena mereka tidak tahu bagaimana beribadah kepada-Nya. Raja Asyur pun memerintahkan agar seorang imam Israel dicari untuk mengajarkan kepada bangsa-bangsa itu bagaimana beribadah kepada Allah Israel. Tetapi, sebagaimana ditulis dalam bacaan kita hari ini, bangsa-bangsa itu gagal memenuhi tuntutan utama Allah bagi siapa pun yang ingin menyembah Dia. Tuntutan pertama dan utama adalah bahwa mereka hanya menyembah Allah saja. Tuhan menginginkan dedikasi penuh dari hati, pikiran, kekuatan, dan seluruh keberadaan dari orang yang ingin beribadah kepada Dia. Inilah hal pertama yang Tuhan nyatakan kepada orang Israel di dalam 10 hukum (Kel. 20:3). Tetapi kesalahan dari bangsa-bangsa itu adalah mereka tidak mau pikiran mereka dirombak oleh firman Tuhan. Mereka hanya ingin metode menyembah. Mereka juga ingin cara ibadah. Tetapi mereka tidak ingin hal terpenting yang Tuhan tuntut karena pikiran mereka memang tidak sungguh-sungguh dirombak oleh pengertian firman Tuhan. Maka mereka tetap menjalankan ibadah mereka kepada berhala-berhala mereka dan menambah Tuhan sebagai salah satu yang mereka sembah. Penulis kitab Raja-raja menggambarkan betapa sulitnya bangsa-bangsa itu mengubah kebiasaan ibadah mereka. Mereka tidak gampang memasukkan konsep menyembah Allah yang benar ke dalam cara mereka yang salah. Betapa sulitnya memperbaiki kesalahan dalam menyembah ilah palsu. Itulah sebabnya Tuhan sangat melarang Israel mengikuti ibadah bangsa-bangsa lain, karena sekali mereka melakukannya, mereka akan sulit kembali ke penyembahan yang benar kepada Allah sejati.

Untuk direnungkan:
Tuhan memanggil umat-Nya keluar dari persekutuan dengan dunia ini agar mereka tidak dipengaruhi oleh dunia ini dalam menyembah ilah palsu. Mereka dilatih untuk mengenal Allah dan menyembah Allah dengan cara yang berkenan kepada-Nya. Tetapi sebenarnya seluruh dunia, bukan hanya umat Tuhan, seharusnya tunduk kepada Dia. Tuhan menginginkan ini terjadi di tanah tempat Dia menyatakan kehadiran-Nya tetapi ternyata bangsa-bangsa lain hanya sujud kepada Dia sebagai salah satu dari dewa-dewa mereka. Tuhan memanggil kita untuk beribadah kepada Dia saja. Tuhan menuntut seluruh hati kita diberikan kepada Dia. Tidak ada metode, cara, dan ibadah apa pun yang akan menyenangkan hati-Nya kecuali dilakukan dengan hati yang sepenuhnya terarah kepada Dia. Biarlah kita memahami ini baik-baik. Tidak peduli betapa baiknya pelayanan kita. Tidak peduli betapa tingginya kedudukan kita di gereja. Tidak peduli betapa akuratnya kita bertindak atas nama Tuhan, tetapi jika kita tidak dengan segenap hati mengasihi Dia, maka semua yang kita kerjakan tidak ada gunanya. Tetapi jangan lupa bahwa kasih yang sejati berarti menaati Dia sebagai satu-satunya sumber otoritas tertinggi. Kasih yang sejati berarti sujud kepada Dia sebagai satu-satunya Allah yang layak menerima hormat dan sembah kita. Kasih dan hormat, serta penyembahan yang menempatkan Allah sebagai satu-satunya yang tertinggi dan yang mengatur hidup kita dengan sepenuhnya.

Selain memiliki hati yang sepenuhnya terarah kepada Tuhan, Dia juga menginginkan kita berhati-hati dengan pengaruh dosa dan segala tipu daya dunia yang ingin merusak kebenaran yang telah Allah nyatakan kepada kita. Tuhan mengingatkan Israel untuk tidak dipengaruhi oleh bangsa mana pun, baik di sekitar sungai Efrat, Mesir, maupun yang tinggal di Kanaan dan sekitarnya. Demikian juga Tuhan memerintahkan kepada kita untuk menjaga kemurnian cara berpikir kita dengan tidak memasukkan ajaran dunia ini di dalam menyembah Allah. Kemurnian ibadah yang tidak dipengaruhi oleh dunia ini, itulah yang Allah tuntut dari kita semua sebagai umat-Nya. Tidak tahukah kita bahwa cara dunia ini bukanlah sesuatu yang diperkenan Tuhan? Tidakkah kita sadar bahwa pergeseran konsep, iman, dan ibadah kita akan bergeser dengan cara yang makin rusak jika kita tidak menjaga kemurnian hati kita di hadapan Tuhan? Tidakkah kita tahu bahwa sekali saja kita telah dipengaruhi oleh agama-agama dunia ini beserta ajaran-ajaran dunia dan hikmatnya yang tidak mengenal Allah, maka akan sangat sulit bagi kita untuk memperbaiki segala kerusakan cara berpikir yang telah kita miliki. Lihat betapa sulitnya Israel kembali kepada Allah. Lihat keadaan akhir mereka yang harus dibuang oleh Asyur karena mereka menolak untuk kembali kepada Allah ketika Dia memanggil mereka. Lihat bahkan Elia dan Elisa pun tidak sanggup memberikan pembaruan iman yang total kepada seluruh bangsa itu. Tidak menyembah Allah dengan cara yang seharusnya adalah perkara yang sangat besar. Kegagalan kita menyembah Allah yang sejati dengan cara yang seharusnya adalah jalan masuk untuk semua jenis dosa yang lain, yang telah mengintip di pintu dan menanti saatnya dia bisa masuk. Begitu juga dengan bangsa-bangsa lain yang tinggal di daerah Israel setelah Asyur menghancurkan Israel. Mereka tidak bisa mengubah cara penyembahan berhala yang telah berabad-abad mereka anut. Mereka tidak bisa membuang kebiasaan mereka menyembah ilah palsu, tetapi Israel sangat mudah membuang kebiasaan mereka menyembah Allah sejati, dan menggantikan Dia dengan ilah palsu. Inilah kesulitan ketika kita telah dipengaruhi oleh cara menyembah Allah yang telah dipengaruhi cara berpikir dunia ini.

Pertanyaan renungan:

  1. Gambarkanlah relasi kita dengan Tuhan! Apakah kita melayani Dia? Atau hanya sekadar berusaha tidak berbuat dosa? Ataukah kita memiliki hati yang terarah hanya kepada Dia? Mari kita belajar untuk memiliki kehidupan rohani yang mendedikasikan hati kepada Tuhan sepenuhnya.
  2. Seberapa pentingkah bagi kita untuk menjaga pengaruh dunia ini masuk ke dalam cara kita menyembah Allah? Apakah ibadah kita di gereja telah mencerminkan usaha menjaga kemurnian kita menyembah Allah dari segala pengaruh dunia? (JP)