Avada Wordpress theme nulled

Renungan Harian 18 (Sabtu, 15 September 2018)

Home/Santapan Rohani/Renungan Harian 18 (Sabtu, 15 September 2018)

Renungan Harian 18 (Sabtu, 15 September 2018)

Penolakan Tuhan terhadap Saul

Devotion from:

1 Samuel 15:10-35

Tuhan akhirnya memutuskan untuk membuang Saul. Ayat 11 mengatakan Tuhan menyesal menjadikan Saul sebagai raja Israel. Ini adalah kalimat yang sangat menyedihkan. Tuhan menyesal karena Tuhan memberikan kekuatan sedemikian besar kepada Saul tetapi Saul mengambil apa yang Tuhan berikan itu dan mengabaikan Tuhan. Ketika seseorang mengabaikan Tuhan, maka hati nuraninya pun akan semakin tumpul. Barang siapa makin terbiasa berdosa dan mengabaikan segala nasihat dan teguran Tuhan, maka hati nuraninya akan makin cemar dan tidak lagi berfungsi. Dia tidak akan sanggup lagi memahami isi hati Tuhan. Apa yang disukai Tuhan dan apa yang dibenci Tuhan begitu berbeda dengan orang seperti ini. Sekarang kita lihat dalam hal apa sajakah hati nurani Saul sudah menjadi begitu kebal dan tidak lagi sanggup mempunyai sense untuk membedakan yang baik dan yang jahat. Yang pertama adalah dalam ayat 11. Ayat ini mengatakan bahwa Tuhan menyesal karena menjadikan Saul raja. Apakah Saul memiliki perasaan hati yang mirip dengan Tuhan? Tidak sama sekali. Dia tidak pernah merasa Tuhan seharusnya menyesal memilih dia menjadi raja. Ketika Saul belum diurapi, dia sendiri mengatakan bahwa dia adalah yang paling tidak layak (1Sam. 9:21). Tetapi setelah itu dia akan membunuh siapa pun yang membahayakan kedudukannya sebagai raja. Apa yang Tuhan rasakan berbeda 180 derajat dengan apa yang Saul rasakan. Mari renungkan hidup kita! Apakah keberdosaan kita dianggap enteng oleh Tuhan? Jika tidak, mengapa kita menganggap enteng dosa-dosa kita sendiri dan menolak berbalik dari dosa-dosa itu dan kembali kepada Tuhan?

Lalu yang kedua ada dalam ayat 13. Firman Tuhan mengatakan kepada Saul untuk memusnahkan semua orang maupun hewan Amalek (ay. 2), tetapi Saul menyelamatkan Agag dan kambing domba yang bagus-bagus (ay. 9). Mengapa Saul masih berani mengatakan bahwa dia sudah melaksanakan firman Tuhan (ay. 13)? Betapa rusaknya Saul. Dia dengan sengaja memberontak perintah langsung dari Tuhan! Keberdosaan Saul bukan karena dia tidak mengerti firman. Keberdosaan Saul juga bukan karena tidak adanya kehendak Allah yang dinyatakan dengan jelas. Tuhan sudah secara spesifik dan jelas mengatakan bahwa semua orang Amalek, bahkan ternak sekalipun, harus ditumpas. Bagaimana mungkin seseorang salah memahami firman yang sedemikian jelas ini? Saul tahu apa yang Tuhan maksudkan. Dia hanya tidak peduli! Dia ingin menaklukkan Amalek untuk mengamankan kerajaannya sendiri dan tetap ingin menikmati jarahan dari daerah taklukannya. Dia juga ingin menyimpan trofi kemenangan berupa raja Amalek yang menjadi tawanannya. Bayangkan betapa banyaknya pujian orang-orang kepada Saul jika mereka melihat bahwa raja Amalek pun menjadi salah satu tawanannya! Jadi Saul tahu persis apa yang Tuhan inginkan. Dia hanya tidak peduli! Dia memedulikan satu orang saja di dalam alam semesta ini, yaitu dirinya sendiri. Banyak orang Kristen bukannya tidak memahami firman Tuhan, tetapi mereka tidak peduli. Mengetahui firman bukanlah secara kognitif! Mengetahui firman adalah dengan hidup bagi Tuhan. Inilah pengetahuan yang sejati. Pengetahuan yang lebih tepat ditafsirkan sebagai pengenalan akan Allah. Pengenalan akan Allah yang berakibat pada perubahan hidup yang sungguh-sungguh mau taat kepada Allah. Pengenalan yang membuat kita tetap tidak peduli kepada Allah adalah pengenalan yang salah. Bagaimana dengan pengenalan kita? Apakah makin limpahnya kebenaran yang kita ketahui tetap tidak mengubah sikap ketidakpedulian kita kepada Tuhan?

Hal ketiga adalah Saul tidak pernah merasa dirinya berdosa. Pengakuan dosa yang palsu adalah pengakuan dosa yang disertai dengan kata “tetapi…”. Perhatikan bahwa Saul memakai kata “tetapi…” di dalam ketiga pengakuan dosanya. Dalam ayat 20 dan 21: “Aku memang… tetapi rakyat…” lalu ayat 24: “Aku telah berdosa… tetapi aku takut kepada rakyat…” dan ayat 30: “Aku telah berdosa, tetapi tunjukkanlah juga hormatmu…” Inilah tipe pengakuan dosa palsu. “Memang saya salah, tetapi dia juga salah lho…” “Saya sudah berdosa, tetapi lingkunganlah yang membuat saya begini” “Saya memang salah, tetapi kalau saja dia tidak begitu…” “Saya berdosa. Tetapi kenapa dihukum seperti ini?” “Saya memang salah, tetapi tolong hormati saya…” semua kalimat-kalimat ini adalah contoh pengakuan dosa yang hanya akan membuat Tuhan muak kepada orang yang mengatakannya. Makin bicara makin membuat Tuhan muak! Bedakan dengan pengakuan dosa Daud dalam 2 Samuel 12:13: “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” Setelah pengakuan dosa langsung diikuti titik. “Saya sudah berdosa.” Titik. Selesai. Daud tidak mengatakan: “Aku sudah berdosa kepada Tuhan, tetapi mengapa Batsyeba mandi di tempat terbuka?” atau “Aku sudah berdosa kepada Tuhan, tetapi sebenarnya hubungan Uria dengan Batsyeba sudah buruk… Batsyeba akan lebih bahagia dengan saya.” Atau “Aku memang sudah berdosa kepada Tuhan, tetapi engkau jangan kurang ajar kepada raja seperti aku dong!” Daud mengaku dosa dan diikuti dengan titik. Saul mengaku dosa diikuti dengan “koma” dan kata “tetapi…”. Saya ingin peringatkan kita semua melalui tulisan ini: “Jangan cari alasan apa pun untuk dosamu! Sekali lagi, jangan cari alasan apa pun untuk dosamu!” Makin banyak alasan hanya akan membuat Tuhan makin muak kepada kita! Bagi orang-orang yang masih hidup dalam dosa dan tetap mencari alasan untuk pembenaran diri, saya berkata kepadamu sebagai wakil Tuhan, cepat bertobat dan jangan cari pembenaran diri apa pun! Cari belas kasihan Tuhan, bukan pembenaran diri! Adalah jauh lebih baik kalau kita bertobat setelah membaca tulisan ini. Tetapi kalau tidak, saya hanya bisa berdoa supaya Tuhan tidak menghantam saudara terlalu keras. Alangkah menakutkan kalau Tuhan yang langsung menyatakan pukulan-Nya kepada kita (Ibr. 10:30-31).

Tingkah Saul yang mengabaikan Tuhan membuat Tuhan menyesal mengangkat dia menjadi raja. Mengapa Tuhan menyesal? Apakah Tuhan salah pilih? Ini tidak ada kaitan dengan Tuhan salah pilih atau tidak. Raja pilihan Tuhan adalah dari kaum Yehuda, yaitu Daud. Dan Raja sejati yang Tuhan sudah lantik tidak akan pernah gagal menjalankan panggilan-Nya sebagai raja, yaitu Sang Anak Allah, Yesus Kristus (Mzm. 2:6-7). Penyesalan Tuhan tidak ada kaitan dengan kegagalan rencara Allah. Tetapi penyesalan Tuhan berada pada sudut pandang tanggung jawab Saul kepada Allah. Saul tidak menjalankan apa yang Tuhan perintahkan, maka Tuhan menyesal menjadikan dia raja. Kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Tuhan memutuskan tidak lagi memberikan kesempatan kepada Saul. Sejak hari pemberontakan Saul yang tidak menjalankan perintah Tuhan untuk memusnahkan Amalek sampai kepada hari matinya Saul, Tuhan tidak lagi memberikan dia kesempatan sama sekali. Bahkan doa Samuel pun tidak menggerakkan hati Tuhan untuk memberikan Saul kesempatan berbalik. Ayat 11 mengatakan bahwa Samuel berseru kepada Tuhan semalaman untuk memohon pengampunan bagi Saul, tetapi 1 Samuel 16:1 Tuhan memerintahkan Samuel untuk berhenti berdoa bagi Saul dan mulai berjalan untuk melantik raja yang baru. Doa dan permohonan Samuel pun sudah tidak lagi Tuhan dengar. Inilah saat yang sangat mengerikan. Kiranya kita peka untuk tidak mempermainkan kesabaran Tuhan sehingga Dia tidak berkata, “Cukup! Jangan lagi doakan, sebab Aku sudah meninggalkan dia.” (JP)

By |September 14th, 2018|Santapan Rohani|Comments Off on Renungan Harian 18 (Sabtu, 15 September 2018)

About the Author:

Sekolah Kristen Ketapang "Setiap anak berharga di mata Tuhan"