Renungan Harian 157 (Jumat, 1 Februari 2019)

Perkawinan Antar Bangsa

Devotion from:

Ezra 9:1-15

Bacaan kita hari ini membongkar kebiasaan lama orang Israel, yaitu tidak setia kepada Tuhan. Semua kemurahan dan belas kasihan yang Tuhan berikan sekarang diabaikan demi kesenangan hawa nafsu kedagingan. Orang Israel yang kembali dari pembuangan, bahkan pemimpin-pemimpin mereka tidak lagi ingat kesulitan besar yang dialami Israel karena mereka mengabaikan Allah demi kesenangan mereka sendiri. Mereka memilih untuk menyembah ilah-ilah palsu. Mereka memilih untuk hidup sesuka mereka sendiri dengan kecemaran dan kekejaman yang makin menjadi-jadi. Bahkan pemimpin-pemimpin mereka, raja-raja yang Tuhan angkat dan dudukkan di takhta kerajaan atas umat-Nya, menjadi pengaruh utama untuk membawa umat Tuhan meninggalkan Tuhan dan menjalani hidup yang penuh dengan kecemaran. Tuhan yang begitu sabar akhirnya membuang mereka ke Babel. Tetapi di tanah Babel, Tuhan kembali berbelaskasihan kepada mereka dan mengingat janji-Nya kepada mereka untuk membawa mereka pulang ke tanah mereka sendiri (Yer. 29:10). Betapa jahatnya mereka kalau di tengah-tengah kemurahan Tuhan memulihkan keadaan umat-Nya, mereka malah kembali hidup dengan tidak setia. Mereka mulai mencintai perempuan asing (kemungkinan penduduk yang tinggal di tanah itu karena dipindahkan ke sana oleh raja Asyur seperti dalam 2Raj. 17:24). Mereka lupa bahwa inilah penyebab Tuhan murka kepada Israel di dalam Bilangan 25:1-3. Mereka lupa bahwa ini jugalah yang menjerat raja Salomo sehingga akhirnya dia terlibat penyembahan berhala (1Raj. 11:1-5).

Ketika menyadari kondisi bangsanya yang seperti itu, Ezra segera memohon kepada Tuhan dengan hati yang hancur. Dia menjalankan fungsinya sebagai imam. Sebagai imam yang sejati, dia berduka dengan amat sangat karena bangsanya melanggar perjanjian dengan Tuhan. Inilah dua hal yang paling mendukakan hati orang-orang dengan kerohanian sejati. Melihat nama Tuhan dihina manusia dan perjanjian-Nya diabaikan, serta melihat umat Tuhan hidup di dalam keadaan pelanggaran. Tetapi imam yang sejati tidak berdiri dan menjadi hakim bagi umat Tuhan. Dia tidak menunjuk mereka dan menjatuhkan kutuk kepada mereka. Sebaliknya dia mengidentikkan dirinya dengan mereka (ay. 6). Dia menyamakan dirinya dengan umat-Nya yang telah cemar dan melawan Tuhan meskipun dia sendiri tidak terlibat kecemaran dan pemberontakan seperti mereka. Inilah imam yang sejati. Sama seperti Kristus juga, walaupun Dia adalah Anak Allah dan Hakim atas seluruh dunia, tetapi Dia rela menjadi sama dengan manusia untuk mengidentikkan diri-Nya dengan kita dan menebus dosa kita.

Di dalam menjalankan tugasnya sebagai imam inilah Ezra dengan hati yang penuh beban berat dan perasaan yang hancur datang ke hadapan Tuhan untuk memohon pengampunan Tuhan. Dia memohon pengampunan Tuhan sebagai wakil dari umat Tuhan yang telah bersalah kepada Tuhan. Itulah sebabnya permohonannya dan doanya dinyatakan kepada Tuhan dengan cara yang penuh dengan perasaan tidak layak dan kerendahan hati (ay. 15). Apakah Tuhan berkenan mengampuni? Tentu saja Ezra berharap Tuhan berkenan mengampuni. Dia memohon pengampunan Tuhan tentu dengan harapan Tuhan mengampuni. Tetapi jika ternyata Tuhan tidak mau mengampuni, maka itu memang sudah sepantasnya diterima Israel karena tidak mungkin mereka dapat bertahan di hadapan Allah dengan cara hidup seperti itu (ay. 15). Inilah permohonan yang tulus. Permohonan yang menyadari bahwa Allah berdaulat dan berkuasa mutlak atas segala sesuatu. Tidak pantas berbicara kepada Allah yang berdaulat tanpa mengakui kedaulatan-Nya yang mutlak. Itulah sebabnya Ezra memohon dengan hati yang hancur dan kerelaan untuk merendahkan diri karena kasihnya yang begitu besar bagi umat Tuhan.

Untuk direnungkan:

  1. Seperti Israel yang senantiasa melanggar, demikian juga kita adalah orang-orang yang terus menerus memberontak kepada Allah di dalam hati, perkataan, perbuatan, dan hidup kita. Roma 3:12 mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang tidak menyeleweng. Tetapi yang menjadi masalah adalah apakah kita mau belajar dari kesalahan kita di masa yang lalu? Dulu kita pemberontak, tetapi sekarang kita mau tunduk kepada Tuhan. Dulu kita tahu betapa sengsaranya hidup tanpa Tuhan dan memberontak kepada Dia. Sekarang kita tidak ingin kembali kepada kehidupan yang seperti itu. Inilah tandanya kita mau bertobat kembali kepada Tuhan. Tetapi orang Israel mau kembali memberontak melawan Tuhan dan ingin kembali merasakan kerasnya tangan Tuhan menekan mereka dan menghukum mereka. Inilah tandanya mereka orang bodoh. Kita pun akan menjadi orang-orang bodoh jika kita tidak mau terus hidup dengan setia kepada Tuhan. Mari renungkan dengan sungguh-sungguh! Seperti apakah kehidupan kita waktu kita belum mengenal Tuhan? Seperti apakah rasanya berada di dalam kecemaran dosa? Maukah kita kembali ke dalam cara hidup seperti itu? Jika tidak, maka kita harus memelihara cara kita hidup di hadapan Tuhan. Marilah kita menjaga diri sebaik mungkin agar kita tidak jatuh lagi ke dalam dosa! Selain belajar dari kesalahan sendiri, biarlah kita juga dapat belajar dari kesalahan orang-orang lain, terutama orang-orang atau tokoh-tokoh yang dikisahkan di dalam Alkitab. Biarlah kita belajar supaya kita tidak jatuh ke dalam ketidaktaatan yang sama (Ibr. 4:11). Lihat bagaimana lemah dan rapuhnya mereka hidup. Lihat bagaimana mereka terjatuh di dalam kesalahan akibat mengabaikan Tuhan atau meremehkan dosa. Lihat betapa keras akibat dosa menghantam hidup mereka. Lihat bagaimana mereka telah membangkitkan murka Tuhan. Belajarlah sehingga kita tidak jatuh ke dalam kesalahan yang sama!
  2. Hal berikut yang dapat kita renungkan adalah permohonan yang kita panjatkan kepada Allah ketika kita memohon Allah memulihkan keadaan kita. Apakah permohonan kita telah disampaikan dengan perasaan takut dan gentar? Sudahkah kita sadar bahwa Allah harus dihormati sebagai Sang Penguasa segala ciptaan? Jika Dialah penguasa langit dan bumi dan laut, bukankah Dia harus dihormati lebih daripada menghormati apa pun atau siapa pun? Tetapi kita sering kali berdoa dengan sembarangan. Kita menuntut Tuhan untuk mendengar permintaan kita. Sudah lupakah kita bahwa Dialah yang memegang nyawa kita di tangan-Nya? Sudah lupakah kita bahwa Dia yang memegang hidup matinya kita? Bahkan, lebih mengerikan dari itu, Dialah yang dapat membinasakan jiwa kita ke dalam neraka (Mat. 10:28). Itulah sebabnya ketika kita memohon supaya Tuhan mengampuni kita dan memulihkan keadaan kita, ada tiga hal yang perlu kita terus ingat. Yang pertama adalah bahwa kita tidak berhak menerima pengampunan. Pengampunan bukanlah hak yang meminta ampun. Pengampunan bukanlah suatu kewajiban yang harus diberikan. Pengampunan adalah anugerah yang sangat besar bagi orang yang menerima dan menghargainya. Yang kedua adalah bahwa untuk datang memohon pun sebenarnya kita tidak layak. Tetapi Tuhan mengizinkan kita untuk datang kepada-Nya dan berdoa kepada-Nya, terutama untuk pertumbuhan rohani kita semua. Kita memerlukan Dia dan Dia tidak memerlukan kita. Tetapi Dialah yang merendahkan diri-Nya untuk dapat bertemu dengan kita semua.

Doa:
Tuhan, ampuni kami jika kami terus menerus mencerminkan kecemaran dan dosa. Mohon Tuhan rela mengampuni kami walaupun kami tidak layak. Yang kami rindukan bukanlah bebas dari dosa secara status, tetapi jikalau mungkin biarlah kami terus diberikan kekuatan untuk hidup dengan penuh kemenangan atas dosa, sebagaimana Tuhan telah menjanjikannya dengan mengirimkan Roh-Mu yang Kudus. Bimbing kami dengan kebenaran firman-Mu dan ajarkan kami untuk menerima setiap firman-Mu dengan kesungguhan hati dan kerelaan untuk berkorban! (JP)