Renungan Harian 138 (Minggu, 13 Januari 2019)

Nubuat-nubuat bagi Hizkia

Devotion from:

2 Raja-raja 20:1-21

Penjelasan
2 Raja-raja 21:1 mengatakan bahwa Manasye, anak Hizkia, berumur 12 tahun pada waktu dia menjadi raja. Manasye kemudian memperanakkan Amon, dan Amon memperanakkan Yosia, raja yang telah dinubuatkan Tuhan sejak zaman Yerobeam anak Nebat (1Raj. 13:2). Mengapa ini harus dibahas? Untuk menunjukkan bahwa Tuhan telah berencana untuk memberikan tambahan 15 tahun usia kepada Hizkia di dalam 2 Raja-raja 20:5-6. Jika Manasye berusia 12 tahun pada waktu dia menjadi raja, maka ketika Hizkia sakit dalam ayat 1 dia belum ada. Jika Hizkia benar-benar mati seperti yang dikatakan Tuhan dalam ayat 1, maka Manasye tidak akan pernah dilahirkan. Berarti Tuhan memaksudkan untuk memperpanjang hidupnya karena memang anak yang akan meneruskan takhtanya belum ada. Tetapi Tuhan mengizinkan permohonan Hizkia menjadi faktor penting rencana itu terjadi. Tuhan memaksudkan agar pelaksanaan rencana-Nya melibatkan doa Hizkia di dalamnya. Hizkia menjadi sakit lalu Tuhan memberikan firman bahwa dia akan mati karena penyakitnya ini. Tetapi permohonan Hizkia membuat Tuhan menyembuhkan dia dan memberikan ekstra 15 tahun hidup bagi dia (ay. 6). Begitu besarnya Tuhan mengasihi Hizkia sehingga Dia mengizinkan ada tanda ajaib untuk menunjukkan bahwa apa yang difirmankan-Nya benar-benar akan terjadi. Ayat 10 mengatakan bahwa jam matahari buatan Ahas menjadi mundur 10 tapak. Karena jam itu adalah jam matahari yang mengandalkan bayangan akibat terpaan sinar matahari sebagai petunjuk, maka ketika jam itu mundur, ini berarti matahari juga mundur. Tuhan mengizinkan ini terjadi demi memberikan tanda bahwa nubuat-Nya tentang Hizkia benar-benar akan terjadi.

Nubuat kedua yang Tuhan berikan kepada Hizkia melalui nabi Yesaya adalah mengenai Babel. Ayat 12-13 menunjukkan bahwa Hizkia menjalin relasi yang dekat dengan raja Babel. Ini bisa dimaklumi karena pada tahun-tahun itu, Babel, sebuah kerajaan di sebelah tenggara Asyur, adalah kerajaan yang memusuhi Asyur. Babel mengikat perjanjian dengan kerajaan Media untuk memberontak dari kuasa Asyur dan beberapa kali memerangi Asyur. Musuh dari kerajaan Asyur tentu diterima dengan senang hati oleh Hizkia. Hizkia menerima raja Babel dan menunjukkan harta benda dan persenjataannya kepada raja Babel. Lalu nubuat Yesaya datang di dalam ayat 17 dan 18. Babel akan menjadi musuh Yehuda dan menjarah isi kota Yerusalem, baik harta benda maupun persenjataan. Bahkan Yesaya menubuatkan bahwa orang-orang Yehuda akan diangkut oleh Babel, termasuk anak-anak keturunan raja Hizkia. Respons Hizkia adalah respons yang egois. Ayat 19 mengatakan bahwa Hizkia tidak peduli nubuat mengerikan itu asalkan pada zamannya terdapat kedamaian dari Tuhan. Dia tidak memohon kembali kepada Tuhan untuk melindungi Yehuda dari Babel seperti dia memohon untuk kesembuhannya di dalam ayat 3.

Tetapi apakah maksud dua nubuat ini? Nubuat mengenai kesembuhan Hizkia, perpanjangan umurnya hingga 15 tahun dan nubuat mengenai kedatangan Babel untuk menghancurkan Yehuda, mengapa dua nubuat ini dicatat sebagai penutup kisah mengenai kehidupan Hizkia? Dua nubuat ini mewakili dua hal yang akan terjadi pada kerajaan Yehuda. Hal pertama adalah pertolongan dan perlindungan Tuhan karena nama-Nya dan karena janji-Nya kepada Daud (ay. 6). Tuhan akan memelihara Yehuda karena Dia mengingat janji-Nya kepada Daud, tetapi Tuhan juga akan memberikan bencana melalui kedatangan raja Babel suatu saat nanti. Ini merupakan nubuat karena keturunan Hizkia tidak setia seperti Hizkia setia. Mereka akan membangkitkan murka Tuhan sehingga Tuhan berjanji akan menghancurkan kerajaan Yehuda di tangan bangsa lain, yaitu Babel. Dua nubuat yang bertolak belakang diberikan karena antara janji Tuhan dengan tingkah laku Yehuda juga bertolak belakang. Berdasarkan janji setia-Nya, maka Tuhan akan memelihara takhta kerajaan Yehuda. Berdasarkan ketidaksetiaan Yehuda kepada Tuhan, maka Tuhan murka dan membuang mereka.

Untuk direnungkan:
Dua hal menjadi pokok renungan kita untuk bagian ini. Yang pertama adalah kesetiaan Tuhan kepada perjanjian-Nya membuat kita yang beriman kepada Kristus berada dalam posisi yang aman. Tuhan tidak akan melupakan janji-Nya dan kita tidak akan mungkin gagal dipelihara oleh Tuhan. Tuhanlah juruselamat dan penolong kita berdasarkan janji-Nya kepada kita. Karena Tuhan adalah Allah yang berkuasa, setia, dan berjanji, maka kita memperoleh pengharapan yang kuat bahwa Dia akan terus menjadi Tuhan dan juruselamat kita. Inilah pernyataan nubuat yang pertama. Tuhan berjanji memberikan 15 tahun hidup tambahan kepada Hizkia, bahkan memberikan tanda supranatural untuk janji ini, supaya di dalam 15 tahun tambahan ini Hizkia mempunyai keturunan yang akan meneruskan takhta kerajaannya dan di dalam 15 tahun tambahan ini juga Asyur akan dihancurkan oleh Tuhan. Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai pihak yang dengan setia melaksanakan bagian dari perjanjian-Nya dengan rela. Tuhan melakukan ini demi nama-Nya dan demi Daud (ay. 6). Demikian juga dengan hidup kita bersama dengan Tuhan. Tuhan akan melaksanakan bagian-Nya di dalam perjanjian dengan kita sehingga kita menjadi umat-Nya yang menikmati kesetiaan-Nya terhadap apa yang telah Dia janjikan. Keselamatan, status sebagai anak-anak-Nya, dan penyertaan-Nya seperti seorang bapa yang baik menyertai anaknya, semua ini adalah bagian dari janji-Nya kepada kita. Karena nama-Nya dan karena Kristus, Anak-Nya, kita dapat memastikan janji-Nya tidak ada yang tidak Dia laksanakan.

Tetapi nubuat kedua juga harus menjadi bahan renungan kita. Tuhan berjanji akan menghukum Yehuda karena, akan terbukti melalui dua raja Yehuda setelah Hizkia, Yehuda gagal melaksanakan bagiannya dalam perjanjian. Mereka gagal mengerjakan hal yang paling utama, yaitu jangan ada ilah lain di hadapan Tuhan. Mereka menyembah berhala-berhala dan meninggalkan perjanjian dengan Tuhan. Itu sebabnya nubuat pembuangan harus dinyatakan oleh Tuhan. Dari sisi Tuhan perjanjian itu telah ditepati dengan sempurna. Tetapi dari sisi umat-Nya, kegagalan demi kegagalan terus terjadi dan itu semua membangkitkan murka-Nya. Kegagalan Hizkia untuk berdoa bagi generasi selanjutnya dari bangsanya menunjukkan kegagalannya untuk mempunyai hati bagi umat Tuhan dalam generasi selanjutnya. Dia hanya ingin generasinya aman. Selanjutnya seperti apa dia tidak lagi peduli. Biarlah kita belajar untuk tidak seperti itu. Biarlah kita merasa terganggu jikalau bangsa kita tidak hidup dengan benar. Biarlah kita merasa terganggu jikalau gereja kita tidak menjalankan panggilannya di hadapan Tuhan dengan setia. Semua ini membuat kita merindukan pertobatan baik di tengah-tengah bangsa kita maupun di tengah-tengah gereja Tuhan. Sebab kegagalan bangsa kita dan kegagalan gereja kita adalah kegagalan yang akan memengaruhi kita juga. Sama seperti orang-orang Yehuda yang taat kepada Tuhan merasakan pahitnya pembuangan ke Babel, demikian juga sekarang orang-orang yang taat kepada Tuhan akan merasakan pahitnya penghukuman Tuhan bagi bangsa kita atau bagi gereja kita. Dua nubuat ini mengingatkan kita untuk melakukan dua hal. Yang pertama adalah bersyukur karena Tuhan akan memelihara dengan setia bagian perjanjian-Nya bagi umat-Nya sehingga kita berada di tangan Tuhan yang Mahakuasa. Yang kedua adalah berdoa bagi bangsa kita dan gereja kita agar mereka melaksanakan apa yang seharusnya mereka jalankan. Kita mendoakan supaya Tuhan tidak membuang bangsa dan gereja kita. Jika Tuhan membuang, maka kita akan mengalami penderitaan seperti orang-orang benar di Yehuda yang turut mengalami penderitaan dibuang ke Babel. Kita tidak boleh berkata seperti Hizkia berkata, “yang penting ada damai di hidupku…”

Pertanyaan renungan:
Apakah hati kita senantiasa bersyukur untuk janji keselamatan yang telah Allah berikan di dalam Kristus? Apakah ucapan syukur itu dibarengi dengan doa syafaat bagi bangsa dan gereja kita? (JP)