Renungan Harian 162 (Rabu, 6 Februari 2019)

Yerusalem Dipulihkan

Devotion from:
Zakharia 2:1-13

Sejak Nebukadnezar menghancurkan tembok Yerusalem dan mengangkut penduduknya sebagai buangan hingga zaman di mana Zakharia melayani, Yerusalem telah menjadi kota tak bertembok dan telah ditinggalkan penduduknya menjadi kota tak berpenghuni. Sekarang setelah penduduknya mulai kembali setelah 70 tahun, maka nubuat Tuhan tiba kepada Zakharia. Nubuat yang menyatakan bahwa Tuhan akan memulihkan kota Yerusalem. Zakharia melihat suatu pengelihatan tentang adanya seseorang memegang tali pengukur. Ini melambangkan pemulihan bagi Yerusalem akan terjadi melampaui batas-batas kota lamanya. Orang itu akan mengukur batas kota Yerusalem kuno, tetapi Tuhan akan membuat Yerusalem menjadi besar dan penuh dengan orang-orang sehingga kemegahan kota itu akan melampaui kemegahannya sebelumnya. Apakah ini berarti Yerusalem tidak akan ditembok menjadi kota berbenteng lagi? Tidak. Yang dimaksudkan adalah pemulihan Yerusalem secara kekal akan terjadi melampaui kota itu dahulu. Yerusalem baru akan menjadi daerah yang sangat luas dan tidak bisa diukur dengan kehadiran Tuhan dan kemuliaan-Nya. Tidak ada tembok karena kuasa Tuhan akan melindungi kota itu dan kemuliaan-Nya akan memenuhi kota itu. Ini merupakan berita yang sangat indah, dan karena itu seorang malaikat mengatakan kepada Zakharia untuk segera memberitakan berita kesukaan ini (ay. 6).

Berita sukacita ini harus dibawa oleh Zakharia ke seluruh daerah tempat di mana Israel dibuang. Mereka harus pergi dari tempat mereka dibuang dan kembali ke rumah mereka di tanah perjanjian yang permai itu. Mengapa harus pergi ke tempat yang hingga saat kitab ini ditulis masih merupakan reruntuhan? Karena Tuhan akan memulihkan keadaan Yerusalem dengan kemuliaan yang melampaui kemuliaan kota mana pun di dunia. Tetapi janji Tuhan ini belum terjadi saat ini. Janji Tuhan ini adalah janji yang bersifat eskatologis, yaitu akan terjadi pada zaman akhir. Sedangkan hingga saat ini, dibangunnya kembali Yerusalem tidak dengan sempurna menyatakan kemuliaan Allah. Yerusalem memang akan kembali dihuni orang. Tembok-tembok kotanya akan didirikan kembali, tetapi tidak dengan kemuliaan seperti yang dinubuatkan di dalam kitab ini. Maka, setiap orang yang meninggalkan daerah buangan mereka di Babel, lalu berjalan kembali ke Sion, ke Yerusalem, mereka berjalan dengan iman bahwa Tuhan akan memulihkan kota itu. Mereka tidak berjalan karena Tuhan sudah pulihkan kota itu. Mereka berjalan pulang dengan iman. Tidak ada bukti bahwa Yerusalem akan dipulihkan hingga kemuliaannya menjadi begitu sempurna, tetapi iman melihat bukti yang jauh lebih kuat, yaitu bukti karena Tuhan yang mengatakan janji itu adalah Tuhan yang mahakuasa dan yang setia. Karena Dia setia, maka Dia tidak mungkin berkhianat atau tidak mau menjalankan apa yang telah Dia janjikan. Karena Dia mahakuasa, maka tidak ada kuasa lain di bumi dan di surga yang sanggup membatalkan apa yang Dia telah rencanakan.

Ayat 10-14 melanjutkan nubuat tentang pulihnya Yerusalem dengan perkataan bahwa Tuhan akan menjadi kemuliaan kota itu. Tuhan sendiri akan hadir di tengah-tengah kota itu dengan kemuliaan-Nya yang sempurna. Allah Tritunggal akan tinggal di kota buatan tangan-Nya sendiri, dengan kuasa-Nya yang tak terbatas akan memagari kota itu, dan dengan kemuliaan-Nya yang permai dan sempurna memenuhi kota itu. Bukan hanya itu, nubuat ini melanjutkan dengan mengatakan bahwa bangsa-bangsa di dunia akan datang ke Yerusalem untuk menikmati Tuhan dan menyembah Tuhan bersama-sama dengan umat Tuhan. Yerusalem menjadi tempat pertemuan antara Allah yang telah berdiam di tengah-tengah manusia, dengan seluruh bangsa yang datang untuk menyembah Allah dan sujud kepada Dia, serta menikmati kemuliaan-Nya yang sempurna.

Nubuat ini akan terjadi, sebagaimana dikatakan di dalam Wahyu 21:2-3, sebagai akhir dari sejarah manusia dan awal dari zaman baru di mana Allah berdiam bersama dengan manusia di bumi yang baru. Kita tidak akan mungkin kehilangan harapan selama kota ini menjadi janji Tuhan bagi kita semua. Segala kesulitan, kerusakan dunia, kecemaran, dan kekacauan akan diusir keluar dari bumi milik Tuhan. Segala kecemaran dan dosa tidak akan mempunyai tempat di Yerusalem yang baru ini. Kota Yerusalem yang pada zaman Zakharia sedang dibangun kembali adalah simbol bahwa Allah akan memulihkan dunia ciptaan-Nya ini. Yerusalem baru, tempat segala bangsa berharap dan tempat semua manusia di bumi datang untuk menyembah Tuhan, inilah kesempurnaan dari penggenapan janji Tuhan dalam bacaan kita hari ini.

Untuk direnungkan:

  1. Janji Tuhan bagi kita tetap sama. Tuhan menjanjikan hal-hal yang dapat kita nikmati sekarang, tetapi Dia juga memberikan janji-janji yang hanya dapat dinikmati di dalam zaman yang baru nanti. Hal-hal yang akan Tuhan berikan nanti, di dalam kedatangan Anak-Nya, Yesus Kristus, yang akan datang kedua kalinya nanti, adalah hal-hal yang akan menguatkan kita untuk hidup dengan penuh pengharapan di dunia ini. Kita tidak akan mempunyai semangat, sukacita, dan ketekunan melakukan sesuatu atau mengejar sesuatu jika kita tidak mempunyai pengharapan akan memperoleh sesuatu. Tuhan menuntun kita untuk mengikuti Dia di tengah-tengah dunia ini. Ini bukanlah hal yang mudah. Begitu banyak kesulitan menghadang kita dalam mengikuti Dia. Godaan dosa terus menghadang tidak henti-hentinya. Sifat berdosa kita yang lama yang masih muncul dan merongrong kita juga terus berusaha membuat kita tersandung dalam mengejar pimpinan Roh Tuhan. Kerusakan dunia yang penuh dengan dosa dan sistem hidup yang dicengkeram oleh sifat jahat manusia menjadikan kita makin putus asa untuk memperbaiki dunia di sekitar kita. Penderitaan yang berat, ataupun hiburan duniawi yang palsu, ini pun menjauhkan kita dari Tuhan. Sengsara dapat membuat kita berhenti berharap kepada Tuhan atau bahkan kecewa kepada Tuhan, dan hiburan dan tawaran kesenangan yang palsu menipu kita untuk merasa puas di luar Tuhan. Semua ini memperberat langkah kita untuk berjalan. Tetapi tidak satu pun dari semua kesulitan tadi akan membuat kita gagal mengikuti Tuhan jika Tuhan sendiri beserta kita dan memberikan kita pandangan ke arah Sion. Tidak ada langkah yang terlalu berat jika kita berjalan bersama dengan Dia menuju ke Yerusalem baru.
  2. Jika kita telah memiliki pengharapan yang kuat ini, jika kita tahu bahwa baik air mata, penderitaan, kesulitan hidup, godaan dosa, tipuan kesenangan dunia yang membelenggu, kecemaran, dan semua hal lain tidak akan membuat kita tersandung. Mengapa tidak? Karena Tuhan memimpin kita. Tetapi Tuhan tidak akan memimpin kita jika kita memutuskan untuk berjalan ke arah yang berbeda. Tuhan memimpin kita menuju bukit Sion yang sejati, ke Yerusalem baru. Tuhan tidak menuntun kita ke Sodom dan Gomora, tempat kesenangan palsu dan pelampiasan hawa nafsu terus menerus terjadi. Tuhan juga tidak menuntun kita ke Mesir, tempat yang sangat maju dengan budaya yang tinggi dan kemakmuran yang sangat terjamin. Tuhan juga tidak memimpin kita ke daerah Persia, penguasa 127 kerajaan di bumi di mana keamanan dan kekuatan militer menjadi jaminan. Tuhan memimpin kita ke Yerusalem baru, di mana kesenangan akan kehadiran Tuhan dan kemuliaan Tuhan mengalahkan semua kesenangan dunia mana pun. Kehadiran Tuhan di sana jauh lebih bijak, indah, berbudaya ketimbang segala kemajuan negara-negara dengan budaya agung di bumi. Kehadiran Tuhan juga akan memagari kota itu sehingga kekuatan Persia pun jauh lebih kecil daripada apa yang akan dialami oleh kota yang bentengnya adalah Tuhan sendiri.

Doa:
Ya Tuhan, siapakah kami sehingga Engkau menjanjikan kami tempat yang begitu indah dan damai. Tidak ada tempat yang indah dan damai jika Tuhan tidak ada di situ. Kami sungguh bersyukur karena Tuhan rela hadir dan menyatakan kemuliaan di tengah-tengah kami. Kami hanyalah pendosa yang cemar, ya Tuhan, tetapi kami diberikan pengharapan dan warisan yang sangat mulia ini, kami tidak tahu bagaimana harus bersyukur kepada-Mu. Kiranya kami dapat memanjatkan ucapan syukur kami dengan hidup yang menyenangkan hati-Mu, ya Tuhan. (JP)