Renungan Harian 137 (Sabtu, 12 Januari 2019)

Penghukuman bagi Sanherib, Raja Asyur

Devotion from:

2 Raja-raja 19:20-37

Penjelasan
Ayat 20-34 berisi jawaban Tuhan atas doa Hizkia. Jawaban ini diberikan melalui nabi Yesaya. Tuhan menguatkan hati Hizkia dengan mengabulkan permohonan Hizkia untuk membebaskan Yerusalem dari kepungan Sanherib, raja Asyur. Perkataan nabi Yesaya ini berbentuk puisi yang indah tetapi juga penuh dengan nubuat penghakiman. Ayat 21-22 menggambarkan hinaan Yerusalem kepada raja Sanherib. Mengapa Yerusalem menghina dia? Karena dia telah menghina Tuhan. Orang yang berani menghina Tuhan pasti akan dihancurkan oleh Tuhan. Itulah sebabnya Yerusalem akan menertawakan dan mengolok-olok segala ancaman Asyur. Tuhan sedang mengajarkan Hizkia untuk berserah penuh kepada Tuhan dengan iman dan menyadari bahwa siapa pun yang melawan Tuhan, dia pasti berada di pihak yang kalah. Tetapi sebaliknya, siapa pun yang takut akan Tuhan dan terus mengandalkan Dia saja dalam segala hal, orang itu pasti berada di pihak yang akan menyorakkan kemenangan Tuhan atas musuh-musuh-Nya.

Ayat 23-24 menggambarkan sindiran atas kemenangan-kemenangan Asyur atas bangsa-bangsa lain, termasuk Mesir. Asyur menjadi begitu sombong karena berhasil menaklukkan begitu banyak bangsa. Tetapi ayat 25 mengatakan bahwa Tuhanlah yang memberikan kemenangan itu bagi Asyur. Tuhan tidak perlu dibela oleh siapa pun karena Dia sanggup menggerakkan siapa pun untuk tujuan yang telah ditetapkan-Nya. Israel adalah umat Tuhan yang menjadi alat untuk menyatakan kehendak Tuhan. Tetapi ketika mereka memberontak kepada Tuhan, Tuhan akan membangkitkan bangsa-bangsa lain untuk menjalankan rencana-Nya. Tuhan membangkitkan Asyur untuk rencana penghukuman yang telah Allah tetapkan bagi beberapa bangsa, termasuk Israel. Tetapi Asyur tidak mengerti bahwa dia hanyalah alat di tangan Tuhan. Sekarang mereka berani sombong di hadapan Tuhan yang sedang memakai mereka sebagai alat. Ini hal yang menggelikan sekali. Mungkinkah sebuah pisau menjadi sombong karena dipakai dengan sangat baik oleh seorang ahli masak? Tetapi Asyur menjadi sombong untuk setiap kemenangan-kemenangan yang dia peroleh.

Ayat 27-28 menggambarkan kuasa Tuhan atas Asyur. Tuhan tahu ketika mereka berencana untuk duduk atau pergi menyerang daerah lain. Tuhan tahu segala rencana mereka karena Tuhanlah yang sedang memakai mereka sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi ketika mereka lupa siapa yang berkuasa, maka Tuhan akan memperlakukan mereka seperti binatang yang dituntun dengan kekang di bibir dan kelikir di hidung.

Ayat selanjutnya adalah kata-kata penghiburan Tuhan bagi Hizkia. Tuhan berjanji menjaga dan memagari Yerusalem karena janji-Nya kepada Daud. Betapa besar kesetiaan Tuhan! Dia memelihara perjanjian-Nya dengan Daud sehingga Dia menjaga Yerusalem. Dalam ayat 35 dikatakan bahwa Tuhan mengutus seorang malaikat turun dan membunuh 185 ribu tentara Asyur. Tuhan membuat Sanherib pulang dengan rasa malu yang besar karena seluruh tentaranya mati dalam semalam. Kita tidak diberi tahu bagaimana Tuhan membunuh seluruh tentara Asyur. Apakah dengan penyakit? Ataukah tiba-tiba saja mereka bergelimpangan dan mati? Tetapi intinya Tuhan menimpakan hukuman kepada tentara yang besar itu karena kecongkakan mereka di hadapan Tuhan. Tuhan membuat rendah bangsa besar yang merasa lebih hebat dari Tuhan.

Untuk direnungkan:
Penghiburan besar bagi umat Tuhan adalah ketika menyaksikan bagaimana Tuhan menyertai umat-Nya. Tuhan memberikan kemenangan besar kepada Yehuda tanpa ada satu panah pun ditembakkan. Tuhan membuat mereka menjadi pemenang dan mereka sama sekali tidak ikut perang. Tuhan sendiri yang berperang bagi mereka. Satu orang malaikat cukup untuk mengatasi sebuah bangsa besar yang menakutkan seperti Asyur. Inilah penghiburan besar bagi iman kita. Tuhan memberikan kemenangan karena janji-Nya kepada Daud (ay. 34). Demikian juga sekarang Tuhan memberikan pimpinan dan kemenangan-Nya karena janji-Nya kepada Kristus. Itulah sebabnya kita dapat mengharap kepada Tuhan. Bukan karena kita layak, tetapi karena kita di dalam Kristus. Sama seperti ketaatan Hizkia merupakan ketaatan yang sama dengan Daud. Daudlah tokoh utama janji Tuhan bagi umat-Nya. Demikian juga bagi kita Kristuslah tokoh utama janji setia Tuhan bagi kita semua.

Kekuatan Tuhan tidak akan pernah bisa dibatasi oleh apa pun. Kita mungkin mengalami kepungan Asyur seperti Yerusalem. Mungkin gereja Tuhan dikepung oleh orang-orang yang membenci Tuhan. Mungkin kita hanyalah sekelompok kecil orang di bawah tekanan kuasa pemerintah. Mungkin kita sedang melayani Tuhan tetapi tantangan yang menghadang di depan begitu besar dan sulit. Inilah yang dapat kita harapkan, yaitu untuk kemuliaan nama-Nya Dia akan bertindak bagi kita semua. Dia akan menjalankan apa yang telah Dia janjikan bagi umat-Nya, yaitu bahwa apa pun yang menantikan di depan, tidak satu pun yang akan menggagalkan rencana Tuhan melalui kita. Hizkia melihat kemenangan karena Tuhan menghancurkan Asyur di depan dia. Kita akan melihat kemenangan di tengah-tengah segala usaha dan perjuangan kita untuk nama Tuhan. Kelompok kecil pengikut Kristus yang bukan hanya mampu bertahan dari serangan kerajaan Romawi, tetapi yang akhirnya memengaruhi kerajaan itu menjadi kerajaan Kristen. Berita Injil yang disebarkan dengan keberanian hingga seluruh benua dijangkau. Kegigihan orang-orang Kristen menyatakan kemuliaan nama Tuhan Yesus hingga akhirnya orang-orang datang dan mengikut Kristus. Bukankah ini semua kemenangan besar yang luar biasa? Kadang kita hanya membaca sebuah kisah lalu mengaguminya sebagai bagian dari masa lalu yang pernah terjadi. Tetapi bagian ini ditulis bukan hanya untuk menjadi kisah yang kita bisa kenang hingga sekarang. Bagian ini ditulis untuk membuat kita tahu, bahwa Tuhan yang menghantam 185 ribu tentara Asyur adalah Tuhan yang sekarang berjalan memimpin hidup kita. Bagian ini dimaksudkan untuk membuat kita sujud seperti Hizkia sujud, dengan motivasi dan hati yang sepenuhnya ingin nama Tuhan dipermuliakan, memohon penyertaan Tuhan dan dengan iman yang sejati menantikan saat Tuhan menyatakan penyertaan-Nya. Halangan apakah yang ada di depan kita? Orang-orang yang membenci Tuhan dan sepertinya tidak mungkin diinjili? Daerah yang terlalu melawan Tuhan sehingga kekristenan tidak mungkin berkembang? Memberikan pengaruh di tengah-tengah bangsa dengan budaya yang telah terlalu rusak? Sebelum Tuhan dengan jelas menjawab “tidak” untuk permohonan kita, mari kita terus berharap Tuhan rela membuka jalan di depan. Jika Dia belum menutup jalan, mengapa kita lebih dahulu menutup jalan di depan kita karena ketidakpercayaan kita? Jika Tuhan belum meruntuhkan tembok Yerusalem, mengapa Hizkia harus mengibarkan bendera putih dan menyerah kepada Asyur? Kita tidak ingin memaksakan kehendak kita dengan mengatur Tuhan apa yang harus Dia lakukan. Tetapi Tuhan tidak pernah menghina pengharapan tulus yang dipanjatkan oleh orang-orang percaya sambil mengingat bahwa hal-hal besar yang Tuhan pernah lakukan akan Dia lakukan lagi bagi umat-Nya dan bagi kemuliaan nama-Nya.

Pertanyaan renungan:

  1. Adakah situasi terjepit seperti Hizkia yang kita sedang rasakan? Keadaan yang membuat kita menyerah dan berhenti mengandalkan apa pun yang kita miliki karena semua tidak lagi mungkin menolong kita? Biarlah kita berharap dengan rendah hati kepada Tuhan dan menantikan pertolongan-Nya.
  2. Bagaimanakah cara kita memohon pertolongan Tuhan? Apakah dengan iman seperti Hizkia? Dia berdoa dengan rendah hati memohon Tuhan bekerja demi kemuliaan nama-Nya. Demi kemuliaan nama-Nya! Bukan demi kelegaan pribadi Hizkia. Bukan juga demi kenikmatan hidup orang Yerusalem yang terkepung. (JP)