Renungan Harian 225 (Kamis, 11 April 2019)

Berkuasa Mengampuni

Devotion from:

Matius 9:1-8

Bacaan hari ini melanjutkan pernyataan tentang kuasa Yesus yang sedang ditonjolkan oleh Matius. Bagian ini mengisahkan tentang kuasa Yesus Kristus untuk mengampuni dosa. Kristus berkuasa menyembuhkan orang sakit, meredakan angin ribut, mengusir setan, dan sekarang mengampuni dosa. Semua menunjukkan otoritas ilahi yang dimiliki Kristus. Dia bukan hanya Anak Daud, Dia juga adalah Anak Allah. Dia bukan hanya Anak Manusia, Dia juga adalah Tuhan semesta alam. Di dalam ayat 1 dikatakan bahwa Tuhan Yesus masuk ke kota-Nya sendiri, yaitu Kapernaum (Mat. 4:13). Ketika itu orang banyak berbondong-bondong mau mendengarkan Yesus dan disembuhkan oleh Dia (Mrk. 2:2). Maka ada orang lumpuh yang digotong oleh teman-temannya yang ingin masuk, tetapi tidak dapat, karena banyaknya orang-orang yang berkerumun di rumah itu. Maka teman-temannya itu menaikkan dia ke atap, membongkar atap, dan menurunkan dia dengan tandunya memakai tali (Mrk. 2:2-4). Setelah Tuhan Yesus melihat mereka Dia tidak segera menyembuhkan penyakit orang itu. Dia tahu bahwa kebutuhan yang paling penting dari orang itu adalah pengampunan dosa. Dia melihat iman dari orang yang lumpuh dan kawan-kawannya itu dan berkata, “dosamu sudah diampuni”. Siapakah yang boleh mengampuni dosa? Allah. Hanya Allah saja. Mengapa Yesus mengampuni dosa? Karena Dia adalah Allah Pribadi ke-2 dari Allah Tritunggal yang Kudus. Dia berhak mengampuni dosa. Dia berhak membersihkan kecemaran manusia. Dia bahkan memiliki hak yang sempurna karena pengampunan yang Dia berikan bukanlah pengampunan yang sewenang-wenang. Allah tidak mungkin bertindak sewenang-wenang. Dosa tidak boleh diampuni tanpa adanya penebusan, karena mengampuni dosa tanpa adanya penebusan akan melanggar sifat kudus dan adil dari Allah. Allah tidak mungkin bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Allah adalah Allah yang kudus dan adil, maka pengampunan dosa harus disertai dengan penebusan. Kristus menyediakan penebusan maka Kristus, ketika Dia mengampuni dosa, tidak sedang melawan sifat-sifat-Nya sendiri yang kudus dan adil.

Kristus mengampuni dosa karena Dia juga menebus dosa. Kristus menyatakan dosa seseorang tidak ada lagi, karena dosa itu akan ditanggung-Nya, dipikul dan diangkut-Nya hingga ke salib di Golgota. Inilah yang dikerjakan oleh Kristus. Tetapi para ahli Taurat marah karena mereka tidak percaya kalau Yesus adalah Anak Allah. Mereka berkata di dalam hati mereka bahwa Yesus menghujat Allah ketika Dia mengklaim otoritas untuk mengampuni dosa. Tetapi Tuhan Yesus tahu isi hati mereka. Maka Dia langsung membuktikan otoritas-Nya sebagai Anak Allah dengan dua hal. Hal pertama adalah kemampuan-Nya untuk mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Hal kedua adalah kemampuan-Nya untuk menyembuhkan penyakit orang lumpuh tersebut. Dia melakukan keduanya: Dia mengampuni dosa karena mengetahui pikiran jahat ahli Taurat, dan menyembuhkan orang lumpuh.

Otoritas yang begitu besar dan mutlak ini tidak pernah dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menguasai orang lain. Dia menunjukkan kasih dan kerelaan untuk menerima orang lain. Maka dengan otoritas sedemikian itulah Dia segera berkata dengan penuh wibawa kepada orang lumpuh itu, “bangunlah, angkatlah tilammu, dan pulanglah ke rumahmu!” Kuasa dari kata-kata Yesus Kristus dapat memulihkan kembali keadaan kaki yang cacat sekalipun. Tetapi perhatikan ayat yang ke-8. Dikatakan semua orang begitu kagum karena Allah mengizinkan kuasa sebesar itu diberikan kepada manusia. Mereka masih belum memahami bahwa tindakan yang dilakukan Kristus tidak mungkin boleh diberikan kepada manusia. Hanya Sang Mesias yang boleh mempunyai kuasa itu. Jika Kristus melakukan hal-hal seperti itu, maka seharusnya mereka memuji Tuhan sambil berkata, “Di tengah-tengah kita telah datang Sang Mesias, Anak Allah.”

Dengan kuasa firman yang sedemikian besar, Dia tidak menghukum para ahli Taurat yang menghina Dia dari dalam hati mereka. Dia tetap sabar dan mengampuni mereka yang sembarangan menuduh Dia menghujat Allah. Kata-kata-Nya yang berkuasa dipakai untuk menyembuhkan, memulihkan keadaan manusia, bukan untuk menghukum dan mengutuk orang berdosa.

Untuk direnungkan:

  1. Hari ini kita akan merenungkan tiga hal. Hal pertama adalah apakah yang menjadi kebutuhan paling mendasar yang kita rasakan? Jika kebutuhan fisik, makanan, pakaian, atau hobi, atau pergaulan, atau kemewahan, kesehatan, kenikmatan hidup, apa pun itu, terus menjadi kebutuhan yang kita kejar dan cari, maka kita tidak akan melihat pengampunan sebagai kebutuhan yang paling penting, jauh lebih penting daripada semua hal tadi. Pengampunan adalah hal terindah yang dapat dimiliki oleh manusia yang telah melawan Sang Pencipta. Sebab tanpa pengampunan kita semua adalah musuh-musuh Allah. Siapakah yang dapat menjadi musuh Allah dan tetap menjalani hidup dalam damai dan tenteram? Tidak mungkin. Jika Allah adalah musuh kita, maka kita akan terus dihantui dengan perasaan takut dan cemas, menantikan kapan Allah akan membalaskan murka-Nya yang menyala-nyala kepada kita semua. Tetapi jika Allah adalah Bapa kita yang di surga, maka ketakutan terbesar di seluruh alam semesta pun sirna. Ketakutan menjadi musuh Allah Sang Pencipta dan Tuhan atas segenap pasukan malaikat menjadi hilang karena Dia telah mengampuni kita dan tidak lagi menganggap kita musuh-Nya. Sudahkah kita menerima pengampunan dari Tuhan melalui salib Kristus Yesus? Sudahkah kita sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah yang hidup? Jika ya, maka kebutuhan yang paling utama, yaitu pengampunan dosa, telah kita dapatkan. Pengampunan dosa yang membuat kita menjadi milik Allah selama-lamanya. Pengampunan dosa yang membuat arah hidup kita tertuju kepada Allah sepenuhnya. Ini jauh lebih penting daripada kaki yang disembuhkan dari lumpuh atau penyakit yang disembuhkan oleh suara Yesus Kristus.
  2. Hal kedua yang menjadi bahan renungan kita adalah kepicikan para ahli Taurat. Ahli-ahli Taurat itu tetap tidak mengerti bahwa di depan mereka Sang Anak Allah telah menjadi manusia. Mereka juga terus menerus gagal mengoreksi diri sehingga mereka hidup dengan pembenaran diri yang sangat sempit dan kaku. Mereka tidak sadar ketika Tuhan sendiri telah datang di tengah-tengah mereka. Mereka tidak merasa perlu diajar oleh siapa pun yang lain. Mereka menggerutu untuk tanda ajaib Kristus tanpa pernah memikirkan apakah tanda ajaib itu merupakan tanda yang menguatkan fakta bahwa Dia adalah Anak Allah dan Anak Daud. Adakah kita mengeraskan hati dan menolak Kristus sama seperti para ahli Taurat? Sadarkah kita bahwa semua hal yang perlu diberitakan kepada kita tentang siapakah Kristus sudah diberitakan, baik melalui mimbar, buku-buku yang baik, dan pelayanan dari hamba-hamba Tuhan yang setia? Siapa yang terus ragu-ragu dan tidak mau melangkahkan kaki mengikuti Yesus adalah orang yang sangat kasihan. Sudah begitu dekat dengan penebusan dan pengampunan, juga panggilan untuk meninggalkan segala sesuatu dan ikut Dia, tetapi tidak juga melangkah dengan iman untuk berjalan dengan setia dan mengikuti Dia selamanya.
  3. Hal ketiga adalah kuasa Kristus yang demikian besar, seluruhnya dipakai untuk membangun orang lain, bukan untuk menghukum mereka, menghina mereka, atau mengutuk mereka. Tuhan Yesus membangun orang lain dengan kata-kata-Nya. Dia menyembuhkan mereka, mengusir setan, dan memberikan kepada mereka kelepasan dari penderitaan mereka. Bagaimana dengan mulut kita? Apakah setiap kata yang keluar adalah untuk membangun orang lain? Atau justru untuk menghancurkan nama orang lain dengan gosip, menghina orang lain, mengutuk, menghakimi dengan tidak adil? Kiranya kita dapat belajar dari Kristus, teladan kita.

Doa:
Kami bersyukur, ya Tuhan, sebab Tuhan kami adalah Tuhan yang mengampuni kami. Kami memerlukan pengampunan-Mu. Jangan biarkan kami menjadi sama seperti para ahli Taurat yang tidak juga datang menyambut pengampunan yang Tuhan tawarkan. Kami juga rindu setelah Tuhan mengampuni kami, kami menjadi saluran berkat-Mu yang membuka mulut dan berkata-kata untuk memberkati orang lain. (JP)