Renungan Harian 187 (Selasa, 5 Maret 2019)

Mengingat Dosa Umat Tuhan

Devotion from :

Nehemia 13:1-31

Bagian ini menuliskan keadaan Israel sebelum terjadinya pembaruan melalui pembacaan Taurat oleh Ezra di dalam pasal 8. Seperti apakah keadaan Israel itu? Yang pertama adalah mereka mengambil perempuan-perempuan asing untuk menjadi istri mereka atau istri anak-anak mereka. Di dalam ayat 1-3 diingatkan kembali bahwa Amon dan Moab tidak boleh diajak bersekutu karena mereka pernah ingin mengutuk Israel dan menolak menyambut kedatangan Israel (Bil. 22:4-6). Tetapi bagaimana dengan Rut? Bukankah dia seorang perempuan Moab juga (Rut 1:4)? Setiap kutuk Tuhan secara bangsa, tidak akan menghalangi kedaulatan-Nya untuk memanggil individu dari bangsa itu untuk bertobat dan kembali kepada Dia. Tuhan mengutuk Moab, tetapi memanggil Rut. Keduanya tidak bertentangan karena dilakukan oleh Allah yang berdaulat menjatuhkan kutuk dan berdaulat memberikan anugerah kepada yang terkutuk.

Tetapi di dalam ayat 4-7 ada seorang Amon, yaitu Tobia, yang tidak mendapat anugerah Tuhan, bahkan menjadi musuh orang Israel. Tobia adalah teman Sanbalat dan mereka berdua sangat menentang pembangunan tembok (Neh. 2:10). Itu sebabnya Tobia tidak akan mungkin termasuk individu yang benar. Dia termasuk keturunan yang dikutuk oleh Tuhan dan dia tidak pernah mendapatkan anugerah Tuhan. Tetapi beberapa petinggi Israel mau menjilat kepada mereka dan melanggar firman Tuhan karena motivasi buruk mereka itu. Mereka membuat tempat bagi Tobia di Bait Suci. Ini penghinaan kepada Tuhan yang sangat, memberikan kedudukan istimewa kepada orang yang dinajiskan justru di tempat yang dikuduskan untuk beribadah kepada Tuhan.

Dosa mereka bertambah besar karena di dalam ayat 8-11 dikatakan bahwa para imam dan orang Lewi tidak dipelihara oleh umat Tuhan. Mereka tidak mendapatkan penghidupan maka mereka meninggalkan panggilan mereka dan kembali bekerja di ladang. Pemimpin politik dijilat dan disanjung-sanjung, tetapi hamba Tuhan dihina dan diabaikan. Mengapa? Karena jauh lebih untung menyanjung-nyanjung pemimpin politik daripada mengingat hamba Tuhan. Di dalam ayat 12-14 dikatakan bahwa Nehemia berusaha untuk memperbaiki itu. Dia berusaha mengembalikan hormat bagi Tuhan, bukan bagi manusia.

Selain dosa itu, ayat 15-22 mengatakan bahwa umat Tuhan hidup dengan begitu serakah sehingga mereka berdagang juga di hari Sabat. Berdagang di hari Sabat memang menguntungkan. Tawaran menggiurkan dari keuntungan dagang ini dirasa lebih nikmat, bahkan lebih nikmat daripada datang beribadah kepada Tuhan dan mengkhususkan satu hari sepenuhnya untuk Tuhan. Bahkan sudah dilarang pun beberapa dari pedagang itu tetap cari kesempatan. Meskipun gerbang Yerusalem telah ditutup, mereka tetap menunggu dekat ke tembok untuk berdagang.

Dosa berikutnya adalah di dalam ayat 23-31. Orang Israel juga memberikan anak mereka untuk menikah dengan anak perempuan dari bangsa-bangsa lain. Perkawinan campur… Bahkan ada seorang imam besar yang menikahkan anaknya dengan anak Sanbalat. Nehemia segera mengusir dia dari jabatan imam besar. Semua ini dilakukan Israel sebelum mereka mendengar Taurat dan mengucapkan janji di dalam pasal 8-9. Keadaan yang seperti inilah yang mendorong Nehemia untuk berdoa bagi kebangunan. Doa Nehemia adalah supaya Tuhan ingat kepada dia dan memberi damai sejahtera. Ini adalah doa yang memohon pertolongan dan ketenangan atas segala usaha yang berat dan menimbulkan konflik ini. Nehemia berdoa dan memohon agar Tuhan mengingat dia. Tuhan mengingat dia dan memberikan kebangunan seperti yang tercatat di dalam pasal 8 dan 9. Ezra membacakan Taurat, memberikan penjelasan, dan terjadilah pertobatan yang sejati. Maka dengan pembahasan ini Kitab Nehemia ditutup. Kitab ini ditutup dengan pembongkaran fakta kebobrokan Israel dan pengharapan seorang hamba Tuhan agar Israel dipulihkan. Kebangunan sejati terjadi jika kebobrokan umat Tuhan dibongkar dan ada hamba Tuhan yang tulus dan mengasihi Tuhan mendoakan umat-Nya.

Untuk direnungkan:
Keadaan gereja di zaman sekarang juga membuat kita berduka. Gereja lebih menghormati pemimpin politik daripada hamba Tuhan. Hamba Tuhan diabaikan karena berelasi dengannya tidak memberikan dukungan politik yang diperlukan. Begitu juga hamba-hamba Tuhan merasa tidak sanggup memperkembangkan gereja tanpa dukungan politik. Tetapi mereka lupa bahwa di dalam Kitab Kisah Rasul para rasul memperkembangkan kekristenan hingga masuk ke daerah jajahan Makedonia, daerah Yunani, hingga kota Roma, jantung dari kerajaan Romawi. Semua dilakukan tanpa dukungan politik. Bahkan pemimpin politik sering kali menjadi penghambat bagi pekerjaan Tuhan. Tetapi, sebagaimana imam besar pada zaman Nehemia, demikian juga banyak pemimpin gereja pada zaman ini. Begitu hormat kepada pemerintah tetapi tidak kepada Tuhan. Begitu takut kepada kuasa dunia ini tetapi mengabaikan Kuasa di atas segala kuasa. Kiranya Tuhan mengampuni kita semua.

Hal berikut yang harus kita pikirkan sama-sama. Apakah kita menghormati Tuhan dengan mendedikasikan satu hari dalam seminggu untuk Tuhan? Bukan saja beribadah kepada Dia dalam dua jam di hari Minggu, tetapi memberikan seluruh hari itu untuk Tuhan di dalam doa, merenungkan firman, mendiskusikan firman, memuji Dia, membahas tentang kerohanian bersama-sama dengan umat Tuhan yang lain? Jika kita tidak mendedikasikan satu hari ini untuk Dia, apakah alasannya? Apakah keuntungan? Apakah uang yang diperoleh cukup layak untuk menggantikan hari untuk Tuhan? Biarlah kita boleh belajar melatih dedikasi kita untuk Tuhan dengan menguduskan satu hari untuk Tuhan. Apakah rugi? Tidak. Rugi uang? Mungkin. Tetapi tidak ada uang di dunia ini yang dapat membeli kerohanian yang baru jika kerohanian kita makin kering dan makin menuju kematian.

Hal terakhir yang disinggung dalam keluh kesah Nehemia ini adalah perkawinan campur yang dilakukan di tengah-tengah umat Yehuda. Kekaguman kepada perempuan-perempuan asing berjalan bersama-sama dengan kekaguman kepada budaya bangsa-bangsa asing. Kekaguman ini akhirnya berujung pada kekaguman kepada praktik-praktik ibadah bangsa-bangsa lain. Ini semua berkaitan. Jika kekaguman kita kepada Tuhan telah digantikan dengan kekaguman kepada yang lain, maka kerusakan iman, kerusakan cara ibadah, dan akhirnya kerusakan moral akan menjadi ciri dari bangsa yang seharusnya disebut umat Tuhan ini. Bagaimana dengan saat ini? Bukankah kekaguman gereja kepada kebudayaan dunia begitu besar? Bukankah cara dunia begitu dikagumi dan segera diadopsi oleh gereja? Mulai dengan menyingkirkan ajaran yang benar sehingga iman menjadi rusak, dilanjutkan dengan cara ibadah yang salah karena didorong oleh iman yang salah, lalu akhirnya menjadi kehidupan dengan moralitas yang rusak, semua menjadi ciri-ciri yang tidak asing terjadi di kumpulan orang yang menyebut dirinya gereja. Ibadah yang mirip dengan diskotek, ajaran yang tidak lagi terkontrol, dan tidak sesuai penafsiran Kitab Suci yang bertanggung jawab, bahkan tidak bisa diterima oleh akal sehat menjadi bagian dari banyak gereja besar saat ini. Kerusakan moral yang disembunyikan di balik kedok gereja juga sangat banyak terjadi. Pendeta yang mengambil perpuluhan jemaat contohnya. Bukankah tepat kalau kita mengatakan bahwa pendeta seperti inilah antikristus yang sejati? Antikristus yang menyebut nama Kristus dengan mulutnya, tetapi menyembah setan di dalam hati dan kantongnya. Hamba Tuhan yang hidup mewah berlimpah dari perpuluhan jemaat adalah orang-orang yang paling pertama harus diusir dari gereja Tuhan jika ingin terjadi kebangunan sejati!

Doa:
Tuhan, kami rindu, seperti Nehemia rindu, agar terjadi pertobatan sejati di tengah-tengah umat-Mu. Kami rindu umat-Mu mengasihi Engkau lebih dari apa pun di dunia ini. Kami rindu hamba-hamba Tuhan menghormati Tuhan dan dihormati jemaat. Kami rindu gereja Tuhan kembali ke jalur yang benar. Kami rindu Tuhan memurnikan gereja-Mu dengan mempertobatkan jemaat-Mu dan mengusir para pengajar palsu. Dengarlah doa kami, ya Tuhan. Pulihkanlah gereja-Mu. (JP)