Renungan Harian 167 (Senin, 11 Februari 2019)

Ibadah yang Sejati

Devotion from:

Zakharia 7:1-14

Setelah menuliskan tentang berbagai-bagai penglihatan yang dialami Zakharia, di mana sejarah Israel dari pembuangan hingga kedatangan Kristus kedua kali nanti semua dirangkum di dalam penglihatan yang begitu penuh simbol, kitab ini melanjutkan pembahasannya dengan menuliskan kisah kehidupan orang-orang yang kembali dari pembuangan. Ayat 2 dan 3 menulis bahwa ada orang-orang yang diutus oleh orang Betel agar mereka boleh tidak usah berpuasa lagi. Dahulu mereka berpuasa agar mereka boleh kembali ke tanah Israel. Sekarang mereka bertanya apakah puasa masih harus dilanjutkan. Bukankah Tuhan sudah mengembalikan orang Israel ke tanah mereka? Pertanyaan ini menunjukkan betapa dinginnya hati orang-orang itu di dalam berpuasa. Mereka berpuasa karena diperintahkan, bukan karena kerinduan hati terhadap tanah Israel. Mereka bukan orang yang memiliki kerinduan yang besar agar Israel boleh kembali pulih. Mereka hanyalah orang-orang yang mau melihat hidup mereka diberkati oleh Tuhan dengan lebih lagi. Itulah sebabnya Tuhan mengutus Zakharia untuk berfirman kepada mereka. Firman Tuhan melalui Zakharia sangat keras. Tuhan mengingatkan orang-orang itu bahwa mereka tidak pernah sungguh-sungguh berpuasa demi Tuhan. Mereka tidak pernah sungguh-sungguh mengerjakan segala sesuatu karena dorongan dari hati yang ingin melakukan demikian. Ayat 5 menjadi seruan dari Tuhan bagi Israel. Jika orang Israel berpuasa dan menangis, apakah mereka lakukan itu demi Tuhan? Ayat 5 dan 6 mengatakan bahwa segala hal yang dilakukan oleh orang Israel ditentukan oleh untung ruginya mereka sendiri. Mereka melakukan segala sesuatu demi diri mereka sendiri. Tidak ada kerelaan berkorban untuk Tuhan. Tidak ada kerelaan untuk melakukan segala sesuatu dengan didorong oleh motivasi yang sejati untuk Tuhan.

Lalu apakah yang harus dilakukan orang Israel agar Tuhan kembali memperkenan mereka? Tuhan menjawab bahwa mereka harus memperhatikan orang-orang sengsara, orang miskin, janda, anak-anak yatim, memastikan keadilan dan tidak mengambil hak orang lain. Tuhan menghukum Israel karena mereka menyembah berhala dan mengabaikan Allah yang telah menyelamatkan mereka. Tetapi kerusakan relasi dengan Allah akan segera berakibat kepada rusaknya relasi dengan sesama. Di mana tidak ada relasi dengan Allah, maka relasi dengan sesama akan menjadi begitu rusak dan kacau sehingga bangsa-bangsa hidup dengan cara yang keras, kejam, dan saling memanfaatkan. Dosa tidak hanya memengaruhi relasi kita dengan Tuhan saja, tetapi juga akan membutakan kita ketika kita memandang pernikahan, pergaulan, relasi antar masyarakat, dan lain-lain. Maka, setelah kerusakan relasi dengan Allah, orang Israel mulai bertindak dengan kejam satu sama lain, tidak memperhatikan satu sama lain, dan bahkan akhirnya memenuhi tanah perjanjian dengan darah umat Tuhan sendiri akibat adanya saling membunuh satu sama lain.

Dosa Israel pun menjadi makin besar karena Tuhan telah berkali-kali berseru untuk mereka dapat sungguh-sungguh bertobat, namun mereka mengabaikan-Nya. Itulah sebabnya Tuhan tidak mau mendengar seruan mereka karena waktu Tuhan sendiri berseru, mereka mengabaikan Dia. Segala kerusakan yang terjadi dahulu ini tidak boleh diulangi oleh Israel yang kembali dari pembuangan. Tuhan menghendaki mereka mulai belajar belas kasihan, tolong menolong, mengasihi mereka yang kurang dan yang miskin, dan memastikan keadilan dan kebenaran menjadi cara hidup seluruh orang Israel. Jika ini mereka jalankan, Tuhan tidak akan mungkin membuang mereka.

Untuk direnungkan:
Salah satu kesalahan orang-orang Kristen yang sering terjadi adalah kita cenderung memisahkan antara kehidupan rohani kita dengan kehidupan sosial kita. Kehidupan rohani seperti ibadah, sakramen, doa, saat teduh, bersekutu, dan berkumpul bersama saudara seiman adalah rohani, sedangkan problem-problem sosial seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan segala bentuk kerusakan dalam dunia politik dan ekonomi itu urusan dunia. Karena kita orang rohani, maka kita tidak menyentuh urusan duniawi. Tetapi inilah kerusakan rohani yang sangat timpang. Tuhan adalah Raja yang menyatakan kekuasaan-Nya kepada seluruh bangsa. Dia tidak hanya berkuasa di gereja. Dia bertakhta atas seluruh bangsa-bangsa. Tidakkah pekerjaan Tuhan mengeraskan hati firaun atau melunakkan hati Koresh, raja-raja agung dari dunia ini, telah menunjukkan bahwa Dia berkuasa atas seluruh dunia? Mengapa justru orang Kristen sendiri yang tidak percaya itu? Kita begitu nyaman di dalam kelompok kecil kita dan merasa penuh sukacita dengan komunitas gereja kita yang bersih dan aman dari kecemaran ketimpangan sosial dan problem-problem lainnya. Kita lupa bahwa Tuhan memanggil Israel di Perjanjian Lama sebagai bangsa, untuk menunjukkan kepada kita sekarang bagaimana harus hidup berbangsa dan bernegara. Keadilan sosial, kemiskinan, ketimpangan yang terjadi dalam ekonomi masyarakat, semua ini menjadi makin parah karena sangat kurang orang Kristen yang sungguh-sungguh mengenal kebenaran Tuhan mau terjun. Tuhan membuang Israel karena dua hal ini, yaitu kegagalan setia menyembah hanya Allah (aspek rohani), dan kegagalan menciptakan masyarakat yang adil dan benar (aspek sosial).

Lalu apa yang harus kita lakukan? Hal pertama yang paling penting adalah sudahkah kita memasukkan kepekaan sosial kita sebagai bagian pengukuran kehidupan rohani kita? Biasanya kita mengukur kedewasaan rohani kita dengan rutinitas saat teduh, doa, dan lain-lain. Kita jarang memasukkan kepekaan sosial ke dalamnya. Berapa besar hatimu terganggu karena banyak orang diperlakukan tidak adil? Berapa besar hatimu terganggu karena kemiskinan yang merajalela? Hati yang terganggu merupakan bentuk kepekaan awal yang menunjukkan bahwa kita masih memiliki sedikit sisa sifat-sifat ilahi di dalam diri kita. Allah kita adalah Allah yang memperhatikan kaum tertindas. Lalu hal kedua, setelah kepekaan itu kita miliki barulah kita dapat bertindak dengan tulus. Orang yang menolong orang miskin, atau memperjuangkan keadilan tanpa perasaan hati yang terganggu oleh kondisi sosial yang rusak hanya akan menolong dan berjuang untuk mendapatkan nama. Dia tetap mempunyai motivasi yang tidak tulus dan dia tetap dibenci oleh Tuhan karena tindakan munafik yang dia kerjakan. Tetapi siapa yang menolong karena hatinya digerakkan oleh belas kasihan yang tulus, dan siapa yang berjuang karena dirinya terus terganggu dengan ketidakadilan dan ketidakbenaran yang terjadi, dia akan berjuang dengan tulus. Biarlah sifat-sifat Allah kita yang adalah kasih, suci, adil, benar, dan bijak boleh berada di dalam diri kita sehingga kita sungguh-sungguh mencerminkan sifat Allah di dalam dunia ini.

Ketika seluruh kerinduan kita agar Allah dipermuliakan masuk ke dalam aspek ibadah dalam hidup kita, maka baik berpuasa, meratap, ataupun berdoa akan menjadi salah satu ibadah yang kita panjatkan dengan ketulusan dan kesungguhan hati. Dan ketika kerinduan kita agar Allah dipermuliakan masuk ke dalam aspek sosial dalam hidup kita, maka gerakan hati yang marah karena ketidakadilan, perasaan murah hati dan belas kasihan bagi mereka yang tertindas, dan semangat berjuang untuk menyatakan kebenaran akan menjadi bagian hidup yang sangat menonjol di dalam kehidupan kita di tengah-tengah masyarakat. Jadi, bagaimana? Apakah engkau orang yang rohani? Sudahkah tergerak melihat kondisi masyarakatmu? Biarlah ibadah kita dengan seimbang kita terapkan di dalam kehidupan sosial kita (Yak. 1:27).

Doa:
Tuhan, berikan kami hati yang dapat merasakan sakit hati-Mu. Sama seperti Tuhan sakit hati melihat orang miskin dan janda-janda miskin diabaikan, demikian kami mau merasakan sakit hati yang sama agar kami tergerak melakukan sesuatu bagi mereka yang tertindas. Sama seperti Engkau menyala di dalam amarah-Mu ketika terjadi ketidakadilan, demikian kami mau memiliki amarah yang sama sehingga kami berjuang dan bersuara memerangi ketidakadilan yang terjadi. (JP)