Renungan Harian 186 (Senin, 4 Maret 2019)

Penahbisan Tembok Yerusalem

Devotion from

Nehemia 12:1-47

Di dalam Nehemia12:1-26 pemeliharaan Tuhan bagi kaum Lewi begitu nyata. Tuhan menjaga mereka sesuai dengan janji-Nya (Yer. 33:18). Kaum Lewi dan para imam akan terus menerus melayani di Bait Suci Israel, memimpin nyanyian dan pujian, dan melayani Tuhan di dalam mewakili rakyat memberikan korban kepada Tuhan, dan mewakili Tuhan memberkati dan memberikan firman bagi umat Israel. Tetapi, meskipun tugas kaum Lewi dan para imam mencakup banyak hal di dalam ibadah, tulisan di dalam Kitab Nehemia memberikan penekanan kepada mereka sebagai pemimpin puji-pujian sekaligus sebagai penyanyi-penyanyi untuk memuji Tuhan. Aspek puji-pujian begitu penting sehingga mereka dikhususkan untuk melakukan tugas ini di Bait Suci. Posisi para imam dan kaum Lewi sendiri tidak sama dengan orang Israel yang lain, karena mereka dikhususkan untuk mengurusi rumah Tuhan dan ibadah. Mereka harus menjalani tugas yang sangat penting ini karena ibadah dan puji-pujian kepada Tuhan merupakan bagian yang esensial di dalam pembentukan bangsa Israel. Mereka harus menjadi bangsa yang memuji dan menyembah Tuhan dengan pimpinan dari para imam dan kaum Lewi. Sampai kapankah kaum Lewi dan para imam melayani umat Tuhan turun temurun? Sampai Sang Imam sejati muncul (Mzm. 110:4 dan Ibr. 5:5-6). Sama seperti kaum Yehuda terus menjadi raja hingga Sang Raja sejati muncul (Kej. 49:10), demikian juga tugas menjadi imam dari kaum Lewi akan berlangsung turun temurun hingga Sang Imam sejati muncul. Itulah sebabnya catatan mengenai pemeliharaan Tuhan bagi kaum Lewi di bagian ini sangat penting karena membuktikan bahwa Tuhan menyertai mereka dan terus mengkhususkan mereka bagi pekerjaan di rumah Tuhan, mempersembahkan korban, dan menyanyi bagi Tuhan.

Peran kaum Lewi dan para imam menjadi menonjol pada hari penahbisan tembok yang telah dibangun di Yerusalem. Nehemia memimpin mereka semua menjadi dua bagian. Kedua kelompok ini akan memuji Tuhan dengan berjalan mengelilingi tembok hingga berakhir di Bait Suci. Arak-arakan dari dua kelompok ini akan menyatakan ucapan syukur Israel di seluruh Yerusalem. Mereka memanjatkan ucapan syukur mereka melalui puji-pujian para imam dan kaum Lewi atas penyertaan Tuhan sehingga kota Yerusalem boleh kembali dibangun. Tidak ada bagian tembok kota itu yang tidak dilalui oleh dua kelompok ini. Perayaan, puji-pujian ini, serta persembahan korban dilakukan oleh segenap orang Israel pada hari itu. Mereka meresponi berkat dan anugerah Tuhan atas kota mereka dengan penuh sukacita. Ayat 43 mengatakan bahwa seruan pujian mereka terdengar hingga begitu jauh.

Ayat 44-47 melanjutkan pembahasan dengan mencatat bagaimana orang Israel memelihara kaum Lewi dengan memberikan persembahan khusus kepada mereka, dan bagaimana kaum Lewi memberikan persembahan bagi keturunan Harun, yaitu para imam. Apakah yang mau dibagikan di sini? Yaitu bahwa para imam dan kaum Lewi harus dipelihara oleh umat Tuhan agar mereka terus berkonsentrasi dengan panggilan mereka untuk melayani Israel di dalam ibadah dan penyembahan serta pujian. Betapa pentingnya pekerjaan itu sehingga mereka tidak bisa melakukannya sambil sekaligus bekerja di ladang untuk menghidupi diri mereka. Tuhan memanggil mereka untuk melayani Dia dengan suatu panggilan yang memerlukan seluruh konsentrasi dan waktu mereka. Ini berarti, baik Bait Suci, maupun puji-pujian kepada Tuhan, merupakan sesuatu yang sangat penting bagi Tuhan. Siapa yang mengerjakan pekerjaan ini dengan sembarangan, tentu dia akan membuat Tuhan marah.

Untuk direnungkan:
Kristus datang untuk menggenapi tugas panggilan para imam. Para imam mempersembahkan korban, dan Kristus memberikan diri-Nya sebagai korban. Para imam memimpin di dalam memuji Tuhan, dan Kristus adalah Imam Besar yang memanjatkan puji-pujian bagi Allah Bapa di surga dan akan memimpin umat Allah memuji Bapa. Bagaimana dengan gereja Tuhan? Gereja Tuhan adalah umat yang dipimpin oleh Kristus, Sang Kepala Gereja, untuk memuji Tuhan dan beribadah kepada Dia. Memuji Tuhan dan memimpin umat untuk memuji Tuhan adalah bagian yang tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Tetapi pada zaman sekarang gereja berani memanjatkan puji-pujian kepada Tuhan dengan suatu mentalitas mau menjangkau orang-orang dunia. Tentu tidak salah kalau gereja rindu menjangkau dunia ini, tetapi penjangkauan itu tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan apa yang justru menjadi bagian yang sangat penting dari ibadah, yaitu puji-pujian. Kita tidak boleh mengorbankan yang paling penting demi penjangkauan. Sama seperti sebuah sekolah menghentikan pelajaran resmi seperti matematika, bahasa, ilmu alam, dan ilmu sosial, lalu menggantinya dengan game elektronik demi menjangkau lebih banyak anak-anak. Apa gunanya anak-anak itu dijangkau jika mereka tidak diberikan pelajaran yang baik? Apa gunanya anak-anak muda dan orang banyak dijangkau oleh gereja untuk suatu ibadah yang tidak diperkenan Tuhan? Mari kita kembali kepada kebenaran, bukan karena selera kita ataupun kebiasaan kita, tetapi karena itulah yang Tuhan nyatakan di dalam Kitab Suci. Kitab Suci memerintahkan umat Tuhan untuk menjadi berbeda dengan dunia ini dengan cara menguduskan diri di hadapan Tuhan. Menguduskan diri di hadapan Tuhan dengan cara yang berbeda dari dunia ini adalah untuk kembali menyatakan kepada dunia makna penyembahan yang sejati. Inilah mengapa puji-pujian Israel harus memiliki makna dan simbol yang tidak mungkin bisa dimiliki oleh dunia ini. Tetapi kalau puji-pujian gereja justru mengambil inspirasi dan modelnya dari dunia ini, di manakah pengudusan? Di manakah pengertian menjadi berbeda dari dunia ini?

Para imam dipanggil oleh Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan ini, yaitu mempersiapkan suatu ibadah dan puji-pujian yang akan menyenangkan hati Tuhan. Bagaimanakah menyenangkan hati Tuhan? Tuhan disenangkan karena adanya makna yang berkait dengan pernyataan diri-Nya di dalam ibadah, dan karena adanya kualitas yang agung di dalam apa yang kita lakukan. Ibadah yang bermakna theologis sesuai dengan firman Tuhan dan dilakukan dengan kualitas yang terbaik, itulah yang harus kita persembahkan kepada Tuhan. Jika kita melakukan segala hal tanpa ada konfirmasi dengan rencana dan pernyataan Tuhan, maka hal yang kita lakukan itu adalah penghinaan kepada Tuhan. Biarlah setiap puji-pujian yang kita panjatkan, setiap kerinduan kita untuk menghadap Allah dan beribadah kepada Dia, bahkan setiap hari yang kita jalani, semuanya boleh diperkenan oleh Allah.

Hal berikut yang menjadi renungan bagi kita semua adalah, sama seperti kaum Lewi dan para imam rela meninggalkan ladang mereka dan penghasilan mereka untuk panggilan Tuhan, kita pun harus menjalankan panggilan kita masing-masing dengan suatu kerelaan yang sama. Jika kita dipanggil Tuhan untuk secara penuh waktu melayani di gereja, biarlah kita rela melakukannya dengan setia, tanpa memperhitungkan untung rugi pribadi. Tetapi bukan hanya pekerjaan pelayanan penuh waktu di gereja, setiap pekerjaan yang lain pun harus dilakukan dengan tujuan yang sama. Apakah kita rela mengerjakan panggilan kita dengan tujuan menyenangkan Tuhan, dan bukan demi uang? Apakah yang menjadi prinsip utama kita mengambil keputusan untuk bekerja? Uang? Gaji yang besar? Jika itu prinsip utama, maka kita pasti tidak mengerjakannya untuk Tuhan. Kiranya kerelaan untuk mengorbankan kenyamanan pribadi dan pendapatan pribadi ada di dalam diri kita sehingga kita sungguh-sungguh hidup bagi Tuhan.

Doa:
Tuhan, berikanlah gereja-Mu hati yang rindu memanjatkan puji-pujian kepada-Mu dengan cara yang berkenan kepada-Mu. Kami ingin menyenangkan hati Tuhan, bukan manusia, karena itu ajarilah kami, ya Tuhan, untuk beribadah dengan cara yang berkenan kepada-Mu. Berikan juga kepada kami hati yang rela hidup bagi Tuhan, bukan bagi keuntungan diri kami sendiri. Dengarlah permohonan kami ini, Tuhan. (JP)