Renungan Harian 158 (Sabtu, 2 Februari 2019)

Pertobatan Sejati

Devotion from:

Ezra 10:1-44

Bagian ini mengisahkan tentang pertobatan sejati yang terjadi di tengah-tengah orang Israel. Yang pertama adalah mereka mendengar Taurat lalu menyadari dosa-dosa mereka. Tanpa firman Tuhan tidak mungkin terjadi keselamatan bagi umat-Nya. Tanpa firman sejati juga tidak mungkin ada arahan dan instruksi bagaimana seharusnya manusia hidup. Siapa yang memutuskan untuk kembali kepada Tuhan karena dosa-dosanya telah dinyatakan oleh Tuhan melalui firman-Nya, inilah orang-orang yang akan mengalami pertobatan sejati.

Hal berikutnya yang juga dinyatakan dalam bagian ini adalah keharusan untuk meninggalkan dosa apa pun yang menjadi resiko yang menyertainya. Ayat 3 mengatakan bahwa orang Israel mengusir istri dan anak-anak mereka yang mereka peroleh dari bangsa-bangsa kafir. Ini pertobatan yang disertai dengan tindakan. Tuhan memberikan firman, lalu orang yang bertobat tergerak karena firman dan ingin menunjukkan hidup, perbuatan, dan pikiran, dan hati yang kembali kepada Tuhan. Tetapi siapa yang menolak firman, mengabaikan teguran yang berasal dari Tuhan, dia tidak mungkin dapat disebut telah bertobat dengan sungguh-sungguh. Inilah ternyata tugas yang harus dikerjakan oleh Ezra. Tuhan tidak mementingkan tata cara ibadah saja. Tuhan tidak mementingkan hal-hal yang berupa seremoni dan upacara saja. Semua hal-hal itu tidak berguna kalau hati seseorang tidak mau sungguh-sungguh bertobat. Mengapa Tuhan mengutus Ezra menyusul ke tanah Israel? Karena orang Israel perlu kebangunan dengan segera. Mereka perlu seruan pertobatan dari orang yang sungguh-sungguh mengasihi mereka dan sungguh-sungguh mau berkorban untuk mereka. Ezra datang untuk memberikan kebangunan rohani kepada orang Israel yang mulai menyeleweng meninggalkan Tuhan.

Tugas Ezra untuk memberikan suatu kebangunan rohani dimulai dengan mendoakan bangsanya yang bobrok. Tidak akan ada pertobatan yang sejati jika tidak ada orang yang sungguh-sungguh mendoakan suatu tempat atau seseorang untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Dan yang dimaksud di sini bukan hanya doa yang diucapkan seadanya. Yang dimaksud adalah doa yang dipanjatkan karena hati yang hancur melihat keadaan umat Tuhan yang cemar dan penuh dosa. Doa yang juga dipanjatkan untuk dirinya sebelum dipanjatkan bagi orang lain atau bagi bangsanya. Biarlah Tuhan terus menyatakan firman Tuhan yang menegur dosa-dosa orang Israel. Dia harus menegur dengan keras keberdosaan umat Tuhan. Teguran yang keras dan tepat inilah langkah kedua pertobatan dari umat Tuhan.

Langkah berikutnya dari pertobatan mereka adalah mereka sungguh-sungguh meninggalkan dosa mereka. Ini ditunjukkan dengan tindakan mereka mengusir istri maupun anak-anak mereka untuk mencegah pengaruh yang rusak dari bangsa-bangsa kafir itu di tanah Israel. Pertobatan tanpa kerelaan meninggalkan dosa adalah palsu. Bertobat, tetapi tidak ada perubahan hidup… ini pasti pertobatan palsu!

Dan yang terakhir adalah Ezra memastikan bahwa mereka tetap setia kepada pertobatannya dengan memutus kemungkinan mereka dapat jatuh ke dosa yang sama. Pertobatan yang sejati harus juga dilakukan hingga memutus kaitan dengan hal-hal yang dapat membuat kita kembali jatuh ke dalam dosa yang sama. Setiap orang Israel yang pernah mengambil perempuan-perempuan bangsa-bangsa lain itu harus mendaftarkan nama mereka sehingga mereka mendapatkan pengawasan dan perhatian supaya tidak kembali ke cara hidup yang lama dan sia-sia.

Untuk direnungkan:

  1. Kehidupan seorang manusia memang sangat penuh dengan kecemaran dan kerusakan. Tetapi yang membuat kita mendapatkan kehidupan yang bebas dari dosa adalah titik pertobatan yang sejati. Apakah kita telah memiliki pertobatan yang sejati? Adakah momen di dalam hidup kita di mana Tuhan benar-benar memimpin kita meninggalkan semua dosa-dosa kita yang lama dan menuntun kita ke dalam suatu hidup yang baru? Jika ada, maka kita telah mengalami tuntunan tangan Tuhan yang memberikan pertobatan kepada kita sehingga kita hidup bagi-Nya. Adakah momen pertobatan itu? Jika kita tidak pernah sungguh-sungguh bertobat, mengikuti Tuhan dengan pimpinan Roh Kudus, dan mengabaikan segala yang diperlukan untuk pertumbuhan, maka tidak akan ada harapan bagi kita untuk hidup di dalam kuasa kemenangan atas dosa. Dari manakah pertobatan yang sejati itu? Dari kesadaran yang diberikan oleh Roh Kudus di dalam hati kita bahwa kita adalah pendosa yang besar setelah mendengar firman. Firman Tuhan dan pekerjaan Roh Kudus di dalam hati. Inilah dua hal utama dalam pertobatan yang sejati. Tidak ada pertobatan yang sejati jika kita tidak pernah menerima teguran dari firman Tuhan. Tidak akan ada pertobatan yang sejati jika Roh Kudus tidak menggerakkan hati kita untuk percaya dan beriman kepada setiap hal yang dinyatakan oleh firman Allah.
  2. Bacaan kita hari ini menyebutkan bahwa pengorbanan di dalam menaati Tuhan ternyata adalah bagian yang sangat penting. Jika kita ingin meninggalkan dosa tetapi tidak ingin meninggalkan kesenangan akan dosa, kenikmatan akan dosa, atau hal-hal lain dalam dosa yang membuat hidup kita lebih nyaman dan tenang, maka kita sebenarnya belum sungguh-sungguh bertobat. Perlu pengorbanan melepas segala hal yang membuat kita berdosa kepada Tuhan. Semua kecemaran yang mengganggu hubungan kita dengan Tuhan, semua ini harus disingkirkan. Betapa mudahnya mengatakan bertobat tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mau menjauhkan diri dari apa pun yang membuat kita menjadi jauh dari Tuhan. Ini pertobatan yang tidak ada gunanya. Apa gunanya menyatakan diri menyesal, kemudian mengalami emosi yang dalam hingga menangis, tetapi setelah itu kembali ke kehidupan yang lama? Ini semua tidak berguna. Ketika kita rela meninggalkan kehidupan kita yang cemar dan mau sungguh-sungguh hidup bagi Tuhan, ketika itulah pertobatan yang sejati dapat terjadi. Maukah kita meninggalkan apa pun yang membuat kita terus berdosa? Relakah kita meninggalkan kesenangan-kesenangan yang cemar? Maukah kita menyangkal diri dan ikut Tuhan di dalam hidup yang suci?
  3. Hal berikutnya, apakah kita telah sungguh-sungguh menempatkan diri kita di dalam pengawasan orang lain? Mungkin saudara seiman kita yang lebih dewasa di dalam imannya. Mungkin persekutuan di dalam gereja, mungkin bimbingan dari hamba Tuhan. Semua ini diperlukan untuk menguatkan dan “memaksa” kita untuk tidak kembali ke kehidupan yang lama. Tanpa ada yang mengontrol, mengingatkan, dan membatasi kebebasan kita agar kita tidak menjadi rusak dan hancur karena tidak ada yang memberikan peringatan ketika kita mulai keluar jalur. Seseorang yang tidak memiliki siapa-siapa untuk memberikan peringatan akan berjalan makin kencang di jalur yang menuju ke jurang kehancuran tanpa dia sadari.

Doa:
Tuhan, tolong berikan firman-Mu untuk mengoreksi hidup kami. Berikan kami anugerah-Mu sehingga kami tahu sudah berapa besar kami membuat Engkau murka. Nyatakan kebenaran-Mu sehingga kami tahu betapa cemar kami telah hidup. Nyatakan terang firman-Mu sehingga kami tahu bahwa kami adalah pendosa-pendosa besar yang tidak punya harapan. Kami memohon supaya Roh-Mu yang kudus menggerakkan hati kami untuk kembali seutuhnya kepada Tuhan. Kiranya Tuhan juga berkenan untuk memberikan kami saudara-saudara seiman dan hamba Tuhan untuk menuntun kami bertumbuh di dalam iman dan memberikan peringatan dan teguran ketika diperlukan, sehingga iman kami boleh bertumbuh menjadi makin baik dan makin penuh dengan kekuatan untuk hidup bagi Tuhan. (JP)