Renungan Harian 139 (Senin, 14 Januari 2019)

Manasye dan Amon

Devotion from:

2 Raja-raja 21:1-26

Pembahasan
Bacaan hari ini membahas tentang dua raja yang sangat jahat di Yehuda. Yang terutama adalah Manasye. Dialah alasan kesabaran Tuhan habis sehingga Tuhan membuang Yehuda. Dia menyembah Baal dan Asyera, bahkan mendirikan mezbah bagi berhala di Bait Suci Tuhan! Dia juga memanggil roh dan menanyakan masa depan kepada para peramal. Di dalam ayat 11 Tuhan bahkan menyatakan bahwa Manasye bertindak lebih jahat dari orang-orang Kanaan yang Tuhan telah singkirkan. Kejahatan dia tidak sampai di situ, ayat 16 mengatakan bahwa Manasye melakukan kejahatan dengan membunuh banyak sekali orang yang tidak bersalah. Tuhan sangat membenci kekerasan. Jangan lupa bahwa alasan Tuhan memberikan air bah pada zaman Nuh adalah karena penduduk bumi telah penuh dengan kekerasan (Kej. 6:5). Inilah keadaan yang membuat Tuhan menubuatkan tentang kehancuran Yehuda kepada Hizkia di dalam pembahasan kita kemarin. Anak Hizkia ternyata adalah penyembah berhala yang lebih rusak dari raja Ahab di Israel. Lebih dari dosa-dosa raja-raja Israel, Manasye melakukan segala penyembahan berhala dengan penghinaan kepada Tuhan karena mendirikan patung berhala dan mezbah untuk berhala di Bait Allah! Inilah raja yang membuat Tuhan tidak lagi menunda pemusnahan bagi Yehuda. Meskipun cucu Manasye, yaitu Yosia, akan membersihkan Yehuda dari berhala dan membawa Yehuda kembali menyembah Allah, tetapi kerusakan yang telah dibuat Manasye begitu besar sehingga Yosia pun tidak sanggup mengubah hati Tuhan yang sudah akan membuang umat-Nya yang masih tersisa (2Raj. 23:26).

Di dalam 2 Tawarikh 33:10-16 dikisahkan mengenai hukuman dan pertobatan Manasye. Manasye dihukum Tuhan karena segala peringatan Tuhan tidak dia perhatikan sama sekali. Maka Tuhan mengirimkan orang Asyur untuk menangkap Manasye dan membelenggu dia dan menyeret dia dengan kaitan ke Babel. Manasye sadar dan bertobat. Dia berdoa dan memohon kepada Tuhan dan Tuhan membebaskan dia sehingga dia dapat kembali ke Yerusalem. Setelah itu dia menyembah Tuhan, Allah Israel, dan membuang semua berhala yang pernah dia dirikan. Dia bahkan memberikan perintah kepada seluruh Yehuda untuk beribadah hanya kepada Tuhan. Perubahan yang demikian drastis dan mengharukan ini ternyata tidak mengubah hati Tuhan untuk membuang Yehuda. Mengapa Tuhan tidak mengubah rencana pembuangan-Nya? Kemungkinan jawaban atas pertanyaan ini adalah bahwa kerusakan yang dibawa Manasye dan pengaruh penyembahan berhala dan arwah-arwah yang dia lakukan sudah terlalu memengaruhi rakyat Yehuda sehingga pertobatannya sekalipun tidak sanggup mengubah seluruh Yehuda. Dosa yang dilakukan Manasye telah masuk ke dalam kebiasaan rakyat Yehuda dengan begitu kental sehingga membuat kesabaran Tuhan habis. Pertobatan Manasye hanya bisa untuk pemulihan bagi Manasye sendiri dan penduduk Yehuda yang ikut bertobat bersama dengan Manasye, tetapi tidak untuk seluruh bangsa Yehuda.

Keadaan makin diperburuk ketika Amon, anak Manasye bertindak jahat sama seperti Manasye. Tetapi Amon hanya memerintah dua tahun dan setelah itu terjadilah pembunuhan terhadap raja. Tetapi Tuhan masih memelihara keturunan Daud karena takhta Daud tetap terlindungi. Meskipun Manasye dan Amon adalah dua raja yang menjerumuskan Yehuda ke dalam penyembahan berhala yang paling parah, tetapi Tuhan masih memelihara janji-Nya kepada Daud sehingga para pembunuh Amon dibunuh oleh penduduk Yehuda dan mereka mengembalikan takhta kerajaan kepada Yosia yang masih berumur 8 tahun.

Untuk direnungkan:
Bagian ini memberikan banyak pelajaran yang limpah kepada kita. Tetapi marilah kita fokus kepada satu hal saja, yaitu kejahatan Manasye yang membuat kesabaran Tuhan habis. Biarlah kita pikirkan hal ini. Kesabaran Allah yang begitu besar sekarang menjadi hilang dan Dia berniat akan membuang Yehuda. Jangan menguji kesabaran Tuhan! Ketika Manasye melakukan semua perbuatan itu, dia sudah membuat Tuhan memutuskan untuk membuang mereka. Pertobatannya dan cucunya, yaitu Yosia tidak bisa mengubah apa yang Tuhan telah tetapkan. Inilah contoh yang sangat akurat tentang dosa, akibat sosial dari dosa, dan konsekuensi yang harus ada walaupun pertobatan yang sejati telah terjadi. Dosa membuat raja Manasye tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk luput dari hukuman Tuhan. Dosanya juga membuat raja Manasye merasa tidak perlu mendapatkan teguran dan peringatan dari Tuhan. Akibat dari dosa Manasye bukan saja ada pada dirinya. Akibat dosa Manasye adalah seluruh Yehuda bertindak rusak sama seperti dia. Penyembahan berhala begitu besar pengaruhnya hingga sekarang sehingga sekali memengaruhi umat Tuhan, akan sangat sulit untuk meninggalkan atau melawan pengaruhnya atas kehidupan bangsa Yehuda. Inilah pengaruh rusak dari Manasye yang menyebabkan Tuhan tidak lagi berbalik dari rencana membuang Yehuda. Kemudian hal yang berikut adalah konsekuensi dosa Manasye. Meskipun kitab 2 Tawarikh mengatakan bahwa dia sungguh-sungguh bertobat dari dosa-dosanya, telah menjadi nyata bahwa dampak dosanya yang sangat besar tidak begitu saja hilang. Pertobatan sejati memang menghilangkan konsekuensi kekal dari dosa-dosa kita, tetapi pertobatan tidak membuat konsekuensi sementara menjadi hilang. Manasye telah menjadi penyebab segala kerusakan yang telah diperbuat oleh orang Yehuda. Dan meskipun di dalam 2 Tawarikh 33 Manasye berusaha membalikkan arah hati penduduk Yehuda dari berhala kembali kepada Tuhan, ternyata setelah itu Yehuda tetap jatuh kembali kepada penyembahan berhala di bawah pemerintahan Amon, anak Manasye.

Biarlah kita mengingat ini setiap kali godaan untuk jatuh dalam dosa muncul. Biarlah kita peka terhadap apa yang Tuhan benci dan mengingat bahwa kerusakan akibat dosa merupakan sesuatu yang berdampak lebih besar dari yang kita kira. Dosa selalu mempunyai sisi merusak siapa pun yang berbuat, tetapi juga sisi merusak lingkungan sekitar. Keberdosaan kita akan membuat kita semakin rusak, tidak peka, dan akhirnya memberikan pengaruh kepada lingkungan sekitar kita. Jika kita sedang jatuh ke dalam dosa, kita sering kali tidak sadar bahwa tindakan kita akan memberikan konsekuensi kepada diri kita sendiri maupun kepada orang-orang yang di sekitar kita. Tetapi hal yang harus kita ingat baik-baik dari bagian ini adalah bahwa pertobatan tidak menghapus konsekuensi dosa kita dengan total. Apakah pertobatan yang sejati tidak sanggup membuat kita selamat? Tentu bukan itu maksudnya. Pertobatan sejati pasti adalah pertobatan yang diterima Tuhan. Pertobatan yang membuat status kita berpindah dari dalam maut kepada hidup. Tetapi ini tidak berarti setiap konsekuensi yang terjadi akibat dosa kita bisa tiba-tiba hilang. Orang-orang sekitar kita yang telah kita rusak dengan keberdosaan kita akan terus dirugikan dengan kerusakan yang telah terjadi. Diri kita pun harus membayar harga dari kerusakan yang diakibatkan oleh keberdosaan kita. Marilah mempunyai kepekaan tentang hal-hal seperti ini sebelum kita dengan sembarangan menjalani hidup dan terjerumus dalam dosa.

Pertanyaan renungan:

  1. Apakah yang kita lakukan di dalam hidup yang merupakan sesuatu yang akan memberikan pengaruh baik atau merusak? Ingatlah bahwa dosa selalu merusak! Dosa tidak pernah membuat manusia menjadi lebih baik.
  2. Bagaimanakah kehidupan kita sebelum mengenal Tuhan? Apakah sudah banyak perubahan yang terjadi sebelum terima Tuhan dengan sesudahnya? Adakah hal-hal buruk yang tetap terus menerus kita kerjakan meskipun telah kembali kepada Tuhan? (JP)