Renungan Harian 135 (Kamis, 10 Januari 2019)

Raja Hizkia dan Kepungan Asyur

Devotion from:

2 Raja-raja 18:1-25

Penjelasan
Setelah Israel dihancurkan oleh Asyur, apakah yang akan terjadi pada Yehuda? Apakah bangsa Asyur akan tetap mempertahankan Yehuda, asalkan mereka tidak memberontak dan setia membayar upeti? Ancaman yang begitu besar dari Asyur, beserta dengan kehancuran Israel, tentu membuat Yehuda seperti tidak mempunyai pengharapan. Tetapi ternyata mereka mempunyai pengharapan yang sangat besar karena raja yang memerintah mereka pada saat itu adalah Hizkia, anak Ahas. Meskipun ayahnya adalah raja yang sangat jahat, tetapi Hizkia menjadi seorang raja yang setia seperti Daud. Kitab Raja-raja tidak pernah memberikan pujian seperti ini kepada seorang raja Yehuda. Kitab ini memang mengatakan bahwa Asa adalah raja yang bertindak benar seperti Daud, tetapi Hizkia dikatakan sebagai raja yang bertindak tepat sama seperti Daud. Tidak bercacat. Asa masih mempunyai kelemahan ketika dia bergantung kepada bangsa lain di dalam keadaan bahaya. Hizkia tidak melakukan itu. Dia hanya berharap kepada Tuhan dan Tuhan menolong dia. Hizkia adalah raja yang diperkenan Tuhan sama seperti Daud diperkenan Tuhan. Inilah alasan mengapa Yehuda tidak bernasib sama dengan Israel. Tanpa adanya raja seperti Hizkia, tentu Yehuda akan segera dibuang Tuhan sama seperti Israel telah dibuang. Apalagi raja terakhir sebelum Hizkia adalah raja Ahas yang sangat jahat dan membuat sakit hati Tuhan dengan kejahatan yang sangat. Pujian penulis kitab Raja-raja sangat tinggi untuk Hizkia. Selain dia berbuat benar tepat seperti Daud, kitab ini juga mengatakan bahwa imannya kepada Tuhan tidak pernah dilebihi oleh siapa pun orang yang pernah menjadi raja Yehuda (ay. 5). Raja yang takut akan Tuhan seperti inilah yang membuat Tuhan menolong Yehuda. Yehuda tidak hancur, melainkan terus diperkokoh oleh Tuhan.

Setelah enam tahun Hizkia menjadi raja, terjadilah peristiwa yang sangat pahit itu, yaitu Israel dihancurkan oleh Asyur. Umat pilihan Tuhan sekarang sebagian telah ditaklukkan sama sekali oleh bangsa kafir. Tidak cukup sampai di situ, 8 tahun kemudian raja Asyur datang untuk memerangi Yehuda. Ayat 21 menunjukkan bahwa raja Asyur pada waktu itu, Sanherib, tidak berniat untuk bernegosiasi dengan Yehuda. Dia tidak ingin upeti Yehuda. Dia juga tidak ingin negosiasi apa pun. Dia telah datang dengan maksud untuk menghancurkan Yehuda. Mengapa Sanherib begitu ingin Yehuda hancur? Karena kekuatan Asyur yang besar mendapatkan tandingan dari kekuatan Mesir, yang meskipun tidak berambisi melakukan ekspansi sebesar Asyur, tetapi tetap merupakan kekuatan yang besar dan berpotensi menghalangi Asyur menguasai daerah Palestina dan sekitarnya. Mesir tentu tidak ingin Asyur menguasai Yehuda yang sudah berada di dalam jarak yang dekat dengan perbatasannya. Jika Yehuda dibiarkan, sangat mungkin mereka akan bersekutu dengan Mesir. Dan jika ini terjadi, Asyur akan kesulitan mengalahkan mereka. Maka Sanherib segera datang untuk memusnahkan Yehuda sebelum Mesir menyusun kekuatan dengan mengadakan perjanjian dengan Yehuda untuk memerangi Asyur. Kedatangan mereka yang tidak berniat negosiasi inilah yang membuat Hizkia berada dalam keadaan yang sangat terjepit. Tantangan orang Asyur sangat tepat untuk menggambarkan keadaan Yehuda ketika itu. Ayat 23 mengatakan bahwa utusan raja Asyur menantang Yehuda untuk memberikan 2.000 orang tentara penunggang kuda dan Yehuda tidak sanggup memenuhinya. Pasukan berkuda mereka begitu sedikit. Bahkan 2 Tawarikh 28:6 mengatakan bahwa Pekah, raja Israel, pernah menewaskan 120.000 tentara Yehuda di dalam satu hari peperangan. Jumlah tentara yang bahkan tidak sanggup menghadapi Israel sekarang harus menghadapi pasukan besar yang menghancurkan Israel. Pasukan Asyur bukan hanya kuat dan besar, tetapi mereka juga sabar di dalam melaksanakan pertempuran mereka. Mereka sabar mengepung Samaria selama 3 tahun sebelum akhirnya menaklukkannya (2Raj. 17:5). Jika Israel yang sanggup mematikan 120 ribu tentara terbaik mereka sekarang hancur di tangan Asyur, apakah harapan yang dimiliki Hizkia? Tetapi penyebab kehancuran Israel bukanlah karena kekuatan militer yang lemah. Tuhan sanggup berperang di depan Israel walaupun hanya disertai dengan 300 orang tentara (Hak. 7:7). Kehancuran Israel adalah karena mereka tidak mau mendengar suara Tuhan dan melanggar perjanjian Tuhan. Jika demikian, karena adanya raja yang setia kepada Tuhan, berarti Tuhan tidak akan menyerahkan Yehuda ke tangan Asyur. Inilah yang akan dibuktikan melalui peristiwa pengepungan Yerusalem yang akan kita bahas esok hari.

Untuk direnungkan:
Terkadang kita menganggap bahwa pola perlakuan Tuhan kepada umat-Nya di dalam Perjanjian Lama tidak sama dengan di dalam Perjanjian Baru. Tetapi ini adalah anggapan yang salah. Tuhan bertindak sama di dalam kesetiaan dan disiplin yang Dia kerjakan, baik bagi Israel maupun bagi Gereja. Itulah sebabnya hal ini perlu kita renungkan sungguh-sungguh. Apakah kehidupan kita telah mencerminkan kesetiaan kita kepada Tuhan? Jika ya, maka Tuhan akan memberikan pimpinan-Nya di dalam situasi apa pun. Dia tidak akan membiarkan kita tidak mengalami kemenangan iman di dalam keadaan apa pun. Dia mungkin tidak membalikkan keadaan seperti yang kita harapkan, tetapi Dia memberikan kita iman, respons kepada Allah, dan cara hidup yang penuh kemenangan di dalam segala situasi dan keadaan. Respons iman inilah kemenangan Israel dan juga kemenangan gereja. Kesetiaan kepada Tuhan dan tidak kompromi dalam keadaan apa pun, itulah kunci bagi kita untuk terus dipimpin dan disertai oleh Tuhan di dalam kehidupan kita. Raja Hosea dari Israel adalah raja terakhir dari serangkaian raja-raja jahat yang memerintah Israel. Mereka telah menjerumuskan Israel ke dalam dosa dan karena itu Tuhan membuang Israel. Tetapi tidak demikian dengan Hizkia. Meskipun dilahirkan dari seorang ayah yang sangat jahat di hadapan Tuhan, tetapi dia tidak menjadi jahat seperti ayahnya. Dia bahkan dengan tepat menjalankan kesetiaan Daud, bapa leluhurnya. Biarlah ini menjadi contoh bagi kita. Bagaimanakah cara hidup kita? Setiakah kita kepada Dia? Biarlah kita berjuang untuk setia kepada Dia, memberikan hati yang didedikasikan sepenuhnya untuk Dia, dan hanya dengan cara itulah kita akan tetap mengandalkan pimpinan-Nya di dalam segala situasi.

Tetapi orang-orang yang tidak pernah belajar setia kepada Tuhan, tidak pernah mau meninggalkan dosa-dosa mereka, dan tidak pernah mempunyai hati yang sungguh-sungguh tunduk dan menyembah Tuhan, mereka tidak mungkin mendapatkan penyertaan Tuhan dan janji kemenangan dari Tuhan. Jangan salah dalam mengenal Tuhan! Penyertaan dan pimpinan-Nya bagi kita selalu menuntut adanya kondisi ketaatan dari pihak kita. Itulah sebabnya Tuhan menjelaskan relasi-Nya dengan umat-Nya dengan istilah perjanjian. Tuhan mengikat perjanjian yang mengharuskan diri-Nya setia kepada umat-Nya, tetapi perjanjian yang sama itu juga mengikat umat-Nya untuk setia kepada Dia sebagai Allah mereka. Tuhan tidak berkewajiban untuk menyatakan pimpinan dan kemenangan-Nya kepada mereka yang sembarangan hidup di hadapan Dia. Tetapi barang siapa terus hidup dengan takut akan Tuhan, dan dengan setia berusaha berkenan kepada Dia, Tuhan tidak akan lupakan orang itu. Tuhan akan berjalan di depan dia dan memberikan kemenangan sama seperti Tuhan berjalan di depan Hizkia dan memberikan dia kemenangan iman di dalam situasi yang sangat tidak mungkin sekalipun.

Pertanyaan renungan:

  1. Jika kita harus menjelaskan posisi iman kita sekarang, seperti siapakah kita telah menjalani kehidupan iman kita? Seperti Hosea, raja Israel yang akhirnya ditaklukkan Asyur? Ataukah seperti Hizkia, yang akan mengalami kemenangan atas Asyur?
  2. Apakah kita merasa tidak ada gunanya berjuang untuk hidup berkenan bagi Tuhan? Ingatlah bahwa berkat melimpah karena hidup yang diperkenan Tuhan akan datang pada waktu kita paling memerlukannya! (JP)