Renungan Harian 152 (Minggu, 27 Januari 2019)

Pembangunan Bait Ditentang

Devotion from:

Ezra 4:1-24

Pasal 4 mengisahkan bahwa penduduk sekitar Yerusalem dan daerah Israel, yaitu penduduk yang diangkut oleh raja Asyur dari tempat lain untuk tinggal di daerah Israel (2Raj. 17:24), merasa terancam dengan kembalinya orang-orang Israel. Apalagi sekarang orang Israel ingin membangun Bait Suci mereka. Jika Israel semakin kuat, maka itu berarti mereka akan semakin tersingkir. Mereka kemudian melakukan dua usaha. Yang pertama adalah usaha untuk bekerja sama dengan orang-orang Israel. Mereka ingin dianggap sebagai bagian dari Israel. Tetapi Zerubabel menolak mereka dengan alasan bahwa mereka bukanlah umat Tuhan yang menyembah Tuhan dengan segenap hati. Bergabungnya mereka akan membuat bangsa Israel memiliki identitas yang tidak jelas dan mereka akan bercampur dengan para penyembah berhala. Bukankah penyembahan berhala yang menjadi alasan Tuhan membuang Israel dan Yehuda terjadi karena Israel dan Yehuda mengizinkan bangsa-bangsa lain dengan cara ibadah mereka masuk ke dalam Israel? Zerubabel ingin memurnikan Israel yang baru kembali dari pembuangan ini. Penolakan Zerubabel semakin membuat penduduk di daerah Israel itu merasa terancam. Zerubabel mengingatkan bahwa perintah mendirikan bait ini diberikan oleh Koresh, raja agung Persia, kepada orang Israel, bukan kepada yang lain (Ezr. 1:3). Penduduk negeri itu mulai menyebarkan berita-berita yang membuat orang Israel dibenci orang-orang sekeliling mereka. Mereka juga mulai menyogok pembesar-pembesar Persia untuk melawan orang Israel dan melarang mereka mendirikan Bait Suci.

Dalam ayat 6-23 kitab ini menuliskan juga kesulitan yang dialami orang Israel kemudian, yaitu pada zaman raja-raja sesudah Bait Allah selesai dibangun. Kesulitan yang terjadi karena tembok Yerusalem tidak bisa dibangun (ay. 21). Di situ dikatakan bahwa bupati daerah Yehuda menulis surat yang memberitakan fitnah terhadap orang Israel kepada raja Persia, Ahasyweros. Tetapi raja Ahasyweros tidak memberikan tanggapan apa-apa (ay. 6). Akhirnya mereka menemukan cara yang sangat efektif pada zaman raja Artahsasta. Mereka mengingatkan raja Artahsasta bahwa Yerusalem dahulu adalah tempat dengan sejarah yang sangat berbahaya. Pernah ada raja yang sangat kuat bertakhta di Yerusalem sehingga seluruh daerah barat sungai Efrat dikuasai olehnya. Begitu juga ketika raja Nebukadnezar telah menaklukkan daerah-daerah sebelah barat sungai Efrat. Yerusalem termasuk yang gigih melakukan perlawanan dan pemberontakan sehingga Nebukadnezar menghancurkan kota itu sama sekali. Inilah berita yang mereka pakai untuk menakut-nakuti raja Artahsasta. Jika pembangunan diteruskan, berarti raja Artahsasta mengizinkan adanya benih pemberontakan yang akan merepotkan dia suatu saat nanti. Lebih ekstrim lagi di dalam ayat 16, mereka mengatakan bahwa potensi Yerusalem dan orang Israel untuk menjadi bangsa yang besar tetap ada. Jika dibiarkan, maka mereka akan merebut kembali daerah-daerah sebelah barat sungai Efrat sehingga Persia akan kehilangan daerah yang cukup penting untuk mempertahankan kekuasaannya yang terbentang dari India hingga ke Etiopia.

Meskipun berita tentang kehebatan Israel pada zaman Daud dan Salomo benar, tetapi Israel tidak pernah lagi memiliki kekuatan sehebat yang dikatakan oleh para penduduk di Israel. Apakah mungkin kerajaan yang baru terdiri dari beberapa puluh ribu orang memberontak kepada Persia, yang menguasai seluruh Dunia Timur Dekat saat itu? Tetapi, ironisnya, ada pernyataan iman yang benar di dalam surat para penduduk di Israel itu. Jika Tuhan memberkati umat-Nya, memang mereka akan menghancurkan penduduk buangan di Israel dan merebut kembali kemerdekaan mereka. Jika Tuhan ingin mengokohkan mereka, maka Persia pun tidak akan sanggup menghalangi mereka. Kerajaan Asyur yang besar pun tidak sanggup meruntuhkan tembok Yerusalem jika Tuhan masih menyertai mereka. Jadi, walaupun berita para penduduk di Israel ini membesar-besarkan kemampuan Israel, tetapi pernyataan mereka mengandung sisi kebenaran, yaitu jika Tuhan mau mengokohkan mereka kembali.

Raja Artahsasta ternyata setuju dengan surat itu. Karena khawatir Israel akan mendirikan kota berkubu dan memberontak kepada Persia, maka raja itu menulis surat yang melarang orang Israel melanjutkan pembangunan tembok Yerusalem. Dengan surat dukungan dari raja Persia, orang-orang yang membenci orang Yehuda itu segera datang dan dengan kekerasan melarang mereka melanjutkan pembangunan tembok tersebut.

Kisah yang sebenarnya terjadi hampir 80 tahun kemudian ini diselipkan di dalam ayat 6-23 untuk mengingatkan para pembaca bahwa kesulitan orang-orang Israel yang kembali dari pembuangan ada di dalam setiap tahap usaha pemulihan. Kesulitan ada pada waktu mereka ingin membangun Bait Suci, seperti yang tercatat di dalam ayat 1-5 dan 24. Kesulitan juga timbul pada waktu mereka ingin membangun tembok Yerusalem (ay. 6-23).

Untuk direnungkan:
Baik dahulu maupun sekarang umat Tuhan di dalam keadaan sebagai minoritas mengalami penindasan dan kesewenang-wenangan dari pihak yang kuat. Tetapi umat Tuhan bukan satu-satunya korban dari keadaan ini. Dunia yang telah jatuh dalam dosa ini memang senang menindas yang lebih lemah dan lebih sedikit. Kaum minoritas di mana-mana mendapatkan tantangan yang sama. Tetapi umat Tuhan, jika diizinkan Tuhan mengalami tekanan, penindasan, dan aniaya, akan terus dipelihara oleh Tuhan, dikuatkan, dan dimurnikan imannya melalui hal-hal tersebut. Tetapi inilah cara Tuhan bekerja. Di saat umat-Nya mengalami kekuatan dan kelimpahan, maka iman mereka menjadi tidak lagi murni. Daud jatuh di saat dia sudah menjadi raja atas seluruh Israel dan dikaruniakan keamanan dari musuh-musuhnya oleh Tuhan. Salomo jatuh di saat kerajaannya dalam keadaan sangat kaya dan berkuasa. Tetapi kaum sisa yang datang dari tempat pembuangan imannya justru terus dimurnikan walaupun mereka berada dalam pembuangan. Penderitaan, tekanan, dan aniaya membuat mereka makin bergantung kepada Tuhan dan itulah yang memperkuat iman mereka.

Demikian juga di dalam kehidupan gereja Tuhan saat ini. Kita tidak akan sanggup mempertahankan iman yang sejati jika bukan karena kebergantungan kepada Tuhan. Kapankah kita dapat bergantung kepada Tuhan? Bukan saat kita kuat dan limpah, tetapi justru saat kita lemah dan kekurangan. Doa Bapa Kami mengajarkan kepada kita untuk memohon supaya Tuhan memberikan kita makanan yang cukup sehingga kita tidak kelaparan. Bagaimana mungkin doa ini relevan jika persediaan makanan kita begitu banyak? Tetapi doa ini seharusnya relevan dalam keadaan apa pun. Persediaan makanan yang begitu banyak bisa menjadi rusak dalam sekejap. Kekayaan yang menunjang hidup kita bisa lenyap dalam satu hari. Jika bukan bergantung kepada Tuhan, maka sebenarnya kita sedang memegang tali rapuh yang sudah akan putus. Inilah yang muncul ketika kesulitan, penderitaan, dan kekurangan menimpa hidup kita. Kita akan dilatih oleh Tuhan untuk hanya mengandalkan Dia dan menantikan pertolongan dari dia. Ini jugalah yang dialami oleh orang-orang Israel pada zaman pembangunan Bait Suci yang kedua ini. Mereka diancam oleh pengancam-pengancam yang memiliki otoritas dari petinggi-petinggi Persia. Siapakah mereka dibandingkan dengan raja Persia? Israel dalam masa jayanya pun hanya 1/30 dari kebesaran Persia sekarang. Apalagi dengan kekuatan mereka sekarang yang hanya kurang dari 50 ribu orang saja. Dengan apa mereka dapat bertahan? Hanya dengan anugerah Tuhan. Inilah hal yang Tuhan ingin ajarkan. Israel tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri, dan Israel juga tidak mendapatkan dukungan dari bangsa mana pun, maka dia harus mengandalkan Tuhan. Kiranya Tuhan juga melatih kita sekalian untuk, ketika di dalam periode sulit dan sengsara, terus bergantung kepada Tuhan dan hanya mengharapkan pertolongan-Nya saja.

Doa

  1. Tuhan, lindungi dan kuatkan terus umat-Mu, gereja-Mu yang sekarang mendapatkan tentangan, penindasan, dan aniaya. Kuatkanlah mereka dan berikanlah jalan keluar sehingga mereka dapat lepas dari penderitaan mereka itu. Biarlah kehadiran-Mu di tengah-tengah kesulitan mereka menjadi penghiburan sempurna bagi mereka.
  2. Tuhan, buatlah kami menjadi orang-orang yang tidak mengandalkan kepandaian kami, relasi kami, kekuatan keuangan kami, dan kemampuan akademik kami. Jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa bergantung kepada Tuhan. Dan jika di dalam hikmat-Mu yang sempurna kami harus dilatih dengan kesulitan yang berat, maka kami memohon supaya Tuhan memberikan kami kekuatan untuk melaluinya dengan kemenangan iman yang sejati. Berikanlah kami kemenangan iman karena terus bergantung kepada-Mu saja. (JP)