Renungan Harian 136 (Jumat, 11 Januari 2019)

Iman Hizkia dan Penghinaan Sanherib

Devotion from:

2 Raja-raja 18:26-19:19

Penjelasan
Bagian ini menceritakan tentang kesombongan Asyur yang telah menjadi kerajaan besar. Mereka telah menghancurkan banyak sekali bangsa-bangsa dan tidak satu pun dari bangsa-bangsa itu dapat mencegah pasukan tentara Asyur. Juru minuman agung, mewakili raja Asyur menyampaikan kata-kata yang menghina orang Yehuda. Dia, bersama dengan pasukan yang mengepung Yerusalem, terus membujuk orang Yerusalem untuk keluar dari benteng dan menyerahkan diri kepada raja Asyur. Semua penghinaan itu tidak dijawab oleh orang Yehuda. Mereka tetap diam dan mengabaikan segala perkataan utusan Asyur itu. Tetapi ini justru memberikan alasan yang berikutnya bahwa Tuhan akan menolong Yerusalem. Kesombongan Asyur itu akan dibayar dengan sangat mahal oleh mereka dan Yehuda akan tertolong dari kekalahan. Selain karena ada raja yang setia kepada Tuhan, yaitu Hizkia, Yerusalem juga tertolong oleh keangkuhan musuhnya. Mereka tidak sadar bahwa yang membuat mereka sanggup melempar ilah-ilah bangsa-bangsa lain ke dalam api adalah karena Tuhan memang memakai mereka untuk melakukan hal-hal itu. Tuhanlah yang memberikan kekuatan kepada bangsa-bangsa dan membangkitkan mereka untuk berkuasa. Tuhanlah yang menentukan waktunya bagi Asyur untuk bangkit dan Tuhan jugalah yang akan menentukan kehancuran mereka. Tetapi bangsa yang saat ini membangkang melawan Tuhan seperti Asyur ternyata akan Tuhan berikan kesempatan untuk tunduk kepada Dia. Kira-kira abad ke-1 hingga ke-3 tahun Masehi, Asyur akan ditundukkan oleh Romawi dan mendapatkan pengaruh Kristen sehingga menjadi kerajaan Kristen. Tetapi jauh sebelum itu terjadi, Tuhan berniat memukul habis mereka karena perkataan mereka yang menyombong di hadapan Tuhan.

Perkataan Asyur yang menghujat Tuhan itu memberikan harapan kepada Hizkia untuk datang kepada Tuhan. Hizkia datang kepada Tuhan untuk memohon agar Tuhan membela nama-Nya sendiri. Dengan memakai kain berkabung, Hizkia datang kepada Tuhan dan membawa segala perkara penistaan nama Tuhan oleh orang Asyur. Bangsa Asyur bahkan berani menantang bahwa Tuhan tidak akan sanggup menahan mereka untuk menghancurkan Yerusalem. Mereka telah membakar berhala-berhala bangsa-bangsa lain dan mereka ingin melakukan hal yang sama kepada Tuhan yang menjadi Allah Israel. Hizkia tahu bahwa hal ini membuat Tuhan murka. Itulah sebabnya dia datang memohon supaya Tuhan sendiri yang menghukum Asyur dengan segala kesombongan mereka. Jawaban Tuhan melalui nabi Yesaya perlu mendapatkan perhatian. Di dalam 2 Raja-raja 19:7 dikatakan bahwa Tuhan akan membuat raja Asyur kembali ke negerinya sendiri karena mendengar kabar tentang perang. Tuhan berniat membunuh raja itu setelah dia kembali ke negerinya. Tetapi dalam 2 Raja-raja 19:35 dikatakan bahwa Tuhan membunuh seluruh tentara raja Asyur sehingga raja Asyur harus kembali ke negerinya sendiri. Mengapa ada perbedaan? Perbedaan itu terjadi karena setelah mendengar kabar tentang serangan bangsa lain, raja Asyur masih sempat mengirimkan surat kepada Hizkia yang sangat menista Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan memutuskan untuk memaksa raja Asyur pulang, bukan lagi dengan berita perang, tetapi dengan membunuh seluruh tentaranya. Hizkia sendiri setelah membaca surat yang dikirim oleh raja Asyur segera datang kepada Tuhan dan berdoa. Iman Hizkia terlihat dari doa yang dipanjatkannya. Dia tahu bahwa seluruh berhala adalah buatan tangan manusia. Bagaimana mungkin para berhala itu dapat mencegah Asyur? Tetapi Tuhan bukanlah buatan tangan manusia. Sebaliknya, manusialah yang merupakan buatan tangan Tuhan. Bangsa Asyur pun termasuk buatan tangan Tuhan. Maka Tuhan tidak mungkin disamakan dengan ilah-ilah palsu bangsa-bangsa lain. Ilah-ilah palsu dibuat oleh manusia, sedangkan Tuhan adalah yang membuat bangsa-bangsa di bumi.

Untuk direnungkan:
Hizkia berdoa kepada Tuhan ketika saat kesesakan datang. Tetapi doanya bukanlah doa yang sembarangan diucapkan. Doa Hizkia menunjukkan pengertiannya tentang siapakah Tuhan. Dia tahu bahwa ketika permohonannya dipanjatkan, kemuliaan Tuhan dan rencana-Nya harus menjadi alasan utama. Kemuliaan nama Tuhan haruslah menjadi alasan utama seseorang memohon dalam doa. Hizkia berdoa kepada Tuhan bukan karena dia ingin kerajaannya dibebaskan oleh Tuhan. Dia memang sangat menginginkan hal itu, tetapi dia tahu bahwa dia tidak berhak memohon Tuhan membela kerajaan Yehuda jika itu tidak dikaitkan dengan kemuliaan nama-Nya. Maka, di tengah-tengah permohonan untuk Tuhan membebaskan Yerusalem, Hizkia memohon supaya Tuhan menyelamatkan Yerusalem dari tangan raja Asyur sehingga semua kerajaan tahu bahwa hanya Tuhanlah Allah (2Raj. 19:19).

Bolehkah kita berdoa untuk keamanan kita? Bolehkah kita memohon untuk keselamatan kita? Tentu saja. Tetapi biarlah kita juga merenungkan, mengapakah kita harus berada dalam keadaan aman? Mengapa kita harus selamat? Apakah yang membuat kita berhak untuk meminta Tuhan menyertai dan memimpin kita supaya kita selamat dan aman? Tidak ada. Kita tidak berhak sama sekali. Itu sebabnya doa-doa kita harus disertai dengan kesadaran penuh bahwa hanya nama Tuhan yang harus ditinggikan. Jika kita sakit, biarlah kita berdoa supaya Tuhan sembuhkan kita, tetapi juga mendoakan supaya ketika kita sudah sembuh, Tuhan rela memakai kesehatan kita untuk melayani Dia. Hizkia mendoakan supaya Yerusalem selamat dari kehancuran, tetapi dia juga memohon supaya Tuhan yang menyelamatkan Yerusalem dari kehancuran demi membela kekudusan nama-Nya yang telah dicemarkan oleh perkataan-perkataan orang Asyur.

Hal berikut yang dapat kita pelajari juga adalah Tuhan memandang serius setiap penistaan terhadap nama-Nya. Hukum ke-3 langsung mengatakan bahwa nama Tuhan yang kudus tidak boleh disebut dengan sembarangan (Kel. 20:7). Tuhan akan memandang bersalah setiap penyebutan nama-Nya yang tidak disertai rasa hormat. Jika Tuhan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya tanpa rasa hormat, apakah yang akan terjadi pada orang yang menyebut nama Tuhan dengan tujuan menghina nama-Nya? Apakah yang akan menjadi hukuman bagi orang yang menyebut nama Tuhan untuk menghujat nama-Nya yang mulia? Tuhan tidak peduli apakah orang yang menyebut nama-Nya itu sudah percaya atau belum. Semua orang wajib menghormati Dia, mengenal Dia, sungguh-sungguh takut akan Dia, dan sujud menyembah-Nya dengan rela dan kasih. Ini berlaku bagi semua orang (lihat Rm. 1:18-20). Ini juga berlaku bagi semua orang yang tidak mengenal Dia. Mengenal Tuhan adalah kewajiban setiap manusia yang diciptakan oleh-Nya. Maka kegagalan mengenal Tuhan bukanlah tanggung jawab Tuhan. Itulah sebabnya setiap orang, baik yang mengenal Tuhan ataupun yang tidak, dituntut untuk mengucapkan nama Tuhan dengan hormat dan takut. Alangkah menakutkan mendengar orang-orang yang tidak mengenal Tuhan dan yang menolak percaya kepada-Nya mempermainkan nama-Nya. Mereka menyebut nama-Nya dengan penghinaan, penghujatan, dan mempermainkan nama-Nya seolah-olah Dia tidak mendengar dan tidak berdaya melakukan apa-apa. Alangkah kasihan nasib orang yang berani mempermainkan nama Tuhan. Semoga Tuhan berkenan untuk mengampuni orang-orang seperti itu dan mempertobatkan mereka sehingga mereka sungguh-sungguh hormat kepada nama Tuhan.

Pertanyaan renungan:

  1. Apakah yang paling sering kita doakan kepada Tuhan? Apakah kemuliaan nama Tuhan menjadi tujuan akhir dari permintaan kita itu?
  2. Pernahkah mendengar orang tidak percaya yang terlalu berani mempermainkan dan menghina nama Tuhan? Sudahkah perasaan hormat dan takut yang kita miliki membuat kita menyebut nama Tuhan dengan lebih hormat? Jaga baik-baik supaya kita tidak menyebut nama Tuhan dengan cara yang sama dengan mereka. (JP)