Renungan Harian 188 (Rabu, 6 Maret 2019)

Anugerah dan Teguran bagi Israel

Devotion from:

Maleakhi 1:1-14

Kita telah menyelesaikan pembahasan Kitab Nehemia dan sekarang kita akan masuk ke dalam pembahasan kitab terakhir dalam Perjanjian Lama, yaitu Kitab Maleakhi. Maleakhi bernubuat untuk umat yang telah kembali dari pembuangan dengan memberikan pembahasan intinya pada kedatangan sang pendahulu bagi Mesias. Mesias akan datang, tetapi terlebih dahulu harus ada seorang yang mempersiapkan jalan bagi Dia. Seorang yang menegur, menyerukan peringatan, membongkar dosa-dosa umat Tuhan agar mereka kembali kepada Tuhan dan menerima sesama di dalam kesatuan hati sebagai umat Tuhan yang menanti-nantikan janji Tuhan. Di dalam Maleakhi 1:1-4, dinyatakan bahwa Israel meragukan kasih Tuhan kepada dia. Tuhan menjawab dengan menjelaskan pilihan Tuhan atas Yakub, bukan Esau. Tuhan mengasihi Yakub tetapi membenci Esau. Membangun kembali Yakub, tetapi menghancurkan Esau bahkan ketika reruntuhan Esau akan kembali dibangun, sama seperti reruntuhan Yakub dibangun, bagi Esau Tuhan akan mendatangkan kehancuran sekali lagi. Inilah konsep anugerah yang harus diterima semua orang. Tuhan mengasihi siapa yang mau Dia kasihi. Dia tidak wajib mengasihi ciptaan-Nya yang telah memberontak melawan Dia. Pilihan atas Israel adalah pilihan karena belas kasihan. Kegagalan untuk menyadari konsep pilihan yang benar akan membuat orang merasa lebih baik dibandingkan dengan yang lain karena dirinya masuk ke dalam umat pilihan. Tetapi sebenarnya konsep pilihan harus dimengerti dengan cara yang lebih tepat. Tuhan memilih karena belas kasihan-Nya kepada yang sangat tidak layak. Jadi kebobrokan dan kehinaan kitalah yang ditekankan di dalam pengertian pilihan. Meskipun kita yang tidak layak ini penuh dengan dosa dan kecemaran, tetapi Tuhan berkenan untuk mengampuni kita. Bahkan mungkin kita lebih buruk daripada mereka yang tidak dipilih. Tetapi karena Tuhan berbelas kasihan, maka kita dimasukkan ke dalam umat pilihan-Nya. Umat Tuhan yang masih meragukan kasih Allah harus merenungkan kembali hal ini. Tuhan memilih umat-Nya dan tidak akan menyesali panggilan-Nya itu.

Hal berikutnya yang dinyatakan di dalam Maleakhi 1:5-6 adalah teguran bagi orang Israel karena mereka telah menghina Tuhan. Bagaimanakah cara orang Israel menghina Tuhan yang telah memilih mereka? Dengan cara menyebut Dia “Bapa” dengan mulut tetapi melakukan perbuatan-perbuatan yang menghina Dia. Mulut yang menyebut “mulia bagi Allah” tidak akan berguna jika tidak disertai dengan segala tindakan yang berbicara lebih keras dari pada suara. Rene Descartes, seorang pemikir dari Perancis mengatakan bahwa untuk mengetahui apa yang benar-benar dipikirkan seseorang, lihatlah perbuatannya, jangan dengar perkataannya. Perkataan sangat gampang dikeluarkan. Mengatakan “aku mengasihi Allah” itu sangat mudah. Hanya perlu mengeluarkan tiga kata yang gampang. Tetapi seperti apakah tindakan seseorang yang mengaku mengasihi Tuhan? Salah satu pengukurnya adalah kerelaan dia untuk memberi bagi Tuhan. Di dalam Maleakhi 1:7-14 umat Tuhan sudah menghina Tuhan dengan cara memberikan yang sisa untuk persembahan bagi Tuhan. Mereka beralasan bahwa mereka sedang berada dalam situasi yang sulit, sehingga Tuhan pasti mengerti. Tetapi alasan ini tidak bisa menipu Tuhan. Mereka memberi yang jelek bukan karena mereka tidak sanggup memberi yang baik, tetapi karena mereka tidak rela memberi yang baik. Tuhan tidak memerlukan persembahan apa pun dari manusia (Mzm. 50:12-13). Tuhan memiliki segala sesuatu. Termasuk hartamu! Jadi jika Dia menuntut apa yang memang menjadi milik-Nya yang Dia percayakan kepada kita, masihkah kita menghina Dia dengan memberikan sekadarnya saja? Tuhan tidak pernah menghina persembahan orang miskin. Walaupun jumlah persembahan mereka sangat sedikit, tetapi diberikan dengan pengorbanan yang besar. Tetapi Tuhan sering menghina persembahan orang kaya. Karena meskipun jumlahnya begitu besar tetapi diberikan tanpa pengorbanan sama sekali. Kita mau menyenangkan Tuhan? Apakah yang sudah dikorbankan bagi Tuhan? Memberi receh kepada Tuhan dan menganggap persembahan itu tanda cinta kasih kita? Tuhan sangat menghina pemberian seperti itu. Ada orang yang bisa membuang-buang puluhan juta dengan mudahnya. Dia bisa menghabiskan puluhan juta untuk hiburan, tetapi memberi persembahan kepada Tuhan jauh lebih kecil dari itu. Jangan kagumi orang kaya. Kagumi kecintaan mereka kepada Tuhan tetapi jangan kagum karena harta seseorang. Kagumi iman seseorang. Kagumi kerja keras seseorang. Kagumi hikmat seseorang. Kagumi ketaatan seseorang kepada Tuhan. Kagumi kecintaan seseorang kepada firman Tuhan. Tetapi jangan pernah kagumi seseorang karena kekayaannya. Kekayaan seseorang akan segera busuk jika diperoleh dengan cara yang salah. Gereja yang menghormati seseorang karena kekayaan orang itu pasti akan ditinggalkan oleh Tuhan.

Lalu apakah yang harus kita perbuat? Yang harus kita perbuat adalah bertobat dari kebiasaan menghina Tuhan dengan memberi sekadarnya untuk hal yang memuliakan nama-Nya. Biarlah kita memandang persembahan kepada Tuhan dengan cara seperti ini. Orang Israel memberi binatang yang sakit karena binatang itu sudah tidak terpakai oleh mereka. Ini bukan tanda kasih kepada Tuhan. Kita pasti akan memberikan yang paling baik untuk orang yang kita kasihi, tetapi memberi sekadarnya untuk pengemis di pinggir jalan. Apakah Tuhan disamakan dengan pengemis? Ada orang-orang yang begitu cinta Tuhan. Segala yang terbaik untuk Tuhan, yang kurang baik bagi dirinya sendiri. Inilah tanda kecintaan kepada Tuhan. Orang-orang yang tidak menonjol di gereja, tetapi sudah berkorban begitu banyak di dalam memberi persembahan, dia jauh lebih terhormat daripada pendeta yang mengkhotbahkan “kasihilah Tuhan!” tetapi tidak pernah memberi untuk Tuhan. Yang lebih celaka adalah pendeta yang bukan saja tidak pernah memberi bagi Tuhan, tetapi merasa berhak mengambil persembahan perpuluhan jemaat bagi diri sendiri. Bagaimana mungkin gereja masih dengan polos dan bodohnya menerima para perampok itu memperkaya diri dengan hasil jerih payah jemaat yang diberikan atas dasar cintanya kepada Tuhan?

Untuk direnungkan:
Hal pertama yang menjadi renungan kita pada hari ini adalah besarnya belas kasihan Tuhan yang mau memilih kita. Biarlah kita belajar untuk melihat betapa mulianya kasih setia Tuhan karena diberikan kepada orang-orang yang tidak layak seperti kita sekalian. Kita yang terlalu hina, terlalu cemar, yang sudah tenggelam dalam berbagai-bagai dosa, kita yang penuh dengan sikap yang memberontak kepada Tuhan, kita semua dikasihi dan diampuni oleh-Nya. Pilihan Tuhan atas kita ini menjadi tanda cinta kasih Tuhan, dan bukan tanda kebaikan kita. Kita sama buruknya dengan orang lain. Jangan merasa diri lebih suci dari orang lain. Orang berdosa selalu merasa diri lebih suci. Orang yang sudah ditebus selalu merasa diri paling berdosa. Yang manakah kita?

Hal kedua adalah mari kita belajar melihat di manakah hati Tuhan dan rela berkorban di situ. Tuhan memberikan hati-Nya bagi penginjilan, bagi pembinaan iman umat Tuhan, bagi pertumbuhan rohani yang sehat di antara domba-domba-Nya. Ini jugalah yang harus menjadi perhatian kita. Sudahkah kita rela memberi untuk hal-hal yang diperkenan Tuhan ini? Sudahkah berkorban dengan memberikan uang kita bagi hal-hal ini? Sudahkah berkorban waktu untuk hal-hal ini? Sudahkah berkorban tenaga untuk hal-hal ini? Kita yang mengaku mengasihi Tuhan, biarlah kita melakukan semua ini dengan kerelaan untuk berkorban bagi Dia yang telah lebih dahulu mengorbankan Anak Tunggal-Nya di atas kayu salib bagi penebusan kita.

Doa:
Tuhan, mampukan kami untuk mengingat terus besarnya anugerah-Mu bagi kami. Engkau memilih kami meskipun kami lebih layak dibinasakan di dalam murka-Mu. Engkau mengasihi kami walaupun kami tidak layak untuk dikasihi. Tolong kami untuk membalas kasih-Mu dengan kasih kepada-Mu. Mampukan kami untuk menyatakan kasih kami kepada-Mu dengan tindakan yang nyata, ya Tuhan. (JP)