Renungan Harian 233 (Jumat, 19 April 2019)

Yesus dan Yohanes Pembaptis

Devotion from Matius 11:1-19

Yohanes Pembaptis di dalam penjara, dan dia mengutus murid-muridnya untuk bertanya apakah benar Yesus adalah Sang Mesias? Salah satu tanda kedatangan Sang Mesias adalah dia akan membebaskan orang-orang yang dipenjarakan (Yes. 61:1). Yohanes mungkin telah mendengar bahwa Yesus telah melakukan begitu banyak tanda-tanda mujizat, tetapi dia mempertanyakan Yesus karena dirinya dibiarkan di dalam penjara. Inilah yang menjadi pertanyaan murid-murid Yohanes kepada Yesus. Apakah Engkau? Ataukah kami harus tunggu yang lain? Kalau Engkau, mengapa Yohanes dibiarkan di dalam penjara?

Sebenarnya pertanyaan ini bukanlah karena Yohanes meragukan bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Yohanes 1:23-24 mengatakan bahwa Bapa di surga sendiri yang telah meyakinkan Yohanes bahwa Yesus adalah Anak Allah, Sang Mesias. Kalau begitu mengapa dia masih mempertanyakan Yesus? Yang dipertanyakan Yohanes adalah mengapa dirinya dibiarkan di dalam penjara. Yesus, yang mengetahui hal ini menjawab dengan mengatakan bahwa tanda-tanda yang membuktikan bahwa Dia adalah Sang Mesias telah dilakukan. Dia menyembuhkan orang buta, orang lumpuh, orang kusta, orang tuli, dan Dia juga membangkitkan orang mati. Tanda dalam Yesaya 61:1 mencakup membebaskan orang tahanan dari dalam penjara, tetapi Yesus menggantikan itu dengan membangkitkan orang mati. Manakah yang lebih menyatakan otoritas Yesus? Membebaskan orang dari penjara? Ataukah membangkitkan orang mati? Di sini Yesus mengajar Yohanes Pembaptis untuk melihat tanda-tanda Mesias-Nya bukan dengan hal-hal yang menyenangkan dirinya sendiri. Yohanes Pembaptis harus melihat tanda-tanda yang telah dinyatakan di tengah-tengah orang Israel.

Sering kali kita ingin karya Tuhan yang menyatakan diri dapat sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tanda mujizat kesembuhan, penyertaan melalui tanda-tanda ajaib yang dapat kita nikmati, inilah yang paling kita ingin rasakan secara langsung. Tetapi Tuhan Yesus mengajar pada bagian ini bahwa tanda mujizat Tuhan harus diterima otoritasnya meskipun tanda-tanda tersebut tidak berkait langsung dengan hidup kita. Menyembuhkan orang sakit yang tidak kita kenal, membangkitkan orang mati yang bukan saudara atau kerabat kita, mengusir setan dari orang yang asing sama sekali bagi kita, ini semua tetap adalah tanda-tanda bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Yohanes tetap di penjara, tetapi tanda-tanda yang sudah terjadi itu tetap tidak kurang kuasanya.

Lalu Tuhan Yesus memberikan kesimpulan dari pengajaran-Nya bagi Yohanes dengan sebuah kalimat penting: “berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku”. Ini merupakan kalimat yang berlaku bagi kita semua, sama seperti kekecewaan Yohanes juga bisa kita semua alami. Kita mengharapkan sesuatu tetapi apa yang kita harapkan tidak terjadi dan kita menjadi kecewa. Tetapi apakah kita berhak merasa kecewa? Kapankah Tuhan berutang kepada kita sehingga kita boleh kecewa karena Dia tidak melakukan apa yang kita inginkan? Jangan kecewa karena Tuhan bukan pelayan kita. Sebaliknya, berbahagialah untuk apa pun yang Tuhan sudah kerjakan, meskipun kita sendiri tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari apa yang telah Dia kerjakan. Setiap hal yang Tuhan sudah kerjakan menyatakan kemuliaan-Nya. Setiap hal yang telah Kristus kerjakan menyatakan bahwa Dialah Sang Mesias. Dan Tuhan menginginkan agar Yohanes Pembaptis mendengar dan memuji Allah karena apa yang dia dengar walaupun dia akan terus berada di dalam penjara hingga akhirnya dia mati di tangan Herodes. Apakah ini akhir yang tragis? Tidak. Ini adalah akhir dari seorang yang menjadi pendahulu bagi Mesias, dan ketika Sang Mesias itu semakin bertambah, dia semakin berkurang (Yoh. 3:30).

Setelah memberikan pengajaran yang sangat penting bagi Yohanes, Yesus melanjutkan dengan mengajar murid-murid-Nya tentang Yohanes Pembaptis. Siapakah Yohanes Pembaptis? Yesus mengatakan bahwa dia adalah seorang yang lebih besar dari nabi di dalam Perjanjian Lama. Mengapa Yohanes lebih besar? Karena dialah yang langsung menunjuk kepada Sang Mesias. Dialah nabi transisi dari Perjanjian Lama menuju Perjanjian Baru. Nabi terakhir zaman Perjanjian Lama bukanlah Maleakhi, tetapi Yohanes. Yohanes besar karena panggilannya sebagai nabi yang menjadi saksi kedatangan Sang Mesias, dan Yohanes juga besar karena kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam dirinya. Begitu besarnya kuasa itu sehingga meskipun Yohanes tidak melakukan mujizat apa pun, tetapi begitu banyak orang rela pergi ke padang gurun untuk mendengar seorang nabi mengajar. Di dalam ayat 13-14 Yesus bahkan mengatakan bahwa Yohanes adalah “Elia yang akan datang” (Mal. 4:5-6), yaitu nabi terakhir yang masih akan datang setelah Maleakhi. Yohaneslah orang terakhir yang akan menubuatkan tentang Sang Mesias. Berarti ada garis yang jelas yang dimulai dari Musa hingga Maleakhi. Dari Maleakhi kepada Yohanes Pembaptis. Dari Yohanes Pembaptis kepada Sang Mesias. Dia yang mencoba memperpanjang garis ini sedang bersalah terhadap kebenaran Firman Tuhan. Setelah Maleakhi adalah Yohanes Pembaptis, bukan yang lain. Bukan Yudas Makabeus, juga bukan Alexander Jaeneus, tetapi Yohanes Pembaptis. Setelah Yohanes Pembaptis tidak ada lagi nabi yang akan dibangkitkan. Setelah Yohanes maka Yesus, Sang Mesias, datang. Dialah yang ditunjuk oleh Yohanes Pembaptis dan Dialah yang menggenapi nubuat semua nabi dari Musa hingga Yohanes Pembaptis.

Tetapi orang-orang yang menolak Yohanes Pembaptis pasti juga akan menolak Yesus. Ketika Yohanes Pembaptis melayani, banyak orang menuduh dia orang gila karena tinggal menyendiri di padang gurun dan memakai pakaian yang aneh dengan memakan makanan yang aneh juga. Tetapi orang yang sama yang menolak Yohanes juga akan menolak Yesus. Ini terbukti karena mereka menuduh Yesus sebagai orang berdosa yang senang bergaul dengan orang berdosa, pelahap, tukang minum, hanya karena Yesus tidak menjalani hidup seperti Yohanes Pembaptis. Kehidupan asketis mereka hina, tetapi kehidupan non-asketis juga ternyata mereka tolak. Siapa menolak nabi-nabi Perjanjian Lama, pasti akan menolak Yesus. Siapa yang menerima ajaran para nabi itu, juga pasti akan menerima Yesus karena semua nabi itu bernubuat tentang Yesus.

Inti pembahasan dari Alkitab kita bukanlah pesan-pesan moral yang mendidik. Alkitab juga bukanlah cuplikan kata-kata mutiara yang berguna bagi hidup kita. Alkitab adalah firman Allah yang sedang menyatakan apa yang Dia kerjakan di sepanjang sejarah penciptaan dan penebusan ini. Dia sedang membangkitkan Anak-Nya untuk menjadi Raja di atas segala raja, yang akan menguasai seluruh ciptaan. Seluruh sejarah nubuat para nabi digenapi oleh Yesus, dan semua tanda-tanda yang diperlukan untuk membuktikan bahwa Yesuslah penggenap nubuat semua nabi-nabi Perjanjian Lama. Jika semua tanda-tanda ini begitu agung dan penting, maka siapakah kita sehingga kita harus mendapatkan keuntungan dari semua yang Allah rancangkan? Siapakah kita sehingga kita berhak merasa diri lebih penting dari yang lain? Yohanes Pembaptis ingin konfirmasi dan Tuhan Yesus menyatakan tanda-tanda mujizat yang telah dibuatnya. Orang-orang Farisi melihat tanda-tanda mujizat dan mereka tetap menolak Yesus. Tetapi hikmat Allah yang sejati telah dinyatakan melalui hidup dan pelayanan Yesus.

Untuk diingat:

  1. Jangan menjadikan diri pusat dari apa yang telah Allah kerjakan. Yesus adalah pusat pemberitaan para nabi. Kehidupan-Nya adalah kehidupan yang paling berharga di dunia ini. Hikmat-Nya melampaui hikmat siapa pun. Tetapi Dia mengosongkan diri dan menjadi hina. Biarlah kita yang hina tidak lupa ini dan tidak menjadi kecewa kepada Tuhan hanya karena Dia menolak untuk menjadikan kita pusat dari karya-Nya.
  2. Mohon kekuatan dari Allah untuk melihat seluruh rencana Allah yang berpusat pada Kristus. Biarlah kita melihat semua tanda-tanda yang Yesus kerjakan dengan cara yang benar. Banyak orang percaya kepada tanda-tanda mujizat itu tetapi sedikit yang memahami maknanya. Kiranya kita tidak termasuk orang-orang yang menolak. Kiranya juga kita tidak termasuk orang-orang yang percaya tetapi tidak memahami makna dan menganggap tanda-tanda mujizat itu adalah demi kepuasan hidup manusia.

Doa:
Tuhan, berikan kami mata yang melihat pekerjaan-Mu dan menjadi kagum karenanya meskipun kami tidak mendapatkan keuntungan apa pun dari karya-Mu itu. Biarlah kami belajar untuk makin mengagumi Tuhan dan sanggup melihat apa yang Tuhan sedang kerjakan sebagai sesuatu yang sangat mulia dan biarlah hati kami menjadi bahagia karenanya. (JP)