Renungan Harian 160 (Senin, 4 Februari 2019)

Janji dan Syarat Pemulihan Israel

Devotion from:

Hagai 2:1-24

Bacaan hari ini memberikan tekanan mengenai hal-hal apa yang perlu ada untuk pemulihan Israel. Tuhan berjanji memulihkan keadaan mereka dengan melakukan hal-hal yang ajaib di bumi (ay. 7-8). Tuhan tidak menjadikan besarnya Bait Suci sebagai patokan. Walaupun Bait Suci yang baru lebih kecil dari bait sebelumnya, tetapi penyertaan Tuhan akan makin besar ada pada Israel. Tuhan merencanakan untuk menggenapi janji-Nya pada Abraham dan Daud dengan mengumpulkan Israel kembali dari pembuangan guna menyambut Sang Raja yang akan datang menebus dosa manusia. Bait Suci adalah lambang kehadiran Tuhan, tetapi kehadiran Sang Raja adalah kesempurnaan dari kehadiran Tuhan. Bait yang hanyalah bangunan saja tidak akan dapat menggantikan kehadiran Allah. Tetapi Yesus Kristus, Anak Allah, Sang Mesias, Dialah yang akan menyatakan kehadiran Allah dengan sempurna dalam kedatangan-Nya nanti. Dia inilah yang Tuhan janjikan sehingga Tuhan mengumpulkan kembali Israel dari pembuangan.

Untuk mempersiapkan Israel menantikan kedatangan Sang Mesias ini, Tuhan memerintahkan orang Israel untuk sungguh-sungguh menjauhkan diri dari kecemaran. Ayat 15 mengingatkan bahwa kalau Israel berlaku cemar, atau jika mereka membiarkan orang-orang cemar ada di tengah-tengah mereka, maka segala tingkah laku, ibadah, dan persembahan mereka tidak akan berkenan kepada Tuhan. Itulah sebabnya selain menerima janji Tuhan akan pulihkan bangsa Israel, mereka pun dituntut untuk mempersiapkan suatu umat yang kudus sehingga menjadi umat dari Sang Raja yang akan datang itu. Ini semua adalah bagian dari rancangan yang agung yang Tuhan telah tetapkan di dalam kekekalan dan akan dinyatakan tidak lama lagi, yaitu bahwa Anak Allah akan datang ke dalam dunia.

Tuhan juga menjanjikan bahwa Dia akan mengangkat segala hukuman yang Dia berikan karena orang Israel mengabaikan pembangunan Bait Suci. Selama ini orang Israel yang kembali dari pembuangan tidak dapat menikmati hasil yang maksimal dari tanah mereka karena Tuhan menutup sebagian dari hasil tanah itu (ay. 16-18). Jika mereka terus mengabaikan rumah Tuhan, maka Tuhan juga akan mengabaikan mereka. Jika mereka mengabaikan persiapan bangsa Israel untuk dipulihkan oleh Tuhan, maka Tuhan juga tidak akan memberikan mereka kelimpahan yang Dia telah janjikan. Ini berarti segala kekeringan, panen yang gagal, dan kesulitan-kesulitan yang terjadi di tengah-tengah umat yang baru kembali dari pembuangan adalah bentuk hukuman Tuhan. Memang benar tidak semua bencana dan kesulitan adalah hukuman Tuhan. Sangat berdosa jika kita menilai orang-orang yang ditimpa bencana atau kesulitan sebagai orang-orang yang sedang dihukum oleh Tuhan. Ini penilaian teman-teman Ayub yang percaya bahwa Ayub ditimpa kesulitan yang sangat besar karena dosanya sangat banyak. Tetapi Tuhan membela Ayub dan marah kepada teman-temannya itu (Ayb. 42:7-8). Tetapi memang ada kasus-kasus bahwa penyakit, kesulitan, dan penderitaan ternyata adalah hukuman dari Tuhan. Tuhan sendiri menyatakan bahwa kesulitan yang terjadi di tengah-tengah Israel pada waktu awal mereka kembali dari pembuangan adalah karena mereka tidak memedulikan rumah Tuhan. Maka, setelah mereka kembali memperhatikan Bait Tuhan, Tuhan pun mengangkat kembali hukuman dan memberikan kelimpahan kepada mereka.

Kitab Hagai ditutup dengan janji bahwa Zerubabel akan dipilih oleh Tuhan untuk menjadi seperti cincin meterai. Apakah yang dimaksud oleh bagian ini? Apakah Zerubabel akan menjadi raja? Zerubabel adalah salah satu keturunan Daud yang berhak duduk di takhta Israel. Tetapi jabatan yang dia miliki saat Israel dijajah oleh Persia ini adalah bupati Yehuda (lihat ay. 3). Apakah Zerubabel suatu saat akan menjadi raja? Tuhan tidak mengatakan demikian. Tuhan mengatakan bahwa dia akan menjadi seperti cincin meterai Tuhan. Cincin meterai digunakan oleh para raja untuk menyegel suatu surat atau keputusan raja sehingga apa yang telah ditetapkan tidak akan berubah dan memiliki otoritas dari sang raja sendiri. Janji Tuhan kepada Zerubabel bukanlah bahwa Zerubabel akan menjadi raja, tetapi bahwa dia akan menjadi segel perjanjian Tuhan dengan Israel untuk membangkitkan kerajaan Israel dengan Anak Daud duduk di takhta kerajaan. Zerubabel akan memiliki keturunan yang akan dinaikkan ke atas takhta Israel, yaitu Yesus Kristus, Anak Daud.

Untuk direnungkan:

  1. Israel akan segera menerima janji Allah. Janji Allah memulihkan bangsa itu dan memberikan bagi mereka Kristus, Anak Daud, untuk berkuasa di atas takhta. Janji ini melampaui kemegahan bangunan Bait Suci. Jika menurut ukuran dunia Israel mengalami penurunan kejayaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan zaman Salomo, maka menurut cara pandang Tuhan Israel justru semakin dekat dengan menerima janji Tuhan yang akan segera mengirimkan Kristus bagi mereka. Penggenapan janji yang semakin dekat ini jauh lebih mulia daripada segala kemegahan fisik yang dimiliki Israel. Ini jugalah yang harus kita perhatikan dalam perjalanan iman kita. Baik keadaan fisik maupun kondisi keuangan bukanlah hal yang menjadi ukuran berkat Tuhan bagi kita. Tetapi ketika janji penyertaan Allah melalui Kristus boleh menjadi milik kita, itulah tanda berkat yang sejati bagi hidup kita di dunia ini dan di dunia yang akan datang. Tidak ada berkat apa pun yang melampaui Kristus yang datang, mati bagi manusia, dan bangkit untuk menyatakan kemenangan atas maut.
  2. Sama seperti Israel dituntut untuk memiliki kehidupan yang tidak bercacat menjelang kedatangan Kristus, marilah kita juga menantikan Kristus yang akan datang kedua kali nanti dengan kehidupan yang kudus. Tuhan mempersiapkan umat-Nya untuk hari di mana Dia sendiri akan berdiam bersama dengan kita. Inilah yang disimbolkan dengan pembangunan Bait Allah. Suatu saat Allah sendiri akan hadir di tengah-tengah kita dengan kehadiran yang sempurna, lebih dari pada pernyataan kehadiran-Nya di dalam tiang awan dan tiang api. Juga melampaui pernyataan kehadiran-Nya di dalam Bait Suci-Nya pada zaman Salomo. Jika Tuhan berkehendak untuk menyatakan kehadiran-Nya secara penuh, bukankah ini berarti umat Tuhan harus mempersiapkan diri lebih dari sebelumnya? Jika kedatangan Kristus menggenapi dengan sempurna kehadiran Allah, bukankah itu berarti kita semua harus terus menjaga hidup yang kudus dan bersih di hadapan Tuhan? Tinggalkanlah dosa-dosa! Jangan lagi membiarkan kecemaran hidup menguasai kita! Semua hal yang cemar dan kotor harus dibuang dari kehidupan umat Tuhan. Sama seperti seorang pengantin perempuan menantikan hari pernikahan dengan penuh penantian, demikian juga umat Tuhan mengharapkan kedatangan Tuhan Yesus dengan penuh penantian. Apakah tandanya kita mengharapkan kedatangan-Nya dengan penuh penantian? Tandanya adalah kita hidup di dalam kekudusan. Tidak mungkin ada orang yang mengharapkan Tuhan segera datang jika hidupnya penuh dengan kecemaran dan dosa.

Doa:
Tuhan, ajarkan kami untuk bersukacita karena kehadiran Tuhan. Jangan biarkan kami menjadi umat-Mu yang serakah, menginginkan segala hal yang dikejar oleh dunia ini, tetapi yang mengabaikan berkat terindah, yaitu penyertaan-Mu. Kami sungguh bersyukur karena Kristus menjadi milik kami dan kami boleh menjadi milik Dia. Kami bersyukur karena penyertaan-Mu di dalam Kristus membawa kami kepada keselamatan kami dan memberi kepada kami penyertaan dan perlindungan seorang Gembala yang baik, yang menggembalakan jiwa kami dengan penuh kasih dan keadilan. Kami memohon supaya kerinduan kami akan Kristus dan cinta kasih kami kepada Dia boleh terus dinyatakan melalui kehidupan yang suci. Berikanlah kami kekuatan untuk hidup suci bagi Dia. (JP)