Renungan Harian 164 (Jumat, 8 Februari 2019)

Dua Orang yang Diurapi Tuhan

Devotion from:

Zakharia 4:1-14

Pengelihatan selanjutnya yang diperoleh Zakharia adalah mengenai kandil emas berukiran dua pohon zaitun. Ada dua makna yang dibagikan oleh malaikat yang berbicara kepada Zakharia pada bagian ini. Makna pertama adalah kandil yang melambangkan Roh Kudus. Tuhan akan menghancurkan kerajaan-kerajaan dengan kuasa Roh Kudus. Bagaimanakah kuasa Roh Kudus dinyatakan? Ayat 6 mengatakan bukan dengan kekerasan dan kuasa perang, melainkan dengan kuasa Roh Tuhan. Tuhan akan menaklukkan bukan dengan kekuatan senjata perang. Tuhan akan mendirikan bait-Nya yang suci, mendirikan kembali umat-Nya, dan membangun kembali Yerusalem yang telah menjadi reruntuhan. Tetapi Tuhan tidak melakukan itu dengan perang. Dia tidak menggerakkan Israel untuk mengalahkan Babel atau Persia. Dia tidak mengirimkan 10 tulah bagi Persia untuk membebaskan Israel. Dia tidak membunuh anak-anak sulung orang Persia. Bahkan Dia tidak mengeraskan hati raja Persia seperti Dia mengeraskan hati Firaun. Koresh, raja Persia, bahkan digerakkan Tuhan sendiri untuk membebaskan umat Tuhan, memerintahkan dibangunnya Bait Suci. Tuhan akan menaklukkan, tetapi bukan dengan cara kekerasan dan peperangan. Ini adalah nubuat yang sangat penting dari Kitab Zakharia. Tuhan akan mendirikan kerajaan-Nya di bumi bukan dengan kampanye militer, tetapi dengan pekerjaan Roh Kudus yang akan mengubah hati manusia. Dia akan menyatakan kebenaran, keadilan, dan penghakiman Tuhan dengan seruan peringatan sehingga orang-orang bertobat dan kembali kepada Allah.

Hal selanjutnya dikatakan bahwa Tuhan, melalui Roh-Nya, akan memakai Zerubabel untuk memulai pembangunan Bait Suci dan akan menyertai umat Tuhan hingga bangunan itu selesai. Zerubabel akan berhasil di dalam tugas yang Tuhan percayakan kepada dia sehingga di Yerusalem orang dapat kembali datang kepada Allah melalui bait-Nya yang suci. Perhatikan di dalam ayat 10 dikatakan bahwa batu pilihan akan dipakai sebagai batu utama dalam membangun Bait Allah. Ini merupakan lambang Kristus yang akan menjadi batu penjuru bagi pembangunan bait, yaitu tubuh-Nya sendiri. Demikian juga Zerubabel menjadi lambang bagi Kristus yang akan mendirikan Bait Allah yang sejati, yaitu tubuh Kristus. Mengapa semua bagian mengarah kepada Kristus? Karena tujuan Allah memulihkan kembali Israel adalah untuk mengirimkan Kristus sebagai penggenapan janji-Nya bagi Israel. Tuhan tidak sedang mendirikan kerajaan Israel untuk mereka melalui hari demi hari hidup mereka tanpa tujuan yang jelas. Tuhan mengumpulkan mereka kembali untuk bersiap menyambut Sang Raja, Anak Daud, yang akan datang nanti. Itulah sebabnya setiap pernyataan Tuhan kepada Zakharia begitu banyak memuat pemberitaan tentang Kristus yang akan datang. Zerubabel menjadi lambang Kristus dalam hal pemerintahan dan penaklukkan dunia, sedangkan Yosua sang imam besar menjadi lambang Kristus di dalam hal ibadah, doa, dan persembahan korban kepada Tuhan. Inilah dua orang yang diurapi itu. Merekalah lambang pengharapan kesalehan hidup dan persembahan korban para imam, dan juga pengharapan kerajaan yang kokoh dan menaklukkan seluruh bumi. Dua hal inilah yang akan digenapi oleh Kristus. Tugas sebagai imam sejati dan raja sejati. Yang menjadi batu sandungan bagi banyak orang Yahudi adalah, jika Kristus adalah lambang raja yang sejati, mengapa Dia tidak segera mendirikan kerajaan-Nya? Dia bahkan gagal karena tertangkap, disiksa, dan akhirnya dibunuh di atas kayu salib. Mereka tidak mengerti bahwa kematian-Nya di atas kayu salib adalah untuk menggenapi tugas-Nya sebagai imam. Lalu bagaimana dengan takhta kerajaan-Nya? Kristus yang sekarang bertakhta di sebelah kanan Allah, Dialah yang memerintah segala sesuatu dalam alam semesta. Inilah yang digenapi dengan turunnya Roh Kudus yang melanjutkan pekerjaan Kristus. Roh Kudus yang membawa berita tentang Kristus melalui orang-orang percaya ke seluruh bumi. Inilah cara-Nya bekerja. Dia tidak menaklukkan kerajaan-kerajaan dengan perang. Dia menaklukkan kerajaan-kerajaan dengan menjadikan mereka kerajaan dengan pengaruh firman Tuhan yang mengembalikan hati manusia kepada Tuhan. Gereja menaklukkan kerajaan Romawi pada abad ke-4 bukan dengan perang, tetapi dengan pekabaran Injil yang tidak henti-hentinya dikerjakan oleh Roh Kudus melalui orang percaya. Inilah arti dari kandil dan dua pohon zaitun tersebut. Imam besar Yosua dan Zerubabellah dua pohon zaitun itu. Mereka menjadi lambang kehadiran Kristus sebagai imam yang mengorbankan diri-Nya dan sebagai raja yang menaklukkan seluruh bumi bukan dengan kekerasan, melainkan dengan Roh-Nya yang kudus, yang dilambangkan dengan kandil itu.

Untuk direnungkan:
Ayat 10 mengatakan tujuh corot pada kandil (dicatat dalam ay. 2) adalah mata Tuhan yang melihat seluruh bumi. Mata Tuhan yang melihat tempat yang harus ditundukkan menjadi bagian dari kerajaan-Nya. Inilah yang Tuhan ingin kerjakan dengan memanggil orang-orang yang percaya di dalam Kristus. Dia ingin seluruh bumi menjadi tempat di mana nama-Nya yang agung dan kerajaan-Nya yang penuh kuasa dinyatakan. Dia ingin seluruh bumi tahu siapakah raja mereka. Dia ingin seluruh bumi hidup berdasarkan perintah-perintah dan pengajaran-pengajaran firman-Nya. Itulah sebabnya firman dan kebenaran Injil terus disebarkan tanpa henti oleh orang-orang percaya. Yang menjadi bahan renungan kita adalah, apakah kita telah menangkap semangat ini? Semangat, gairah, dan kerinduan untuk melihat nama Allah dipermuliakan di seluruh bumi. Semangat, gairah, dan kerinduan untuk melihat Kristus ditinggikan dan disembah sebagai Raja oleh seluruh bumi. Apakah ini kerinduan kita?

Sayang sekali kalau banyak orang Kristen justru menjadi semakin sempit pandangannya, bukan semakin global. Mereka hanya mementingkan diri, bukan kerajaan Allah. Mereka mencari untung rugi diri sendiri, bukan mencari bagaimana caranya agar kemuliaan Allah dan Kristus diakui oleh seluruh bangsa. Ketika orang Kristen menyembah Allah demi mendapatkan kesehatan dan kekayaan, atau ketika orang Kristen menjadi Kristen dengan harapan Allah akan menebus dan memperbaiki usahanya yang sedang mundur. Semua menunjukkan sifat self-centered yang begitu dibenci Tuhan. Bahkan Allah sendiri pun tidak bersifat self-centered karena Alkitab mengatakan bahwa Allah Bapa tidak memuliakan diri-Nya sendiri, melainkan memuliakan Anak. Alkitab juga mengatakan bahwa Allah Roh Kudus memuliakan Allah Anak dan Allah Anak menundukkan diri kepada Allah Bapa. Masing-masing Pribadi dalam Allah Tritunggal bergiat bagi Pribadi yang lain. Mari belajar dari Allah kita. Biarlah kerinduan yang paling besar yang ada di dalam diri kita adalah melihat seluruh bumi sujud kepada Kristus, raja mereka. Maukah kita mulai memikirkan tentang penginjilan? Maukah Saudara memikirkan bagaimana seluruh aspek yang dilakukan manusia di bumi harus dikoreksi oleh kebenaran firman Tuhan? Adakah kerinduan di dalam hati bahwa manusia dengan semua bidang kehidupan mereka yang begitu beragam, mereka semua harus tunduk kepada Kristus, raja mereka. Adakah kerinduan agar semua bangsa-bangsa menerapkan kebenaran Allah dalam mengatur warga mereka? Biarlah kerinduan dan motivasi yang didorong oleh kemuliaan Tuhan boleh menggerakkan kita untuk terus rela bergiat demi pekabaran Injil, sehingga semua orang menundukkan semua aspek hidup mereka kepada ketuhanan Kristus.

Doa:
Ya Tuhan, berikanlah kami hati yang senantiasa digerakkan oleh kemuliaan Kristus. Biarlah kami terus memiliki kerinduan agar seluruh bumi mengenal, menghormati, menyembah, dan mengasihi Kristus. Pakailah kami, ya Tuhan, agar kami pun dapat berbagian di dalam menyerukan Injil Tuhan dan membawa manusia kembali kepada Dia yang telah memanggil mereka. Kiranya Tuhan berkenan untuk menumbuhkan dan memelihara api yang ada di dalam jiwa kami agar terus menyala-nyala bagi seluruh bumi agar mereka mengenal Allah. (JP)