Renungan Harian 163 (Kamis, 7 Februari 2019)

Imam Besar Yosua

Devotion from:

Zakharia 3:1-10

Penglihatan berikutnya yang dialami oleh Zakharia adalah tentang Yosua, imam besar Israel yang memimpin rakyat yang kembali dari pembuangan untuk beribadah kepada Tuhan (Ezr. 3:2, Hag. 2:3). Di dalam penglihatan itu terjadi pertengkaran antara iblis dengan malaikat Tuhan. Apakah maksud pertengkaran mereka di dalam ayat 1 dan 2? Iblis di dalam ayat 1 hendak mendakwa Yosua. Ini memang pekerjaan Iblis. Dia mendakwa orang-orang yang telah di dalam Tuhan. Iblis menggoda manusia agar manusia jatuh ke dalam dosa, tetapi setelah manusia jatuh, dia menjadi pendakwa dengan melemparkan tuduhan-tuduhan agar kita dibuang oleh Tuhan (Why. 12:9-10). Ini jugalah yang dilakukan oleh Iblis kepada imam Yosua. Dia menjadi pemimpin umat Tuhan yang baru kembali dari pembuangan untuk beribadah kepada Tuhan. Yosua adalah pemimpin dari sisi agama, sedangkan Zerubabel adalah pemimpin politik mereka. Iblis mendakwa Yosua dan menyatakan bahwa dia layak untuk dibakar di dalam api murka Tuhan. Tetapi malaikat Tuhan mengatakan bahwa Yosua seperti puntung yang diselamatkan dari api. Dia telah diberikan tempat sebagai imam besar dan telah diampuni kesalahan-kesalahannya. Pengampunan bagi Yosua juga berkait dengan pengampunan seluruh Israel. Jika Yosua hanya diampuni sebagai orang berdosa yang dibersihkan oleh Tuhan, maka pengampunannya tidak akan memengaruhi Iblis dan malaikat untuk bertengkar mengenai Yosua. Tetapi karena dia adalah orang yang dibersihkan untuk menjadi imam besar Israel, maka pengampunannya menjadi tanda kemurahan hati Tuhan yang mau mengampuni umat-Nya. Tuhan akan menanggalkan pakaian Israel yang kotor dan cemar lalu menggantikannya dengan pakaian pesta, seperti yang juga dilakukan kepada Yosua (ay. 4).

Hal berikutnya adalah peringatan Tuhan bagi Yosua (dan juga seluruh Israel). Tuhan memberikan anugerah pengampunan-Nya berdasarkan belas kasihan-Nya. Tetapi setiap orang yang telah menerima anugerah pengampunan-Nya ini harus berespons dengan benar. Mereka harus setia mengikuti Tuhan, menaati Dia, dan hidup dengan cara yang diperkenan Tuhan. Mereka harus memelihara kesetiaan mereka agar Israel kembali dipimpin dan disertai Tuhan hingga pada saat di mana “Sang Tunas”, yaitu Kristus, yang telah dijanjikan oleh Allah (ay. 8).

Siapakah Kristus itu? Dia adalah Imam yang sejati. Dialah yang akan memimpin umat Tuhan untuk datang beribadah kepada Bapa-Nya yang di surga. Dialah yang menggenapi posisi imam di Israel. Imam di Israel memimpin rakyat untuk datang dan beribadah kepada Tuhan. Imam memimpin mereka dalam puji-pujian yang dipanjatkan, mempersembahkan korban dan persembahan bagi Israel ke hadapan Allah, menyatakan firman dan berkat Tuhan bagi Israel, dan mewakili seluruh umat Tuhan berdoa kepada Tuhan. Semua ini digenapi oleh Kristus ketika Dia datang ke dalam dunia. Dia memimpin umat-Nya untuk memuji Tuhan, mempersembahkan Diri-Nya sebagai korban untuk menebus umat Tuhan, menyatakan berkat Tuhan bagi umat-Nya, dan berdoa syafaat bagi orang-orang yang sudah ditebus-Nya. Kristuslah imam yang sejati. Yosua adalah gambaran yang sangat indah tentang siapakah Yesus. Bahkan nama Yesus adalah versi bahasa Yunani dari Yosua. Keduanya berarti: “Tuhan menyelamatkan.” Pengampunan dan pemulihan yang Tuhan berikan kepada Yosua dan Israel adalah untuk menantikan kedatangan Sang Imam yang sejati. Kekudusan hidup dan ketaatan kepada perintah Tuhan adalah bagian dari penantian itu. Kerajaan Israel yang penuh dengan damai dan kelimpahan berkat Tuhan akan terjadi hanya setelah Sang Tunas, yaitu Kristus, datang. Dialah harapan satu-satunya untuk adanya kerajaan yang sungguh-sungguh diperkenan Tuhan.

Untuk direnungkan:

  1. Seperti Yosua diserang oleh Iblis, demikian juga kita. Dia akan mengingatkan kembali kesalahan-kesalahan kita kepada Allah. Dia akan membongkar kembali semua dosa-dosa kita. Dia menggoda kita untuk jatuh ke dalam dosa, tetapi setelah kita jatuh ke dalam dosa, dia segera mengadukan kita kepada Allah agar kita dibinasakan oleh Allah. Tetapi pengampunan Tuhan begitu agung dan besar. Dia yang telah mengampuni kita, Dia juga yang membela kita. Bahkan Kristus, Sang Hakim seluruh dunia itu, menjadi pembela kita di hadapan Allah. Betapa besar pengampunan yang kita terima! Seperti Yosua, kita pun adalah puntung yang dengan segera ditarik dari api sebelum terbakar hangus. Kita yang begitu dekat dengan pembuangan kekal karena terus menerus menolak Allah, akhirnya diselamatkan oleh Kristus dengan darah-Nya. Keagungan pengampunan Tuhan yang kita telah terima ini adalah puncak dari pernyataan Allah di dalam pemanggilan Israel. Abraham, Ishak, dan Yakub dipilih oleh Tuhan untuk menjadi bapa-bapa dari sebuah bangsa yang besar, yaitu Israel. Tetapi Israel dipilih dan dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi bangsa yang menurunkan Kristus sebagai manusia (Rm. 9:5). Demikian juga Kristus dinyatakan untuk menjadi yang sulung dari banyak saudara, yaitu setiap orang yang telah ditebus oleh darah-Nya, yang adalah anggota tubuh-Nya (Rm. 8:29; Ef. 5:30). Adakah serangan, tentangan, bahaya, dan penderitaan yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus (Rm. 8:39)? Tidak! Jika kita harus mengandalkan kasih dan kesetiaan kita untuk diperkenan Tuhan, maka celakalah kita! Tetapi, puji Tuhan, yang kita andalkan adalah kasih dan kesetiaan Allah Bapa dan Kristus, Anak-Nya, bagi kita. Jika demikian besar kasih dan kesetiaan Tuhan bagi kita, celakalah kita jika kita tidak mengasihi Dia (1Kor. 16:22)!
  2. Seperti Yosua dan seluruh Israel yang kembali dari pembuangan dituntut untuk setia kepada Tuhan, demikian juga kita. Kita dituntut untuk menaati Tuhan dan mengikuti Dia dengan setia karena Dia telah lebih dahulu mengasihi dan memberikan kesetiaan-Nya kepada kita. Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya, dan sekarang Dia menuntut kita menjalankan bagian kita dengan setia kepada Dia. Apakah kesetiaan kita ini perlu agar kita tidak binasa? Tidak. Kita yang telah dibersihkan oleh darah Kristus tidak akan dibuang oleh Allah karena Dia akan menerima kita seperti Dia akan menerima Kristus (Rm. 8:1; Ef. 1:3). Tetapi tuntutan untuk hidup setia dan menaati Dia merupakan tuntutan yang Tuhan berikan kepada kita di dalam kasih-Nya. Sebab sama seperti Tuhan hendak menuntun Israel ke dalam kehidupan berlimpah yang penuh dengan kedamaian, demikian juga Dia ingin kita mengalami hidup penuh dengan berkat-Nya. Itulah sebabnya Dia menuntut Israel taat kepada perjanjian dengan Dia, karena jalan ke dalam kelimpahan dan damai dengan Allah hanya bisa diperoleh di dalam ketaatan terhadap perjanjian dengan Allah. Itu sebabnya juga Dia menuntut kita untuk menaati-Nya. Tetapi jika Yosua dan Israel yang kembali dari pembuangan berusaha menjalani hidup dengan penuh kesetiaan sambil menantikan kedatangan Kristus, maka kita berusaha menjalani hidup dengan penuh kesetiaan karena Kristus telah datang. Dia yang telah datang dan akan datang kembali menjadi pendorong, penguat, dan contoh teladan bagi kita untuk hidup bagi Allah. Mari kita belajar untuk hidup dengan penuh kesetiaan dan ketaatan kepada Allah karena Allah telah lebih dahulu menyatakan pengampunan-Nya yang agung dan besar itu kepada kita.

Doa:
Ya, Tuhan, sama seperti imam besar Yosua kami pun hanyalah sampah yang begitu dekat dengan kebinasaan kami. Kami tidak layak dilirik, apalagi diperhatikan oleh Tuhan. Tetapi Engkau sendirilah yang berbelaskasihan kepada kami. Ya Tuhan, belas kasihan-Mulah alasan hidup kami masih bernilai. Bahkan hidup kami menjadi begitu mulia dan agung karena perhatian dan kesetiaan yang telah Engkau tunjukkan kepada kami. Terimalah kami sebagai anak-anak-Mu ya Tuhan, dan kami akan terus hidup dengan setia kepada-Mu. Mohon kuatkan kami yang lemah ini untuk terus setia kepada-Mu. (JP)