Renungan Harian 166 (Minggu, 10 Februari 2019)

Kemenangan Sang Tunas

Devotion from:

Zakharia 6:1-15

Bagian terakhir dari penglihatan-penglihatan yang dilihat oleh Zakharia ini menyatakan kemenangan Tuhan di dalam peperangan dengan kefasikan. Tuhan mengirimkan empat pasukan pengendara kereta berkuda untuk membawa kemenangan ke seluruh penjuru bumi. Empat pasukan ini keluar dari gunung-gunung tembaga, yang adalah pernyataan dari Tuhan sendiri bahwa ketetapan-Nya untuk menghakimi dunia adalah ketetapan yang kekal dan tidak dapat dipatahkan, sama seperti tembaga begitu padat dan tidak dapat dipatahkan. Sejarah boleh bergerak dengan cara yang sepertinya membuat kefasikan menang dan kebenaran kalah, tetapi, sama seperti tembaga adalah logam yang sangat keras, demikian juga ketetapan Tuhan tidak akan dipatahkan oleh jalannya sejarah. Ketika akan masuk ke dalam penghakiman akhir, yaitu saat di mana Tuhan akan menghakimi seluruh bumi, Dia sendirilah yang menyatakan bahwa ketetapan ini begitu solid sama seperti gunung-gunung yang terbuat dari tembaga begitu solid. Maka para pengendara kereta berkuda (senjata perang paling ditakuti pada zaman itu) keluar menjelajahi seluruh bumi untuk menaklukkan seluruh bumi. Warna-warna kuda, walaupun sulit ditafsirkan, tetapi mungkin melambangkan sifat Allah yang akan menghakimi seluruh dunia. Merah menunjukkan hukuman murka karena identik dengan darah. Hitam menunjukkan kelamnya kehadiran Allah, sebagaimana digambarkan di dalam Keluaran 19:18-20. Ini membuat manusia sadar bahwa mereka harus gentar dan takut kepada Dia yang akan menghakimi dunia. Putih menunjukkan kekudusan Allah yang tidak boleh dilanggar, sedangkan kuda yang berbelang-belang dan berloreng-loreng (atau bisa juga diterjemahkan warna yang kuat) menunjukkan tekanan penghakiman Allah atas seluruh dunia dinyatakan dengan sangat tegas. Penghakiman Tuhan akan menyatakan keadilan Tuhan, menjaga kekudusan-Nya, dan menyatakan hormat dan kemuliaan nama-Nya di seluruh bumi.
Setelah penghakiman atas bumi memuaskan hati Tuhan, maka hal selanjutnya yang terjadi adalah berdirinya kerajaan Sang Tunas. Dialah yang akan mendirikan Bait Allah (ay. 13, bandingkan dengan Yoh. 2:19-21). Dialah yang akan memerintah. Tetapi segala nubuat ini digenapi dengan dua cara, yaitu penggenapan sementara dan penggenapan akhir yang sempurna. Sama seperti janji Tuhan kepada Abraham akan memberikan anak digenapi secara sementara dengan kelahiran Ishak, tetapi janji ini digenapi secara akhir dan sempurna di dalam kelahiran Kristus Yesus (Gal. 3:16). Begitu juga janji Allah kepada Daud bahwa anaknya akan mendirikan Bait Suci. Ini digenapi secara sementara dengan lahirnya Salomo dan berdirinya bangunan Bait Suci. Tetapi penggenapan sempurna ada pada kelahiran Kristus yang mendirikan rumah bagi Allah yang adalah tubuh-Nya sendiri (Kis. 2:29-31, Yoh. 2:19-21). Demikian juga janji Tuhan bagi orang-orang yang kembali dari pembuangan. Akan ada pemimpin di tengah-tengah mereka, yaitu Yosua bin Yozadak dan juga Zerubabel bin Sealtiel yang akan memastikan Bait Allah dibangun kembali. Tetapi ini adalah penggenapan sementara. Tuhan tidak berdiam di dalam bait yang dibuat oleh tangan manusia (Kis. 7:48-50). Penggenapan yang sempurna masih belum terjadi, tetapi akan terjadi ketika Kristus datang kembali untuk mendirikan kerajaan-Nya yang kekal selama-lamanya. Kerajaan yang tunduk kepada Allah dan yang menyingkirkan segala kefasikan di muka bumi ini.

Tuhan yang telah menjanjikan ini semua mengingatkan kepada orang Israel untuk mendengarkan suara Tuhan dengan sebaik mungkin (ay. 15). Ini merupakan peringatan yang sangat penting bagi Israel. Mereka dituntut untuk peka terhadap suara Tuhan, memahami Kitab Suci dengan benar, memahami janji Allah dengan tepat, dan juga menantikan kerajaan damai yang penuh dengan kemuliaan dengan penuh kerinduan dan kesabaran. Jika mereka tidak peka mendengar suara Tuhan dan menafsirkan janji Allah dan Kitab Suci dengan cara yang rusak, maka bangsa Israel akan menjadi semakin jauh dari Kristus. Walaupun Kitab Suci sudah membahas tentang kedatangan Tuhan Yesus, dan sekalipun Dia telah menampakkan diri kepada lebih dari 500 orang setelah Dia bangkit (1Kor. 15:6), tetapi orang Israel tetap tidak akan menerima Dia sebagai Mesias mereka jika mereka tidak peka terhadap suara Tuhan dan kebenaran firman-Nya.

Untuk direnungkan:

  1. Tuhan akan memberikan penghakiman-Nya bagi dunia. Bagaimana itu dilakukan? Kita tidak tahu karena Alkitab tidak membahas dengan detail. Kapan itu dilakukan? Kita juga tidak tahu karena Alkitab tidak membahasnya dengan detail. Tetapi semakin hari dunia makin menunjukkan bahwa penghakiman Tuhan adalah satu-satunya harapan akan adanya keadilan. Kita harus terus berjuang menyatakan apa yang benar, tetapi sambil mempertahankan kerinduan akan kesucian dan keadilan, kita juga tahu bahwa hanya jika Tuhan sendiri datang kembali, barulah semua kefasikan dan kecemaran hidup akan dibersihkan sama sekali. Tuhan akan membersihkan dunia sekali lagi dan Dia akan membersihkannya melalui kedatangan Kristus. Sudahkah kita memiliki kerinduan penghakiman Tuhan segera terlaksana? Sering kali kata “kiamat” menjadi kata yang begitu menakutkan bagi manusia. Tetapi bagi orang percaya, kata ini adalah pengharapan satu-satunya untuk adanya dunia yang baru dan tunduk kepada Tuhan. Kita tidak mungkin gagal melihat kerusakan dosa yang terjadi, karena kerusakan telah ada di mana-mana. Bahkan di dalam rumah Tuhan sendiri pun kerusakan terjadi dengan begitu hebatnya! Rumah Allah, umat-Nya pun tidak akan luput dari penghakiman Tuhan, bahkan akan menjadi yang dihakimi pertama kali (1Ptr. 4:17). Tetapi justru dari sinilah akan ada pengharapan sejati bahwa kasih sejati, keadilan, ketulusan, kebaikan, kerendahan hati, kesabaran, kemurahan, dan semua hikmat hidup yang sejati akan mendapatkan kemenangan. Inilah hari di mana setiap orang yang menantikan Tuhan akhirnya boleh mengangkat wajahnya dan menantikan keselamatan yang dari Tuhan (Luk. 21:28). Apakah kita benar-benar berharap Tuhan datang kembali? Jika kita adalah orang fasik yang suka menipu, cemar, tidak tulus, penuh intrik, dan penuh sifat mementingkan diri sendiri, pastilah kita tidak ingin hari ini tiba. Ini adalah hari di mana semua perbuatan kita yang cemar akan dihakimi oleh Tuhan. Tetapi jika kita merindukan kekudusan, merindukan kebenaran Tuhan, merindukan keadilan sejati, dan merindukan kehadiran Tuhan, maka hari ini adalah hari di mana semua kerinduan kita itu akan dipuaskan dengan kedatangan Tuhan.
  2. Jika kita mengharapkan hari itu segera datang, maka kita pasti akan hidup penuh dengan kewaspadaan. Kita tidak ingin melakukan perbuatan-perbuatan cemar yang akan dihakimi oleh Tuhan. Kita akan baik-baik mendengar suara Allah kita yang kita rindukan segera tiba. Penantian akan kedatangan Kristus membuat kita hidup dengan kudus. Meskipun kita tahu bahwa keadilan sejati dan kekudusan sejati di seluruh bumi milik Tuhan ini hanya akan terlaksana ketika Kristus datang kembali, namun ini tidak membuat kita pasif. Kita tahu bahwa yang kita perjuangkan pada akhirnya akan berhasil dengan kedatangan Kristus. Penantian akan kedatangan Kristus bukan saja membuat orang tidak lagi hidup di dalam dosa-dosanya. Penantian ini juga akan membuat kita makin giat menyatakan Injil, keadilan, kebenaran, dan kemuliaan Allah di dunia ini. Kehidupan yang cemar menunjukkan bahwa kita belum sungguh-sungguh menantikan Kristus. Kehidupan yang pasif juga menunjukkan bahwa kita belum sungguh-sungguh menantikan Kristus.

Doa:
Tuhan, terima kasih untuk pengharapan yang kami miliki. Kami mau berharap kepada-Mu dan menantikan kemenangan-Mu, ya Tuhan. Karena itu kami memohon supaya Tuhan sendiri yang mengubah hati kami. Jangan biarkan kami terus di dalam kecemaran kami. Jangan biarkan kami mencintai dunia dengan berlebihan. Biarlah kami lebih mencintai Kristus dan menganggap Dia lebih berharga dari seluruh harta dunia ini. Ajarkan kami juga ya Tuhan, untuk terus bekerja menyatakan kebenaran-Mu dan kemuliaan-Mu di tempat kami bekerja, belajar, ataupun bergaul. (JP)