Renungan Harian 159 (Minggu, 3 Februari 2019)

Pembangunan Bait Dimulai Kembali

Devotion from:

Hagai 1:1-14

Bacaan hari ini memberikan penjelasan tentang peristiwa kembali dibangunnya Bait Suci setelah sempat terhenti. Orang Israel sempat berhenti membangun bait karena tentangan dari warga sekitar dan juga dari pembesar-pembesar di tanah Israel. Orang-orang ini menanti kapan waktu yang tepat untuk melanjutkan pembangunan Bait Allah. Mereka menunggu terus hingga teguran Tuhan melalui Hagai diberikan. Hagai mengkritik orang Israel karena mereka berjuang terus untuk membangun rumah-rumah mereka, berjuang untuk memperbaiki kerusakan maupun untuk menyelesaikan pembangunan rumah mereka masing-masing, tetapi mereka tidak memiliki kegigihan yang kuat untuk membangun rumah Tuhan. Sejak didirikan oleh Salomo, Bait Suci menjadi lambang kehadiran Tuhan dan tempat ibadah Israel untuk datang menghadap Tuhan. Tempat ini adalah tempat utama di dalam kerajaan Israel ketika itu. Salomo menyelesaikan rumah Tuhan dulu baru menyelesaikan seluruh istana dan balai pertemuan. Bahkan seluruh Yerusalem sejak berdirinya Bait Suci lebih cocok disebut sebagai “Bait Suci dengan sebuah kota di sekelilingnya” ketimbang disebut dengan “kota dengan Bait Suci di dalamnya.” Tidak ada rumah, bahkan istana raja, yang dianggap lebih penting dari pada Bait Suci. Bait Suci bukan hanya memiliki keutamaan di dalam hal rohani, tetapi juga politik. Dengan adanya Bait Suci, Israel akan belajar untuk menyadari bahwa kekuatan politik dan militer Israel sepenuhnya bergantung kepada belas kasihan Tuhan. Dengan adanya Bait Suci, orang Israel akan belajar untuk menghargai bangsa mereka dan tanah mereka sebagai bangsa dan tanah yang dipilih oleh Tuhan untuk menyatakan kehadiran-Nya. Bait Suci melambangkan bahwa tanah Israel adalah tanah milik Allah di mana Dia sendiri hadir di tengah-tengah-Nya. Selain menjadi simbol kehadiran Allah, Bait Suci juga menjadi lambang pengharapan bahwa kerajaan Allah di seluruh bumi akan terwujud dengan Israel sebagai tempat pertama Dia menyatakan kekuasaan-Nya. Israel akan memperluas pengaruh dan kekuasaan kerajaannya hingga kemuliaan Allah menjadi nyata atas seluruh bumi. Tetapi kegagalan Israel memegang perjanjian mereka dengan Tuhan membuat mereka akhirnya dibuang Tuhan ke Babel. Namun, pembuangan ke Babel bukanlah akhir dari rencana Tuhan. Rancangan Tuhan tidak mungkin gagal. Itu sebabnya Dia memimpin Israel kembali ke tanah perjanjian yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Itu sebabnya pula Dia memerintahkan Koresh untuk memerintahkan Israel untuk pulang ke negeri mereka masing-masing sambil bersiap untuk membangun Bait Suci.

Tetapi jika Bait Suci begitu penting, mengapakah Israel menunda pembangunannya karena ancaman dari orang lain? Mengapa mereka berhenti melaksanakan perintah Tuhan karena ancaman dari manusia biasa? Mengapa mereka begitu takut dan tidak mau merepotan diri demi menjalankan kehendak Tuhan? Itulah sebabnya nabi Hagai berkata kepada mereka semua bahwa Tuhan menghukum segala sifat egois mereka (ay. 6-11). Mereka tidak mau direpotkan dengan tantangan yang muncul dan konflik yang harus mereka hadapi karena membangun Bait Suci, tetapi mereka tetap rela berjuang melawan konflik yang sama dan tantangan yang sama ketika mereka membangun rumah mereka sendiri. Peringatan dari Hagai ini sangat diperlukan oleh Israel supaya mereka dapat kembali memahami pentingnya Bait Suci ada di tengah-tengah mereka. Dan di dalam ayat 12 dikatakan bahwa mereka mendengar segala firman Tuhan dan berespons dengan perasaan takut akan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa masih ada harapan bangsa itu akan diperbaiki oleh Tuhan. Ayat 13 mengatakan bahwa, setelah orang Israel berespons dengan sepantasnya, Tuhan sendiri berjanji akan menyertai Israel. Tuhan memberikan peringatan dengan penuh cinta kasih untuk hal ini. Dan karena kerelaan mereka untuk taat, maka Tuhan berkenan untuk memberikan kesempatan pertobatan kepada mereka. Tuhan memberikan kepada mereka hati yang rela untuk dibentuk oleh Tuhan.

Untuk direnungkan:

  1. Bacaan hari ini menunjukkan salah satu anugerah yang besar dari Tuhan kita, yaitu bahwa Dia adalah Allah yang memberikan kemampuan dan kemauan untuk taat di dalam hati kita (Ef. 3:20-21). Tuhanlah yang menggerakkan orang untuk sungguh-sungguh bertobat. Tetapi setiap pilihan kekal Allah tidak boleh mengurangi derajat tanggung jawab manusia. Hagai memperingatkan seluruh Israel bahwa mereka hidup dengan sangat berpusat pada diri, bukan pada kehendak Tuhan. Mengabaikan kehendak Tuhan dan hidup mementingkan rencana dan kehendak diri adalah dosa setiap orang yang telah jatuh. Kita pun tidak luput dari dosa seperti ini. Kita mementingkan pekerjaan kita, studi, karier, nama, uang, dan sebagainya tanpa peduli apakah Tuhan dipermuliakan atau tidak. Bagaimana agar bertobat dari dosa-dosa ini? Hanya kalau Tuhan sendiri ubahkan hati kita, barulah kita dapat berbalik dari dosa-dosa kita ini. Tetapi untuk mengubah hati adalah urusan Tuhan, bukan urusan kita. Kita tidak diperintahkan Tuhan untuk melakukan hal-hal yang hanya Tuhan yang dapat mengerjakannya. Kita diperintahkan oleh Tuhan untuk mengerjakan hal-hal yang Dia perintahkan kepada kita. Karena itu kepekaan dan kejujuran kita sendirilah yang perlu diuji. Apakah kita sudah mengerjakan segala yang kita kerjakan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah? Jika ya, maka pertanyaan berikutnya lagi, apakah kita sudah mengerjakan segala yang perlu untuk pekerjaan Tuhan? Jangan-jangan kita begitu mencurahkan diri untuk pekerjaan kita sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk pekerjaan Tuhan. Memang benar bahwa pekerjaan kita pun merupakan bagian dari pelayanan kita kepada Tuhan. Tuhan sendirilah yang harus dipermuliakan di dalam pekerjaan kita. Tetapi yang perlu kita ingat hari ini bukanlah agar kita meninggalkan pekerjaan kita. Yang perlu kita ingat hari ini adalah agar semua orang berhenti mengabaikan pekerjaan Tuhan! Berhenti memberikan konsentrasi yang terlalu besar untuk pekerjaan dan rumah tangga kita tetapi tidak pernah benar-benar serius berbagian di dalam pelayanan gereja.
  2. Hal kedua, bacaan hari ini mengatakan bahwa seluruh Israel segera terbakar hatinya untuk menjalankan kehendak Tuhan (ay. 14). Mereka segera digerakkan oleh Tuhan untuk menjalankan apa yang menjadi kehendak Tuhan walaupun banyak bahaya yang mengancam. Seseorang yang mau diperkenan Tuhan harus senantiasa memiliki hati yang menyala-nyala di dalam semangat untuk melayani Tuhan, menaati Dia, dan menjalankan perintah-Nya. Inilah tanda orang-orang yang sungguh-sungguh digerakkan oleh Tuhan. Jika selama ini reaksi kita setelah mendengar teguran adalah marah, biarlah kita mengoreksi diri baik-baik. Pantaskah kita marah kalau kita memang salah? Apalagi jika Tuhan sendirilah yang menegur kita. Kemarahan karena ditegur Tuhan adalah penghinaan kepada Tuhan. Siapa kita sehingga kita merasa berhak marah kepada Dia? Jika Tuhan masih menegur itu berarti Dia masih berbelas kasihan. Jika tidak, maka Dia tidak akan menegur, melainkan langsung memberikan hukuman bagi kita! Itukah yang kita mau? Biarlah kita dengan rendah hati hidup di hadapan Allah. Biarlah kita peka terhadap tegurannya dan segera mengoreksi diri. Jika Tuhan menegur kita karena kita sudah terlalu mengabaikan pekerjaan Tuhan dan hanya memikirkan pekerjaan sendiri, maka melalui ayat-ayat bacaan kita hari ini Dia menuntut respons kita. Apakah kita mengabaikan Dia? Atau marah? Atau menjadi gentar dan bertobat?

Doa:
Tuhan, ampuni kami jika kesibukan kami dalam pekerjaan kami dan dalam segala hal yang kami lakukan membuat kami terpisah begitu jauh dari melayani Engkau dalam pekerjaan-Mu. Kami tahu bahwa pekerjaan kami pun adalah pekerjaan Tuhan, tetapi yang kami sesalkan adalah pekerjaan yang Tuhan lakukan melalui gereja-Mu, itulah yang kami abaikan. Ampuni kami, ya Tuhan, dan berikan anugerah sehingga kami masih boleh diberikan kesempatan untuk melayani-Mu di gereja-Mu dalam pekerjaan-Mu. (JP)