Renungan Harian 189 (Kamis, 7 Maret 2019)

Berbagai Teguran Tuhan

Devotion from

Maleakhi 2:1-17

Umat Tuhan yang baru dibentuk kembali ini perlu terus diingatkan agar tidak tersesat seperti nenek moyang mereka. Itulah sebabnya Tuhan memberikan nabi-nabi untuk terus mengingatkan mereka. Baik Hagai, Zakharia, maupun Maleakhi terus mengulang-ulang peringatan untuk menjaga umat Tuhan agar tidak tersesat. Dalam bacaan hari ini ada beberapa hal yang Tuhan terus ingatkan kepada mereka melalui Maleakhi.

Hal pertama yang ditegur oleh Tuhan adalah teguran bagi para imam di dalam ayat 1-9. Tuhan menuntut para imam menjadi pengajar bagi umat Tuhan, menyatakan firman kepada mereka dan dengan peka menyatakan isi hati Tuhan kepada umat Tuhan. Tetapi pada bagian ini Tuhan memberikan teguran bagi imam yang tidak setia. Mereka tidak mengajarkan firman, tetapi memberikan dusta. Mengapa ajaran mereka menyimpang dan membuat Israel tergelincir? Karena mereka sendiri tidak suka mendengar, hanya mau mengajar. Mereka senang berkhotbah tetapi tidak mau mendengar khotbah. Mereka senang menegur tetapi mengabaikan teguran bagi mereka sendiri. Inilah kecelakaan bagi umat Tuhan. Jika para imam tidak mau belajar, maka mereka akan menjadi pengajar-pengajar yang membutakan rakyat. Hal berikutnya adalah mereka juga tidak memiliki perasaan hormat kepada Tuhan. Mereka tidak takut berbuat dosa dan menganggap sepi hukuman Tuhan. Jika demikian, maka setiap ajaran mereka tidak mungkin mengandung kuasa dari Tuhan. Tuhan memberikan kuasa-Nya yang telah terlebih dahulu bekerja di dalam diri para pengkhotbah-Nya, barulah ajaran dan khotbah yang berkuasa mengubahkan orang dapat diberikan kepada orang lain yang mendengarkan khotbah. Jika para imam tidak takut Tuhan, harapan apakah bagi umat Tuhan untuk kembali kepada Tuhan dengan perasaan takut akan Tuhan?

Hal berikutnya yang ditegur adalah di dalam ayat 10-12. Ini adalah teguran bagi orang Yehuda yang menikah dengan perempuan asing. Mereka melanggar seperti Salomo sudah melanggar. Pertobatan mereka tidak akan Tuhan terima kecuali mereka meninggalkan persekutuan dengan perempuan-perempuan asing itu. Keberdosaan mereka ini menunjukkan bahwa mereka lebih memilih hawa nafsu mereka ketimbang menaati Tuhan. Mereka terpikat oleh seseorang hanya karena kecantikan yang dapat memuaskan hasrat mereka, tetapi mereka tidak pernah merasa bahwa iman dan kesalehan adalah sesuatu yang memikat. Orang yang saleh akan terpikat kepada orang yang saleh. Dia tidak bisa berlama-lama mengagumi kecantikan dari orang yang tidak saleh. Orang yang benar akan menyukai kebenaran. Dia tidak mungkin tertarik kepada perempuan cantik yang tidak benar. Tetapi orang-orang Yehuda terpikat perempuan-perempuan penyembah berhala. Mereka tunduk kepada para wanita yang tidak mengenal Tuhan, apalagi mengasihi Tuhan. Tetapi inilah yang mereka pilih. Mereka lebih mendengarkan hawa nafsu sementara mereka dan kehilangan bijaksana yang seharusnya dimiliki oleh umat Tuhan.

Hal ketiga yang ditegur adalah orang-orang yang relasi dengan keluarganya telah begitu rusak. Ayat 13-17 mengatakan bahwa orang-orang yang ingin bertobat dan mau kembali kepada Tuhan, tetapi yang relasinya dengan istri tidak beres, adalah orang yang kerohaniannya palsu. Apakah maksudnya relasinya dengan istri tidak beres? Yang dimaksudkan adalah mereka tidak setia kepada pasangan mereka. Orang “rohani” yang pernikahannya tidak beres adalah orang rohani yang palsu dan dibenci oleh Tuhan. Tangisan pertobatan mereka tidak akan diterima oleh Tuhan sebelum mereka memperbaiki relasi mereka dengan pasangan mereka. Tuhan sangat menuntut kesetiaan kepada perjanjian. Perselingkuhan, keakraban dengan orang lain yang bukan pasangan, hingga mengidam-idamkan orang lain dan bukan pasangan sendiri adalah hal-hal yang sangat dibenci Tuhan. Tidak peduli berapa banyak persembahan diberikan kepada Tuhan, tidak peduli betapa banyak air mata dan seruan diberikan di dalam doa dan penyembahan, jika seseorang tidak setia kepada pasangannya, Tuhan akan membuang orang itu.

Untuk direnungkan:
Banyak pengkhotbah dan pengajar di gereja Tuhan sangat mirip dengan para imam yang ditegur. Mereka tidak mau belajar. Mereka tidak memiliki perasaan haus untuk memahami firman Tuhan melalui orang lain. Mereka hanya mau mengajar dan berkhotbah. Tetapi sebenarnya seseorang yang tidak bersedia menjadi murid yang baik tidak mungkin berhak menjadi guru. Seseorang yang tidak pernah belajar taat tidak mungkin menjadi pemimpin yang berhak menuntut ketaatan. Tidak seorang pun dari pengkhotbah di gereja berhak berkhotbah kalau mereka sendiri tidak mau menjadi murid firman. Malas belajar, malas membaca firman, malas membaca buku, tidak tahu apa-apa dari firman Tuhan, ini semua tanda-tanda hamba Tuhan yang palsu. Kiranya Tuhan tolong gereja-Nya dengan membangkitkan pengajar-pengajar yang pandai tetapi rendah hati dan selalu haus mempelajari firman Tuhan.

Hal kedua yang perlu kita renungkan adalah tentang relasi suami istri. Bagian ini mengingatkan kembali dosa orang Yehuda yang menikah dengan perempuan-perempuan yang tidak takut akan Tuhan. Mengapa mereka mengagumi orang yang tidak layak dikagumi? Karena kekaguman mereka sendiri masih ada pada hal-hal yang remeh, bukan kepada hal-hal yang agung. Tidak ada orang agung yang mencintai hal yang remeh, dan ketika hal yang remeh itu mulai menjadi fokus kasihnya, orang agung itu sedang berada di ambang kejatuhan. Perhatikan Salomo. Siapakah yang lebih bijak dari dia? Siapakah raja yang lebih kaya dan agung dari dia? Tidak ada. Tetapi Salomo jatuh karena mencintai banyak perempuan asing. Demikian juga anak-anak muda di dalam gereja. Mengapa mudah tertarik kepada orang-orang yang tidak percaya? Bukankah keagungan iman dan pengenalan akan Kristus tidak ada pada mereka? Jika dua hal yang sangat esensial itu tidak ada, apa lagikah yang menarik hatimu kepada mereka?

Hal ketiga yang menjadi peringatan bagi kita, juga masih di dalam lingkup relasi suami istri, adalah kesetiaan kepada perjanjian. Bagaimana mungkin kita dapat menyatakan kesetiaan kita kepada Tuhan jika kesetiaan kita kepada pasangan kita pun tidak bisa kita pertahankan. Siapa yang tidak setia kepada pasangan, hendaklah kita sadar bahwa dosa itu besar sekali. Tidak tahukah kita betapa murka Tuhan dengan tingkah demikian? Persembahan dan pelayanan kita, juga kepalsuan tindakan rohani kita, semua sudah ditolak oleh Tuhan. Bertobatlah! Tinggalkan kehidupan yang penuh dengan kecemaran dan kembalilah kepada Tuhan. Kembalilah kepada pasangan kita, dan perbaikilah relasi dengan dia. Mungkin kita akan ditolak, tetapi kita layak mendapatkan penolakan itu. Bagi semua orang lain yang masih mempertahankan kesetiaan kepada pasangan, jangan membawa diri ke dalam pencobaan. Mengapa banyak habiskan waktu dengan orang lain dan membawa diri kepada keakraban yang tidak perlu dengan lawan jenis? Apakah kita merasa cukup kuat untuk melawan semua godaan? Apakah kita lebih bijaksana dari Salomo? Salomo tahu begitu banyak hikmat tetapi dia jatuh. Jangan membawa diri ke dalam pencobaan. Betapa besar kerusakan yang terjadi akibat ketidaksetiaan seseorang di dalam pernikahan. Kerohanian yang rusak, keluarga yang hancur, sakit hati yang mendalam dan merusak, anak-anak yang dirusak hidupnya… perlu ditambah lagi? Tetapi hal yang paling bahaya adalah Tuhan sangat murka kepada orang yang tidak setia. Ketika Tuhan melihat orang yang tidak setia kepada suami atau istrinya, Dia mengingat ketidaksetiaan Israel dan perselingkuhan Israel dengan ilah-ilah lain, dan itu membangkitkan murka-Nya.

Doa:
Tuhan, kami sungguh memohon bagi gereja kami. Berikanlah hamba-hamba Tuhan yang takut akan Tuhan dan yang cinta Tuhan. Kami rindu diajar untuk mengasihi Tuhan dan firman-Nya oleh orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan firman-Nya. Peliharalah kehidupan keluarga jemaat-Mu, ya Tuhan. Jagalah dari ketidaksetiaan, dan pelihara dari segala godaan. Sertai juga anak-anak-Mu yang sedang menggumulkan pasangan hidup, berikan mereka mata yang melihat kualitas iman dan takut akan Tuhan sebagai kualitas mutlak yang harus ada di dalam diri seseorang sebelum menjalin relasi dengan orang itu. Dengarlah doa kami, ya Tuhan. (JP)