Renungan Harian 216 (Selasa, 2 April 2019)

Berpuasa dan Beriman

Devotion from:

Matius 6:16-24

Pengajaran selanjutnya dari Tuhan Yesus yang akan kita renungkan hari ini adalah mengenai berpuasa dan mengenai harta di surga. Tuhan Yesus mengingatkan bagi orang-orang yang berpuasa untuk menyembunyikan keadaan sedang berpuasa. Berpuasa adalah suatu bentuk permohonan yang disertai dengan dukacita. Orang Israel berpuasa untuk memohon supaya Tuhan memulihkan bangsa mereka dan segera mendatangkan Sang Mesias. Mereka juga sering berdoa dengan seruan-seruan yang keras agar Tuhan mendengar dan segera memulihkan. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang ditegur oleh Tuhan Yesus di dalam ayat 5. Mereka berseru dengan keras di tikungan jalan raya agar orang-orang lihat betapa berat beban mereka bagi Kerajaan Allah. Tetapi sebenarnya hati mereka tidak sungguh-sungguh terbeban karena mereka hanya ingin dilihat orang lain. Begitu juga di dalam bagian ini. Mereka berpuasa tetapi tujuannya adalah agar orang lain melihat betapa hebat beban mereka untuk Umat Tuhan. Mereka berpuasa dengan berat untuk bangsa Israel. Maka, sama dengan teguran Tuhan Yesus bagi orang-orang munafik di dalam berdoa, Dia pun mengatakan bahwa tindakan munafik seperti memamerkan diri yang sedang berpuasa adalah hal yang tidak akan dilihat oleh Bapa di surga. Apakah gunanya berpuasa jika Tuhan tidak memedulikannya? Bukankah puasa dilakukan karena ingin Tuhan melihat dan memberikan belas kasihan?

Di sini kita melihat bahwa banyak orang telah kehilangan esensi utama dari berpuasa dan berdoa. Mereka menjadikan doa dan puasa sebagai rutinitas yang menunjukkan tingkat rohani seseorang. Ketika mereka masih mementingkan penilaian orang lain atas tingkat kerohanian mereka sendiri, maka sebenarnya kerohanian mereka sedang berada di dalam keadaan sakit yang sangat parah. Orang yang kerohaniannya matang dan dewasa tidak merasa perlu dinilai oleh orang lain. Asalkan Tuhan memberikan belas kasihan dan perkenanan-Nya, itu lebih dari cukup. Tetapi seluruh dunia memerhatikan pun itu tidak ada gunanya karena kerinduan dia adalah dilihat dan didengar serta diperkenan oleh Tuhan.

Hal berikut yang diajarkan Tuhan Yesus adalah untuk mencari harta di surga. Semua orang berlomba-lomba untuk memiliki harta di bumi, tetapi hanya mereka yang adalah umat-Nya yang sejati menyadari bahwa diperkenan Allah adalah harta terbesar yang tidak akan pernah hilang. Tidak ada yang bisa melampaui penerimaan Allah dan penghargaan Allah bagi orang-orang yang memberikan seluruh hatinya bagi Dia. Tetapi uang menjadi penghalang yang sangat besar bagi orang-orang untuk datang kepada Allah. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa keserakahan untuk mengejar harta selalu akan dibayangi dengan ketakutan kehilangan harta. Tetapi kehilangan harta adalah sesuatu yang tidak bisa dicegah dengan sempurna. Kita dapat kehilangan harta karena orang lain yang dengan jahat mengambil apa yang telah kita miliki. Atau kita juga dapat kehilangan harta karena sebab-sebab alam. Ngengat dan karat, serta pencuri, semua menjadi sumber ketakutan besar bagi mereka yang hartanya banyak di bumi.

Di mana hartamu di situ hatimu. Demikian dinyatakan oleh Tuhan Yesus di dalam ayat 21 bahwa di mana harta kita di situ juga hati kita. Jika kita mencari harta dunia ini, maka memang hati kita ada di dalam dunia ini. Jika harta kita kita berikan untuk sesuatu, maka sesuatu itulah yang ada di dalam hati kita. Jika kita mencari Tuhan, mencari wajah-Nya, dan mencari diperkenan oleh Dia, itu adalah harta terindah yang tidak bisa disamai oleh seluruh dunia sekalipun. Itulah harta yang akan dengan kekal menjadi milik orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan. Maka Tuhan Yesus mengingatkan kita semua untuk melihat kembali ke arah manakah pandangan mata kita? Jika pandangan mata kita tertuju kepada uang, maka mata kita begitu gelap. Fokus mencari uang akan membuat hidup menjadi gelap. Tetapi jika mata kita memandang terang Tuhan sebagai sesuatu yang jauh lebih penting daripada harta, maka seluruh diri kita menjadi terang. Siapa yang mau harta, tidak akan mungkin mengabdi kepada Allah. Hartanya akan menjadi penghalang terbesar untuk dia mengikuti Allah. Siapa mengabdi kepada Allah, dia akan menggunakan hartanya untuk Allah dan mendedikasikan kebertundukan totalnya kepada Allah.

Untuk direnungkan:
Dua hal yang akan menjadi renungan kita untuk hari ini. Yang pertama adalah mengenai berpuasa, dan yang kedua adalah mengenai harta:

  1. Apakah berpuasa itu?
    Berpuasa itu adalah suatu cara menyatakan perasaan dukacita atau permohonan yang dalam kepada Allah. Kita sedang menyatakan kepada Allah bahwa kita menginginkan jawaban-Nya lebih daripada makanan sekalipun. Berpuasa adalah pernyataan bahwa kita sedang berada di dalam beban yang berat sehingga kita tidak ingin makan. Hal yang menjadi kebutuhan pokok pun kita anggap kurang penting dibandingkan dengan apa yang ingin kita doakan kepada Tuhan. Baik berdoa maupun berpuasa harus melihat Allah. Tetapi jika hati kita memang ada pada dunia ini dan penerimaan sesama manusia menjadi hal yang penting, maka kita tidak akan diperkenan oleh Tuhan. Itu sebabnya kita harus memilih. Mau menyenangkan manusia? Ataukah mau diperkenan Tuhan? Berikan hati secara total, jangan separuh-separuh. Total untuk Tuhan, atau kita akan kehilangan penerimaan Tuhan jika hati masih bercabang dan mencari disanjung oleh manusia. Apakah ini berarti kita tidak boleh diterima atau dipuji orang lain? Tentu tidak. Orang lain memuji kita karena kita hidup benar, ini hal yang baik. Tetapi kita tidak merasa pujian itu sebagai sesuatu yang berharga dan dicari. Kerinduan untuk diperkenan Tuhan menjadi kerinduan yang begitu besar sehingga pujian orang lain dan penerimaan mereka menjadi begitu kecil dan tidak lagi dicari.
  2. Renungan yang kedua adalah mengenai harta.
    Jika tadi kita sudah merenungkan bahwa hati kita harus memilih antara diperkenan Tuhan atau dipuji manusia, maka sekarang kita merenungkan tema harta. Hati kita harus memilih antara terikat oleh harta atau oleh Tuhan. Kita ingin keduanya? Tidak mungkin. Kita harus memilih antara Tuhan atau harta. Apakah ini berarti orang Kristen tidak boleh kaya? Bukan. Silakan jadi kaya, tetapi jangan mencintai kekayaan kita. Silakan memiliki banyak uang, tetapi jangan mencintai uang. Silakan bekerja demi mencari harta, tetapi hati kita harus diberikan untuk Tuhan, bukan harta! Harta yang kita dapatkan tidak menentukan hidup matinya kita. Tanpa harta pun hidup kita tetap berjalan. Tanpa kekayaan pun kita tetap bisa memperoleh bahagia. Tetapi tanpa Tuhan, kita tidak mungkin hidup. Tanpa Tuhan, tidak akan ada bahagia sejati. Ini yang harus menjadi pemahaman kita.

Carilah Tuhan! Carilah kemuliaan surgawi! Tetapi ini bukan berarti kita tidak usah bekerja dan mencari harta duniawi. Orang malas tidak mau bekerja. Ini bukan berarti mereka sudah diperkenan oleh Tuhan. Sepertinya mereka tidak peduli kekayaan. Tetapi itu hanyalah karena mereka terlalu malas untuk bekerja, baik untuk mencari kekayaan, maupun untuk Tuhan. Orang seperti ini adalah orang rendah yang akan terus mempermalukan nama Tuhan. Tidak ada manusia malas yang diperkenan Tuhan. Tuhan tidak ingin kita mengumpulkan harta bukan karena Dia tidak ingin kita bekerja. Dia ingin kita bekerja, tetapi bukan untuk harta. Bukan harta yang menciptakan kita. Bukan harta yang menebus kita. Bukan harta juga yang akan mempertahankan hidup kita. Tuhanlah yang melakukan semua itu. Maka, seperti orang serakah bekerja keras demi harta, demikian anak-anak Tuhan harus bekerja keras bagi harta surgawi. Ini adalah perbandingan yang sangat jauh. Jika untuk harta duniawi yang bisa hilang dan tidak kekal saja, orang membanting tulang dengan tidak kenal lelah, mengapa untuk melayani Tuhan kita begitu santai dan malas? Kita harus bekerja lebih keras untuk Tuhan dibandingkan untuk harta duniawi.

Doa:
Tuhan, ajarkan kami untuk memiliki hati yang hanya tertuju kepada-Mu. Kami tidak ingin mengabaikan-Mu demi puji-pujian manusia. Sebaliknya, berikanlah kami kekuatan untuk menginginkan-Mu dan mengabaikan puji-pujian manusia. Kami juga memohon supaya Tuhan membebaskan kami dari hati yang terikat oleh harta. Kami tidak mau diperbudak oleh harta. Kami adalah milik-Mu, ya Tuhan. Bebaskanlah kami dari jerat cinta harta dan berikanlah kami hati yang cinta Tuhan. (JP)