Renungan Harian 229 (Senin, 15 April 2019)

Belas Kasihan Yesus dan Tantangan Orang Farisi

Devotion from:

Matius 9:27-38

Bacaan hari ini memberikan pola yang makin jelas dari cara menulis Matius. Jika dalam bagian sebelumnya dia mengumpulkan ajaran Yesus di bukit dan menutupnya dengan perkataan bahwa Yesus mengajar seperti seorang yang berkuasa, maka pada bagian ini dia mengumpulkan peristiwa-peristiwa mujizat yang Yesus lakukan dan menutupnya dengan mengatakan bahwa karena belas kasihanlah Yesus melakukan semua mujizat itu. Mendekati akhir bagian ini Matius menuliskan dua peristiwa mujizat yang dilakukan oleh Yesus. Yang pertama adalah Yesus menyembuhkan mata dua orang buta. Dua orang ini berseru memohon belas kasihan Yesus dengan memanggil Dia dengan sebutan Anak Daud. Mereka memanggil nama Anak Daud untuk menyatakan bahwa mereka percaya bahwa Dialah Sang Mesias yang tengah dinantikan oleh orang Israel. Panggilan ini tentulah membuat orang-orang Farisi makin iri hati. Mereka menganggap bahwa Dia adalah penipu, tetapi mereka tidak bisa membuktikan bahwa Dia berdusta. Mereka tidak sanggup mendebat Dia karena Dia memang mengatakan kebenaran (Luk. 20:40). Semua ini membuat mereka makin membenci Yesus. Seruan mereka memanggil Yesus sebagai “Anak Daud” ini keluar dari iman orang buta itu dan mereka dengan yakin mengakui bahwa Dialah Sang Raja Israel. Seruan permohonan mereka didengar oleh Yesus dan Yesus pun menyembuhkan mereka. Iman mereka kepada Anak Daud begitu besar. Mereka percaya Anak Daud bukan hanya merestorasi kebenaran Allah di dalam politik saja. Mereka percaya Anak Daud akan merestorasi seluruh ciptaan ini sehingga kembali tunduk kepada Allah. Mereka percaya bahwa Kerajaan Allah mencakup pemulihan dari segala dosa dan juga penyakit. Segala penyelewengan pikiran dan juga kelemahan fisik. Ini merupakan iman yang sangat besar dan akurat tentang Tuhan Yesus. Iman yang jauh melampaui iman para ahli agama dan pemimpin agama Yahudi.

Setelah itu peristiwa yang menyusul adalah Yesus mengusir setan dari seorang bisu. Yesus menyembuhkan bisunya itu dengan mengusir setan yang merasuki dia, dan langsung dituduh sebagai setan oleh orang Farisi. Mereka menganggap Yesus memperoleh kekuatan dari pemimpin setan untuk mengusir setan yang lebih lemah. Tuduhan rusak dari orang-orang yang sudah tidak tahu lagi bagaimana mengekspresikan kebencian dan iri hati mereka. Tetapi mujizat-mujizat yang dikerjakan Yesus membuat mereka tidak sanggup menentang Dia. Bukti perkataan dan perbuatan telah mereka lihat sendiri dan mereka tidak sanggup membantahnya. Jika khotbah di bukit menunjukkan hikmat dan kuasa Yesus di dalam perkataan, maka pada bagian catatan mujizat-mujizat ini Yesus menunjukkan belas kasihan dan kuasa-Nya dalam perbuatan. Dia berkuasa di dalam perkataan dan perbuatan (Luk. 24:19). Dia berkuasa di dalam ajaran dan di dalam hidup-Nya. Kuasa Tuhan dinyatakan melalui firman dan melalui tanda-tanda ajaib yang menyertai Dia. Tidak ada yang dapat menyanggah lagi bahwa apa yang Yesus lakukan melampaui semua orang yang pernah dipakai Tuhan sebelumnya. Tidak ada orang lebih besar dari Yesus di dalam perkataan maupun perbuatan. Musa tidak! Yosua tidak! Yesaya tidak! Daniel tidak! Tidak seorang pun! Kita baru masuk di dalam awal pembahasan Injil Matius dan apa yang Yesus kerjakan sudah melampaui semua tokoh di dalam Perjanjian Lama. Tetapi orang-orang buta, pemungut cukai, orang yang pernah kerasukan, semua orang yang dianggap rendah itulah yang menyadari hal ini. Sementara para pemimpin agama dan para ahli Taurat dan Farisi mencemooh, meremehkan, menghina, bahkan menghujat Dia. Perbedaan antara Israel sejati, yaitu orang-orang buangan yang mendapatkan belas kasihan Tuhan, dengan Israel palsu, yaitu orang-orang sombong yang menolak Yesus, semakin besar.

Untuk direnungkan:
Ayat 35-38 mengajarkan kepada kita betapa besar Yesus mengasihi kita. Matius mengatakan bahwa Tuhan Yesus tergerak oleh belas kasihan. Dia berkhotbah, menyembuhkan orang, mengusir setan, menguatkan orang lemah, dan memanggil pendosa untuk bertobat dan mengikut Dia, semua ini dilakukan Tuhan Yesus karena hati-Nya digerakkan oleh belas kasihan. Dia mudah merasakan belas kasihan. Tindakan-Nya yang didorong oleh belas kasihan ini jugalah yang membuat Dia mendorong para murid untuk berdoa meminta pekerja bagi penuaian ini. Ini hal yang sangat menyedihkan. Mengapa menyedihkan? Sebab yang melayani karena digerakkan oleh belas kasihan terlalu sedikit. Bagian ini tidak berbicara tentang kurangnya tenaga kerja atau jumlah pelayan. Bagian ini menceritakan bahwa hampir semua pelayan tidak melihat apa yang Tuhan Yesus lihat. Semua pemimpin agama tidak punya belas kasihan yang seharusnya mereka miliki. Apakah jumlah hamba Tuhan kurang? Tidak. Apakah jumlah yang dilayani terlalu besar sehingga kekurangan orang? Apakah sejak dulu sampai sekarang yang menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan begitu sedikit? Tidak! Tetapi sebagian besar orang yang katanya adalah hamba Tuhan dan pelayan-Nya, ternyata tidak tergerak oleh belas kasihan. Melihat dunia berdosa mereka tidak tergerak. Melihat orang-orang yang menolak Tuhan dan melawan Tuhan pun mereka tidak tergerak, asal diriku aman, asal keluargaku baik, asal orang-orang terdekatku sejahtera. Tidak ada yang menangisi orang-orang lain yang menderita ketidakadilan. Tidak ada yang menangisi orang-orang lain yang terus melawan Tuhan dan tidak mau percaya kepada Dia. Tuhan Yesus berbelaskasihan, tetapi apakah pemimpin-pemimpin lain berbelaskasihan? Tidak. Mereka bukan gembala. Mereka pemimpin politik yang hanya melihat untung rugi politik saja. Kalau pengikutku berkurang karena direbut Yesus, maka Yesus harus disingkirkan. Ini saja yang mereka pedulikan!

Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya berdoa karena tidak ada gembala. Apakah beban berat yang dirasakan Yesus ini juga dirasakan para murid? Atau mereka hanya menangkap perintah, “berdoalah…” lalu mereka segera berdoa tanpa memiliki beban hati yang sama? Jika hanya berdoa tanpa beban hati yang sama dengan Yesus, maka doa itu akan menjadi doa munafik yang hanya bagus dari kata-kata saja, tetapi bukan sesuatu yang keluar dari dalam hati. Apakah kita juga menyadari krisis yang hingga kini terjadi? Sadarkah kita kalau dunia ini kekurangan gembala? Pemerintah tidak berjiwa gembala. Mereka berjiwa entah tangan besi yang keras menekan rakyat, atau berjiwa korup yang hanya mempertebal rekening bank sendiri dan memperkaya keluarga sendiri. Guru-guru tidak berjiwa gembala. Mereka hanyalah orang-orang upahan yang hidupnya terhimpit kesulitan ekonomi, dan andai kata ada kesempatan untuk lari dan menemukan pekerjaan yang lebih baik, mereka akan tinggalkan murid-muridnya. Para hamba Tuhan tidak melayani domba Tuhan. Mereka entah hanya menyukai perdebatan theologi dan memperkaya kemampuan retorika untuk menunjukkan betapa bodohnya orang lain dan betapa hebatnya mereka, atau mereka hanyalah orang upahan yang terpaksa melakukan semua pelayanan rutin itu sebagai tugas yang membebani hidup mereka. Yang lebih celaka lagi jikalau mereka hanyalah orang yang mau pengakuan, pengaruh, nama, dan kerajaan kecil sehingga giat melayani dan memengaruhi domba-domba Tuhan demi popularitas dan pengakuan manusia. Celakalah hamba-hamba Tuhan yang seperti itu! Tetapi di manakah orang-orang yang berbelaskasihan? Yang menangis bersama-sama dengan kehancuran umat Tuhan? Yang mati-matian bekerja untuk mengembalikan domba-domba Tuhan kepada Sang Gembala Sejati, yaitu Tuhan sendiri? Kiranya kita semua boleh memiliki hati gembala seperti Yesus sebelum kita mulai berlutut dan berdoa kepada Tuhan meminta Tuhan mengirimkan para pekerja.

Doa:
Tuhan, di manakah belas kasihan kami? Ampuni kami jika kami tidak memilikinya. Ampuni dan perbaiki hati kami, ya Tuhan. Kami mempersembahkan hati kami sebagai persembahan cemar yang penuh dengan kotoran, karena kami tahu Tuhan akan menerimanya dan membersihkannya. Mampukan kami untuk merasa seperti Yesus merasa. Latih hati kami untuk mudah berbelaskasihan, ya Tuhan. (JP)