Renungan Harian 232 (Kamis, 18 April 2019)

Pemisahan dan Penderitaan

Devotion from Matius 10:34-42

Bacaan hari ini melanjutkan peringatan Tuhan Yesus mengenai segala macam bahaya yang akan dialami oleh para murid pada waktu itu, maupun murid-murid yang lain sepanjang sejarah gereja. Pada bagian ini Tuhan Yesus memberi peringatan bahwa mengikut Yesus dapat mengakibatkan perpecahan, bahkan antar keluarga sendiri. Seorang yang memutuskan untuk mengikut Tuhan Yesus mungkin akan diusir oleh orang tuanya, atau dibenci oleh anaknya, atau diceraikan istrinya, atau dikucilkan keluarganya sendiri. Semua ini pernah dan masih terjadi hingga sekarang. Setiap orang berdosa akan membenci Tuhan Yesus entah dia sadar atau tidak. Dan setiap kali ada seseorang yang berkomitmen untuk menjadi murid Yesus, maka marah yang sangat besar bisa muncul dari pihak keluarga sendiri, karena kebencian yang mereka tidak sadari ada di dalam diri mereka. Ini akan dipakai oleh Iblis untuk mencegah dia mengikut Tuhan Yesus. Banyak orang Kristen terpaksa menderita, bahkan dibunuh oleh keluarga sendiri karena dia telah memutuskan mengikut Tuhan Yesus. Tetapi, selain aniaya dan penderitaan fisik, penderitaan karena diusir atau dikucilkan oleh keluarga juga merupakan penderitaan yang sangat berat.

Jika harus memilih antara Yesus dan keluarga sendiri, akankah kita memilih Yesus? Jika mengikut Yesus berarti dikucilkan, atau dimusuhi, bahkan mungkin dianiaya keluarga sendiri, akankah tetap mengikut Yesus? Dalam ayat 37-39 Tuhan Yesus memberikan peringatan yang sangat keras. Siapa yang masih mengutamakan manusia, dia tidak layak bagi Tuhan Yesus. Kesetiaan dan pengabdian yang dituntut dalam mengikut Tuhan bukan hal yang main-main. Harus mencakup komitmen total kepada Tuhan. Jika harus menghadapi aniaya, Tuhan mengatakan bahwa kita harus siap memikul salib. Jika harus mengalami kematian, Tuhan mengatakan bahwa nyawa kita akan dipertahankan oleh Tuhan di dalam tangan-Nya, meskipun setelah kita mati. Penghiburan yang sejati bukanlah penghiburan yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang tidak menerita. Penghiburan sejati muncul karena ada penderitaan dan kesedihan. Itu sebabnya janji-janji Tuhan pada bagian ini tidak akan diterima dan dirasakan oleh orang yang tidak mengalami penderitaan. Siapa yang pernah diusir oleh keluarganya karena Tuhan Yesus, dia akan dihibur. Siapa yang mengasihi keluarganya lebih dari mengasihi Yesus, dia tidak akan mendapat apa-apa. Siapa yang menderita karena mengikut Yesus, dia akan dihibur. Siapa yang menolak memikul salib, dia tidak akan mendapat apa-apa. Siapa rela menyerahkan hidup bagi Kristus, dia akan memiliki hidup. Siapa yang mementingkan keselamatan sendiri, dia akan kehilangan nyawanya.

Tetapi bukankah perkataan ini adalah untuk 12 murid yang akan diutus? Tidak. Perkataan ini adalah untuk semua orang yang harus mengalami kesulitan, aniaya, dan konflik dengan keluarga sendiri setelah memutuskan untuk mengikut Yesus. Jangan takut, demikian perkataan Tuhan Yesus. Jika nyawa kita terancam, kita kembali ingat bahwa Tuhan adalah pemberi hidup yang kekal. Jika harus mengalami penderitaan besar, kita kembali ingat bahwa Tuhan pernah memikul salib demi kita. Jika kita harus dibenci dan diusir dari keluarga sendiri, maka Tuhan akan mempersiapkan keluarga baru yang siap menerima kita. Siapakah mereka? Ayat 40 mengatakan tetap akan ada orang yang menyambut mereka yang berkomitmen untuk mengikuti Tuhan Yesus. Orang-orang yang mengasihi Kristus akan menghargai setiap orang yang mengikut Kristus. Orang-orang inilah yang akan menjadi saluran penghiburan dari Tuhan kepada kita. Tuhan mengasihi kita, dan karena itu Dia menuntut komitmen yang total dari kita. Hanya dari kesetiaan kepada Tuhan Yesus sajalah kekuatan dan penghiburan yang sejati terdapat. Tuhan tidak pernah lalai di dalam memberi kelegaan kepada mereka yang telah dianiaya dan menderita bagi Dia. Tuhan tidak pernah lalai memberikan penghiburan kepada mereka yang harus mengalami kepahitan dan air mata karena mengikuti Tuhan Yesus. Tuhan tidak pernah lalai memberikan kekuatan kepada mereka yang letih lesu di dalam mengikuti Dia.

Untuk direnungkan:
Kerinduan kita untuk mengikuti Tuhan Yesus dapat dihalangi oleh banyak hal. Terkadang penerimaan orang lain menjadi batu sandungan bagi kita untuk berjalan mengikut Tuhan Yesus. Mau diterima, mau damai dengan semua orang, mau diakui, mau memiliki komunitas di mana kita diterima, ini semua adalah hal yang baik. Tetapi jika untuk diterima, berdamai, diakui, dan untuk memiliki komunitas di mana kita di terima ternyata harus mengorbankan Yesus Kristus, yang mana yang akan kita pilih. Damai sejahtera yang Tuhan tawarkan adalah di dalam Kristus. Tanpa Dia tidak ada damai sejahtera. Tetapi jika damai sejahtera di dalam Kristus harus diperoleh dengan kehilangan damai di dunia ini, apakah kita rela untuk mengorbankan damai di dunia ini?

Ayat 37 telah mengingatkan kita untuk mengasihi Kristus lebih dari apa pun. Bahkan Lukas 14:26 mengatakan bahwa siapa tidak membenci keluarganya tidak layak bagi Kristus. Apakah kita harus membenci keluarga kita padahal Tuhan sendiri mengajarkan kita untuk mengasihi, bahkan mengasihi musuh sekalipun? Perbandingan di sini adalah kasih kepada Allah dan kasih kepada keluarga. Kasih kepada Allah begitu besar sehingga kasih kepada keluarga menjadi begitu kecil jika harus dibandingkan. Jika keluarga menjadi halangan untuk mengikut Tuhan Yesus, maka halangan itu tidak boleh membatalkan niat dan kesungguhan kita untuk mengikut Tuhan Yesus.

Tetapi ayat 38 mengatakan bahwa mengasihi Allah lebih daripada keluarga merupakan bentuk dari memikul salib! Siapa yang membenci keluarganya, lalu memakai alasan mengikut Yesus untuk membebaskan diri dari keluarganya, dia berdosa besar. Tetapi siapa yang mengasihi keluarganya, yang mau bersama-sama dengan mereka, yang menghargai sedalam-dalamnya kebersamaan dengan mereka, tetapi harus mengorbankan mereka demi Kristus, orang inilah yang akan mendapat upah dari Tuhan. Jangan sesat! Allah tidak mungkin dipermainkan (Gal. 6:7). Siapa membenci keluarganya sendiri, bertobatlah! Siapa yang mengasihi mereka, tetapi terpaksa mengorbankan mereka demi mengikut Yesus, Tuhan akan memberkati dia.

Penghalang lain untuk mengikut Yesus adalah kehidupan yang nyaman. Jika hidup kita begitu penuh kemudahan, ekspres, terencana, dan aman, maka mungkin kita akan enggan mengorbankan itu semua untuk mengikut Tuhan Yesus. Mengikut Tuhan Yesus memerlukan kerelaan untuk kehilangan semua itu. Hidup mungkin menjadi lebih sulit, seperti tidak ada kejelasan di masa depan, dan sangat tidak aman. Apakah kita berhak untuk memilih seperti apa kita mau hidup? Silakan pilih, tetapi apa yang kita mau belum tentu bisa kita dapatkan. Terkadang kita menolak untuk mengikut Yesus karena takut kehilangan hal-hal ini padahal meskipun kita tidak mengikut Yesus, tetap tidak ada jaminan bahwa kita tidak akan kehilangan hal-hal ini. Biarlah kita tidak lupa apa yang Tuhan katakan di dalam ayat 40-42. Tuhan begitu menghargai setiap orang yang mau mengikut Yesus sehingga Dia memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada mereka. Barang siapa menyambut orang yang mengikut Yesus sebagai nabi, dia yang menyambut akan diberikan upah seorang nabi. Apa yang pantas diberikan sebagai penghargaan dari Allah kepada nabi akan diberikan kepada orang itu. Biarlah kita terus digugah dan diingatkan untuk hidup bagi Tuhan melalui kalimat dari seorang misionaris bernama Jim Eliot. “Orang yang meninggalkan apa yang tidak bisa dia pertahankan untuk memperoleh apa yang tidak akan hilang, dia bukanlah orang bodoh.” Jika kita mati-matian mempertahankan penerimaan keluarga, penerimaan orang lain, harta, hidup nyaman, padahal tidak satu orang pun di dunia di sepanjang sejarah yang tahu bagaimana mempertahankan semua ini tanpa risiko kehilangan, maka kita adalah orang bodoh. Tetapi jika semua itu kita lepas untuk memperoleh Kristus yang tidak akan diambil dari kita, kita adalah orang bijak.

Doa:
Tuhan, kami mau mengikut Engkau. Kami mengasihi-Mu lebih dari mengasihi keluarga kami. Kami mau mengikut Engkau apa pun risikonya. Kami mau mengikut Engkau karena hanya Engkau sajalah pemilik sejati dari jiwa kami. Segenap hati kami telah menjadi milik-Mu, ambillah, ya Tuhan, sehingga kasih, kesetiaan, dan kerinduan kami hanyalah tertuju pada-Mu saja. (JP)