Renungan Harian 169 (Rabu, 13 Februari 2019)

Cinta Untuk Rumah-Mu

Devotion from:

Yohanes 2:13-25

Kita akan hentikan untuk satu hari ini pembahasan Kitab Zakharia. Kita akan lanjutkan Kitab Zakharia di dalam pembahasan tentang kedatangan Sang Mesias esok hari. Hari ini kita akan melihat satu bagian mengenai Kristus sebagai Bait Suci. Dalam bagian ini dikisahkan mengenai satu peristiwa penting yang terjadi di Bait Suci, yaitu ketika Tuhan Yesus mengusir para pedagang yang berdagang di dalam Bait Suci. Apakah pentingnya peristiwa ini? Apakah ini hanya mencatat kisah ketika Tuhan Yesus marah-marah kepada para pedagang? Ataukah ada hal esensial yang ingin dikemukakan Yohanes? Ya, ada hal sangat penting mengenai siapa Tuhan Yesus yang dibukakan kepada kita pada bagian ini. Jikalau pada bagian sebelumnya Yohanes sudah membukakan kepada kita bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang datang menjadi manusia, dan dengan demikian menjelaskan kepada kita bahwa Dialah Juru Selamat satu-satunya, maka pada bagian ini Yohanes membukakan kepada kita cinta kasih dan kerinduan untuk mempermuliakan Allah Bapa yang ada dalam diri Tuhan Yesus. Maka Yohanes memberikan penjelasan dalam bagian pendek yang kita baca ini bagaimana Kristus menjadi teladan bagi hidup manusia. Seperti apakah manusia harus hidup? Jonathan Edwards dalam buku “Religious Affections” mengatakan bahwa agama yang terdiri dari semangat yang tidak lagi menyala-nyala dan sudah hampir mati itu tidak layak diberikan kepada Allah. Kita disebut sebagai orang beriman tetapi kita tidak menjalankan semangat yang menyala-nyala untuk Tuhan. Inilah yang pada bagian ini dinyatakan pada kita sekalian.

Pada ayat 14 dikatakan bahwa terdapat pedagang-pedagang lembu, kambing domba, dan merpati di dalam Bait Suci. Mengapa mereka berdagang di situ? Karena pada hari Paskah akan ada banyak orang Yahudi datang dari penjuru dunia untuk beribadah di Bait Suci. Mereka datang untuk membawa korban untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Inilah yang dilihat sebagai kesempatan oleh para pedagang itu. Bukankah lebih mudah jika mereka yang menyediakan korban itu? Jadi orang-orang yang datang dari jauh tidak usah repot-repot bawa sendiri. Tinggal beli di Bait Suci. Apakah yang salah dari hal ini? Apakah ada ayat dalam Kitab Suci yang melarang tindakan mereka ini? Bukankah mereka menolong orang lain dengan menyediakan binatang untuk dikorbankan bagi mereka? Semua ini merupakan argumen yang akan dikemukakan untuk membuat kegiatan mereka sah. Di dalam ilmu etika dikenal golongan yang disebut sebagai kaum “Deontologis”. Mereka ini percaya bahwa ketika seseorang bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku, maka tindakan itu adalah tindakan yang secara etis baik. Tetapi jika dia melanggar, maka itu adalah tindakan yang secara etis buruk. Benar atau salahnya suatu tindakan ditentukan dari peraturan yang berlaku. Manakah peraturan yang melarang mereka berjualan? Tidak ada. Berarti kegiatan jual beli ini adalah kegiatan yang sah secara hukum, baik hukum Taurat maupun hukum pemerintahan yang berlaku. Selain golongan deontologis ini, ada juga golongan yang disebut dengan golongan “Teleologis”. Mereka percaya bahwa suatu tindakan dapat digolongkan baik atau buruk berdasarkan tujuan yang akan dicapai. The ends justifies the means. Bila suatu tindakan membawa kebaikan maka tindakan itu secara moral baik. Apakah yang menjadi tujuan orang-orang ini berdagang? Supaya setiap orang Yahudi yang ingin mempersembahkan korban dapat memperolehnya di Bait Suci. Ini kan sangat membantu mereka. Jadi apakah salahnya para pedagang ini?

Tetapi Tuhan Yesus melihat dari sisi yang lain dengan mereka. Tuhan Yesus melihat apa yang mereka lakukan sebagai tindakan yang tidak pantas, dan tindakan tidak pantas itu bukanlah karena mereka berjualan, melainkan karena mereka melakukannya di dalam Bait Suci Allah. Ada hal-hal yang secara spesifik dilarang oleh Taurat, tetapi ada hal-hal yang seharusnya sudah diketahui oleh orang-orang yang mengasihi Tuhan meskipun tidak ada larangan spesifik mengenai hal-hal itu. Apa yang pantas dan yang tidak pantas diberikan kepada Tuhan; apa yang pantas dan yang tidak pantas dilakukan sebagai umat Tuhan, adalah hal-hal yang secara natural dapat diketahui di dalam hati orang-orang yang mengasihi Tuhan. Ketika seseorang mengasihi Tuhan, akankah dia memandang dengan rendah tempat-tempat yang dikhususkan Tuhan sebagai tempat Dia menyatakan diri-Nya? Di dalam doa Salomo, Salomo memanjatkan permohonan supaya Tuhan memberkati Israel karena adanya Bait Allah di tengah-tengah mereka. Salomo memohon kehadiran Tuhan, yang walaupun mengatasi segala langit, boleh hadir di tengah-tengah Israel. Bait Allah menjadi lambang belas kasihan Tuhan dan penyertaan Tuhan bagi Israel. Dia berkenan memberikan pimpinan, penyertaan, belas kasihan, bahkan pengampunan kepada Israel dan semua ini dilambangkan oleh Bait Allah. Mungkinkah orang yang mengasihi Tuhan akan, tanpa gentar, memanfaatkan rumah ini untuk mengambil keuntungan? Dari sisi peraturan mereka tidak melanggar hukum apa pun, tetapi tanpa disadari mereka telah melanggar Tuhan. Sebab, sebagaimana dikatakan Tuhan Yesus, hukum yang paling utama adalah kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi. Kasih kepada Tuhan yang disatukan dengan hormat didalam kehidupan yang suci adalah jauh lebih penting daripada segala jenis persembahan yang bisa ditawarkan oleh orang Israel.

Dari sini kita dapat melihat dua jenis manusia. Yang pertama adalah para pedagang di Bait Suci. Mereka adalah tipe orang-orang yang hanya melihat keuntungan. Terus menerus melihat uang dan peluang-peluang yang ada untuk menghasilkan uang. Demikianlah sistem ekonomi kapitalis berkembang hingga saat ini. Adam Smith, ekonom abad ke-18, mengatakan bahwa keberpusatan pada diri dan keinginan untuk menjadikan diri makin kaya dan makmur akan mendorong pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Pemerintah tidak usah susah payah memberikan peraturan ketat dan pengawasan berlebihan. Biarkan saja semua manusia menuruti sifat dasar dirinya yang egois dan ingin kaya. Di dalam keinginan untuk kaya ada kunci pertumbuhan ekonomi. Maka sifat dasar manusia yang mau mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dilihat oleh Smith sebagai alat yang dapat digunakan untuk mendorong sebuah negara menjadi kaya. Alkitab mengatakan bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta uang. Tetapi Smith mengatakan akar pertumbuhan sebuah bangsa adalah cinta uang. Orang yang ingin kaya dan berpikir rasional akan berusaha membuat bangsanya sejahtera karena di dalam kesejahteraan bangsanya ada jaminan akan kesejahteraan dirinya. Orang rasional dan serakah akan memberi keuntungan bagi orang lain karena di dalam memberi keuntungan kepada orang lain inilah terletak peluang keuntungan dirinya di waktu yang akan datang. Dia tahu kalau dia menipu dan merugikan orang lain maka orang lain akan balik menipu dan merugikan dirinya suatu saat nanti. Tetapi kemudian muncullah pada abad ke-19 seorang bernama Karl Marx yang menyadari bahwa konsep Smith ini hanya membuat pemilik modal makin kaya dengan memeras kaum buruh. Negara boleh bertambah kaya, tetapi ini terjadi karena pertumbuhan kekayaan beberapa kelompok saja. Maka di dalam Communist Manifesto Marx mengatakan bahwa kaum buruh hanya mendapatkan upah yang cukup untuk membeli roti yang akan memperpanjang hidup mereka satu hari lagi, tetapi hari yang masih diperpanjang itu hanya berguna untuk mereka kembali diperas. Diperas dan dibayar untuk memulihkan energi untuk kemudian diperas lagi. Maka muncul sistem ekonomi tandingan dari kapitalis, yaitu komunis. Tidak ada kepemilikan pribadi. Tidak ada pemilik modal yang menyedot kekayaan dengan menindas kaum buruh. Tidak ada kaum buruh yang tidak bisa menjadi manusia seutuhnya karena hanya kerja seperti mesin yang terus diperas. Jikalau kita melihat, maka sebenarnya dua sistem ini berdiri atas dasar keberdosaan manusia. Yang satu keserakahan, atau, memakai bahasa Paulus, cinta uang. Sedangkan yang lain kebencian. Egois dan mementingkan diri dengan memeras orang lain atau membenci dan menghancurkan orang lain demi diri. Mana yang akan kita pilih? Penyelidikan makin dalam terhadap apa yang terjadi di dunia ini hanya akan menguatkan fakta kerusakan manusia yang bergiat bagi diri dan keuntungan diri, atau kerusakan manusia yang membenci dan mengharapkan keruntuhan orang lain. Ungkapan seorang nabi yang mengatakan bahwa tidak seorang pun yang mencari Allah adalah benar. Semua mencari kepentingan diri sendiri. Mengapakah para pedagang di Bait Allah itu tidak mempunyai hati yang gentar ketika berada di tempat di mana Allah berkenan untuk menyatakan diri? Mengapakah manusia tidak memedulikan Tuhan sehingga berani mengambil kesempatan beribadah demi keuntungan pribadi? Tuhan Yesus mengatakan, carilah dahulu Kerajaan Allah, tetapi manusia mengabaikan Kerajaan Allah demi diri.

Tipe manusia yang kedua adalah Kristus, teladan bagi manusia sepanjang zaman. Berbeda dengan manusia lain, Kristus begitu rindu untuk menyatakan kemuliaan Bapa-Nya. Maka ketika Dia melihat bahwa para pedagang ini telah mengubah tempat ibadah kepada Bapa dan menggantinya dengan suasana pasar seperti ini, dengan amarah yang suci Dia mengusir setiap mereka keluar dari Bait Suci. Orang-orang lain akan melihat tindakan Kristus ini sebagai tindakan yang ekstrim. Apakah yang salah dengan para pedagang ini? Tetapi amarah Kristus adalah amarah yang suci. Dia marah karena kesucian tempat ibadah kepada Bapa di surga dihina sedemikian. Dia tidak marah karena diri-Nya dirugikan. Dia tidak marah karena diri-Nya disinggung. Tuhan Yesus tidak pernah murka kepada orang-orang yang menghina diri-Nya. Bahkan tidak satu pun kata-kata keras diucapkan Tuhan Yesus kepada orang-orang yang menghina Dia ketika Dia akan disalibkan. Setiap hal yang dikerjakan Kristus adalah untuk kemuliaan Bapa. Demikian juga ketika Dia marah, Dia melakukan-Nya karena kemuliaan Bapa-Nya dipandang hina. Sungguh berbeda dengan kita semua. Kita marah karena kita disinggung. Kita sulit mengampuni karena diri kita yang disakiti. Kita bertindak keras karena orang menghina kita. Kita dendam karena diri kita dipandang remeh. Kita sungguh kecil dan hina jika dibandingkan dengan Kristus. Amsal mengatakan bahwa orang yang mampu menguasai dirinya lebih hebat dari orang yang mengalahkan kota berbenteng. Menguasai diri bukan berarti tidak pernah marah. Menguasai diri berarti bertindak dengan tepat sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan. Jika harus marah maka dia akan marah. Jika tidak perlu marah maka dia tidak akan marah. Jika kita marah karena diri kita dirugikan, ini membuktikan betapa egois dan self-centered-nya kita. Kalau Kristus adalah teladan kita, mari kita belajar untuk berubah. Belajar untuk mempunyai cinta kepada rumah Allah. Cinta kepada Allah yang diwujudkan dengan cinta kepada nama-Nya yang kudus.

Kristus menjadi teladan karena yang Dia kerjakan dengan segiat mungkin adalah memuliakan Bapa-Nya dan menggenapi rencana-Nya. Tindakan-Nya akan mendapat tentangan dan membangkitkan kebencian dalam diri begitu banyak orang lain. Karena itu murid-murid-Nya mengingat satu bagian dari Mazmur Daud, “cinta terhadap rumah-Mu telah menghanguskan aku.” Kristus bergiat untuk Bapa-Nya dan karena itu Dia dihanguskan oleh kebencian orang lain. Dibenci oleh orang yang memang tidak pernah menghormati Tuhan. Dianiaya oleh orang-orang yang sibuk menindas kebenaran. Dihakimi oleh orang-orang yang standar mutlaknya adalah diri sendiri dan bukan Tuhan. Ini semua dialami oleh Kristus. Sudahkah kita meneladani Dia? Kalau kita masih melihat manusia, mengerjakan segala sesuatu untuk diterima orang lain dan bukan untuk kemuliaan Tuhan, maka kita tidak akan pernah menjadi pengikut Kristus yang sejati. Orang Kristen yang sejati meneladani Kristus. Giat untuk Tuhan meskipun kebencian dari orang-orang yang membenci Tuhan menghanguskan kita. (JP)