Renungan Harian 230 (Selasa, 16 April 2019)

Pengutusan Para Rasul

Devotion from: Matius 10:1-15

Dalam bacaan kita hari ini Tuhan Yesus mulai mengutus para pekerja untuk tuaian. Tuhan memilih 12 rasul dan mengutus mereka untuk melakukan hal-hal yang Dia sendiri telah lakukan. Inilah pengutusan yang benar. Yang mengutus sudah melakukan hal-hal yang diharapkan dilakukan oleh mereka yang diutus. Mereka memberitakan firman tentang Kerajaan Surga, menegur dosa, memerintahkan orang-orang untuk bertobat karena Kerajaan Surga sudah dekat, dan juga melakukan tanda-tanda mujizat menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan mengusir setan. Tanda-tanda ini telah mulai dilakukan oleh para rasul sejak pengutusan ini dan mereka terus melakukannya hingga di dalam Kitab Kisah Rasul. Mereka telah mendapatkan anugerah pelayanan Yesus Kristus kepada mereka, maka sekarang mereka harus pergi melayani. Tuhan telah lebih dulu melayani kita (Mat. 20:28), dan karena itu kita harus melayani orang lain. Ayat 2-4 mencatat nama-nama yang dipanggil Yesus sebagai murid-Nya. Salah satu yang termasuk di dalamnya adalah Yudas Iskariot. Apakah Tuhan Yesus tidak tahu kalau Yudas akan mengkhianati Dia? Mengapa Dia memasukkan nama ini? Kita tidak tahu. Tuhan Yesus memberikan tempat istimewa kepada Yudas. Tuhan Yesus memberikan kepadanya hak istimewa boleh bergabung di dalam kelompok inti dari Yesus Kristus. Tuhan Yesus juga memberikan kuasa pelayanan kepada dia sehingga dia bisa melakukan semua tanda-tanda mujizat itu juga. Betapa besar anugerah yang Tuhan berikan kepada dia sehingga dia boleh menjadi begitu istimewa. Yudas menjadi lambang untuk peringatan bagi kita. Kita yang juga menerima kebaikan Tuhan, bahkan diangkat untuk mempunyai kedudukan yang istimewa, akankah kita setia kepada Tuhan? Tuhan memelihara dan memberikan kedudukan penuh hormat kepada kita. Apakah kita akan menjadi murid berikutnya yang mengkhianati Tuhan Yesus dengan meremehkan semua kepercayaan yang Tuhan sudah berikan? Semoga Tuhan menjaga dan menjauhkan kita dari hati yang tidak memandang kepada Yesus.

Ayat 5-15 menuliskan janji Tuhan Yesus untuk menyertai setiap orang yang mau pergi atas nama-Nya. Jika kita menyerahkan diri untuk melayani Dia, maka biarlah Dia yang mengatur ke mana kita harus melangkah. Para murid ini diutus untuk menjadi rasul, yaitu orang-orang yang mewakili Dia yang telah mengutus mereka dengan otoritas penuh. Seorang utusan tidak tentu memiliki otoritas yang sama. Tetapi para rasul ini memiliki otoritas tersebut. Ketika mereka berbicara seolah-olah Tuhan Yesus sendiri yang berbicara. Itulah sebabnya selain berbicara atas nama Tuhan Yesus, mereka juga punya kemampuan untuk melakukan tanda-tanda mujizat sama seperti Tuhan Yesus. Alangkah besarnya kehormatan yang mereka terima untuk pekerjaan ini! Bayangkan, Yudas Iskariot termasuk yang Tuhan Yesus angkat dengan kehormatan yang sangat besar ini. Tidak seorang pun dari mereka adalah ahli Taurat. Tidak seorang pun dari mereka adalah imam atau pengajar Taurat. Tidak seorang pun dari mereka adalah kaum cendekiawan. Mereka adalah kumpulan nelayan yang tidak terdidik, tetapi mereka mewakili Sang Hikmat yang menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus.

Ayat 9-12 mengatakan bahwa Tuhan Yesus mengutus mereka untuk pergi ke kota-kota atau desa-desa di Israel tanpa mempersiapkan persediaan. Mereka harus belajar melihat penyertaan Allah yang mencukupkan dan memimpin mereka. Ini adalah sesuatu yang Tuhan Yesus lakukan untuk melatih mereka. Ini tidak berarti bahwa setiap kali mereka akan melayani, mulai saat ini sampai seterusnya, mereka tidak boleh membawa persiapan. Tentu tidak! Lukas 22:35-36 mengatakan bahwa Tuhan Yesus meminta mereka mempersiapkan persediaan. Tetapi, jika suatu saat dalam pelayanan mereka, ternyata mereka harus berangkat tanpa bekal dan persediaan, mereka sudah pernah mengalami penyertaan Tuhan yang agung dan mencukupkan segala kebutuhan mereka. Kali ini mereka tidak usah membawa perbekalan dan persediaan apa pun. Tetapi jika setiap kali mereka tidak mempersiapkan apa pun, maka itu adalah tindakan sembrono yang tidak bertanggung jawab.

Ayat 11-15 menunjukkan bahwa siapa pun yang menerima mereka menerima Yesus Kristus. Seperti yang juga dikatakan di dalam Lukas 10:16, siapa yang menerima Yesus Kristus menerima Bapa di surga. Tetapi siapa yang menolak mereka menolak Yesus. Dan siapa yang menolak Yesus menolak Bapa di surga. Mereka harus mengucapkan salam damai sejahtera, tetapi siapa yang menolak salam itu menolak berkat yang Tuhan akan berikan melalui ucapan salam itu. Siapa menghina utusan Tuhan sedang menghina Tuhan. Siapa menerima mereka, maka berkat Tuhan akan turun atas orang itu dan rumah tangganya.

Untuk direnungkan:
Bagian ini memberikan kita pengertian yang sangat penting tentang melayani Tuhan. Siapa yang diutus oleh Tuhan akan diberkati oleh Tuhan dengan kuasa. Tetapi kuasa yang paling penting bukanlah kuasa untuk melakukan mujizat. Ayat 7 mengatakan bahwa seruan Injil jauh lebih penting daripada mujizat apa pun. Tetapi menjadi utusan Tuhan sangat penuh dengan tantangan. Tantangan yang pertama adalah mengandalkan mujizat, atau kedudukan, atau apa pun untuk diterima, tetapi tidak mengutamakan firman Tuhan. Ayat 7 mengingatkan para murid bahwa panggilan utama mereka adalah memberitakan Injil Kerajaan Surga. Inilah yang harus mereka perjuangkan. Memberitakan Injil lebih penting daripada mujizat yang menghebohkan. Siapa yang mau menjadi pelayan Allah, dia harus siap untuk menjadi pemberita firman. Entah berkhotbah kepada 3.000 orang seperti Petrus (Kis. 2:40-41), atau membicarakan firman kepada satu orang seperti Filipus (Kis. 8:26-40), siapa mau melayani Tuhan, harus membuka mulut memberitakan firman. Jangan cari tanda-tanda ajaib. Tidak ada yang lebih ajaib daripada firman Tuhan! Jangan kagum kepada mujizat. Tidak ada yang lebih mengagumkan daripada firman Tuhan! Semua mujizat dan tanda-tanda adalah untuk memperkuat pemberitaan firman. Tuhan bisa pakai, bisa juga tidak. Dengan mujizat mungkin firman akan lebih efektif diterima, atau mungkin hanya membuktikan kekerasan hati orang yang sudah menyaksikan mujizat tersebut. Itu sebabnya keutamaan firman dalam pelayanan harus ditekankan.

Tantangan yang kedua adalah tantangan meragukan kecukupan pemeliharaan Tuhan. Murid-murid harus dilatih untuk beriman terhadap pemeliharaan Tuhan. Ini bukan berarti tanggung jawab untuk mempersiapkan segala sesuatu tidak diperlukan. Ini berarti bahwa di dalam situasi di mana persiapan sudah tidak mungkin, karena memang kondisi telah begitu serba kekurangan, maka kekuatan untuk terus melayani harus ada. Di saat kurang, di saat kita tidak tahu harus berpegang pada apa untuk terus melayani, Tuhan akan menyatakan pemeliharaan-Nya dengan setia. Dia memegang tangan kita dan menopang hidup kita. Sekitar dua juta orang Israel bisa mendapatkan roti di padang gurun selama 40 tahun, mengapa takut pemeliharaan Tuhan tidak cukup untuk kita? Tuhan pelihara ke-12 murid dan Tuhan juga akan terus pelihara pelayan-Nya saat ini!

Tantangan yang ketiga adalah penolakan orang lain. Ayat 13-15 mengatakan bahwa respons mereka terhadap firman yang kita beritakan akan Tuhan berikan konsekuensi. Yang menolak akan Tuhan hakimi karena menghina perkataan Tuhan melalui kita. Yang menerima akan mendapatkan damai sejahtera dari Tuhan. Biarlah kita ingat betapa pentingnya kalimat yang kita ucapkan atas nama Tuhan bagi orang lain. Dengan berani, tulus, dan penuh tanggung jawab kita mengabarkannya kepada orang lain.

Doa:
Tuhan, pakai kami untuk melayani-Mu memberitakan firman-Mu. Banyak orang memerlukan firman, kami mau mengabarkannya kepada mereka. Mungkin kami bukan pendeta atau penginjil, tetapi kami mau melaksanakan bagian kami untuk memberitakan firman. Mungkin kepada satu orang, mungkin kepada sekelompok orang, Tuhan sertailah kami! Cukupkan kami, bahkan berikan kuasa dan kelimpahan ketika firman-Mu kami kabarkan! Kiranya nama-Mu dipermuliakan melalui kami, ya Tuhan. (JP)