Renungan Harian 140 (Selasa, 15 Januari 2019)

Seruan Sakit Hati Tuhan

Devotion from:

Yeremia 15:1-9

Penjelasan
Hari ini kita akan mendalami firman Tuhan yang dinyatakan melalui Yeremia. Bacaan ini adalah seruan sakit hati Tuhan karena apa yang telah dilakukan raja Manasye dari Yehuda. Kerusakan dan dosa yang dikerjakan begitu besar dan mendatangkan sakit hati yang sangat besar kepada Tuhan. Marilah kita melihat cara Kitab Suci kita membahas tentang perasaan Allah. Kita tidak percaya kepada ajaran yang mengajarkan bahwa Allah tidak memiliki perasaan. Dia yang Mahakuasa dan tidak mungkin merasakan karena Dia merancangkan segala sesuatu. Tetapi ajaran-ajaran seperti ini bukan dari Alkitab. Ini adalah ajaran yang dipengaruhi Stoisisme. Stoisisme percaya bahwa rasio murni akan mematikan perasaan-perasaan manusia dan bahwa mempunyai perasaan adalah tanda ketidaksempurnaan. Kalau Allah itu sempurna, maka Dia tidak lagi mempunyai perasaan-perasaan. Kalau manusia makin sempurna, maka dia tidak lagi mengandalkan perasaan-perasaannya. Tetapi Alkitab menyatakan bahwa Allah yang sempurna adalah Allah yang mempunyai perasaan. Dia bisa bersukacita, bersedih, marah, sakit hati, murka, mengasihi, mengampuni, dan lain-lain. Merasa seperti Allah merasa adalah tanda kedewasaan. Jika Allah sedih karena sesuatu dan kita juga merasa sedih karena hal yang sama, maka ini berarti kita telah dewasa. Tanda kedewasaan adalah merasakan seperti Allah merasakan.

Perhatikan bagaimana Yeremia menggambarkan perasaan Allah karena tindakan Manasye. Ayat 1 mengatakan bahwa Dia tidak akan berbalik dari murka-Nya meskipun ada Musa dan Samuel menjadi imam yang mendoakan Yehuda di bawah pemerintahan Manasye. Tuhan menolak mereka apalagi orang-orang lain. Tuhan sudah begitu marah sehingga tidak ada yang dapat meredakan amarah-Nya, sekalipun itu adalah orang-orang penting seperti Musa, yang pernah meredakan amarah Tuhan ketika orang Israel menyembah anak lembu emas, dan Samuel, yang pernah berseru semalam-malaman untuk Saul yang sudah akan Tuhan tolak. Dua orang yang sangat mengasihi umat Tuhan ini pun tidak akan membuat Tuhan mengubah rencana-Nya untuk memusnahkan Yehuda. Tuhan akan mengusir mereka dari hadapan-Nya, terbuang jauh dari tanah perjanjian yang telah Tuhan berikan kepada mereka melalui janji dengan nenek moyang mereka.

Ayat ke-2 mengatakan bahwa mereka akan mati atau ditawan. Tuhan akan membiarkan umat-Nya diserang dan dikalahkan oleh bangsa lain. Sebagian dari mereka akan mati oleh pedang, sebagian lagi akan mati karena kelaparan oleh pengepungan musuh, dan sebagian lagi akan tertawan dan terbuang ke negeri bangsa-bangsa kafir. Ini adalah gambaran keadaan yang begitu menakutkan. Murka Tuhan yang menyala-nyala membuat Yehuda seperti tinggal di tempat pembantaian. Mereka bukan lagi hidup sebagai orang buangan, tetapi lebih dari itu, mereka menjadi bangsa untuk dibantai. Kematian yang begitu mengerikan akan menimpa mereka karena kesalahan Manasye (ay. 4). Kita telah membahas mengenai betapa besarnya dosa Manasye dengan menghina dan memberontak kepada Tuhan. Dia bahkan membuat patung-patung berhala sekaligus mezbah untuk menyembah berhala-berhala itu dan meletakkannya di Bait Suci! Dia juga memenuhi seluruh Yehuda dengan kejahatannya. Raja yang jahat, penyembah berhala, dan tidak memedulikan firman Tuhan. Inilah Manasye. Maka Tuhan menyatakan bahwa karena kejahatan raja ini Tuhan akan menghancurkan Yehuda sehingga Yehuda menjadi kengerian bagi bangsa-bangsa lain. Mereka akan kaget dan bertanya-tanya, “mengapa keadaan Yerusalem seperti ini? Mengapa Yehuda hancur seperti ini? Apakah yang menyebabkan ini semua?” Dan Tuhan akan menjawab bahwa mereka mengalami itu semua karena mereka memberontak kepada Allah mereka dan pergi beribadah kepada ilah-ilah lain. Di dalam ayat 6 Tuhan bahkan mengatakan bahwa Dia sudah bosan untuk menyesal menghukum Yehuda. Dia sudah bosan merasa kasihan. Mengapa? Sebab setiap diberikan belas kasihan, Yehuda tetap tidak meninggalkan dosa-dosa mereka. Apa gunanya belas kasihan diberikan kepada bangsa yang terus menerus menghina belas kasihan Allah?

Kitab Yeremia memang penuh dengan emosi murka Allah atas Israel dan Yehuda. Umat Tuhan yang telah meninggalkan Tuhan dan menghina Dia serta menginjak-injak perjanjian-Nya dengan pergi beribadah kepada allah lain, umat Tuhan yang inilah yang terus menerus membuat Allah marah. Kalimat demi kalimat hukuman dan murka terus dinyatakan dengan sangat banyak bagi Israel dan Yehuda. Semua kata-kata melawan para pemimpin Israel dan Yehuda juga telah membuat Yeremia menjadi nabi yang dibenci oleh para penguasa Yehuda. Bacalah baik-baik bacaan kita hari ini, dan kita akan melihat betapa besarnya kalimat-kalimat emosional yang Tuhan nyatakan dengan jujur kepada manusia. Tetapi setiap peringatan Tuhan selalu dimaksudkan untuk pertobatan, kecuali peringatan itu diberikan setelah habis waktu kesabaran Tuhan, barulah peringatan itu berubah menjadi nubuat penghukuman yang pasti akan terjadi.

Untuk direnungkan:
Melihat murka Tuhan yang begitu besar tentu membuat kita menjadi begitu kasihan kepada bangsa Yehuda. Tetapi kita harus ketahui bahwa Tuhan telah lama bersabar kepada mereka. Biarlah kita sadar betapa besar kasih Allah kepada mereka, sebab hanya kasih yang sedemikian besar yang dapat merasakan disakiti sedemikian dalam. Ketika kasih dan setia Tuhan dibalas dengan pengkhianatan dan penyembahan berhala oleh umat-Nya berkali-kali, ketika itulah kalimat-kalimat murka muncul dari Tuhan. Tuhan adalah Allah yang sabar. Itulah sebabnya ratusan tahun kemudian barulah Dia memutuskan untuk menghukum Israel. Setelah itu Dia masih memberikan sekitar dua ratus tahun bagi Yehuda untuk bertobat agar tidak dibuang seperti Israel. Ini pun mereka abaikan. Sangat pantas jika Tuhan murka seperti dalam bacaan kita hari ini.

Marilah kita sama-sama merenungkan dua sisi ini dari Allah kita. Kasih-Nya yang sangat besar membuat Allah murka dengan amat sangat ketika selama ratusan tahun umat-Nya mengabaikan kasih-Nya itu. Biarlah kita pun menjalin relasi kita dengan kesadaran tentang siapakah Tuhan. Dia memanggil kita dengan kesabaran yang begitu besar. Tidak ada yang dengan setia menuntun kita dan menantikan kita berubah sebesar Dia yang dengan setia menanti dan menuntun kita kepada perubahan. Tidak ada yang bersedia menerima kita dengan penuh kasih dan kesabaran seperti Tuhan sudah menerima kita. Tetapi marilah kita hidup untuk menyenangkan Dia mulai hari ini. Jangan terus menguji kesabaran-Nya kepada kita. Betapa besar sakit hati Tuhan jika kita mempermainkan anugerah-Nya seperti Israel dan Yehuda telah mengabaikan Dia dan mempermainkan anugerah-Nya. Dan jangan lupakan juga bahwa kitab Yeremia adalah kitab yang memuat tentang pengampunan Tuhan setelah Dia murka dengan sedemikian besar kepada umat-Nya. Inilah kitab yang mengajarkan tentang Perjanjian Baru yang akan Tuhan adakan dengan umat-Nya walaupun umat-Nya telah demikian menyakiti hati-Nya (Yer. 31:31-34). Kitalah pewaris dari Perjanjian Baru yang dimeteraikan dengan darah Kristus itu. Kitalah bukti belas kasihan Tuhan dan kesabaran Tuhan kepada umat-Nya. Kitalah bukti bahwa Tuhan masih mau mengampuni umat-Nya dan memulihkan keadaan mereka walaupun mereka berada dalam kondisi yang sangat kasihan. Tuhan tetap memulihkan Israel, mengirimkan Sang Mesias, Anak Daud untuk menjadi Raja dan Juruselamat, dan Dia memanggil kita dari berbagai bangsa untuk merasakan cinta kasih, belas kasihan, dan pengampunan Tuhan kita.

Pertanyaan renungan:
Apakah kita menyadari setiap kali kita datang kepada Tuhan, bahwa Tuhan memberikan pengampunan yang sangat besar sehingga menutupi murka-Nya yang besar? Tanpa kita menyadari betapa besar Tuhan telah murka, maka kita tidak akan pernah tahu keagungan pengampunan yang Tuhan berikan kepada kita. (JP)