Renungan Harian 196 (Kamis, 14 Maret 2019)

Baptisan Yesus Kristus

Devotion from:

Matius 3:13-17

Tuhan Yesus akan memulai pelayanan-Nya. Dia telah berusia sekitar 30 tahun dan Dia akan segera mulai menyerukan pertobatan, melayani umat Tuhan, melakukan mujizat, dan mengajarkan tentang Kerajaan Allah kepada orang Israel, dan akhirnya, puncak dari karya-Nya, adalah kerelaan untuk mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Baptisan menjadi tanda awal untuk memulai pelayanan Yesus. Mengapa baptis? Karena ini adalah tanda pembasuhan sebagaimana yang dijalani oleh para imam untuk memulai pelayanannya untuk mewakili kaum Israel di hadapan Tuhan (Kel. 29:4, Im. 8:24), sekaligus cara-Nya mengidentikkan diri-Nya dengan orang-orang yang akan ditebus dan diselamatkan-Nya. Dia disamakan dengan mereka dalam segala hal, hanya Dia tidak berdosa (Ibr. 2:17). Inilah makna pembaptisan Tuhan Yesus. Tuhan tidak dibaptis untuk penghapusan dosa-Nya. Dia dibaptis untuk menyatakan kesamaan-Nya dengan umat-Nya yang berdosa. Kesamaan karena dosa umat-Nya rela Dia tanggung, bukan kesamaan karena Dia sama-sama berdosa dengan mereka. Inilah perbedaan penting yang harus kita ketahui. Itulah sebabnya setelah dibaptis, Allah sendiri mengonfirmasi bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang dikasihi dan diperkenan.

Dalam ayat 14 dikatakan bahwa Yohanes sadar Tuhan Yesus tidak perlu dibaptis untuk pertobatan. Tuhan Yesus tidak perlu bertobat. Kesadaran Yohanes ini dicatat sehingga para pembaca tahu bahwa Tuhan Yesus tidak datang untuk penebusan dosa-Nya sendiri. Dia tidak perlu bertobat karena memang tidak ada yang perlu dipertobatkan di dalam diri-Nya. Tuhan Yesus dibaptis karena, sebagaimana dinyatakan di dalam ayat 15, ini merupakan tanda yang harus dijalani oleh Tuhan Yesus sebagai imam yang akan menanggung dosa manusia. Dia memulai pelayanan agung-Nya dengan baptisan Yohanes.

Di dalam ayat 16-17 dicatat bahwa Allah Bapa tidak ingin manusia salah mengenal Anak-Nya. Dia tidak ingin Anak-Nya dihina atau dianggap sama dengan manusia. Ketika fokus orang-orang tertuju kepada Yohanes Pembaptis dan ketika mereka mungkin salah mengerti karena menganggap Yohanes yang membaptis lebih besar dari Yesus yang dibaptis, maka Allah Bapa menyatakan suara-Nya dengan meninggikan Anak Tunggal-Nya. Allah Bapa sangat mengasihi Allah Anak. Oleh sebab kasih-Nya itu, Bapa bekerja memanggil umat-Nya untuk diselamatkan dan menjadi milik Sang Anak. Bapa meninggikan Anak, maka celakalah manusia yang menolak untuk meninggikan Sang Anak. Setiap orang yang melayani Anak akan dihormati oleh Bapa (Yoh. 12:26). Betapa besar kemuliaan yang diberikan Bapa kepada Anak-Nya. Demikian juga penghormatan yang diberikan Bapa kepada manusia yang melayani Yesus. Tuhan tidak ingin Anak-Nya diabaikan demi manusia lain. Tuhan menyatakan sendiri persetujuan dari-Nya bagi Yesus. Hanya bagi Dia saja.

Ayat 16 juga menyatakan bahwa Roh Allah turun kepada Yesus dengan bentuk seperti burung merpati. Roh yang lembut dan penuh belas kasihan ada pada Yesus sehingga Dia melayani dengan kelembutan dan belas kasihan yang sangat besar bagi umat-Nya. Roh Allah, Bapa, dan Anak, semua ada di dalam pembahasan tentang baptisan Tuhan Yesus. Allah Tritunggal dinyatakan di dalam dunia untuk pertama kalinya secara bersama-sama di dalam bagian ini. Allah memanggil Anak-Nya untuk memanggil pulang umat-Nya yang di dalam pembuangan, dan karena itu Roh Kudus yang ada pada Yesus dinyatakan di dalam bentuk merpati, lambang kesederhanaan, kesetiaan, dan kelembutan.

Peristiwa baptisan Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana Tuhan Yesus menjadi sama dengan siapa yang Dia layani. Dia bukanlah orang yang menganggap diri-Nya tinggi jauh melebihi orang-orang yang dilayani walaupun pada faktanya Dia jauh lebih tinggi daripada siapa pun yang ada di dunia ini. Ironisnya Dia yang lebih tinggi dari segala manusia, justru Dia yang rela untuk menjadi rendah dan tidak dibedakan dari orang-orang yang Dia layani. Tuhan Yesus merendahkan diri-Nya sehingga Dia tidak lagi dibedakan dengan orang-orang yang Dia layani. Tetapi jika orang-orang yang dilayani tidak menghargai Dia, maka Allah akan murka. Itulah sebabnya Allah Bapa sendiri menyatakan dari surga bahwa Dia berkenan hanya kepada Sang Anak. Tidak ada yang lain yang diperkenan Bapa lebih daripada Sang Anak. Bukan Tuhan Yesus yang membela diri-Nya. Allah Bapa sendiri yang mengonfirmasi pelayanan-Nya. Demikian juga kita di dalam pelayanan yang kita kerjakan. Kita tidak dipanggil untuk mencari hormat bagi diri kita sendiri. Jika Tuhan Yesus saja melayani dengan cara yang sulit dibedakan dengan orang lain karena Dia rela menjadi sama dengan manusia di dalam segala hal. Dia rela dibaptis untuk menjadi satu dengan seluruh umat Tuhan demi menyelamatkan mereka. Baptisan inilah yang rela ditempuh sebagai permulaan perjalanan pelayanan Kristus di bumi ini.

Untuk direnungkan:
Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya dengan dibaptis. Dia rela menyatakan diri-Nya sama dengan umat Tuhan yang akan Dia selamatkan. Dia rela kehilangan kemuliaan surga dan sembah sujud para malaikat. Mengapa Dia rela datang? Apakah karena orang-orang di dunia akan menyembah Dia? Tentu tidak. Jika untuk mendapatkan hormat demi diri kita sendiri, perjuangan hidup kita makin sia-sia karena setiap manusia dipanggil untuk meneladani Tuhan Yesus. Dan jika Tuhan Yesus rela menjadi sama dengan manusia, mengapa kita masih ingin dianggap lebih tinggi dari orang lain. Ironi! Bahkan salah satu ironi terbesar di dalam dunia sejarah: Yang mahatinggi ingin diperlakukan rendah, sedangkan yang rendah ingin dihormati dengan kedudukan yang tinggi dan besar. Tuhan Yesus yang jauh melampaui apa pun di dunia ini sekarang rela menjadi manusia dan diperlakukan sama dengan manusia lain di Israel.

Apakah yang menahan manusia untuk memiliki kehidupan seperti Kristus telah hidup? Tantangan yang paling besar mungkin adalah ego dan harga diri yang berlebihan yang kita miliki. Tuhan tidak pernah memberikan kita tempat utama tetapi kita selalu ingin menempati tempat utama (Luk. 14:7-11). Tempat utama sudah ada yang memiliki, yaitu Kristus. Tempat di dekat Kristus juga sudah ada yang miliki. Dia yang giat bekerja bagi Tuhan, mengasihi Tuhan, rela berkorban bahkan mati untuk Tuhan, dan dengan penuh kasih dan kerelaan hidup untuk menjadi saluran berkat di mana pun dia berada, dialah yang jauh lebih pantas untuk menduduki tempat utama. Tempat itu bukan untuk diperebutkan di dunia ini (Mat. 20:23).

Di dalam pelayanan pun kita sering kali memosisikan orang lain sebagai saingan kita. Kita merasa tersaingi kalau ada orang lain yang pekerjaannya lebih dihargai. Kita merasa iri kalau orang lain lebih baik dari diri kita. Kita iri kalau ada yang lebih baik, dan orang itu merebut segala hal yang seharusnya kita bisa peroleh. Kita begitu picik, begitu rendah, dan sering kali lupa bahwa kita juga begitu remeh. Mari kita ingat untuk meneladani Kristus. Dia yang mulia, rela disejajarkan dengan umat-Nya yang remeh dan rendah. Mengapakah kita yang hina, menolak untuk disejajarkan dengan umat Tuhan yang remeh dan rendah? Mengapakah kita ingin menjadi yang utama, menjadi yang lebih baik, menjadi yang lebih penting? Mengapa kita tidak ingin menjadi pelayan bagi yang lain? Inilah yang disebut dengan meneladani Tuhan Yesus, kerelaan untuk dianggap lebih rendah dari pada keadaan kita yang seharusnya. Jika kita giat, tetapi tidak diketahui orang, berbahagialah karena upah kita besar di surga. Jika kita memiliki kemampuan besar tetapi tidak diketahui orang lain, tetaplah giat di dalam Tuhan sebab hanya satu yang kita rindukan, yaitu bahwa Tuhan dipermuliakan melalui kemampuan kita.

Doa:
Kami bersyukur ya, Tuhan, sebab di dalam segala hal Kristus disamakan dengan kami. Meskipun Dia jauh lebih mulia dan jauh lebih agung daripada kami, tetapi Dia rela disamakan dengan kami. Begitu besar kelembutan yang Dia miliki sehingga segala kemuliaan-Nya tidak dianggap-Nya penting. Itulah sebabnya kami memuji Tuhan kami dan Juru Selamat kami, dan tidak henti-hentinya kami meninggikan kemuliaan Tuhan yang terus menerus merendahkan diri-Nya bagi penebusan kami. (JP)