Renungan Harian 227 (Sabtu, 13 April 2019)

Sukacita Sahabat Mempelai

Devotion from :

Matius 9:14-17

Bacaan kita hari ini membahas tuduhan halus dari para pengikut Yohanes Pembaptis kepada Tuhan Yesus. Mereka menganggap Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya kurang menyangkal diri. Mereka tidak berpuasa. Benarkah Tuhan Yesus tidak berpuasa? Craig Keener di dalam tafsiran sosio-rhetoriknya mengatakan bahwa Tuhan Yesus tidak mau membanggakan 40 hari berpuasa yang pernah Dia lakukan. Dia tidak mau hal yang dilihat oleh Bapa di surga menjadi pameran bagi orang-orang di dunia (Mat. 6:17-18). Manusia tidak perlu tahu pengorbanan kita bagi Allah dan kegiatan kita di dalam beribadah kepada-Nya. Hanya Dia saja yang perlu tahu dan itu sudah cukup. Maka Tuhan Yesus lebih suka memberikan jawaban yang mendidik secara theologis daripada memberikan jawaban dan membela diri dan murid-murid-Nya. Dia mengajarkan konsep berpuasa yang benar. Murid-murid Yohanes berpuasa tetapi sebenarnya mereka tidak tahu mengapa Yohanes mengajarkan mereka untuk berpuasa. Yohanes sendiri berpuasa karena menantikan pemulihan yang akan Allah lakukan melalui Sang Mesias bagi kerajaan Israel. Yohanes mengharapkan pemulihan bagi umat Tuhan demi kemuliaan Allah. Maka dengan demikian puasa adalah bentuk doa dan harapan di tengah-tengah dukacita yang besar. Tidak ada orang yang dewasa secara rohani akan berpuasa tanpa merasa dukacita yang besar. Orang yang berpuasa karena rutinitas atau karena mengikuti kebiasaan, orang itu masih begitu kerdil di dalam kerohanian mereka. Jika hati seseorang merasa dukacita, bagaimana mungkin mereka bersenang-senang dan makan minum? Sebaliknya jika hati seseorang merasa penuh sukacita, bagaimana mungkin mereka murung dan tidak makan atau minum?

Murid-murid Yohanes berpuasa karena mereka berdukacita atas keadaan Israel. Mereka juga berpuasa karena mereka merindukan Sang Mesias yang akan Tuhan kirimkan. Tetapi kedatangan Sang Mesias akan mengubah dukacita mereka menjadi sukacita. Tuhan Yesus menggambarkan kedatangan-Nya sebagai suatu pesta pernikahan yang dirayakan oleh sang pengantin bersama dengan sahabat-sahabat-Nya. Siapakah di antara sahabat-sahabat sang pengantin yang berdukacita di dalam pesta itu? Pasti tidak ada. Pernikahan itu akan menjadi suatu kesempatan bersukacita bersama. Pesta pernikahan tidak mungkin menjadi pertemuan murung di mana semua orang meratap dan menangis mengharapkan adanya perbaikan keadaan. Jika murid-murid Yohanes tekun berpuasa di dalam pengertian yang benar, maka sebenarnya pada momen Yohanes Pembaptis memperkenalkan Tuhan Yesus, puasa mereka seharusnya berhenti dan diganti dengan sukacita yang sejati. Sukacita karena mereka sekarang tidak perlu menanti-nanti lagi. Kristus sudah datang. Sekarang waktunya bersyukur kepada Allah yang sudah menjawab doa-doa mereka.

Tetapi ternyata pengikut Yohanes Pembaptis pun bisa salah dan jatuh ke dalam kepicikan. Semua pengikut Yohanes Pembaptis yang tetap mengikut Yohanes Pembaptis dan tidak datang kepada Yesus dan menjadi pengikut Dia adalah orang-orang yang tidak mengerti tujuan Yohanes Pembaptis mengajar mereka. Apalagi kalau mereka merasa Yesus Kristus adalah saingan guru mereka. Yohanes sendiri tidak pernah menganggap Yesus saingannya. Dia menganggap dirinya hanyalah pembuka jalan bagi Yesus. Bahkan dia menganggap dirinya harus semakin kecil sedangkan Yesus harus semakin besar (Yoh. 3:29).

Untuk direnungkan:
Untuk hari ini kita akan renungkan kalimat kesimpulan yang Yesus ajarkan di dalam ayat 16 dan 17. Apakah maksudnya kain lama dan kain baru, juga anggur baru dan kantong kulit tua? Kain yang sudah tua dan kantong anggur yang telah lama akan mudah sobek. Orang yang terus mempertahankan tradisi menantikan janji Allah, tetapi gagal melihat Kristus sebagai penggenapan dari janji itu, akan seperti kain lama atau kantong anggur yang sudah lapuk. Dia tidak sanggup menahan kain yang baru atau anggur yang baru, dan karena itu baik kain lama, maupun kantong anggur yang lama, beserta dengan kain yang baru dan anggur yang baru akan terbuang. Tuhan Yesus sedang mengatakan bahwa pemahaman tradisional yang kaku akan gagal melihat dinamika pekerjaan Tuhan dan membuat pernyataan Tuhan menjadi konflik dengan pemahaman tradisi itu. Pemahaman tradisional harus selalu diterapkan di dalam konteks pimpinan saat ini dari Roh Kudus. Apa yang Tuhan sedang nyatakan, itulah yang harus diakomodasi oleh pemahaman tradisional kita. Jika apa yang Tuhan sedang kerjakan berkonflik dengan tradisi, maka tradisi kita adalah kain usang atau tempat anggur yang lapuk.

Lalu bagaimana kita mengetahui bahwa pemahaman kita bukanlah pemahaman tradisional yang kaku? Hal yang paling penting adalah kita harus tahu dulu mana yang esensial dan tidak boleh berubah dan mana yang tidak. Kesalahan kaum tradisionalis adalah membakukan apa yang tidak mutlak, sedangkan kesalahan budaya pop kita adalah membuang apa yang mutlak. Membuang apa yang mutlak bukanlah sesuatu yang dinamis dan peka terhadap pimpinan terkini dari Roh Kudus. Roh Kudus tidak akan membuang apa yang utama. Menerima Alkitab sebagai firman Allah, melakukan ibadah dengan cara yang penuh hormat dan teratur, mengenal dengan tepat apa yang dimaksud dengan Injil Kristus, memahami doktrin Alkitab yang konsisten, semua ini tidak boleh diubah. Semua ini bukanlah tradisi sekelompok manusia di dalam zaman tertentu. Semua ini adalah kebenaran kekal yang mutlak dan harus dikejar oleh umat Tuhan sampai kapan pun. Tetapi kebenaran kekal ini pun harus berfokus kepada Yesus Kristus. Kebenaran Tuhan di dalam Perjanjian Lama mengarahkan umat Tuhan untuk menantikan kedatangan pertama Kristus. Kebenaran Tuhan di dalam Perjanjian Baru mengarahkan umat Tuhan untuk menaati Kristus dan menantikan kedatangan kedua Kristus. Semua hal yang gagal mengaitkan kita untuk menaati Kristus, beriman kepada Dia dan menantikan Dia dengan penuh kerinduan, adalah hal-hal yang bersifat tradisi dan kaku. Kegagalan untuk memandang kepada Kristus membuat semua hal yang kita kerjakan menjadi tidak berarah dan tidak berarti. Kita akan menjadi orang yang tradisionalis dan kaku jika kita mengerjakan apa pun dengan tidak mengetahui apa gunanya pekerjaan itu bagi kemuliaan Kristus. Tetapi kita juga bisa menjadi pembaru yang mendobrak kebiasaan dan tradisi, hanya untuk membangun kebiasaan dan tradisi baru yang juga kosong dan sama matinya dengan yang lama. Yohanes Pembaptis adalah pendobrak yang luar biasa. Dia membangun komunitasnya di padang gurun. Dia keturunan imam yang sangat tidak bersifat imam pada umumnya. Dia merombak tradisi dan membuat sesuatu yang baru karena dia melakukannya di dalam waktu Tuhan dan di dalam pimpinan-Nya. Tetapi pengikut-pengikutnya membuat dobrakannya kembali kaku, tradisionalis, dan mati. Mereka sama kakunya dengan orang-orang Farisi (ay. 14) dan gagal mengakomodasi dinamika pekerjaan Tuhan di dalam Kristus.

Inilah yang Tuhan katakan sebagai jawaban dari kehidupan beragama pengikut Yohanes Pembaptis. Bagaimana dengan kehidupan beragama kita? Apakah kita menjalankan kehidupan beragama kita untuk dengan setia mengerjakan apa yang Tuhan sedang kerjakan pada zaman kita ini? Carilah pimpinan Tuhan. Apakah yang zaman ini perlukan? Apakah yang Tuhan sedang kerjakan? Adakah wadahnya? Ataukah “wadah” tempat saya berada hanyalah “wadah” yang mengerjakan semua rutinitas ibadah tetapi tidak pernah sadar Tuhan mau kerjakan apa. Apa gunanya berpuasa? Apa gunanya mempelajari doktrin yang benar? Bahkan hidup saleh pun tidak berguna jika kita tidak hidup untuk dipakai Tuhan melakukan pekerjaan yang Dia sedang lakukan di dalam sejarah. Kita membina kerohanian kita hingga level tertinggi, tetapi sebenarnya kita hanyalah orang Kristen yang berputar-putar di dalam tradisi yang mati.

Doa:
Tuhan, pimpin kami untuk menyadari dengan peka waktu-Mu. Tolong kami supaya kami berlari mengejar-Mu yang sedang mengerjakan sesuatu di dalam zaman ini. Jauhkan kami dari kebanggaan diri membangun sesuatu yang didorong oleh ambisi liar kami. Tolong kami untuk tahu apa yang Tuhan sedang kerjakan dan biarlah kami boleh berbagian di dalamnya. (JP)