Renungan Harian 228 (Minggu, 14 April 2019)

Dua Mujizat Yesus

Devotion from:

Matius 9:18-26

Bacaan hari ini memberikan pengajaran yang sangat penting, yaitu iman harus berkait dengan belas kasihan Tuhan. Tuhan memberikan belas kasihan lebih dulu, barulah iman kita memiliki arti. Ayat 18 mengisahkan tentang seorang kepala rumah ibadat yang datang menemui Yesus karena anaknya sakit, walaupun tidak ada harapan lagi anak itu dapat sembuh. Markus dan Lukas mengatakan bahwa anak kepala rumah ibadat itu sakit, tetapi Matius mengatakan bahwa anak itu sudah mati (Mrk. 5:23, Luk. 8:42, Mat. 9:18). Matius ingin menekankan bahwa keadaan anak itu sudah tidak tertolong lagi. Kepala rumah ibadat itu tahu keadaan ini, maka Matius menekankan bahwa yang dia harapkan bukan lagi mujizat kesembuhan, tetapi mujizat kebangkitan dari maut. Dia berharap sama seperti mujizat yang pernah dilakukan oleh Elia dan Elisa, kembali dilakukan oleh Yesus. Ayat 19 mengatakan bahwa Yesus segera bangkit dan pergi untuk membangkitkan anak kepala rumah ibadat itu. Tuhan Yesus membenarkan iman kepala rumah ibadat itu. Dia memang sanggup membangkitkan orang mati. Tetapi kesanggupan-nya itu bukanlah untuk dipamerkan. Juga bukan untuk mengalahkan maut secara sempurna. Dia tidak membangkitkan semua orang mati pada waktu itu. Orang yang dibangkitkan oleh-Nya juga tidak hidup selama-lamanya karena mereka akhirnya mati kembali. Tetapi peristiwa bangkitnya orang-orang mati melalui pekerjaan Yesus Kristus menunjukkan bahwa Kerajaan Allah akan datang dan menaklukkan maut melalui Kristus. Yesus Kristus akan menghancurkan kuasa maut secara sempurna pada kedatangan-Nya yang kedua kali kelak. Dia akan menaklukkan kematian secara total pada saat itu.

Tetapi sebelum waktu itu tiba, Yesus telah memberikan sedikit tanda-tanda mengenai apa yang akan terjadi nanti. Orang sakit disembuhkan, orang kusta ditahirkan, orang kerasukan dipulihkan, orang berdosa diampuni dosanya, dan orang mati dibangkitkan. Ini merupakan mujizat-mujizat yang dilakukan karena dua hal. Yang pertama adalah sebagai tanda otoritas Kristus atas segala hal, termasuk penyakit dan kuasa jahat, bahkan maut sekalipun. Tanda berarti belum dilakukan secara sempurna. Tetapi tanda ini memberikan cicipan tentang apa yang akan dilakukan-Nya nanti. Yang kedua adalah karena belas kasihan-Nya. Dia berbelas kasihan kepada manusia. Dia mengasihani manusia. Dia tergerak oleh belas kasihan melihat keadaan umat-Nya yang begitu sengsara dan jauh dari damai sejahtera yang sejati. Belas kasihan inilah yang membuatnya mengerjakan mujizat dan tanda-tanda ajaib. Dia melakukannya karena orang lain, bukan demi diri sendiri. Dia melakukannya karena belas kasihan, bukan karena mau pamer.

Ayat 20-21 mengatakan bahwa di tengah jalan ada seorang perempuan yang telah 12 tahun sakit pendarahan menjamah baju Yesus. Di dalam keadaan tidak tertolong dia mengharapkan mujizat dari Yesus tanpa mengganggu Dia. Ini adalah iman yang sangat besar. Iman bukanlah keyakinan kepada diri sendiri. Iman adalah keyakinan akan kuasa dan topangan Tuhan yang Dia berikan karena belas kasihan-Nya. Di dalam Imamat 15:19 dan 25 dikatakan bahwa perempuan yang mengeluarkan darah harus dianggap najis. Tetapi perempuan ini memberanikan diri untuk meraba jubah Yesus. Dia tidak berani meminta, apalagi memegang Tuhan Yesus karena larangan di dalam Imamat itu. Itulah sebabnya dia hanya berani menyentuh ujung jubah Yesus saja (Luk. 8:44). Perasaan tidak layak digabung dengan iman kepada Yesus disertai dengan perasaan terdesak karena penyakit membuat perempuan ini menyentuh jubah Yesus. Ayat 22 mengatakan bahwa Yesus menghargai usaha perempuan ini. Dia mengatakan bahwa iman perempuan itu telah menyelamatkan dia.

Tetapi kisah mengenai perempuan yang sakit pendarahan itu bukanlah bagian utama dari narasi ini. Bagian utama adalah ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat. Ketika itu orang-orang berdukacita dan memainkan lagu-lagu kedukaan. Tetapi Tuhan Yesus menyuruh mereka pergi. Tuhan mengatakan bahwa anak perempuan itu hanya tidur, bukan mati. Setelah memegang tangan anak itu, bangkitlah dia. Perhatikan betapa besar kuasa Tuhan Yesus. Dia menyentuh tangan anak perempuan itu dan anak itu bangkit dari kematian. Seorang perempuan menyentuh jubah-Nya, dan perempuan itu sembuh. Dua kisah kuasa mujizat yang sangat besar ini memberikan dampak tersebarnya nama Yesus di seluruh daerah itu. Dia menyembuhkan penyakit dan membangkitkan orang mati dengan kuasa yang begitu besar, sehingga tindakan-Nya yang tenang dan penuh belas kasihan itu sanggup mengusir semua kelemahan manusia berdosa.

Untuk direnungkan:
Yesus Kristus adalah Raja yang akan membawa hidup baru di dunia ini. Dia akan memperbarui umat Tuhan. Dia menebus mereka dari lubang kubur dan suatu saat nanti akan membawa perubahan sejati. Mujizat Tuhan Yesus tetap terjadi saat ini, tetapi tidak mungkin bisa dibandingkan dengan pemulihan yang akan Dia kerjakan nanti. Sekarang Dia ada di sebelah kanan Allah dan akan datang suatu saat nanti. Kedatangan-Nya yang kedua ini akan memulihkan dengan sempurna segala sesuatu. Penyakit, kecemaran, dosa, hingga kematian akan ditaklukkan oleh-Nya. Kuasa Yesus ketika menyembuhkan, atau mengusir setan, atau mujizat lainnya, tidak pernah dilakukan dengan doa dan permohonan kepada Allah Bapa. Dia memiliki kuasa itu dalam diri-Nya sendiri karena, sama seperti Bapa di surga, Dia juga adalah Allah. Dialah Anak Allah, Pribadi kedua Tritunggal. Dia memiliki segala otoritas ilahi, juga ketika Dia berada di dalam dunia ini. Maka semua mujizat yang Dia lakukan adalah mujizat sebagai Yang Berkuasa. Bukan seperti ketika nabi-nabi melakukan mujizat. Elia berdoa, sujud ke tanah supaya hujan datang (1Raj. 18:42). Dia juga berdoa beberapa kali supaya Tuhan membangkitkan anak seorang janda (1Raj. 17:21). Juga Elisa, ketika membangkitkan seorang anak, berdoa berkali-kali dan meniarap ke tubuh anak itu sebelum Tuhan membangkitkan anak itu (2Raj. 4:32-35). Tetapi Tuhan Yesus memegang tangan anak yang telah mati, membangunkan dia dengan lembut seolah-olah dia hanya tertidur biasa. Segala kuasa yang Dia miliki dinyatakan di dalam pernyataan kasih yang lembut.

Seberapa pun agung dan besarnya mujizat-mujizat ini, semua itu hanyalah gambaran singkat yang kecil mengenai pemulihan yang akan Dia lakukan di bumi ini nanti. Itulah sebabnya, meskipun Dia sanggup melakukan mujizat kapan pun dan di mana pun, Dia hanya melakukannya beberapa kali. Tidak seimbang dengan kebutuhan yang ada. Jika Dia hanyalah sebagai penyembuh saja, maka Dia gagal mengerjakan tugas-Nya karena begitu banyak orang lain yang sakit tetapi Dia tidak sembuhkan. Begitu banyak anak-anak yang terkena penyakit akhirnya mati, tetapi Dia tidak membangkitkan mereka. Tuhan Yesus akan memulihkan semua ketika kedatangan-Nya yang kedua kali. Tetapi kedatangan-Nya yang pertama mempunyai tujuan utama untuk melaksanakan kehendak Bapa agar Dia mati menebus dosa manusia. Jika Dia menyembuhkan begitu banyak orang pada waktu itu, bisakah Dia melakukannya sekarang? Tentu bisa. Tetapi Dia tidak memiliki kewajiban untuk melakukannya setiap kali kita menuntutnya. Biarlah segala mujizat yang Dia kerjakan menjadi tanda dan jaminan bagi kita semua bahwa Dia akan memperbaiki segala kerusakan di dalam bumi ini. Dosa manusia telah membuat kehidupan manusia begitu sulit dan penuh penderitaan. Tetapi kerelaan-Nya untuk menanggung segala derita ini dan membebaskan kita dari semua penyakit dan kelemahan akan menjadi nyata ketika Dia datang sebagai Raja. Segala mujizat-Nya adalah bukti bahwa Dia akan menang dan membawa damai sempurna.

Doa:
Tuhan, tolong kami untuk beriman kepada kuasa-Mu dan juga waktu-Mu. Jangan biarkan kami menjadi orang yang hanya beriman pada kuasa-Mu saja, tetapi menuntut agar waktu kami yang terjadi. Jika kami sakit, biarlah kami sabar menantikan pemulihan yang dari Tuhan. Bahkan meskipun pemulihan itu tidak terjadi di dalam kehidupan kami ini, biarlah kami beriman dan sabar menanti, karena kami percaya bahwa di dalam kedatangan-Mu yang kedua Engkau akan memperbaiki semuanya. (JP)