Renungan Harian 151 (Sabtu, 26 Januari 2019)

Memulai Pembangunan

Devotion from:

Ezra 3:1-13

Setelah tujuh bulan orang Israel kembali ke daerah mereka, maka mereka berkumpul di Yerusalem untuk membuat mezbah tempat mempersembahkan korban kepada Tuhan. Ini mereka lakukan karena mengingat bahwa kesalahan nenek moyang mereka dahulu adalah karena mendirikan mezbah di tempat-tempat yang mereka senangi, dan bukan di tempat yang telah ditentukan Tuhan, yakni di Yerusalem. Nenek moyang mereka mempersembahkan korban di tempat-tempat bangsa-bangsa kafir mempersembahkan korban kepada ilah-ilah mereka. Karena mereka sembarangan di dalam memilih tempat mempersembahkan korban, maka mereka makin terseret untuk dipengaruhi cara bangsa-bangsa lain menyembah ilah mereka, dan akhirnya mereka sendiri pun jatuh ke dalam penyembahan berhala. Kesalahan inilah yang ingin dihapus oleh orang-orang yang kembali dari pembuangan. Mereka tidak mau mengulangi kesalahan dari nenek moyang mereka. Itulah sebabnya mereka mendirikan mezbah di tempat yang seharusnya dengan dipimpin oleh imam Yesua dan Zerubabel anak Sealtiel, keturunan Daud.

Pembangunan itu dimulai walaupun mereka belum tahu apa reaksi penduduk sekitar Yerusalem. Di tengah-tengah ketakutan mereka akan reaksi penduduk yang telah mendiami Yerusalem itu, mereka tetap menjalankan perintah Allah. Mereka membangun mezbah, mempersembahkan korban sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Allah, dan mereka juga merayakan hari raya Pondok Daun, sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan. Dua hal ini, mezbah untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, dan perayaan Pondok Daun adalah usaha mereka untuk kembali sebagai umat Tuhan yang taat kepada Tuhan. Merekalah hasil pembersihan yang Tuhan kerjakan dengan membuang mereka ke Babel dan sekarang mereka mempersiapkan kebiasaan yang baru bagi Israel, yaitu kebiasaan menyembah Allah yang sejati dengan cara yang berkenan kepada-Nya.

Dua tahun kemudian mereka memulai pekerjaan besar yang dipercayakan kepada mereka, yaitu membangun Bait Allah. Mereka harus membangun Bait Allah karena bait itulah tempat mereka datang beribadah kepada Tuhan sekaligus tempat yang menjadi tanda penyertaan Tuhan atas umat-Nya. Inilah yang menjadi pengharapan mereka, yaitu bahwa mereka kembali ke tanah mereka dengan pimpinan dan penyertaan dari Tuhan. Ketika pembangunan dimulai dan dasar Bait Suci diletakkan, maka mereka bersorak-sorai dan menyanyi memuji Tuhan. Mereka memujikan nyanyian “bahwa Tuhan baik dan untuk selama-lama-Nya kasih setia-Nya.” Inilah pujian yang terbukti dengan kembalinya mereka dari pembuangan. Tetapi di tengah-tengah nyanyian dan sorak-sorai, juga terdapat suara tangisan yang sangat keras dari orang-orang yang sudah pernah melihat Bait Suci yang sebelumnya. Mereka menangis karena tahu bahwa rumah Tuhan yang akan mereka bangun akan jauh lebih kecil dan sederhana dibandingkan dengan rumah Tuhan yang dibangun oleh Salomo. Mereka menangis karena sadar bahwa jika saja Israel setia kepada Tuhan dan tidak memberontak melawan Dia, maka rumah itu pasti masih berdiri sampai hari ini. Dukacita mereka adalah dukacita yang tidak akan mengubah keadaan yang sudah terjadi.

Tuhan mengingat umat-Nya dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk membangun kembali rumah Allah yang Tuhan telah perintahkan untuk dibangun oleh Salomo, anak Daud, tetapi yang telah dihancurkan Nebukadnezar, raja Babel, sebagai hukuman Tuhan atas bangsa-Nya sendiri yang terus menerus memberontak melawan Dia. Demikianlah tiga hal yang dikerjakan di Yerusalem oleh orang-orang yang kembali dari pembuangan. Mezbah korban persembahan untuk mengingat belas kasihan Tuhan yang dinyatakan melalui penebusan dosa, perayaan Pondok Daun untuk mengingat kembali keadaan di padang gurun sebelum Israel masuk ke Kanaan, dan dimulainya pembangunan Bait Suci. Semuanya adalah usaha mereka untuk menjadi umat Allah yang benar dan setia, tidak seperti nenek moyang mereka. Umat Allah yang mengharapkan belas kasihan dan penebusan dosa dari Tuhan sendiri (mezbah), yang mengingat penyertaan Tuhan di tempat dan kondisi paling sulit di padang gurun (Hari Raya Pondok Daun), dan yang mendapatkan penyertaan Allah dan kehadiran-Nya (Bait Suci).

Untuk direnungkan:
Bacaan kita hari ini memberikan kepada kita pengajaran tentang usaha yang sungguh-sungguh dari umat Tuhan yang baru saja mendapatkan hukuman dari Tuhan. Ini mengajarkan kepada kita tentang aspek pertobatan yang sejati yang perlu ada di dalam diri setiap orang yang telah menjauhi Tuhan dan berdosa kepada Dia. Hal pertama yang mereka miliki adalah perasaan tidak layak dan perasaan gentar karena kengerian murka Tuhan telah mereka alami. Pertobatan sejati dimulai dengan perasaan takut akan hukuman Tuhan. Takut kalau Tuhan marah dan memberikan hukuman di dalam murka-Nya. Mezbah dengan simbol anak lembu emas (1Raj.12:32-33) yang didirikan Yerobeam dan diikuti oleh hampir semua raja Israel yang lain, bahkan yang juga menyebar hingga ke Yehuda. Mezbah yang didirikan seenaknya dan tidak memedulikan firman Tuhan tentang pendiriannya menjadi simbol dosa Israel dan Yehuda yang baru disingkirkan pada zaman raja Yosia. Ini adalah peringatan bagi kita sekalian. Jika kita ingin sungguh-sungguh kembali kepada Tuhan, biarlah kita ingat hal-hal apa sajakah yang telah kita kerjakan yang sangat menyakiti hati Tuhan. Jika pertobatan kita adalah pertobatan yang tidak jelas, yaitu pertobatan tanpa mengetahui apa hal berdosa yang telah kita lakukan dan harus kita tinggalkan, maka pertobatan itu hanyalah suatu pertobatan yang pura-pura. Demikian juga jika kita tahu perbuatan dosa yang kita lakukan, tetapi kita tidak gentar dan takut Allah murka, maka pertobatan kita pun akan menjadi pertobatan yang pura-pura. Pertobatan sejati adalah menyadari hal-hal apa yang membuat Allah murka, menjadi gentar dan takut karenanya, dan berbalik dari hal-hal berdosa tersebut.

Hal kedua yang diajarkan oleh bacaan kita hari ini adalah bahwa kesadaran akan kasih setia dan kebaikan Tuhan merupakan aspek selanjutnya yang harus ada dalam pertobatan sejati. Jika kita hanya merasa takut dan gentar kepada murka Allah, tetapi kita tidak tahu bahwa Allah juga adalah Allah yang akan reda murka-Nya dan memberi pengampunan dan belas kasihan, maka kita akan mengalami ketakutan akan Allah tanpa mengalami pertobatan yang sejati. Pertobatan yang sejati menjadi mungkin karena Allah mau mengampuni kita. Permohonan ampun menjadi perbuatan yang pura-pura kalau kita tidak sadar bahwa Allah marah. Untuk apa memohon ampun kalau Dia tidak marah? Tetapi permohonan ampun juga menjadi percuma kalau Allah tidak mau berhenti dari murka-Nya kepada kita. Itu sebabnya pengertian akan Allah yang rela mengampuni, sabar menanti, dan dengan setia menggerakkan kita untuk kembali kepada-Nya, perlu kita miliki sehingga pertobatan kita menjadi suatu pengalaman rohani yang sangat indah. Indah karena murka Tuhan berganti dengan pengampunan, kesabaran, dan kasih setia Tuhan. Biarlah kita semua menyadari hal ini dengan sebaik-baiknya. Kita adalah sekelompok orang yang seharusnya binasa karena murka Tuhan, sama seperti orang-orang Yehuda yang binasa di tangan Babel. Tetapi Tuhan mengumpulkan kita kembali, menyatakan kasih setia dan pengampunan-Nya, dan menyadarkan kita sehingga kita sungguh-sungguh berbalik dari dosa kembali kepada Dia.

Doa:
Ya Tuhan, kami hanyalah orang-orang berdosa yang telah membuat Tuhan sangat marah. Kami menyadari hal ini. Kami tahu kalau kami tidak layak. Dunia sekeliling kami berusaha meyakinkan kami bahwa kami pada dasarnya baik, tetapi kami tahu bahwa baik hati, pikiran, maupun tingkah laku kami sangat cemar, kotor, dan penuh niat yang jahat. Kami bersyukur karena Tuhan mau menerima kami, mengampuni kami, dan membersihkan kami. Berikan kami kekuatan untuk sadar akan hal-hal yang harus kami tinggalkan dan dorong kami untuk mengerjakan hal-hal yang harus kami kerjakan sebagai tanda pertobatan sejati kami. (JP)