Renungan Harian 226 (Jumat, 12 April 2019)

Pemanggilan Matius

Devotion from :

Matius 9:9-13

Tindakan Kristus pada bagian ini begitu radikal. Ketika seorang ahli Taurat mau mengikut Dia, Dia berkata bahwa Dia tidak memiliki tempat untuk berteduh dan bernaung (Mat. 8:19-20). Tetapi ketika melewati seorang pemungut cukai, Yesus malah memanggil dia untuk mengikut Yesus. Ini benar-benar sesuatu yang sulit diterima. Seorang pemungut cukai memiliki posisi yang sangat rendah bagi masyarakat Yahudi pada waktu itu. Ajaran dari para rabi waktu itu mengatakan bahwa pemungut cukai merupakan orang yang cemar. Kerohanian mereka sama kotornya dengan kulit orang kusta. Mereka harus dihindari kalau berpapasan di jalan. Mengapa pemungut cukai begitu dibenci? Kemungkinan karena banyak dari mereka sangat senang mengambil untung sehingga memungut pajak lebih dari yang seharusnya. Mereka juga dianggap sebagai alat bangsa penjajah untuk menindas orang Israel. Mereka begitu kotor dan korup. Mereka memperkaya diri di tengah-tengah bangsa yang sedang mengalami kesulitan begitu besar dengan cara menyerap uang dari bangsa sendiri untuk diberikan kepada Kerajaan Romawi. Tentu wajar kalau orang Yahudi sangat membenci mereka. Mereka mendatangkan kebencian itu pada diri mereka sendiri. Jadi mereka adalah pendosa besar, perampok dengan jabatan, dan pengkhianat Israel. Apakah baik kalau Yesus Kristus mengangkat orang seperti ini di dalam kelompok-Nya? Tentu tidak. Orang ini adalah sampah yang mengeruk keuntungan di tengah-tengah kesulitan orang lain. Tetapi bagaimanakah Yesus menilai orang ini? Dia bukan saja tidak menghindari pemungut cukai ini, Dia bahkan mengundang orang ini untuk mengikut Dia.

Yesus Kristus datang untuk mengampuni dosa manusia. Dia datang untuk memberikan kelepasan atas dosa bagi orang-orang berdosa. Dia datang ke dalam dunia tetapi tidak dipengaruhi oleh dunia ini. Dia datang dan memberikan perubahan yang sangat penting bagi dunia ini, yaitu memanggil orang berdosa untuk bertobat dan kembali kepada Dia. Tetapi, pemanggilan orang berdosa ini hanyalah bagian dari hal besar yang sedang Dia kerjakan, yaitu memulihkan Kerajaan Surga di bumi ini. Dia melenyapkan penyakit dan dosa dari tengah-tengah umat-Nya. Dia membawa kembali umat Tuhan kepada damai sejahtera hidup bersama dengan Tuhan. Itulah sebabnya pemanggilan Matius ini berada di tengah-tengah narasi tentang mujizat kesembuhan yang Kristus sedang kerjakan. Dosa, seperti juga penyakit, akan dilenyapkan di dalam dunia ini ketika Allah menyatakan kerajaan-Nya. Kedatangan Kristus memberikan tanda bahwa dosa dan penyakit sedang dan akan ditaklukkan dan dihancurkan sama sekali. Mengapa Kristus harus melakukan ini? Karena Dia berbelaskasihan kepada umat-Nya yang terus dikurung oleh dosa dan segala kelemahan karena pemberontakan mereka kepada Tuhan. Tuhan mengasihani kita yang berdosa. Tuhan memilih untuk menunjukkan belas kasihan-Nya yang mempermalukan semua pemimpin agama dan orang-orang saleh, karena di tengah-tengah kesalehan dan wibawa agama mereka, ternyata mereka gagal berbelaskasihan. Mereka hanya tahu memelihara kelompok mereka sendiri dan merasa terganggu jika ada anggota kelompok lain bergabung dengan mereka. Tetapi Tuhan Yesus tidak hendak menggabungkan orang berdosa ini ke dalam kelompok “saleh” tersebut. Tuhan Yesus hendak memanggil orang berdosa ini dan membuang kelompok “saleh” tersebut! Siapa yang gagal mempelajari belas kasihan Allah tidak mungkin memiliki kerohanian yang sejati. Kerohanian palsu yang dianut oleh para pemimpin agama Yahudi tidak punya tempat untuk orang lain yang berbeda. Orang lain dari golongan rohani yang beda akan dianggap sebagai gangguan. Maka di dalam ayat 13 Tuhan memerintahkan mereka untuk belajar kembali dari Hosea 6:6. Siapa yang mengerti isi hati Tuhan yang penuh belas kasihan, dia pasti akan mengerti mengapa Tuhan Yesus memanggil orang berdosa seperti Matius dan menjadikan dia murid-Nya.

Untuk direnungkan:
Sekarang yang harus menjadi perhatian kita adalah apakah kita tengah membentuk kelompok eksklusif yang merasa nyaman dengan “sesama” kita di dalam pengertian yang sangat sempit? Bisakah kita bergaul dengan orang berdosa tanpa terseret oleh dia? Ataukah kita lebih senang berada di dalam kelompok kita yang nyaman, di mana semua orang ada pada level rohani yang sama? Ini bukan kelompok yang Tuhan mau! Tuhan akan bubarkan kelompok ekslusif seperti ini, menyuruh mereka pergi dan belajar lagi dari Hosea 6:6 (Mat. 9:13). Biarlah kita memiliki hati yang penuh belas kasihan seperti Tuhan Yesus. Apakah yang diperlukan untuk meneladani Dia di dalam hal ini?

Yang pertama adalah Tuhan Yesus memanggil orang berdosa untuk mengikut Dia. Bukan sebaliknya! Gereja memanggil orang berdosa untuk mengikuti Tuhan Yesus. Kita memanggil orang berdosa untuk menjadi pengikut kita yang mengikut Tuhan Yesus (1Kor. 11:1). Gereja tidak boleh menjadi pengikut dunia. Gereja mengikuti kepala-Nya, yaitu Kristus. Bolehkah gereja mengubah diri menjadi sama dengan dunia? Tidak! Tuhan Yesus tidak mengadopsi cara-cara yang berdosa, tetapi Dia memanggil orang berdosa untuk mengikut Dia. Dia memberikan perubahan dan itu hanya dapat terjadi jika Dia memiliki identitas yang jelas dan posisi yang benar dan kudus.

Yang kedua adalah Tuhan Yesus, dengan kekudusan dan kebenaran yang mutlak, sekarang rela berelasi dengan orang berdosa dengan begitu dekat. Dia bahkan makan bersama-sama dengan Matius. Ini adalah hal yang sangat dihindari oleh orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka tidak mau dianggap bersekutu dengan orang-orang berdosa. Mereka menafsirkan Mazmur 1:1 dengan cara yang salah. Jika Mazmur 1:1 berbicara tentang pengaruh dan cara hidup, mereka menafsirkan ayat itu sebagai larangan untuk bergaul dengan orang berdosa. Paulus mengatakan bahwa itu adalah hal yang mustahil (1Kor. 5:10). Kita tidak diperintahkan untuk memboikot dunia ini. Kita diperintahkan untuk tidak mengikut cara dunia. Tidak mengikut cara dunia, tetapi terjun ke dalam dunia dan bergaul dengan orang-orang di dunia ini. Itulah yang dilakukan Yesus.

Yang ketiga adalah Tuhan Yesus memosisikan diri-Nya sebagai tabib atau dokter dan memosisikan orang berdosa sebagai orang sakit. Dia tidak memosisikan orang berdosa sebagai kaum reprobat yang tidak mungkin bisa diselamatkan. Dia tidak mengutuk mereka dan membuang mereka walaupun Dia berhak melakukan itu. Sebaliknya, Dia memanggil kembali mereka dengan tujuan mengobati penyakit mereka dan memberikan kesembuhan kepada mereka. Jangan sombong! Kadang kita lebih ketat dari Tuhan Yesus di dalam memperlakukan orang lain yang masih di dalam dosa. Kadang kita jauh lebih ketat dan tidak sabar kepada orang lain yang belum dewasa secara rohani. Tuhan Yesus jauh lebih menerima, sabar, dan menanti daripada orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Sayangnya sering kali kita mengambil posisi para Farisi dan ahli Taurat di dalam menilai orang-orang lain yang belum dewasa. Kita menghakimi mereka, memberikan label cemar, menghindari mereka, dan tidak mau berurusan dengan mereka. Celakalah dokter yang punya banyak pengetahuan kesehatan tetapi menghindari orang sakit. Celakalah orang rohani yang mengenal Tuhan lebih dari yang lain tetapi menghindari orang berdosa. Celakalah orang yang nyaman di dalam kelompok kecilnya dan menghakimi semua orang lain tanpa mau bergaul dan terlibat di dalam kehidupan orang berdosa.

Doa:
Ampuni kami, ya Tuhan. Kami hanyalah kaum Farisi munafik yang menganggap diri suci. Engkau sajalah yang kudus. Engkau sajalah yang benar. Engkau sajalah yang layak diagungkan. Tetapi Engkau rela datang ke dalam dunia dan makan bersama-sama dengan orang berdosa. Kami begitu picik dan sombong. Kami sibuk menghindari mereka padahal Tuhan kami sibuk menjangkau mereka. Ampuni kami, ya Tuhan. (JP)