Renungan Harian 195 (Rabu, 13 Maret 2019)

Persiapan Jalan bagi Tuhan

Devotion from:

Matius 3:1-12

Sebelum pelayanan Kristus dimulai, Tuhan menyatakan bahwa ada seorang yang akan mempersiapkan jalan bagi Dia. Di dalam ayat 1-3, Yesaya memberitakan tentang nubuat perdamaian (mengutip Yes. 40:1-11) dengan kedatangan Tuhan sebagai puncak dan seruan pertobatan sebagai pendahuluan (Yes. 40:3) di mana semuanya digenapi di dalam diri Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis ini akan mempersiapkan suatu umat bagi Kristus. Dia akan mempertobatkan orang Israel untuk menyambut Kristus dan menjadi pengikut Dia di dalam pelayanan menyatakan Kerajaan Allah. Kedatangan sang pendahulu ini seperti kedatangan seorang utusan untuk mengumumkan kedatangan raja. Dia mendahului raja untuk mempersiapkan rakyatnya menyambut sang raja. Bagaimanakah cara pendahulu ini – Yohanes Pembaptis – mempersiapkan umat Tuhan menyambut kedatangan Raja mereka? Dia melakukannya dengan mengkhotbahkan pertobatan yang sejati agar umat Tuhan tidak lagi hidup di dalam kecemaran mereka dan bersiap untuk menyambut kedatangan Sang Raja. Karena seruan pertobatan yang berkuasa inilah Yohanes Pembaptis diidentikkan dengan kuat kuasa Elia (Mal. 4:5-6). Di dalam ayat 4-11 dikatakan bahwa dia memakai pakaian dari bulu unta, ikat pinggang kulit, dan tinggal di padang gurun. Orang dapat mengidentikkan dia seperti orang gila, tetapi mereka yang mengetahui Perjanjian Lama akan menyadari kemiripan Yohanes dengan nabi Elia (2Raj. 1:8). Bukan hanya pakaian saja yang mirip. Jika Yohanes Pembaptis hanya peniru Elia dalam hal fashion, maka dia bukanlah sang pembuka jalan yang sejati. Yohanes Pembaptis juga memiliki roh dan kuasa Elia sehingga dia dipakai Tuhan untuk mempertobatkan orang-orang Israel dan memulihkan relasi mereka.

Dalam ayat 7-11 dicatat tentang khotbahnya yang berkuasa tetapi juga keras. Seruannya yang menegur dosa dengan sangat keras ini begitu berkuasa sehingga membuat yang tulus hati bertobat, tetapi membuat yang keras hati menjadi marah. Semua ini merupakan penjelasan bahwa Yohanes Pembaptis adalah pembuka jalan bagi Sang Mesias. Dialah yang membawa kebangunan rohani yang sejati sehingga ada orang-orang yang akan menyambut Kristus. Mengapakah Yohanes Pembaptis penting? Karena jika dia tidak ada, maka seluruh Israel akan menolak Kristus dan membunuh Dia dengan kebencian yang besar. Bahkan setelah ada pelayanan Yohanes Pembaptis pun orang-orang Farisi dan Ahli Taurat ingin membunuh Tuhan Yesus dengan kebencian yang besar. Rakyat yang sepertinya mengikuti Dia dengan setia ternyata juga berseru, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” (Yoh. 19:6, 15). Pelayanan Yohanes Pembaptis membuat adanya sekelompok orang, walaupun kecil dan minoritas, menjadi murid-murid pertama Tuhan Yesus. Mereka menyambut Sang Mesias dengan segenap ketulusan dan kesetiaan. Tidak seperti orang banyak yang mengikut Yesus dengan buta dan tidak dengan iman yang sejati.

Di dalam ayat 7, Yohanes menyerang para pemimpin agama. Orang-orang Farisi dan Saduki tidak diterima oleh Yohanes karena dia dengan peka melihat kepalsuan iman mereka. Dia bahkan berseru dengan memanggil mereka “ular beludak”. Dia dengan keras berseru bahwa mereka tidak mungkin lari dari penghakiman. Tidak ada baptisan yang sanggup menyelamatkan mereka. Ini adalah berita yang sangat keras. Mengapa Yohanes tidak melihat bahwa mereka dapat diselamatkan? Yohanes mengatakan demikian karena tidak ada orang-orang sombong, picik, dan gila harta (Luk. 16:14) yang akan masuk ke dalam Israel yang baru di bawah pimpinan Sang Raja, yaitu Anak Daud. Lalu, apakah itu berarti orang-orang Farisi dan Saduki tidak bisa masuk Kerajaan Allah? Tidak, jika mereka tidak bertobat, maka mereka tidak mungkin masuk. Yohanes menekankan perlunya pertobatan yang sejati. Dosa dan kecemaran tidak bisa disembunyikan dengan jubah agama di hadapan Allah. Tetapi kesempatan tetap diberikan kepada mereka jika mereka mau bertobat dan hidup sesuai dengan pertobatan itu (ay. 8).

Siapakah umat yang sejati dari Sang Mesias? Mereka bukanlah orang yang memamerkan jubah agama mereka. Mereka adalah orang-orang yang menyadari keberdosaan mereka, bertobat sungguh-sungguh, dan hidup dengan menghasilkan buah pertobatan di dalam kesetiaan kepada Tuhan. Inilah umat yang akan dikumpulkan itu.

Untuk direnungkan:
Siapkah kita menjadi umat Tuhan yang sejati? Yohanes Pembaptis diutus Tuhan untuk mempersiapkan dan membentuk umat yang sejati dengan seruan pertobatannya. Demikian juga pada zaman sekarang kita perlu seruan dari hamba Tuhan yang sejati yang menyerukan perlunya bertobat dengan sungguh-sungguh. Pertobatan yang tidak main-main. Pertobatan yang disertai dengan buah yang nyata dan terlihat secara alami, bukan secara palsu. Orang Farisi penuh kepalsuan. Demikian juga kehidupan kita jika kita belum bertobat. Tuhan tidak membuang kita karena kita cemar dan berdosa. Tuhan membuang kita karena kita tetap tidak mau bertobat ketika teguran dan peringatan dari Tuhan datang. Ketika kita berada dalam keadaan cemar dan penuh dosa, ketika seharusnya kita dimurkai dan dibuang Tuhan, Tuhan justru mengirimkan seruan pertobatan-Nya. Yohanes Pembaptis dikirim oleh Tuhan untuk mempersiapkan suatu umat dari Israel yang sedang cemar dan terbuang. Tetapi, ketika seruan itu ditanggapi dengan dingin, dengan ketidakpedulian, pada waktu itulah penghakiman-Nya akan datang. Tuhan akan mengirimkan kapak untuk merobohkan pohon-pohon yang tidak Dia tanam, yaitu mereka yang walaupun termasuk bagian dari umat Tuhan secara fisik, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh bertobat.

Umat Tuhan yang disiapkan oleh Yohanes ini adalah umat yang tidak berpaut pada Yohanes. Umat ini adalah umat yang akan meninggalkan Yohanes untuk mengikuti Sang Raja, yaitu Yesus (Yoh. 3:30). Yohanes tidak pernah mencari keuntungan diri ataupun kenikmatan dan kepentingannya sendiri. Dialah patron hamba Tuhan yang sejati, yang menyerahkan segala sesuatu, termasuk pengikutnya sendiri, kepada Kristus. Hamba Tuhan yang mempunyai pengaruh kuat kepada orang lain, tetapi tidak menggunakannya untuk membuat mereka menjadi pengikut buta seperti kerbau yang dicocok hidungnya, adalah hamba Tuhan yang tidak mementingkan diri. Dia tidak sibuk mencari pengikut dan memengaruhi orang untuk ikut dia. Dia hanya sibuk mencari pengikut bagi Kristus dan memengaruhi orang untuk mengikut Kristus. Inilah hamba Tuhan yang sejati.

Hamba Tuhan yang sejati, yang dipakai Tuhan membawa kebangunan yang sejati, adalah juga hamba Tuhan yang tidak mau kompromi terhadap dosa. Dia tidak segan-segan mengatakan, “celakalah kamu!” kepada orang-orang penting, dan para pemimpin yang berdosa, dan yang terus berada di dalam dosanya. Tuhan memakai seruan ini untuk mempertobatkan umat-Nya, sekaligus menyaring keluar orang-orang yang mengabaikan, bahkan marah karena teguran ini. Jika hamba Tuhan yang sejati bersuara karena dipakai Tuhan untuk menegur dosa, dan kita merasa tertegur karena seruannya yang keras sangat mengena terhadap dosa-dosa kita, jangan marah! Jangan pergi tinggalkan hamba Tuhan itu! Inilah hamba Tuhan yang harus kita terus dengar karena dialah yang dengan tulus menyatakan isi hati Tuhan bagi umat-Nya. Dialah yang sangat memperhatikan kita, lebih dari pada ular yang menyamar menjadi hamba Tuhan palsu, dengan segala kepalsuan dan kemunafikannya menyerukan kasih dan damai sejahtera tanpa peduli apakah kita akan beroleh hidup yang kekal ataukah kita akan mendapatkan murka kekal. Kiranya Tuhan terus memperbarui gereja-Nya dan mempersiapkan umat yang hidup di dalam kekudusan untuk menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali nanti, di mana Dia akan datang sebagai Raja untuk selama-lamanya.

Doa:
Ya Tuhan, perbaruilah gereja-Mu melalui seruan kebangunan seperti yang diserukan Yohanes Pembaptis. Kirimkanlah kebangunan-Mu dengan mengutus hamba-hamba-Mu untuk berkhotbah mewakili Engkau. Dan kami juga memohon Tuhan membangkitkan hati kami, memberikan kami hidup yang kudus dan tekun di dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus. (JP)